Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[23] Zahfiyyan dan Sebatang Gitar

[23] Zahfiyyan dan Sebatang Gitar

Seminggu berlalu Mama pun pulang ke negara suaminya. Ayah Nazril tak dapat menghadiri acara kemarin karena beberapa hal. Kupikir bagus sebab beliau tak harus bertemu dengan Papa. Mungkin mereka akan biasa saja layaknya Mama dengan Mami Rana, namun aku sebagai orang di luar lingkaran itu yang ketar-ketir. Akankah terjadi peperangan fisik atau verbal? Aku tak dapat membayangkan betapa buruknya hal itu.

"Melamun. Memikirkan apa?"

Aku tersentak sebab suara dan tangan yang menyentuh pundakku. Kubalik badan ke arah Zahfiyyan yang telah berdiri dengan tampan sambil berlipat tangan.

Tuh 'kan pesona pria ini tak pernah luntur walau aku sempat sebal setengah hidup kepadanya.

"Bisa nggak sih masuk tuh ucap salam?"

Pandai kau, Zura!

"Assalamu'alaikum, yaa zawjatii," bisiknya betul-betul dekat ke telinga cucunya Anduang Rafiyah ini.

"Waalaikum salam, yaa syaitonirrajiim," balasku tak kalah manis.

Zahfiyyan tersenyum kecil kemudian mendaratkan telapak tangan ke puncak kepalaku.

Aku langsung siaga. "Diapain?"

"Mendoakan istri saya agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk," bisiknya dengan tangan masih mampir di kepalaku.

"Itu 'kan kamu."

"Kalau godaannya dari saya, Dek Istri harusnya senang karena akan dapat pahala jika meladeninya."

Mak-sud-nya?

"Dari mana kamu?" tanyaku mengubah topik.

Please, ya, Ganteng. Aku lemah pada pesonamu. Aku nggak mau jatuh terlalu cepat. Itu nggak adil untuk sakit hatiku di tahun-tahun yang lalu.

"Rumah Umi. Beliau sedikit tidak sehat—"

"Kamu enggak ngajak aku?"

Dia tersenyum lagi. Manis banget sih suami Zura, Ma.

"Umi nggak apa-apa cuma kecapean aja akibat acara. Kalau kamu gimana?"

Aku mengerutkan kening. Kenapa denganku?

"Gimana apanya?"

Dia menyentuh dahiku menggunakan punggung tangan. "Penikahan kita, yaa zahratii, tidak sampai bikin kamu kecapaian seperti Umi?"

"Oh. Nggak."

"Mau jalan-jalan tidak?"

Kencan maksudnya?

Aku pura-pura tak peduli. "Ke mana?" tanyaku cuek.

Aduh! Ini kali pertama diajak jalan. Ke mana saja boleh kok asal dibayarin transport dan makan.

"Pantai dekat sini saja. Karena sudah sore, kita lihat matahari terbenam. Mau?"

"Ya udah, aku ganti baju dulu."

Kulirik dia menggaruk kepala bagian samping.

"Kamu mau berdiri di sana? Aku nggak harus ke kamar mandi loh ganti bajunya."

Dia pun buru-buru ke luar.

Tak butuh waktu lama-lama, aku telah duduk di sebelah Nenek di kursi ruang tengah.

"Nenek mau Zura belikan apa nanti?" tanyaku sambil memeluk pinggang Nenek.

"Martabak rasa pisang cokelat," kata Nenek melepaskan pelukanku.

"Selain itu apa lagi?" tanyaku.

Nenek menggeleng cepat. "Pergilah sebelum sore makin habis."

Kami berpamitan dan berucap salam.

Angin dari laut menyambut kedatangan kami di pantai. Rambut serta rokku berkibaran seperti bendera pusaka di tiang tinggi. Dengan kesusahan aku memegang ujung rok putihku agar tak terbang ke mana-mana.

"Kita balik lagi saja." Zahfiyyan menarik tanganku menuju mobil.

Apa-apaan dia?

Aku menegangkan tubuhku, menahan kaki kuat-kuat di pasir. Cukup berhasil karena Zahfiyyan berhenti melakukannya.

"Jangan pakai tarik bisa? Aku bukan kambing."

Dia berkacak pinggang. Pandangannya ia arahkan ke laut.

"Tadi yang ngajak keluar Anda, Pak. Saya nggak minta dibawa ke sini kok."

"Kamu selalu seperti ini di luar rumah?"

Matanya memandangiku dari rambut hingga kaki. Sementara itu, satu tanganku tetap pada posisi depan, menahan angin agar tak mengangkat ujung dress putih ini.

"Lebih baik kamu tidak ganti baju. Piyama Hello Kitty yang tadi lebih aman dan sopan dari ini," komentarnya.

Aku tahu dia benar. Jika memakai celana panjang, aku tak perlu repot-repot seperti ini. Namun, aku tak ingin mengaku kalah.

"Makanya kacamata kamu dipasang. Tuh lihat di sana! Ada yang bajunya cuman setengah meter sebadan-badan. Kamu bilang ini nggak sopan, terus itu apa?"

"Tidak usah berdebat bisa?" tanyanya lemah.

"Yang mengajak debat siapa?" Suaraku tetap stabil kencangnya. "Kamu kalau mau balik, pulang aja sendiri. Aku mau lihat sunset dan setelah itu beli martabak untuk Nenek."

Saat aku berbalik sebuah kain telah melingkar di pinggangku. Dia memutari tubuhku dan mengikat lengan kemejanya ke pinggangku yang berisi.

Sontak aku menjerit dan menjauh sedikit.

"Jangan pegang!" teriakku panik.

Zahfiyyan melirik ke kanan dan kiri. Beberapa orang cukup tertarik dengan kegaduhan yang kubuat. Apalagi melihat tangan Zahfiyyan di ujung kemeja yang dia pasangkan tadi.

"Kamu berisik sekali."

"Aku bisa pasang sendiri, Bapak. Jauhkan tanganmu sekarang juga," gumamku menahan geram.

Perut berlemakku, Mak. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku menyimpan daging berlebih di sumatra bagian tengah.

"Kamu kenapa hobi marah-marah sih?" Zahfiyyan berkacak pinggang dengan napas naik turun.

"Kamu juga kenapa sih pakai tegak pinggang gitu? Kelihatan seperti preman mau malak."

"Zura ...." Dia memegang kepalanya dengan kedua tangan. Tanda-tanda orang frustrasi deh kayaknya. Entahlah. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia pikir dan rasakan.

Aku mengangkat bahu. Berjalan agak susah menghindari pasir masuk ke sepatu. Tibalah aku di batu pemecah ombak. Kunaiki pelan-pelan hingga berhasil duduk di batu yang paling ujung dan menjorok ke laut.

Tenteram seperti memagut saat menyaksikan langit yang jingga. Aku meletakkan sepatu di sebelah yang kemudian disingkirkan oleh seseorang. Dia menggantikan posisi sepatuku.

"Assalamu'alaikum, Zura Azzahra."

Aku menoleh ke sebelah. Matanya tak kunjung henti menatapku. Lalu kubalas salamnya dengan mengucapkan nama lengkapnya juga.

Aneh. Perdebatan kami beberapa saat yang lalu menyingkir dengan sendirinya. Kami saat ini saling diam menatap ke satu titik. Matahari bulat yang bersiap-siap masuk ke peraduannya. Cahayanya yang kemerah-merahan tampak indah dan megah. Seolah-olah di ujung sana ada negeri yang seluruh ornamennya berwarna orange.

Beberapa saat kemudian, sang surya mulai undur diri dari siang.

"Waw," decak kagum tak dapat kutahan.

"Masya Allah," ucap suara maskulin di sebelahku.

Aku pun meniru ucapannya, kemudian kurasakan tanganku diselubungi oleh sesuatu. Saat aku menoleh untuk mengecek, tangannyalah yang mengungkung tanganku.

"Senja jadi semakin indah," gumamnya.

Aku mengiakan.

"Ra," panggilnya. Telah lama dia tidak memanggilku dengan cara seperti ini.

Menanggapinya, aku menggumam. Masih terpukau oleh jejak hilangnya matahari.

"Ayo kita mulai berkenalan lagi."

"Ah?"

Zahfiyyan berpindah ke depanku. Dia duduk bersila menghadapku. Tangan kanannya terulur hendak berjabatan. Ragu akan maksudnya, aku membalasnya secara perlahan.

"Aku Zahfiyyan Sharnaaz," katanya saat tangan kami bertautan. Dia membuat jemari kami menjadi saling pagut.

"Lahir pada tanggal sepuluh Maret. Anak pertama dari dua bersaudara. Seorang muslim. Punya pekerjaan sebagai pengajar di sekolah tinggi. Punya kendaraan roda empat. Punya tabungan di satu bank. Dan sudah beristri."

Entah mengapa senyuman tiba-tiba tercetak di bibir ini.

"Hm," mulaiku. Memperbaiki tangan kami kembali berjabatan.

"Namaku Zura Azzahra. Lahir tanggal satu Maret. Anak tunggal dari keluarga broken home. Kedua orang tuaku telah memiliki keluarga baru. Seorang muslimah enggak taat. Bekerja di sekolah menengah atas. Punya kendaraan roda dua warna pink. Punya tabungan di satu bank. Dan sudah punya suami."

"Kita sama-sama sudah terikat," kata Zahfiyyan.

Suara azan dari Masjid Nurul Bahari memanggil salat. Zahfiyyan menjawab setiap kalimat seruan tersebut. Aku pun mengikuti apa yang dia lakukan. Secara otomatis, aku selalu meniru apa yang dia lakukan.

Dia berdiri. Tangan kanannya terulur hendak membantuku berdiri. Memang aku agak terhuyung akibat melipat kaki selama duduk tadi. Untung ada dia tempatku berpegangan.

"Rekam momen ini baik-baik," bisiknya, "kita mulai semuanya dari sini. Aku dan kamu telah menjadi kita. Kita akan saling mengenal seiring perjalanan rumah tangga kita ini."

Adek meleleh, Abang. Eh ...

"Aku sama kamu lebih tua aku dong ternyata," celetukku tiba-tiba.

"Cuman lebih tua sepuluh hari kok."

"Aku ingin punya suami yang lebih tua nggak kesampaian dong."

"Tidak bisa lagi dong. Kamu sudah jadi istrinya laki-laki yang lebih muda."

"Aku nggak tua."

***

Betul kata Zahfiyyan. Senja di pantai itu menjadi awal untuk kami berdua. Aku mengakui bahwa diri ini telah menjadi miliknya yang diklaim lewat jabat tangan dengan Papa dan ikrar pada Tuhan.

Kami mulai saling berkenalan seperti yang dia ucapkan. Step by step, alon-alon, pakai gigi satu.

Ternyata Zahfiyyan suka kopi pahit tanpa gula. Katanya dulu dia bukan penyuka zat hitam itu. Sebuah kejadian cukup sentimentallah yang membuat indra pengecapnya ganti haluan dari manis menjadi pahit.

Aku bertanya apa alasannya. Dia kukuh tak ingin menjawab. Dia bilang belum waktunya. Kan aku jadi geer seolah alasannya adalah aku. Mungkin saja dia patah hati karenaku sehingga menyukai kopi tanpa pemanis sebab kalau manis akan teringat padaku terus-terusan.

Zahfiyyan cukup rapi orangnya. Dia tak suka meninggalkan handuk sembarangan setelah mandi. Baju habis pakai akan dia masukkan ke keranjang di sebelah pintu kamar mandi, bukan dicecerkan begitu saja sebagaimana kudengar cerita tentang suami ibu-ibu di kantor.

Sebenarnya hal itu sudah terlihat saat dia melipat sajadah sih. Dia merapikan perlengkapan salat itu setelah beribadah. Kokonya selalu dia pasang ke hanger dan gantung di belakang pintu. Lalu dia akan pakai sarung dan kaus dalam saja.

Dia membuat jantungku berdebar-debar. Iya. Anak perawan Mama Faralyn ini nggak kuat melihat badan suaminya yang sandarable itu. Kulitnya yang putih seperti memantulkan bayanganku saking bersihnya.

Dia suami Zura, Ma, tidak dosa kan mupeng dikit?

Zura

Suamiku ganteng banget!

Aku menggigit kuku setelah mengirim pesan tersebut. Balasan langsung kuterima dalam beberapa detik.

Voni Femitha

What? Kamu habis ngapain? Nggak tahu magrib!!!

Eh? Habis ngapain?

Aku hanya bisa menggaruk-garuk leher belakang. Aku tahu ini Magrib. Aku pun masih pakai mukenah habis berjamaah dengan Nenek dan Zahfiyyan. Tak mungkin aku sampai lupa waktu salat apalagi punya suami seperti Zahfiy.

Zahfiyyan menarik sebuah kemeja, kemudian mengenakannya. Dilepaskannya sarung Wadimor lantas menyarungkan celana panjang.

Dia kenapa biasa aja sih ganti di depan aku?

"Rapi amat, Pak. Mau ke mana?"

Aku juga menanggalkan satu per satu atribut salat dan menggantungnya ke hanger. Sejak melihat kerapian lelaki ini, aku sudah jarang meletakkan mukenah secara asal-asalan. Biasanya sih aku gulung dengan sajadah lalu lempar ke tempat tidur.

"Malam mingguan dong. Ikut?" tanyanya.

Ikut?

"Kalau aku tidak bertanya, kamu mau malam mingguan dengan siapa memang?"

"Rencananya sih dengan perempuanku. Kamu ikut atau tidak?"

"Enggak."

"Makan sate madura kayaknya enak nih. Pulangnya bisa bungkus seporsi untuk Nenek."

Murahan!

Aku langsung tergoda mendengar sate. Ya, dia tahu itu makanan favoritku.

"Nggak usah ganti baju!" cegahnya saat aku menuju lemari.

Aku mengamati pakaianku. Setelan baju tidur celana panjang berlengan pendek.

Siapa juga yang mau ganti baju. Malam, ya, cocok dong pakai baju seperti ini.

"Aku ambil jaket. Dingin di luar."

Tiba di gerobak sate yang berada di Jalan Imam Bonjol, kami memesan sate ayam yang wanginya sudah tercium sejak turun dari mobil. Betul-betul menggugah selera.

Saat kami makan, ada seorang pemuda naik ke teras lalu terus ke dalam. Di tangannya ada sebuah gitar. Dia permisi sebentar sebagai pembukaan kemudian mulai memainkan alat musik. Beberapa saat kemudian suaranya menyusul musik dari petikan jarinya. Lagu Andra Respati menemaniku dan Zahfiyyan makan.

"Boleh pinjam gitarnya, Uda?" tanya Zahfiyyan.

Aku segera menggeleng. Zahfiyyan dan gitar adalah kombinasi sempurna. Aku tak sanggup lebih baper dari sekarang kalau dia sampai menyanyi.

Suamiku tak mengerti dan terus menerima gitar. Dia berterima kasih dengan melayangkan senyuman yang sangat manis.

"Istri atau masih pacar, Bang?" Si pemuda bertanya.

"Urang rumah, Da."

Usaha banget kayaknya bikin aku kelepek-kelepek. Dia memetik gitar dan mulai menyanyi.

Kutuliskan kenangan tentang

Caraku menemukan dirimu

Tentang apa yang membuatku mudah

Berikan hatiku padamu

Jangan larak-lirik ke sini, sih. Bikin aku melting ke langit ketujuh saja. Kamu kelihatan manis banget kalau lagi nyanyi. Terus lihat ke aku apa maksudnya?

Takkan habis sejuta lagu

Untuk menceritakan cantikmu

Kan teramat panjang puisi

Tuk menyuratkan cinta ini

Ya Allah. Dia suamiku 'kan? Sudah jadi milikku 'kan? Aku bahagia nian, Allah.

Telah habis sudah

Cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia

Karena tlah kuhabiskan

Sisa cintaku hanya untukmu

Ah, ini cuma lagu. Liriknya hanya karangan saja. Masa sih dia cinta kepadaku? Pernikahan ini baru. Alasan dia menikahiku karena dicium pipi. Jangan sampai aku menganggap lirik ini sungguhan.

Tapi ... dia tampan banget pas memeluk gitar. Kan jadi iri. Aku kapan dipeluk?

Aaaah! Ngaco!

*** 

Bersambung   . . .  Beb

Lempuing, 17 Januari 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro