
O2
━━━━━━━━━ Flashback ━━━━━━━━━
2 tahun yang lalu...
Netra emas milik seorang lelaki tengah fokus pada ponsel di hadapannya. Sazanami Jun, panggil saja dia dengan nama Jun.
Mulai hari ini Jun sudah resmi sebagai siswa tahun kedua, saat ini ia baru saja mendapatkan kabar dari sekolah mengenai pembagian asrama.
Jun sedikit kaget karena ia tidak mendapatkan teman sekamar bersama temannya, melainkan dengan salah satu senior di atasnya. Jun tak pernah mengenal orang tersebut dan memutuskan untuk langsung menunggu saja di depan kamar asrama mereka.
"Um, um~"
Jun tersentak, bahkan ponselnya hampir jatuh saat menangkap sosok pemuda surai hijau kini tengah berdiri cukup dekat di depannya.
"Etto..." Jun memundurkan tubuhnya hingga menyentuh tembok.
"Kamu Sazanami Jun-kun kan~?" Tebak pemuda itu tersenyum merekah.
"Ah, y-ya." Jawab Jun kemudian menatap ponselnya dan pemuda itu secara bergantian.
"Eh, nani?"
"Ano, anda Tomoe-senpai?" Tanya Jun mencoba memastikan.
"Lho, Jun-kun baru menyadarinya? Atau baru mengenali diriku yang sudah sangat terkenal ini?"
Jun menelan ludahnya, dia langsung memanggilku dengan nama depan?
Jun mengelus tengkuknya.
"Aku baru mengenal anda, Tomoe-senpai."
"Heeee?! Yah, aku rasa memang harus memperkenalkan diri. Baiklah, aku Hiyori Tomoe, selengkapnya Jun-kun bisa langsung buka di internet. Tapi karena sekarang kita sudah menjadi teman sekamar, Jun-kun mungkin akan mengenal ku lebih jauh."
"Internet?" Ulang Jun.
"Ya, sudah ku bilang bukan? Aku sangat terkenal, coba saja cari nama ku di internet, pasti akan muncul."
Jun hanya mengangguk, mengiyakan saja, meskipun setengah dirinya merasa penasaran, apakah itu benar? Mungkin Jun akan mencoba mencarinya nanti.
"Tomoe-senpai, apa anda tidak keberatan jika berbagi kamar dengan ku, ini tahun terakhir anda kan?!" Tanya Jun mengalihkan topik yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Hm, mungkin ini sebuah kehormatan yang Tuhan berikan untuk mu. Bisa akrab dengan seorang Hiyori itu sangat mustahil, apalagi berbagi kamar. Yah kalau begitu mohon bantuannya, Jun-kun."
Kehormatan? Jun menghela nafas pelan, ia tidak mengerti maksudnya apa.
Jun menatap kembali Hiyori. "Barang-barang Tomoe-senpai mana? Sangat tidak mungkin jika anda tak membawa apapun ke sini." Tanya Jun yang baru menyadari.
"Nanti akan diantarkan, membawa barang-barang bukan tugas ku, itu hanya membuat ku lelah."
Oke, Jun tak mau banyak bertanya lagi, karena dia sendiri bingung pada seniornya itu. Jun merogoh sakunya, mengambil kunci kamar yang tadi diberikan pihak asrama kepada dirinya, kemudian membuka pintu kamar yang ada di depannya.
Hiyori memiringkan tubuhnya agar dapat melihat jelas kamar itu. "Hm, sedikit sempit ya, tapi mau bagaimana lagi." Ucap Hiyori.
Jun masuk ke dalam tanpa basa-basi, ia meletakkan tasnya pada sebuah sofa panjang. Hiyori juga ikut masuk sembari melihat-lihat.
"Woah, kasurnya bertingkat?!" Kaget Hiyori, kemudian ia membuka sepatunya.
"Anda mau ngapain Tomoe-senpai ?" Tanya Jun.
"Mencoba kasurnya, aku tidur di atas kan?" Jawab Hiyori, kakinya bergerak menaiki tangga kecil menuju kasur atas.
"Tidak, lebih baik anda tidur di bawah, akan susah jika harus bolak-balik naik ke atas."
Hiyori menoleh ke arah Jun. "Derajat ku lebih tinggi dari mu, Jun-kun. Jadi aku harusnya tidur di atas." Hiyori melanjutkan naik, namun tiba-tiba kepalanya terantuk besi pada tangga kecil itu.
"Aduh." Merasa kesakitan, Hiyori jadi kehilangan keseimbangan, tubuhnya siap terjatuh.
Jun yang melihat hal itu dengan cepat mendekat, walau akhirnya ia tersungkur di lantai akibat terburu-buru yang membuat kakinya tersandung, dan kini Hiyori jatuh terduduk di atas punggungnya.
Hiyori membuka kedua matanya yang sejak tadi ia pejamkan. "Jun-kun?" Hiyori sepertinya tidak sadar bahwa saat ini dirinya menduduki tubuh Jun.
"Senpai..." Keluh Jun pelan.
Hiyori tersentak lantas langsung menjauhkan tubuhnya. "Eh? M-maaf, Jun-kun." Ucapnya masih mengelus keningnya yang terasa sakit.
Jun mengambil posisi duduk. "Tomoe-senpai, coba perlihatkan kepada ku!" Suruh Jun dengan wajah datar.
"Apanya?" Tanya Hiyori bingung.
"Jidat mu." Jawab Jun.
"Ah." Hiyori mengangkat poninya, membiarkan Jun melihat keningnya.
"Jangan dipegang Jun-kun, ini sakit!" Hiyori menahan tangan Jun yang mencoba meraba keningnya.
"Aku hanya melihat lukanya senpai, sebentar saja."
Hiyori mengangguk pelan, ia tatap wajah Jun yang saat ini cukup dekat dengan wajahnya.
"Jun-kun." Panggil Hiyori.
"Ya, ada apa senpai?" Jun menolehkan pandangannya menatap Hiyori.
Hiyori diam, tangannya bergerak merapihkan poni milik Jun, kemudian menyentuh bagian kening.
"S-senpai?"
"Di jidat Jun-kun juga ada luka benjolan, apa karena saat terjatuh tadi?"
Jun menyentuh keningnya sendiri, benar saja, ia dapat merasakan benjolan itu.
"Aku akan mencari es batu, Tomoe-senpai tunggu di sini saja ya."
"Jun-kun, lebih baik khawatirkan juga luka mu."
"Ya, aku memang lebih mengkhawatirkan luka ku."
"..."
─────────────────
Jun sudah mendapatkan satu gelas berisi es batu. Jun langsung bergegas kembali, tepat di depan kamarnya, ia melihat seorang lelaki dengan beberapa barang di sekitarnya.
Jun teringat pembicaraan Hiyori tadi.
"Nanti akan diantarkan, membawa barang-barang bukan tugas ku, itu hanya membuat ku lelah."
Jun menghampiri orang tersebut.
"Ano, anda mencari Tomoe-, maksud ku Hiyori Tomoe-senpai?"
"Ya."
"Kebetulan, ini memang kamarnya."
"Saya tahu ini kamarnya, tapi sejak tadi Tuan Hiyori tak menyahut saat dipanggil."
Kedua mata Jun terbuka sempurna, sesaat rasa khawatir muncul pada benaknya, ia gerakkan tangannya untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Tomoe-senpai." Suara Jun setengah berteriak.
Sebuah pandangan di depannya membuat Jun lega, ternyata Hiyori ketiduran di atas sofa.
"Tuan Hiyori, jangan biarkan tubuh anda tidur di sini." Lelaki tadi membangunkan Hiyori.
Jun mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia hentikan orang tersebut yang tega membangunkan tidur nyenyak Hiyori.
"Jun-kun?" Hiyori terbangun, mendudukkan tubuhnya sembari mengucek matanya.
"Tuan Hiyori, ini saya. Saya ke sini membawakan barang-barang Anda. Dan di sini sangat sempit, Tuan Hiyori tak pantas-"
"Ah, kamu, jangan bicara begitu, sudah menjadi keputusan ku untuk memilih tidur di mana, di sini nyaman kok, buktinya aku bisa tertidur kan? Terima kasih karena sudah membawakan barang-barang ku, sekarang kamu boleh pulang."
Lelaki itu terdengar mendesah berat, dia pamit pada Hiyori dan pergi begitu saja melewati Jun.
Jun menatap kepergian orang itu, kemudian menutup pintu kamar tersebut.
"Maaf, aku malah ketiduran." Ucap Hiyori memegang kepalanya.
"Apa kepala anda terasa sakit, Tomoe-senpai?" Tanya Jun mengambil duduk di samping Hiyori.
"Yah, mungkin." Jawab Hiyori.
"Berikan jidat mu, Tomoe-senpai!"
Hiyori mengangguk cepat, lalu kembali mengangkat poninya.
"Ini sepertinya akan sedikit sakit, tolong ditahan sebentar." Jelas Jun, ia membungkus beberapa es batu dengan handuk kecil.
"Tunggu!" Cegat Hiyori.
"Kenapa Tomoe-senpai?"
"Tadi Jun-kun bilang lebih mengkhawatirkan luka Jun-kun bukan? Lalu, kenapa sekarang mengobati luka ku terlebih dahulu?"
"Luka mu lebih parah, senpai. Tolong diam sebentar, ini tidak akan lama."
Hiyori mengangguk pasrah, ia biarkan Jun mengompres luka memarnya itu.
Hening, Jun mendadak tiba-tiba gemetar sendiri, ia merasakan dirinya diperhatikan. Jun iseng melirik Hiyori, mereka saling tatap dalam jarak yang cukup dekat. Jun kaget, tangannya begitu saja melepaskan handuk kecil yang sedari tadi ia letakkan pada kening Hiyori.
Hiyori menangkap handuk tersebut.
"Kenapa Jun-kun? Apa sudah selesai?" Tanya Hiyori bingung.
"... Belum, tetap kompres saja senpai aku mau mengompres luka ku sendiri." Jawab Jun mengalihkan pandangan, mengubah posisi duduknya sedikit menjauh dari Hiyori.
"Ah, baiklah." Ucap Hiyori.
"Mau ku bantu kompres, Jun-kun?" Tawar Hiyori.
"Tidak usah senpai." Tolak Jun.
"Eh? Tapi-"
"Aku bisa sendiri senpai, fokus saja pada luka mu, jangan banyak bergerak dulu. Berbaringlah di sana." Jelas Jun menunjuk ke arah kasur.
Hiyori menggeleng, ia sandarkan kepalanya pada sofa, memejamkan kedua matanya dengan tangan menahan handuk kecil pada keningnya.
Jun menghela nafas pelan, kemudian ia mengompres lukanya sendiri. Seharusnya tadi aku tidak menolaknya. Jun langsung menepuk pipinya, apa yang kau pikirkan Jun?!
To be continue...
1228 words
📍Shia
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro