Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[05] Musikalisasi Puisi

Happy Reading....


Kembali ke kampus!

Selama liburan, Mama menemaniku di rumah. Ayah Nazril lebih dulu balik ke negaranya karena urusan pekerjaan. Mama ikut aku ke indekos dan tidur beberapa malam di sini. Sehari sebelum kuliah, aku mengantar Mama ke bandara. Aku berjanji tidak akan menangis. Jadi, kulepaskan Mama dengan senyuman dan pelukan hangat. Begitu pula Mama.

Sepanjang masa liburan, nama Zahfiyyan nyaris tidak pernah kuingat. Semua perhatian dan pikiranku hanya untuk Mama, Nenek, dan Kakek. Mungkin semasa di Padang, aku banyak baper karena baru sekali ini naksir cowok. Mungkin aku belum mencintai siapa pun kecuali keluargaku. Syukurlah. Aku tidak mau mengalami hal yang sama seperti kedua orang tuaku.

”Haaah! Aku kepagian,” lirihku kemudian memerosotkan tubuh ke lantai. Lorong ini masih sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Ini kuliah hari pertama. Jadi aku semangat banget tadi. Sebelum azan Subuh sudah mandi dan sehabis salat baca Qur’an sebentar sebelum berganti pakaian. Tahunya jadi begini. Mana tadi karena takut dalam lift sendirian, aku naik tangga lagi. Sekarang kakiku rasanya pegal banget.

Aku mengurut-ngurut betisku di balik rok panjang. ”Nasibmu, Ra Ra, punya betis segede ini. Coba kalau kecil, mungkin nggak akan ngos-ngosan kali.”

”Zura ....”

Kuangkat sedikit kepalaku untuk melihat siapa yang baru menyapa. Dia duduk di seberangku. Menggelesot di lantai depan ruangan kuliah yang masih tertutup. Zahfiyyan bersila dengan ganteng di hadapanku.

Dia selalu memulai dengan salam terlebih dahulu setiap akan menyapa. Aku biasanya terlalu banyak bengong sehingga lalai membalasnya seperti pagi ini. Dia pun mengulang salamnya sambil memberikan aku sebuah senyuman indah. Vitamin mata di pagi hari.

Astagfirullahal’adzim, Zura! Stop kecentilan!”

Aku berhasil mengondisikan jantungku yang berdiam di balik rongga dada agar tenang. Jadi aku mampu bersikap tidak malu-maluin seperti biasa saat berhadapan dengan Zahfiyyan. Cukup dewi batinku saja yang ganjen di dalam sana yang berteriak-teriak senang melihat paras segar Zahfiyyan.

Aku pun mengingatkan kedua manik cokelatku untuk menjauhi zina mata. Telah cukup salah selama ini aku terlalu banyak memikirkannya. Yang seperti itu kata Kak Mifta sudah zina hati namanya. Masya Allah. Kuajak diriku sendiri untuk berbenah. Kagum boleh, berlebihan jangan. Sewajarnya saja. Masih ada Tuhan yang patut kukagumi dan kumuliakan.

Aduh, susahnya jadi anak baik-baik.

”Semangat sekali pagi ini, Ra, gimana dengan liburannya?”

Mengajakku bicara mungkin cuma caranya untuk menjalin komunikasi. Hanya kami berdua di lorong ini. Tidak mungkin kami saling diam, sementara kami sama-sama kenal.

”Luar biasa asyik. Mamaku pulang. Kamu liburannya gimana, Zahfiy?” cicitku hingga ujung namanya kuserukan sedikit panjang. Kurasa ini pertama kalinya aku memanggilnya seperti itu.

Dia tersenyum sebelum berkata, ”Selalu menjadi momen paling ditunggu setiap akhir semester.”

Tentu. Semua mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah selalu berharap liburan segera tiba. Berbeda sekali denganku sebelum pulang. Karena dia, aku malas untuk kembali. Namun, setiba di rumah aku hampir lupa kepadanya.

Aneh sekali. Kalau dia tidak ada arti di hatiku, kenapa dia selalu hadir dalam kepalaku? Kalau aku tidak mencintainya, kenapa aku galau sekali dulu? Kalau aku hanya menyukainya, kenapa aku sampai panas dingin begini  berhadapan dengannya?

”Kamu di kelas ini juga?” tanyaku baru sadar bahwa kali ini kami sekelas.

Dia kembali tersenyum, namun kali ini agak aneh. Dia menunduk dan menggaruk rambut yang ada di atas telinga kanannya.

”Ngapain ngesot di sini hah?!” Vayola menarik tanganku sampai aku berdiri.

Zahfiyyan juga berdiri setelah itu. Kudengar dia membisikkan kata ‘alhamdulillah’ untuk dirinya. Untuk apa? Apakah dia pikir aku akan menerkamnya saat kami hanya berdua dan merasa beruntung saat Vayola tiba?

”Lama banget ruangan ini dibukanya. Mana sih yang pegang kunci?” Aku sedikit kesal saat mengucapkannya, takut Vayola akan mengira aku sedang berdua-duaan dengan Zahfiyyan. Padahal kami hanya menunggu mereka semua datang saja.

”Rusdi! Turun lagi ambil kunci,” perintah Vayola bossy pada lelaki yang baru sampai.

Pemuda itu terlihat kesal lantas menarik pergelangan Zahfiyyan ikut bersama. Oh iya, mereka sahabatan.

Kenapa semakin ke sini aku jadi kacau? Awalnya hanya mengagumi lalu suka. Beberapa waktu kemudian, aku yakin sudah jatuh cinta. Saat bertemu Mama dan Ayah Nazril, aku melupakannya. Sama sekali tak mengingat Zahfiyyan. Sekarang semua kembali menggila.  Saking senangnya ada dia di kelas Sanggar Bahasa dan Seni, aku sampai tidak sadar masih ada di bumi. Aduh. Aku serasa sedang berada jauh di negeri yang indah dengan Zahfiyyan yang menjadi pasanganku. Lalu kulihat kami tersenyum dan tertawa bersama saat melihat beberapa anak kecil berlari ke arah kami. Kloninganku dengan Zahfiyyan.

Ya Allah. Zura sadar. Wake up!

”Dipanggil itu, Ra, sama Pak Zal!” Vayola memukul lenganku sangat keras sehingga aku keluar dari dunia khayalan.

”Kelompok musikalisasi puisi berjumlah sepuluh orang. Bapak ulangi lagi ....” Dosen membacakan nama-nama tersebut.

Ada nama Zahfiyyan disusul namaku dalam kelompok yang sama membuatku terpekik. Pak Yusrizal menggertakkan gigi kemudian menggeleng-geleng melihat ke arahku. Aku menunduk, merasa malu kepada semua mahasiswa di kelas itu.

Saat satu per satu duduk dalam kelompoknya, aku bagai orang linglung. Tidak menyangka akan menjadi bagian dari kelompok si Cowok Masjid. Teman-teman menunjukku sebagai pembaca puisi, sedangkan Zahfiyyan bagian memetik gitar dan vokal. Aku mengangguk saja, lupa kalau aku tidak punya bakat membaca puisi. Jiwaku sedang jalan-jalan ke surga yang hanya ada aku dan Zahfiyyan di dalamnya. Jadi tidak bisa berpikir jernih.

Pengaruh Zahfiyyan betul-betul dahsyat.

”Kita latihan di setiap ada kesempatan. Tukar nomor, ya, semuanya. Tulis nomor HP kalian di kertas ini.” Vayola mendaulat dirinya sebagai ketua kelompok mulai memberikan intruksi.

”Zura ... kamu kenapa sih dari tadi?” bentak Vayola mencubit wajahku. Ternyata aku kebanyakan melamun sejak perkuliahan dimulai.

”Kamu yang kenapa nyubit pipiku? Nggak kencang lagi nih,” sungutku marah walau tahu aku yang salah.

Aku paling tidak suka seseorang melakukannya. Aku memiliki dua pipi yang berlebihan. Kalau perut dibilang bergelambir, pipiku juga dapat disebut seperti itu. Pokoknya aku tidak senang punya pipi seperti ini. Tembam sekali. Padahal aku sudah berusaha untuk mengecilkan, tapi tetap saja seperti bakpaonya Pak Didin.

”Sudah kali, Ra. Lebai amat sih dicubit dikit sudah emosian aja. Jauh-jauhin nih tangan, katanya nggak mau pipinya tambah chubby.” Nisya menengahi kami.

”Woy, Zura! Ke sini!” panggil Rusdi menyediakan kursi di sebelah Zahfiyyan, memberikan putunjuk kepadaku agar aku duduk di sana.

Aku bergeleng. Mood-ku belum membaik berkat keusilan jari Vayola.

”Coba tolong disembuhin pipinya Dek Zura itu, Bang Zahfi. Merah tuh,” kata Rusdi membuat kesalku berganti malu.

”Ayo, cepatlah Bang Zahf—Nah gitu dong ke sini. Dekat-dekat aja nggak apa-apa kok. Mudahkanlah jalan abangmu ini, Dek,” tambah Rusdi makin jadi menggodaku.

Memangnya kelihatan banget, ya, aku dari tadi memikirkan Zahfiyyan? Tengok ke kiri dan kanan, enggak ada tuh yang memperhatikanku. Mungkin Rusdi ini sebelas dua belas dengan Ale yang sukanya mengejek orang. Tapi banyak yang bilang, tidak ada asap kalau tidak ada api. Jika Rusdi sampai menyindir-nyindir seperti ini, pasti akulah yang tanpa sadar memberitahunya bahwa aku memang terus-terusan memikirkan sahabatnya yang ganteng itu.

Aduh kaget!

Sambil menjalankan pandangan ke seisi kelas, saat itulah aku menangkap seseorang sedang menatapku. Kira-kira apa yang dia pikirkan tentangku? Dia segera mengalihkan wajahnya ke arah berlawanan begitu aku mendapati kedua maniknya. Dia mulai memetik senar gitar dan bersenandung kecil.

Gawat apa aku ketahuan oleh orangnya langsung? Iya, Zahfiy?

***

”Zura! Ayo, gabung sama kita!” Ale berteriak dari kedai di seberang jalan. Enggak tahu malu banget itu anak. Dia tidak sadar jika teriakannya itu terdengar sampai ke Fakultas Ekonomi. Fakultas terjauh dari sini.

Ale berlari ke pendopo tempatku duduk saat ini. Dia menyimpan laptopku ke dalam tas. Menyampirkan ke bahunya lalu menarik tanganku berjalan ke kedai asalnya.

”Ale Ale aku nggak mau! Lepas tanganmu, Ale. Jangan pegang! Kamu tuh cowok!” Percuma saja aku memprotes lelaki ikal itu karena kami sudah tiba di hadapan teman-temannya.

”Ini ‘kan yang lu lihatin dari tadi, Yud?”

Yuda? Aku tersenyum kecil kepadanya.

”Ada apa, Yud? Kolomku ada yang salah?”

Ale melambaikan tangannya di hadapanku dan Yuda. ”Tugas melulu yang kalian bahas. Bicara masalah hati kapan?”

Saat itu aku sadar ternyata juga ada Zahfiyyan di kumpulan ini.

”Mending duduk dulu.” Ale mengambil satu bangku dan menekan pundakku agar duduk.

”Ale!” pekikku tak suka dengan ulahnya.

Ale menaikkan tangannya. ”Oke oke, aku angkat tangan. Aku nggak akan ambil risiko jika berani menyentuh dirimu, Zura. Karena setiap saat ada kaki yang siap menerjangku kalau berani macam-macam.”

”Apaan sih, Ale. Bicara nggak jelas.”

”Baiklah. Nyonya Zura, kenalkan kumpulan yang terdiri dari cowok-cowok tampan anak Basindo ini. Aku Ale sebagai ketua geng karena paling maco. Dia yang pendiam ini namanya Fahsyal.”

Aku kenal karena pernah satu mata kuliah umum. Aku mengangguk dan tersenyum kecil.

Ale masih lanjut, ”Yang ini Mas Blangkon, namanya Suta. Terus yang paling kecil ini namanya Ridho, tapi jangan salah. Ridho ini badannya memang kelihatan kecil, nafsunya besar.”

Aku bergidik ngeri. Ke mana saja makanannya disimpan kalau badannya tidak sesuai dengan nafsu makannya?

”Yang ini beda tipis nih tampangnya denganku. Namanya Zahfi.”

Aku tertegun saat Zahfiyyan hanya mengangguk selintas tanpa senyum seperti tadi pagi.

”Dan terakhir yang tatapannya bagai predator, kamu sudah pasti nggak asing lagi. Dia ketua kelas kita yang terhormat. Yuda Azziora.”

Yuda bergeleng melihat Ale. Yah, ke mana saja aku sehingga tak sadar kalau Yuda itu sangat tampan? Mahasiswa andalan dosen dengan IPK nyaris sempurna. Anak Ganto, surat kabar kampus, dan mantan Presiden BEM jurusan. Saat ini dia lebih santai mungkin karena sedang menggarap proposal penelitian.

”Di antara kita, kamu mau pilih siapa, Zura?” Ale kembali bicara.

Aku sangat tidak nyaman. Yuda dari tadi melihatiku terus. Masih dalam tatapan sopan sih, akibat topik yang dilempar Ale selalu berhubungan denganku. Semua mata juga melihatku, menunggu jawabanku dengan mengulum senyum jail dan sesekali mereka melirik Yuda.

Asal kalian tahu. Aku pasti pilih Zahfiyyan!

Aku menoleh kepada Zahfiyyan. Serta merta jantung ini berdetak hebat saat mata kami saling beradu tatap.

***

Bersambung

30 September 2019

Kasev 10 tahun lalu, tepatnya 30 September 2009 itu masih SMA. Rabu jatahnya nyuci baju. Selesai nyuci mandi. Selesai mandi pakai handuk doang nih. Nah lagi di kamar  mandi dalam keadaan begitu 👆 gempa pun datang.

Kasev cepet-cepet keluar. Pegangan pada pohon jambu samping rumah. Nenek juga bersamaku. Adek baru selesai cuci motor, pegangan di pohon bagian depan rumah bareng Kakek yang telat keluar. Alhamdulillah mereka gak kena timpa dinding rumah yang runtuh.

Hari itu kukira akhir hayat seorang Winda dan dosa-dosanya. Untung setelah merobohkan rumah dan menjatuhkan motor dengan elok, gempa pun berhenti.

Om pun datang lalu nyeletuk, ”Pakai bajumu, yang bekas pakai tadi kalau mau cepet.” (yang penting pakai baju pokoknya karena mungkin dia kira ambil baju yang baru lama dan aku takut masuk rumah)

Dan saya pun sadar hanya handukan doang.

Dibanding G30SPKI,  memoriku lebih lekat ke G30SPariaman (Gempa 30 September Pariaman). Dan kini Nenek Kakek telah berpulang, tapi bukan karena gempa.

Kenapa Kasev bikin Kakek Nenek di part 4?  Karena aku mengingat mereka sebagai orang tuaku semasa sekolah. Jadi kisah ini tuh banyak berdasarkan kehidupan nyatanya. Begitu juga latar yang dipakai. Semua nyaris sama.

Ini buku curhatan? Bukanlah. Kasev belum pernah menikah dengan cowok mana pun. Wkwkwkkwk.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro