
𝙾𝟺
Suara mesin elektrokardiogram, menjadi penghantar seseorang menuju sebuah ruangan dengan minim cahaya.
"Maaf, maaf harus ngorbanin kamu, lagi," ucap perempuan tersebut dengan lembut, tanganya pun terulur membelai rambut pemuda yang memejamkan mata di atas bangsal. Namun fokusnya teralih oleh suara langkah sepatu.
"Nesa, pasien di ruangan sembilan mulai curiga. Apa tidak sebaiknya kita bunuh saja?"
"Jangan dulu, dia.. ingatannya mulai kembali." Perempuan bernama Nesa melempar senyuman, menatap wajah pemuda yang terlelap dari dekat. Wajah tenang nan dingin itu, ia rindu.
"Tolong, jangan bawa perasaan ketika sedang bekerja. Profesor akan sangat kecewa padamu, jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi."
Younghoon memasukkan kedua tangannya pada jaket tebal yang ia kenakan. Angin dingin berhembus kencang menerpa wajah kedua pemuda yang sama-sama membisu. Changmin memegang sebuah senter besar di tangan kanannya, menyoroti setiap pohon yang ia lalui.
"Ngapain sih malah nyenter pohon?"
"Jaga-jaga kalau ada mbak kunti, siapa tau dia juga jomblo."
"Kalau dia juga jomblo emangnya kenapa?"
"Gua kan juga jomblo, heheh.. Kata Sunwoo kunti banyak yang cantik tau."
Younghoon tersenyum masam, berharap kalau kawannya itu tidak benar-benar serius. Ia masih heran kenapa tidak di kelilingi oleh manusia normal. "Boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa?"
"Kenapa sembunyiin alat panah lu?"
"Kan kita nggak ada yang tau kalau salah satu dari kita ada yang berkhianat. Lu juga harus hati-hati, Hoon."
"Lu juga nggak percaya sama gua?"
"Hmm.. Liat aja nanti."
"Maksudnya?" Bukannya menjawab, Changmin hanya tersenyum menanggapinya.
Seusai itu tak ada percakapan di antara mereka. Hening beberapa menit, Changmin kembali bersuara. "Gua boleh nanya juga nggak?"
"Boleh. Mau nanya apa?"
"Kenapa lu kabur dari rumah, dan kenapa nggak kasih kabar ke Rhea?"
"Itu.."
Sunwoo berseru heboh, "Itu rumahnya bukan sih?" Jari teluntuknya mengarah pada sebuah bangunan minimalis bernuansa kayu.
"Mana gua tau, gua kan nggak tau." balas Eric santai.
"Ish, ngeselin lu."
"Ya kan ketularan lu, maemunah."
"Berisik ya klean, cek aja ayok!!" seru Chanhee tak tahan. Iyalah, jalan di antara dua manusia berkelakuan setan cukup membuatnya hareudang.
Jalan beberapa langkah, tibalah mereka di depan rumah. "Coba ketuk, Ric."
Eric menautkan alisnya, "Emang nggak ada bel?"
"Ini di hutan, kocak." Chanhee yang akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. Agak takut juga sih, kalau salah orang kan bahaya juga untuk nyawa mereka.
Tok.. tok... tok...
"Punten.. Gofud!!" pekik Sunwoo.
Eric lantas menoyornya. "Nggak waras ni anak. Minggir!!"
"Excuse me!! Ada orang di dalam?"
"Iya!!?" suara dari dalam rumah. Beriring dengan derap langkah seseorang.
"Eh, nyadar nggak sih? Suaranya nggak mirip Hwall."
"Kalau bukan Hwall, terus dia siapa dong?"
"Gini aja, dalam hitungan ketiga kita lari."
"1"
"2"
"3"
"Hwaaaaaa!!!!!!!! Jin—"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro