Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

✴Memory |4|

Buat yg kangen sama Dahmin Momen harap bersabar ya, nanti juga pasti ada kok
Di chapt selanjutnya
:')

Dahyun kecil terus berlari, ia berlari sambil terus terisak, bayangan bagaimana hancurnya wajah pria itu terus melintas dibenaknya hingga rasanya, kepala Dahyun akan pecah.

Kakinya begetar lemah, tulang-tulangnya terasa ngilu dengan jantungnya yang mempompa darah dengan sangat cepat.

Saat itu, entah darimana datangnya, Juan mengulurkan tangannya pada Dahyun, mengajaknya untuk pergi bersama—keluar dari hutan gelap ini.

Juan yang berusia empat tahun lebih tua darinya, membawanya ke dalam sebuah gendongan di punggung, membuat rasa takut Dahyun perlahan terobati.

"Kau tahu, ibuku adalah seorang model. Ia model yang sangat cantik dan terkenal dulu—namun semenjak ia berurusan dengan pria, hidupnya jadi kacau balau," Juan tiba-tiba bercerita tentang ibunya. Padahal, Juan tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada siapapun sebelumnya.

Saat itu, Dahyun masih sangat kecil untuk dapat menyadari, kalau orang yang sedang Juan bicarakan adalah wanita tadi—wanita yang baru saja mengancam seorang anak dibawah umur.

"Maka dari itu, aku selalu berdoa supaya tidak ada wanita lain yang bernasib sama seperti ibuku," lanjut Juan.

"Dahyun-ah, bisa berjanji satu hal padaku?" tanya Juan begitu mereka telah sampai di depan rumah Dahyun. Mata kecil Dahyun mengerjap polos lalu mengangguk.

"Jangan pernah seklipun kau datang ke tempat tadi lagi. Tempat itu sangat berbahaya. Lupakan semuanya, lupakan apa yang telah kau lihat dan kau dengar disana, maka kau akan hidup normal," perkataan Juan seolah menghipnotis Dahyun. Ia sangat mahir untuk membuat semua orang percaya perkataannya—ia terlahir menjadi seorang yang benar-benar jenius dan dewasa di seusianya.

"Ta-tapi ... Chimin masih ada disana." Mengingat kenyataan bahwa Jimin masih terjebak disana membuat Dahyun kembali terisak. "Apa Juan oppa bisa membantunya untuk keluar dari sana?"

Juan tersenyum dan mengangguk. Ia mengelus kepala Dahyun. "Masuklah, kau jangan khawatir, oppa akan membawanya keluar."

Begitu Dahyun telah  masuk ke dalam rumahnya, sudut bibir Juan terangkat. Ia melanjutkan ucapannya tadi. "Tapi setelah ibu melakukan hal yang ingin ia lakukan pada Jimin. Hanya sampai saat itu, aku akan membantunya keluar, Dahyun-ah."

*

Kompleks perumahan Dahyun mendadak ramai oleh para polisi yang berbondong-bondong memasuki hutan diikuti para wartawan.

Berita tentang bunuh dirinya seorang model yang baru saja melakukan bunuh diri setelah beberapa minggu di bebaskan dari penjara.

Sayangnya—mereka hanya menyelidiki kasus bunuh diri model itu—tidak dengan bocah kecil yang sampai sekarang masih terkurung di ruang bawah tanah bangunan itu.

Mata kecil nan bengkak Dahyun menatap kosong hutan itu dari atas balkon rumahnya. Apa Juan oppa telah membantu Jimin keluar dari sana? apa Jimin sekarang sudah baik-baik saja?

Bocah perempuan itu setiap malamnya hanya terus memikirkan dua hal itu. Entah kenapa, padahal ia baru bertemu sekali dengan Jimin, namun rasa khawatirnya ini terus menggerogoti jiwanya seakan Jimin adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya.

"Dahyun-ah, apa paman boleh masuk?" suara pria yang terdengar lemah itu mengudara tat kala ia mendapati keberadaan Dahyun yang hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong.

"Kau lihat keadaannya, Tuan? semenjak kejadian malam itu, ia tidak pernah berbicara lagi pada kami. Fisiknya memang hidup, tapi jiwanya seolah mati," terang Tuan Kim—ayah Dahyun—pada Tuan Park.

Lelaki yang memiliki sorot mata hangat itu menatap prihatin Dahyun, namun rasa khawatir terhadap kondisi anaknya yang masih belum ia ketahui keberadaannya lebih besar. "Dahyun-ah, apa kau tahu dimana Jimin? apa kau bisa memberitahu paman?"

"Berhenti mendesak anakku! aku tidak akan membiarkan ia masuk ke dalam hutan itu lagi!" Tuan Kim geram hingga tanpa sadar berteriak. Kepala Dahyun perlahan berotasi, ia baru menyadari kalau ada ayahnya dan orang lain di balkon ini sekarang.

Matanya mengerjap kecil begitu melihat seorang pria seumuran ayahnya yang wajahnya mirip sekali dengan Jimin. "Appa, paman itu siapa? apa dia ayahnya Chimin?"

Mendengar hal itu, sontak membuat senyum Tuan Park mengembang. "Iya! aku—ayahnya Jimin."

"Dahyun-ah, jangan dengarkan perkataan dia. Ayah tidak akan membiarkanmu pergi ke hutan itu lagi!"

Dahyun tidak memperdulikan teriakan ayahnya, tungkainya terus bergerak hingga berada tepat dihadapan Tuan Park.

"Ahjussi—hiks." Dahyun tiba-tiba menangis. "Dahyun—tidak bisa menyelamatkannya... hiks. Dia—dia pasti ketakutan ahjussi, hiks. Wanita itu sangat jahat!" Dahyun semakin terisak hebat.

Pikirannya kembali memutar kejadian malam itu, namun ini pertama kalinya Dahyun memperlihatkan emosinya sejak kejadian itu, karena biasanya ia hanya akan menatap kosong seperti tidak punya tujuan hidup.

Tuan Park berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Dahyun. Ia mengusap air mata Dahyun lembut dengan tangannya. "Kau jangan menangis, sayang. Itu bukan kesalahanmu, ini semua salah ahjussi yang tidak menjaganya dengan benar."

Tuan Kim terdiam melihat bagaimana kedekatan anaknya dengan Tuan Park. Setelah kejadian itu, ia hanya berusaha menjaga Dahyun, tanpa memikirkan apa yang sedang anak itu rasakan. Ia baru mengetahui sekarang kalau anaknya itu sedang terluka karena tidak bisa menyelamatkan temannya.

"Ahjussi janji akan segera menemukannya tapi—maukah kau melakukan sesuatu untuk ahjussi?"

Dahyun mengangguk pelan. Apapun itu, ia akan melakukannya, asalkan Jimin bisa keluar dari tempat mengerikan itu.

*

Untuk kedua kalinya, Dahyun menginjakan kakinya di tempat ini lagi—namun saat ini, ia tidak sendiri, ia bersama ayahnya, ayahnya Jimin juga Tuan Jeon yang Dahyun sendiri tidak tahu dia ayahnya siapa.

Keadaan gedung tua itu masih sama—terlihat kumuh dan menyeramkan—hanya saja, sekarang gedung itu sudah penuh dengan garis polisi karena ditempat itu juga, wanita itu melakukan bunuh diri.

Ayahnya memegang pundaknya, mensejajarkan tubuhnya dengan Dahyun sambil menatap anaknya itu penuh khawatir. "Dahyun-ah apa benar ini tempatnya?"

"Iya ayah, Dahyun tidak pernah bisa melupakan tempat ini."

"Kau yakin bisa melakukannya sendiri? kau tidak takut?"

"Ayah, seumur hidup Dahyun akan merasa bersalah jika tidak bisa menyelamatkan Chimin sekarang jadi—ayah tidak usah khawatir karena Dahyun kuat!" Dahyun mengepalkan kedua tangannya semangat, sementara ayahnya tersenyum haru.

Anaknya itu begitu dewasa diusianya yang masih kecil.

Dahyun sempat melemparkan senyum terbaiknya untuk ketiga pria dewasa itu sebelum benar-benar masuk ke dalam gedung tua itu. Gedung itu sebenarnya sudah ditutup, namun ada sedikit celah yang memungkinkan seorang anak kecil bisa masuk ke sana, jadi ketiga pria dewasa itu hanya bisa memastikan keadaan di luar baik-baik saja dan berdoa untuk kesalamatan Dahyun juga Jimin yang masih terjebak disana.

Apabila dalam kurun waktu setengah jam, mereka masih belum kembali, terpaksa Tuan Park akan melakukan segala cara untuk dapat menyelamatkan anaknya. Termasuk melawan hukum sekalipun.

Dahyun melangkahkan tungkainya semakin masuk ke dalam gedung tua itu dengan hati-hati. Disini sangat gelap, hingga Dahyun kesulitan untuk memilah pijakannya karena banyak pecahan kaca juga bebatuan berserakan di lantai. Langit-langitnya banyak yang bolong, membuat sedikit cahaya dapat keluar dari lubang-lubang kecil itu.

Sepatu Dahyun menginjak permukaan kayu rapuh, hingga terdengar suara 'krak' sebelum akhirnya tubuh Dahyun jatuh ke bawah. Dahyun meringis, ia jatuh dengan posisi miring, membuat lengannya tergesek permukaan lantai hingga meninggalkan luka lebam.

Mata kecilnya menilik dimana dia berada sekarang. Ini ruang bawah tanah! dan jika diperhatikan, kondisinya cukup bersih dan rapi jika dibandingkan dengan ruang yang ada di atas.

Kaki kecilnya terus melangkah hingga akhirnya sampai disebuah pintu dari besi. Dahyun menjinjitkan kakinya, berusaha melihat apa yang ada di dalam sana hingga retinanya menangkap pantulan Jimin dari cermin yang sedang meringkuk dengan tatapan kosong.

"Chimin! Chimin! kau mendengarku?!" teriak Dahyun dengan suara cemprengnya.

Sayup-sayup, Jimin dapat mendengarnya. Ia beranjak cepat menuju pintu, dan mendapati Dahyun telah ada dibaliknya dengan senyum merekah.

"Ba-bagaimana bisa kau disini?" tanya Jimin kaget. Tentu saja! ia sudah berada disini berminggu-minggu, dan disaat ia sudah menyerah untuk dapat menghirup udara bebas, Dahyun datang dengan membawa secercah harapan untuk keinginannya itu.

"Ayahku dan ayahmu sedang menunggu diluar. Ayo, kita keluar dari sini!" Dahyun mengabaikan pertanyaan Jimin tadi. Ia berusaha membuka pintu itu, tapi ternyata—pintunya tidak terkunci.

"Kau bodoh, ya? pintunya tidak dikunci! seharusnya kau bisa kabur dengan mudah!" Dahyun malah mengomel, ia mengamit lengan Jimin dan menariknya untuk keluar dari tempat itu secepatnya.

"Hey-hey, beritahu aku bagaimana bisa kau ada disini? dan mana wanita itu? kenapa ia tidak menangkapmu?"

"Dia sudah—"

"Dahyun-ah! awas!" Jimin berteriak, dan begitu Dahyun melihat ke atas, atap-atap gedung itu roboh, menghasilkan suara bedebum keras hingga merobohkan lantai atas. Sebelum reruntuhan itu mengenai Dahyun, Jimin mendorong tubuh Dahyun sekuat tenaga ke sisi kanan.

Niatnya untuk menolong Dahyun pupus sudah saat kepala Dahyun terantuk dinding cukup keras hingga ia kehilangsn kesadarnya dengan kepalanya berdarah. Sementara keadaan Jimin tidak jauh berbeda—bahkan lebih parah karena sebuah tiang berukuran besar menindih tubuhnya.

Dengan sisa kesadarannya, Jimin berusaha menggapai tangan Dahyun. Air matanya perlahan menetes, melihat keadaan Dahyun yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang terus menetes dari kepalanya.

"Dahyun-ah. Bertahan—lah," ucapnya dengan suara serak sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

•🍒•

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro