Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[22] Ciuman Balas Dendam Katanya

[22] Ciuman Balas Dendam Katanya

Sayup suara azan membangunkanku dari lena. Kedua kelopak mata serentak terbuka. Aku tersentak kemudian terduduk. Ketoleh ke sebelah. Lega. Aku hanya tidur sendirian di ranjang ini.

Beringsut sedikit demi sedikit ke ujung pembaringan, pandanganku jatuh pada sofa panjang yang menempel pada sisi tempat tidur. Di sana ia tengah terlelap dengan damai. Kaki kanan disilangkan ke kiri. Tangan pun demikian. Aku turun lalu berdiri di sebelah tidurannya. Napasnya teratur menandakan ia sedang dibuai mimpi.

Semalam adalah malam pertama dalam kehidupan rumah tangga kami. Faktor lelah menyebabkan aku meninggalkannya tidur lebih dulu. Aku bahkan tidak tahu dia masuk ke kamarku.

"Tidur di sofa dan jangan ganggu aku."

Kurasa aku memang mengucapkan kalimat itu dalam keadaan sadar dan tidak.

Lima menit kemudian aku telah khusyuk menjalankan ibadah vertikal. Setelah salam kuucapkan, aku menoleh ke belakang untuk mengecek tanda-tanda kehidupan dari Zahfiyyan.

Kebo juga rupanya.

Aku pun berdiri untuk membangunkannya. Dia pasti sangat lelah sampai tak mendengar panggilan salat. Aku yakin dia biasanya tak pernah lalai.

"Hei, bangun!" Kuguncang-guncang pundaknya. Ketika melakukannya, aku merasa ada setruman. Aku tak mengada-ngada. Sungguh aku merasakan ada aliran negatif yang berenang dalam sel.

Dia menggeliat kecil dan mendengkur halus. Saat ini dia terlihat manusiawi. Makhluk paling tampan yang kukenal ini ternyata melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Menyaksikan Zahfiyyan tidur dengan nyenyak sambil bersendar.

Ketika aku akan mengguncang tubuhnya sekali lagi, manusia yang sah menikahiku kemarin pagi itu tiba-tiba duduk dengan cepat. Bibirnya mengeluarkan kalimat istigfar. Kedua tangannya meremas rambut yang tampak berantakan. Aku hanya diam melihat reaksinya yanga aneh itu.

"Oh iya," ucapnya. "Kita sudah menikah. Kemarin," tekannya.

Aku berdecak saat menyadari dia baru saja melewati disorientasi.

"Solat sana!"

"Mukenanya jangan dibuka dulu, ya," cegahnya sebelum ke kamar mandi.

Aku mengedikkan bahu dan tidak menolak permintaannya. Cuaca cukup dingin. Perlengkapan salat ini membuatku tetap hangat. Aku duduk di sofa yang menjadi tempat tidur Zahfiyyan. Sengaja ingin melihat dia sujud kepada Tuhannya dari jarak dekat.

Ya Allah. Aku tak mengerti apa yang sekarang kurasakan. Ada perasaan tenteram melihat lelaki yang pernah kuucap dalam doa menegakkan tiang agamanya di kamarku. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Mataku mengikuti setiap gerakannya dalam diam. Dia melakukan dua rakaat dengan sangat khusyuk.

Tak sadar ternyata Zahfiyyan telah menyudahi salatnya. Aku memperhatikan baik-baik saat dia melipat sajadah dan meletakkan di punggung kursi tunggal depan cermin riasku. Mungkin tadi aku bisa leluasa melihatnya, kini tak berani lagi. Sebelum dia melangkah ke dekatku, aku cepat-cepat menunduk dan memainkan renda mukenah.

Jantung yang tersimpan aman di balik rongga dada ini berdentum pelan ketika ubun-ubunku disentuh. Kepala kuangkat pelan-pelan untuk melihat apa yang sedang dia lakukan. Zahfiyyan meletakkan tangannya di kepalaku. Bibirnya melantunkan doa dengan lirih.

"Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih." Dia mengulurkan tangannya. "Salat sunnah dua rakaat," ajaknya. Terus kenapa tadi sajadahnya dia lipat?

Bagai terkena sihir, aku membalas ulurannya. Kami melakukan ibadah sunah yang seharusnya telah dilakukan tadi malam.

***

"Cepatlah, Ra, Zahfiyyan sudah menunggu!"

Ketukan berubah menjadi gedoran saat aku tak menjawab. Aku berjalan dengan malas untuk membukakan pintu bagi Mama.

"Iya ini juga sudah siap kok," kataku sebal diburu-buru.

"Kamu mau datang dengan tampilan seperti ini?"

Aku mengikuti arah pandangan Mama. Bajuku sopan. Tunik berwarna kopi susu dengan motif bunga di bagian bawahnya. Lengannya mencapai punggung tanganku. Celanaku juga panjang. Berbahan lembut warna hitam dan tidak ketat. Rambutku kuikat rapi, tak ada anak rambut yang keluar dari ikatan.

"Salahnya di mana?"

"Ya masa kamu datang ke perpisahan KKN suami tanpa tutup kepala. Suamimu dosen mereka, Zura," peringat Mama.

"Ya kalau Zura berubah, mereka tetap sibuk juga menggibahi Zura. Buat apa tampil cantik demi orang lain? Pakaian Zura juga sopan banget kok, Ma."

"Kasihan suamimu punya istri kayak kamu," geleng Mama.

"Salah siapa juga mau menjadikan Zura istri?" sahutku menutup pintu.

Zahfiyyan yang sedang mengobrol dengan Nenek segera berpamitan. Dia mencium punggung tangan Nenek dengan takzim. Lelaki itu datang ke Mama dan memberikan perlakuan yang sama.

"Seperti yang Mama minta kemarin," kata Mama pada Zahfiyyan. "Sekarang tanggung jawab kamu untuk mendidik akhlak Zura supaya lurus," sindir Mama melirikku yang kubalas dengan mengerucutkan bibir.

"Makin panas nih. Kalau nggak niat pergi, kenapa juga aku dibangunkan pagi-pagi?"

Jadi, setelah salat sunah tadi Subuh, aku ketiduran lagi. Penyebabnya, ya, Zahfiyyan. Dalam kesyahduan yang tercipta, dia dengan leluasa mencuri cium di pipiku. Kaget pun aku tak sempat karena dia segera membangkitkan kekesalanku. Dia bilang itu pembalasan untuk ciumanku di depan masjid tempo lalu. Dia mengakui kalau waktu itu dia sampai linglung dan hilang orientasi.

Aku bilang kepadanya, "Baru pertama kali, ya, dicium perempuan?" Dia jawab bukan. Sebelum aku berpikiran negatif, dia langsung mengatakan bahwa wanita pertama tentu saja Umi Runa.

Kalimat yang dia lontarkan dan menyebabkan aku tremor setelah itu adalah, "Karena ciuman kamu, aku langsung melamar kamu ke Papa supaya tidak membayangkan yang enggak-enggak. Karena kejadian siang itulah, aku bertekad mengikat kamu dengan ikatan pernikahan sehingga kamu tidak dimiliki orang lain."

Aku tak bisa menanggapi, hanya membalas tatapannya yang sangat berani. Sebelum menikah, dia selalu melihat ke arah lain saat berbicara denganku. Seolah aku jelek dan tak pantas dilihat. Dulu aku memang selalu berpikiran buruk tentangnya. Aku merasa dia jijik menatapku yang tak sesuai dengan penampilan perempuan di lingkup kehidupannya—berhijab dan berpakaian tertutup.

Alasan sebenarnya dia tidak menatapku lama-lama—saat bicara—karena kami bukan mahram. Dan kini aku telah halal baginya. Dia berhak memandangku saat berinteraski. Aku pun sama. Begitulah kira-kira petuah yang disampaikan para tetua sebelum menikahkan kami.

Masya Allah.

Tanganku dia genggam. Dia selipkan jari-jemari kami. Dengan berani pula dia menyibak rambutku. Dan ketika dia melakukan semua itu, aku hanya diam sambil menatapnya yang penuh pesona. Entah ke mana perginya rasa sebalku untuknya. Dia mengusap rambutku hingga ke telinga yang mengakibatkan aku memejamkan mata. Kantuk mulai datang. Sialnya, Zura sang Putri Tidur pun kembali. Ketika terbangun, aku sudah berbaring di tempat tidur sedangkan Zahfiyyan mungkin ke luar.

"Ayo," katanya dan membuyarkan lamunanku akan kisah pagi bersamanya.

Kami berjalan kaki menuju halaman kantor kepala desa.

"Ra."

Aku tak menjawab iya, tapi dengan bergumam saja.

Zahfiyyan banyak ditegur oleh ibu-ibu sepanjang jalan. Setelah berbasa-basi dengan ibu dan anak gadisnya yang berpapasan dengan kami, dia melanjutkan perkataan yang tertunda.

"Kamu tidak senang dengan pernikahan kita?" tanyanya.

Aku pun tak jadi melangkah. "Aku nggak mau membahasnya di jalan. Jangan bertanya yang aneh-aneh di tempat umum."

"Kamu belum pernah tersenyum loh, Ra, sejak menjadi istri aku."

"Senyumanku mahal."

"Aku bayar pakai apa?" tanyanya serius ingin tahu jawabanku.

"Terserah kamu, pikirkan sendiri." Aku meneruskan jalan selangkah di depannya.

"Ra." Dia menarik tanganku. Maju ke hadapanku dan menatapku. "Demi Allah. Aku bahagia sekali bisa menjadi suami kamu. Kamu tidak merasakan hal yang sama?"

Aku belum mengenal Zahfiyyan yang seperti ini, yang jujur dan blak-blakan.

"Sudah sih, jangan bikin drama di jalan. Aku sudah lama jadi artis di sini, nggak mau tambah terkenal lagi karena bertengkar di hari pertama menikah."

"Kamu nggak pernah memanggil namaku lagi, Ra."

Nadanya sejak tadi terdengar sendu sekali. Anak laki-laki kesayangan Umi dan Mami ini sedih karenaku. Lantas aku harus bagaimana?

"Kita kapan sampainya ini? Kamu itu orang penting loh dalam acara nanti," kataku mengingatkan.

"Kalau gitu, aku minta kamu tersenyum. Sekali aja, ya," pintanya.

"Sebenarnya kamu kenapa sih? Senyum aku penting banget apa? Mana bisa senyum kalau dipaksa!"

Aku pun tak ingin meladeni lelaki itu lagi. Aku berjalan dengan langkah lebar-lebar di depannya. Kudengar dia menyahuti sapaan seseorang yang lewat bersepeda motor yang memanggilnya dengan sebutan 'Pak Dosen' serta warga yang duduk di depan rumah. Sama sekali tidak ada yang menyapaku dan hanya melakukannya kepada Zahfiyyan.

Setiba kami di lokasi acara, aku dan dia dibawa ke kursi paling depan oleh panitia. Ada tiga buah sofa panjang yang dijejerkan. Pak Zainudin serta istri telah mengisi posisi paling kanan. Perangkat desa lainnya juga telah duduk di sofa yang sama. Bagian tengah ada sepasang suami istri yang kutebak adalah dosen dari kampus Zahfiyyan. Kami diinstruksikan mengambil tempat di sofa paling kiri.

Bapak yang duduk di tengah ternyata adalah Ketua Sekolah Tinggi. Dia sedang memberikan sepatah kata dalam acara pembukaan disusul oleh Pak Zainudin. Lalu pembawa acara mengundang Zahfiyyan untuk memberikan sambutan juga.

Aku menjawab pertanyaan basa-basi dari rekan Zahfiyyan. Hal-hal umum seperti nama, alamat rumah, kerja di mana, anak siapa, dan sudah kenal Zahfiyyan berapa lama. Ketua juga mengucapkan selamat untuk pernikahanku dan meminta maaf tidak dapat datang kemarin.

"Dipandangi tuh oleh suaminya," bisik Bu Diah, istri Pak Ketua.

Aku pun segera mencari tahu ke arah panggung. Zahfiyyan sedang menjelaskan bahwa dia mendapatkan banyak keluarga sejak melepaskan mahasiswa KKN di kampung ini.

"Saya betul-betul memiliki keluarga baru dan menjadi bagian dari warga desa ini. Takdir yang tak pernah saya sangka-sangka. Ini rezeki terbesar dalam hidup saya. Saya sangat berterima kasih karena KKN ini mendatangkan jodoh."

"Saya tidak pernah melihat Pak Zahfiyyan seperti ini, Bu," bisik Bu Diah. "Dia pasti bahagia sekali saat ini karena punya istri yang cantik seperti Ibu Zura. Aura pengantin baru kelihatan sangat jelas," kata Bu Diah membuatku menoleh lagi pada Zahfiyyan.

Ketampanannya berlipat-lipat jika dilihat dari sini. Dia mengenakan kemeja biru laut terkancing rapi. Rambutnya disisir ke belakang, mempertontonkan keningnya yang putih. Kacamata minus bertengger indah di hidungnya, membuat ia terlihat smart. Ujung kemejanya dimasukkan ke dalam pinggang celana bahan hitam. Ikat pinggang sewarna berkilat dan tampak elegan di tubuhnya.

Saat dia menatapku, aku tersenyum kepadanya. Rekah-rekah senyuman nyaris menjadi tawa akibat kekonyolannya di panggung. Kenapa aku bilang konyol?

Zahfiyyan pakai curhat segala saat disuruh memberikan sepatah kata.

*** 


Bersambung  .....

OKI, 14 Januari 2020

Haaaay, Terima kasih sudah membaca sampai bab ini...
Kita akan masuk ke konflik yang ada di Crazy Revenge. Siap??? 👌👌👌

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro