[02] Dia Zahfiyyan Sharnaaz
Sepi nih. Cerita ini insya Allah akan rajin UP. Yuk ikutin dan simpan di library.
(Kangen Eya yayaya)
(Zura Rarara)
”Tugas transkripsi Retorika kelompok kita kamu yang kerjakan. Aku ada keperluan. Dah, Zura.”
”Eh tunggu!”
Eya berhenti dan berbalik badan. Dia melafalkan tanya tanpa suara.
”Mana rekaman suaramu?”
Eya mengedikkan bahu. ”Minta sama Yuda.” Dia langsung pergi.
Anak satu itu! Dosen kami sering sekali menjadikan kami satu kelompok. Enak di Eya jadinya. Dia tidak pernah mau susah-susah untuk setiap tugas. Dia bilang akan terima nilai saja, bagiannya biar aku yang mengerjakan. Pernah aku buat alasan macam-macam supaya dia bantu sedikit, hasilnya bikin kesal. Dia bilang lupa sehingga dosen mempermalukan kami berdua di depan seluruh kelas karena tidak bertanggung jawab terhadap tugas. Sejak saat itu, aku selalu menyelesaikan sendiri dan menulis nama kami berdua di sampul makalah.
”Eya lagi?”
Aku mengembus napas lemah. Vayola sudah sering mengingatkan aku untuk mencoret nama Eya setiap dia tidak berkontribusi apa-apa. Masalahnya aku tidak mau cari masalah dengan Eya. Dia sepertinya agak galak. Semaunya sendiri. Aku cari aman saja. Tidak menyenangkan punya hubungan buruk sesama teman, apalagi yang satu kelas.
”Ke mana dia langsung keluar gitu aja?” tanya Vayola lagi. ”Kali ini jangan kasih mudah, Ra. Enak banget jadi dia. Kamu lagi setiap tugas nilainya dikasih tinggi. Dia cuma numpang nama. Senangnya jadi Eya.”
”Vayola tidak boleh apa?” pancingku.
”Ghibah,” sambarnya. Biasanya Vayola yang tak pernah lupa mengingatkanku soal ini.
”Enggak apa-apa kok. Aku masih mampu. Agak kesal sih, tapi dikiiit. Udah biasa aku diginiin,” candaku supaya Vayola tak makin kesal.
”Aku nggak ke perpus hari ini, ya,” lapornya, ”catatanku belum selesai. Nanti siang akan dikumpul. Jadi, Retorika sabar dulu,” katanya.
”Bukan Vayola kalau nyatetnya selesai duluan.”
”Tapi Zura,” katanya lalu keluar dari ruang BI6.
Setelah meminta video ceramah milik Eya kepada Yuda, ketua kelas, aku pergi menuju gedung fakultas. Untuk naik ke lantai tiga perpustakaan, aku pilih dengan lift. Tidak apa-apa mengantre sedikit lama karena banyak yang menggunakan. Daripada mendaki tangga bikin tempurung lutut pecah.
***
Namanya Zahfiyyan Sharnaaz. Cowok Masjid sekarang sudah ada nama. Aku melihat namanya di kartu peminjaman buku perpustakaan yang berwarna ungu. Kejadiannya tidak disengaja.
Pak No yang jalan enggak pakai lihat karena sedang membawa kardus besar menabrakku tadi. Datanglah sang Pahlawan Hati membantuku berdiri. Dia juga bantu Pak No sebelum ke perpustakaan. Itu ketiga kali aku ditolongnya. Dia terus masuk ke perpustakaan. Kebetulan pintunya berhadapan.
Aku punya tujuan ke sini. Bukan cuman dia yang menjadi alasanku ke mana-mana. Bertemu dia di sini pun terjadi bagai sebuah skenario Tuhan. Apa iya ini jodoh? Tidak-tidak. Jangan mimpi ketinggian, Zura, nanti jatuhnya sakit.
Aku memperhatikan Cowok Masjid sedang mengobrol dengan Kak Mike. Kak Mi.Ke ini seorang ibu muda. Dia sedikit galak kalau mahasiswa ketahuan meletakkan buku sembarangan. Aturan dia, kembalikan buku ke tempat semula kalau tidak ingin dibawa pulang.
Cowok Masjid sedang kena marah karena baru memberikan foto untuk kartu peminjamannya. Ditanggapi dengan santai oleh cowok itu. Aku semakin suka dia. Humoris sih orangnya. Enggak sombong dan belagu mentang-mentang ganteng.
”Ini sudah kuganti sama fotoku yang baru, bukan yang pakai seragam SMA lagi. Kenapa masih judes aja sama saya, Mama Syai?”
Kak Mike melotot, ”Sudah lama Kakak minta ‘kan, ke mana aja kamu?”
”Yang penting sudah ganti. Kasus kita selesai, Kak,” kelakar Cowok Masjid. ”Aku permisi dulu deh biar yang lain dapat giliran disembur juga,” candanya.
Aku terkikik. Apa pun yang kamu lakukan, selalu indah di mataku. Hadeh, Zura. Fokus-fokus. Aku harus mencari buku untuk tugas Bu Ellya.
”Kakak pinjam buku ini,” laporku kepada Kak Mike.
”Kenapa rokmu kotor?”
”Mana? Ah, iya.” Aku membersihkan rok hitam ini dengan tangan. ”Itu tuh Pak No jalan nggak pakai mata.”
”Ckckckck ... Kasihan kamunya nyium lantai.”
Aku hanya bisa memajukan bibir, tak berani membalas. Takut dijudesin seperti Cowok Masjid tadi. ”Kak pinjam dua buku.”
”Nih, cari sendiri kartunya di sini,” ucap Kak Mike. Untuk memudahkan pekerjaannya yang menumpuk, urusan mengambil kartu pustaka Kak Mike suka menyerahkan kepada mahasiswa.
”Numpang duduk di sana dong Kak, capek.” Aku menuju meja terdekat dengan tempat duduk Kak Mike. Tingginya sekitar 30 sentimeter. Aku mulai mencari kartuku di dalam kumpulan.
ZAHFIYYAN SHARNAAZ
Sebuah kartu berada pada urutan pertama membuat mataku melebar. Itu foto dia. Lihat senyumannya manis sekali. Rambutnya yang di foto dipotong rapi banget. Cowok Masjid bernama Zahfiyyan Sharnaaz. Kartu dengan foto ukuran 2×3 itu kutarik lalu kumasukkan ke dalam kotak pensil.
Siang ini aku ada kuliah dengan Profesor Syahrul. Rasanya sedang berada di tengah ranjau bom. Dosen ini suka melemparkan pertanyaan kepada mahasiswa di tengah-tengah penjelasannya. Siap-siap saja bagi yang melamun akan megap-megap seperti ikan mas di luar air. Gelagapan tak tahu akan menjawab apa. Hobi dosen yang satu ini akan memberikan ceramah kepada mahasiswa yang tidak memperhatikan dia. Itu lebih panjang daripada materi kuliah yang seharusnya. Kalau aku malu banget dibegitukan.
”Kakak di kelas ini dengan Prof Syahrul?” tanya seseorang yang duduk di sebelahku.
Aku sedang membaca catatanku, tugas mata kuliah ini, di double folio. Aku senang sekali melihat tulisanku sendiri. Rapi, bersih, dan cantik seperti yang punya.
Kutoleh ke samping. Innalillah. Aku bisa mati mendadak kalau terus-terusan terkena serangan jantung begini. Kamu tahu siapa yang berada di kursi sampingku? Yang bahunya sekitar 20 sentimeter dari bahuku. Dia Cowok Masjid yang sudah punya nama. Aku harus memanggil dia apa saat tidak tahu namanya. Kupanggil begitu karena dia selalu ontime ke mushala. Jelas tepat waktu karena dialah yang sering azan di sana.
”Iya,” jawabku pelan.
Kelas belum begitu ramai. Aku duduk di deretan paling belakang di ruangan ini. Ada tiga baris bangku di depan yang baru diisi oleh beberapa mahasiswa. Untuk mata kuliah ini, kami bisa pilih kelas. Tidak harus bergabung dengan kelas asal. Kami di sini campuran dari empat kelas Pendidikan Bahasa Indonesia. Jadi aku tidak mengenal mereka seluruhnya. Tahu wajahnya, tapi namanya tidak. Seperti Zahfiyyan. Dia berasal dari kelas Reguler A yang terdiri dari anak-anak pintar dan aktif, sedangkan aku dari Reguler Mandiri B.
”Kalau aku dari kelas pagi.”
”Terus kenapa sekarang bisa masuk siang?” Jangan bilang kamu sedang mengikuti aku.
Zura! Stop berkhayal!
”Tadi pagi izin ada urusan,” jawabnya.
Dia suka sekali tersenyum, bikin ge-er saja. Apa aku nanti bisa memperhatikan Pak Syahrul kalau di sebelahku ada Malaikat Ridwan yang ngajakin masuk surga bareng?
”Ini catatan kamu?” tanyanya menarik lembar folio dari mejaku. Dia melihat tulisanku. ”Rapi banget. Lengkap juga. Rajin, ya, kamu.”
Aduh, cucu Anduang Rafiyah ini bagai dibawa melayang amat tinggi akibat dipuji oleh Zahfiyyan.
”Zura Azzahra,” gumamnya, ”Zura, ya?” tanyanya kali ini sedikit keras saat beberapa mahasiswa yang masuk membuat kelas jadi berisik.
Aku mengangguk.
”Aku Zahfiyyan,” katanya tanpa mengulurkan tangan sebagaimana biasanya orang berkenalan.
Sudah tahu! Kenapa tidak dari dulu aja sih, Ganteng?
***
Bersambung
17 September 2019
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro