+ Filter by Devil +

1395 word
Gelap. Semuanya gelap. Bulan yang semestinya telah bertengger manis di atas singgahsananya malah tidak muncul, begitupun dengan bintang yang seharusnya menghiasi langit juga ikut lenyap. Yang tersisa hanya pencahayaan remang-remang berwarna kuning yang sama sekali tidak membantu. Gadis itu berdecak sinis, mengasihi hidupnya yang begitu sial. Ia menendang krikil berulang kali sembari berjalan terseok, tak memperdulikan bajunya yang telah berlumuran darah bercampur tanah. Gaun putihnya bahkan sudah tidak bisa disebut gaun lagi karena telah robek sana-sini, membuat beberapa bagian kulitnya yang tersayat terasa ngilu saat udara dinginnya malam menyapanya dengan ganas.
Tertatih. Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki mulai lecet bahkan telepak kakinya telah meninggalkan jejak darah di setiap langkahnya. Dalam sekali lihat, orang manapun pasti akan menatapnya prihatin sekaligus heran—akan pergi kemana seorang gadis dengan penampilan yang mengenaskan seperti itu di tengah badai musim dingin? di malam hari pula. Namun raut wajahnya sama sekali tak memperlihatkan rasa sakit. Raut wajahnya sangat datar bahkan terkesan dingin dan tanpa ekspresi, seolah tidak merasakan sakit pada tubuhnya.
Dahyun menoleh ke belakang saat merasakan pergerakan seseorang yang masih mengejarnya. Ia lantas kembali mengayunkan tungkainya untuk berjalan lebih cepat, memaksa kakinya yang sudah hampir membeku kedinginan untuk tetap terus berlari. Napasnya memburu seiring dengan rasa takut yang mulai menghantui dirinya.
Sementara batinnya semakin menjerit saat pergerakan orang dibelakangnya yang terasa semakin dekat. Ya tuhan, Dahyun lebih memilih mati daripada harus kembali tinggal bersama tunangan psikopatnya itu. ia kembali mengutuk takdir dan nasib saat kakinya menginjak batu yang lumayan runcing hingga tubuhnya tersungkur di atas trotoar. Dahyun menunduk, ringisannya kembali keluar namun air matanya telah mengering—bahkan untuk mengasihani nasib dirinya sendiri pun ia tak bisa, sungguh menyedihkan.
Dingin menususk semakin menyiksa tubuhnya, di tambah dengan kaki sialannya yang telah mati rasa hingga sulit untuk di gerakan. Hancur sudah, rencana kaburnya kali ini pun kembali gagal. Sepertinya ia memang ditakdirkan untuk terus menderita. Hal yang bisa ia minta untuk saat inii hanyalah meminta kepada Tuhan untuk segera mencabut nyawanya saja. Ia ikhlas, daripada harus kembali tersiksa oleh lelaki biadab itu.
Gadis itu mengernyit saat merasa bahwa orang yang sejak tadi mengejarnya tiba-tiba saja pergerakannya sudha tidak terdengar lagi. Ragu, ia peralahan mulai memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya seraya melihat ke belakang. Alih-alih mendapati tunangan psikopatnya, Dahyun malah mendapati sebuah siluet seorang lelaki dengan sinar menyilaukan dibelakangnya.
Lelaki itu perlahan mendekat, lantas mensejajarkan wajahnya dengan Dahyun hingga membuat gadis itu diam tak berkutik. Seolah terhipnotis, Dahyun hanya mematung ketika melihat ulasan senyum manis yang terlukis di wajah sang lelaki. “Butuh bantuan?” tanya lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.
Dahyun terdiam cukup lama, mulutnya terasa beku sementara lidahnya kelu. Entah kapan terakhir kali ia menggerakan mulutnya untuk berbicara karena selama ini mulutnya selalu di lapisi lakban. Tenggorokannya terasa sangat kering dan kata yang bisa terucap dari bibirnya hanyalah, “To-tolong aku.”
Lelaki itu—Jimin—kembali mengulas senyum hangat. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi pucat Dahyun yang memiliki rona berwarna ungu karena lebam, menyentuhnya sangat lembut hingga Dahyun tak dapat merasakan apapun selain kehangatan. “Aku akan menolongmu asalkan kau mau tinggal bersamaku.”
“N-nde?”
“Tubuhmu adalah jaminannya. Kau tidak akan merasakan siksaan lagi selama kau menuruti perkataanku.” Jimin menyentuh pucuk rambut Dahyun seraya mengelusnya perlahan. Dahyun mulai merasakan firasat buruk mengenai sosok lelaki ini tapi semuanya telah terlambat. Jimin mengulas senyum miringnya seraya mendekatkan wajahnya pada Dahyun hingga hanya terpaut beberapa sentimeter saja. “Tidak ada penolakan. Mulai sekarang, kau milikku.”
Dan ketika tubuhnya telah beralih pada pangkuan Jimin, Dahyun mulai menyesali keputusannya. Jimin memangkunya ala bridal, sementara Dahyun hanya bisa menyandarkan kepalanya pada dada Jimin. Ia sudah tak memiliki tenaga bahkan hanya untuk sekedar mengalungkan lengannya pada leher Jimin supaya tidak jatuh. Netra legamnya dapat dengan jelas melihat kilatan berwarna merah dari balik obsidian Jimin sementara lampu jalan yang semula menyala remang kini menyala terang seiring dengan langkah Jimin yang melewati trotoar panjang ini.
Dinginnya salju yang mulai berguguran membuat tubuh Dahyun yang terluka parah mulai merasakan sakit. Dahyun meringis saat merasakan sakit pada seluruh tubuhnya yang tak tertahankan. Tubuhnya mulai melemas hingga beberapa sekon kemudian, Dahyun tak sadarkan diri.
Menyadari hal itu, Jimin lantas mengeratkan pangkuannya supaya Dahyun tidak jatuh. Ia menatap sekaliling, memastikan tidak ada orang yang melihat. Matanya memejam, beberapa saat setelah mengucapkan mantra, sebuah sayap hitam mulai muncul di belakang tubuhnya. Dan detik berikutnya, lelaki itu mulai terbang melintasi badai salju dengan Dahyun yang telah tak sadarkan dalam pangkuannya.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
|filterbydevil|
Mimpi buruk Dahyun menjadi kenyataan. Begitu dirinya tersadar dari tidur panjangnya, lelaki dengan iris sipit itu telah menanti di pinggir ranjang king size ini. Dahyun tidak mengerti dengan hal apa saja yang baru saja dilaluinya, satu hal yang ia sadari kini, bahwa ia kembali tejebak dengan lelaki asing di tempat yang sama sekali tak diketahuinya.
“Nu—nugu … “
“Kau tidak mengingatku, huh? Malam itu, kau meminta pertolonganku.”
“Ahh … iya,” lirih Dahyun lesu. Pikirannya kembali berputar pada tunangan psikopatnya yang telah menyekapnya selama berhari-hari. Hah, setidaknya usaha melarikan dirinya kali ini telah berhasil. “Khamsahamnida. Aku—tak bisa membayangkan jika aku tidak bertemu denganmu malam itu. aku sangat berterimakasih.”
Jimin tersenyum, ia mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya kini berada tepat di depan wajah Dahyun. Gadis itu sama sekali tidak mengelak, bahkan ia malah dengan terang-terangan menatap ke balik manik sipit milik Jimin yang menatapnya dengan lembut. “Kau masih terlihat cantik, ya. Akhirnya aku bisa menemukanmu juga, Dahyunie.”
“N-nde? Kau—mengenalku?”
Jimin menjauhkan wajahnya sementara senyumnya semakin melebar. “Tentu saja. Aku sudah menunggumu selama ratusan—ah tidak, besok adalah yang ke-1000. Tapi berkat permohonanmu malam itu, aku bisa menemukanmu lebih cepat.”
Dahyun tidak mengerti, sungguh. Ada banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat ini. Tentang ucapan lelaki ini, tatapan hangatnya dan kilatan merah di maniknya yang kini tak terlihat dan—sayap itu. Sebelum Jimin menampakan wujudnya, Dahyun dengan jelas melihat sepasang sayap di belakang tubuhnya. Mungkin itu hanya ilusi? Tapi matanya tak pernah mengkhianatinya, kamera dari jarak jauh pun dapat dilihatnya, jadi tidak mungkin jika penglihatannya salah.
Malam itu, diluar hujan deras mengguyur dengan ganasnya. Pohon pinus yang berada tepat di depan jendela kamar yang ada di lantai dua ini berulang kali mengetuk-ngetuk jendela akibat dorongan angin. Sementara Jimin terus berbicara, tanpa di minta, lelaki itu menceritakan asal-usul hidupnya.
Tentang tujuannya berada di dunia, tentang pengusirannya dari akhirat, tentang kutukannya dan alasan mengapa dirinya bisa berada di tempat ketika Dahyun sekarat. Semuanya—lelaki itu menceritakan semuanya sepanjang malam seolah tengah bercerita pada kawan lama. Sementara Dahyun hanya menyimak, rasa sakit di tubuhnya kini tak kembali terasa, suara dan sentuhan Jimin pada setiap luka lebamnya seolah menjadi penyembuh.
Dahyun tidak tahu apakah nasibnya kini memang baik atau justru lebih buruk dari sebelumnya. Ia juga masih bertanya-tanya akan hal itu. dan ia lebih tak percaya pada dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya mempercayai lelaki ini. Bahkan ketika Jimin menjatuhkan kepalanya pada bahunya, lalu menangis terisak disana, ia juga masih tak mengerti.
“Kenapa—kau melakukan ini padaku? itu semua bohong, kan? Mana mungkin seorang malaikat bisa berwujud manusia sepertimu!”
Jimin mengangkat wajahnya, pandangannya kini tak lagi pilu, justru sorotnya dingin dan menusuk. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh leher pucat Dahyun yang masih dipenuhi bekas lebam itu dengan lembut. “Kau benar. Mana mungkin malaikat tinggal di dunia?”
“Mwo?”
Jimin menyeringai, tangannya menyentuh pipi Dahyun lantas menangkupnya dengan hangat. “Seperti yang kukatakan tadi, aku telah dikutuk dan dibuang ke dunia. Dan satu-satunya cara supaya aku bisa kembali adalah kau.”
Jimin mendekatkan wajahnya lalu meniup telinga Dahyun, membuat gadis itu menggelinjang. “Apa yang kau lakukan?!”
“Aku hanya ingin mengambil imbalanku saja. Kau tidak percaya padaku, jadi aku harus membuktikannya, kan?” Dahyun melotot saat netranya kembali menangkap kilatan merah itu pada manik Jimin. Seringai Jimin semakin jelas dan ketika ia menutup mata, sepasang sayap yang berawarna sama dengan rambutnya menampakan wujudnya hingga membuah tubuh Dahyun semakin lemas.
“K-kau—“
“Aku tidak berbohong. Aku memang malaikat terkutuk.” Jimin kembali membelai wajah Dahyun yang kini semakin memucat. Tubuh Dahyun sudah bergetar, bahkan napasnya semakin memburu saat menyadari Jimin semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka sempat bersentuhan. Namun alih-alih menciumnya, Jimin justru malah beralih pada leher Dahyun dan memberikan gigitan di sana.
Berbarengan dengan ringisan Dahyun. Kilatan merah pada mata Jimin semakin memudar. Tatapan tajam dan sayap lebarnya mulai melemah hingga mata merah itu kini kembali berubah menjadi lembut. “Kau memanglah orangnya. Benar, kau adalah orang yang membuatku dibuang ke dunia karena mencintai seorang manusia biasa.”

Buat yg blm tau
Cerita ini udh pernah
Di up di one day story yg
Udh aku unpub. So,
Mungkin akan aku alihkan
Kesini.
Btw, mau part 2 nya, gk?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro