Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[01] Si Cowok Masjid

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum. Ini cerita pertama Kasev ya. Versi revisi insya Allah lebih baik dari sebelumnya. Mohon kritik dan masukan untuk perbaikan di kemudian hari.

Salam.

Padang, 2014

”Jangan cuma berani jadi penguntit. Dekati dong kalau berani. Tanya namanya dan minta segera dihalalkan. Tancap gas yang kebut, Sista. Dia banyak yang suka. Sainganmu berat loh.”

Memutar bola mata sekaligus badan ke hadapan si resek, aku mencubit bibir merah muda Voni. Dasar gadis sok tahu banget.

”Sudah tiga tahun kalian sekampus. Masa belum tahu siapa namanya. Vayola aja kenal dia, kenapa kamu nggak? Ajakin nikah muda dong. Kan lagi marak tuh nikah di usia muda. Daripada kamu lihatin tiap hari, bikin dosamu menumpuk. Belum sah, nggak boleh dilirik lama-lama.”

”Ini siapa sih yang sedang kamu ceramahi? Nikah aja kalau mau nikah! Nggak usah ngomporin orang.”

Voni tertawa sambil memukul bahuku. Beberapa orang yang duduk di pendopo sibuk dengan urusan mereka. Tidak ada yang menyadari betapa kencang suara Voni.

”Zura ... Zura ... Kamu nggak bakat jadi pembohong. Suka, ya, suka aja. Jangan malu. Biasa aja kali naksir sama cowok cakep. Apalagi cowok yang mainnya ke mushola. Adem banget dilihatnya. Kalau aku belum sama Anel, pengin juga diajak merit sama Cowok Masjid. Surga akan terasa dekat kalau aku jadi istrinya.” Gadis itu tertawa centil.

”Benar juga. Kayaknya aku memang naksir, bukan sekadar kagum aja. Terus gimana dong? Dia bukan tipe orang yang pacaran. Iya kalau dia mau? Kalau nggak? Ih malu, Von. Dan makin ke sini, aku jadi sering membayangkan dia. Senyumannya, suaranya ngaji sama azannya, dan kadang ngayal dikit jadi pasangannya. Aku sudah naksir kronis, bukan kagum lagi!”

”Nah udah sadar ‘kan?”

Aku menyebut dia Cowok Masjid. Tuh kan, baru mengatakannya saja sudah ada desiran aneh di dadaku. Tahu dia pertama kali saat kuliah Telaah Drama. Baru menyadari ‘dia’ ada saat tampil sebagai Muslim, tokoh utama, dalam drama ”Salisiah Adaik”. Sebenarnya itu adalah sebuah film yang digarap oleh mahasiswa ISI Padang Panjang. Dia—maksudku Cowok Masjid—memainkannya sebagai drama pendek dengan sangat apik. Dia menarik perhatianku sejak saat itu.

Bisa saja sih aku tanya namanya dari teman-temannya atau siapa pun yang kenal dia. Tapi aku malu. Aku takut ketahuan sedang mencaritahu tentang dia. Semakin aku bayangkan aksiku dalam menggali info tentang dia, semakin keras tawa Ale di telingaku. Dia sangat suka bercanda. Apa pun akan dijadikan bahan bully-an. Aku tak ingin jadi sasaran berikutnya. Dia juga kadang kulihat duduk dalam satu lingkaran bersama Cowok Masjid. Bisa gawat kalau dia ngomong macam-macam. Ketahuilah bahwa Ale orangnya senang melebih-lebihkan sesuatu.

”Uh, ini anak datang. Ganggu aja!” usik Voni hingga bayangan Cowok Masjid hilang dari kepalaku. Voni ingin membanting ponselnya kemudian tidak  jadi.

”Kenapa sih tiba-tiba?”

”Ini nih sepupu nggak punya kerjaan. Ngapain coba main ke kampus jauh-jauh? Kayak nggak ada cewek cantik aja di kampusnya sendiri. Senang banget dia nongkrong di sini.” Voni memperhatikan anak-anak Sendratasik yang sedang berlatih menari di tengah pendopo.

”Yak, emang di sini banyak artis cantik-cantik sih. Montok-montok, punya dada kencang. Ah, damn Melo!”

”Ini bibir harus diazanin supaya nggak bicara kotor. Sini aku bantu wudhu!”

”Ya udah deh, Ra, aku balik ke Mipa. Melo nunggu di sana. Jangan sampai dia kegatelan main ke sini. Bisa kena semprot sama mamanya aku kalau sampai Melo dapat pacar anak tari. Anak mami kayak dia belum boleh pacaran sama mamanya.”

”Iya iya balik sana.”

Saat Voni telah pergi, aku memutuskan untuk pulang ke kos. Sebenarnya mata kuliahku hari ini sudah habis. Sengaja mengundur waktu tetap di kampus untuk melihat ‘dia’. Siapa sih nama Cowok Masjid? Pasti bagus sesuai sama wajahnya yang ganteng pakai banget.

Baru juga keluar dari Jalan Belibis, masih sejajaran dengan pagar kampus, sepeda motorku sudah bikin ulah saja. Jadi kutendang-tendang bannya yang tidak mau jalan. Kempes sih enggak. Tidak tahu mengapa tiba-tiba mogok. Mana panas banget lagi. Untung jalan raya tidak begitu ramai karena belum jamnya pulang kerja.

”Kenapa sih pakai mogok segala?” teriakku tidak tahan lagi mendumel dalam hati. Asli kesal banget sama motor ini.

”Motornya kenapa, Kak?”

Putar kepala 90 derajat ke kanan. Oh, jantung! Untung Kau ciptaan Sang Maha Sempurna. Membuatnya masih kokoh tertempel di rongga dada. Kalau saja bikinan perajin tanah liat, sudah pecah dan berhamburan jantungku ini ke aspal. Coba tebak siapa yang barusan bertanya kepadaku? Suaranya saja tanpa harus kupastikan, sudah kukenali sekali. Cowok yang memakai kemeja biru telur asin dan kacamata minus. Dialah Cowok Masjid.

”Bocor?” tanyanya. ”Oh, tunggu sebentar.”

Dia menstandar sepeda motornya yang berwarna merah di depan milikku. Kedua tungkainya yang panjang dipakai berlari ke area BAAK. Oh, bukan. Dia membeli sesuatu di pedagang kaki lima tepat di samping pagar masuk BAAK. Sebuah jeriken? Ya Tuhan, kenapa tidak kepikiran?

”Buka joknya, Kak.”

Bagai diberikan perintah oleh Pak Zulfadhli yang super ganteng, aku menurut.

”Coba sekarang starter,” katanya setelah menuangkan bensin ke tangki sepeda motorku. ”Kalau masih belum bisa nyala, artinya minyaknya belum turun.”

”Bisa!” Eh, aku barusan ngapain? Berteriak sambil melompat saking exited-nya. Ah, Zura kamu malu-maluin banget.

”Lain kali dicek apa bensinnya masih ada atau sudah habis,” pesannya sambil pasang senyum mahaindah. Lalu dia menyalakan kendaraannya dan tancap gas dari tempatku.

”Aku tambah deg-degan sumpah. Ganteng banget sih kamu!”

***

”Kak Mif, pacaran itu boleh nggak sih?”

Pagi ini aku ikut acara mentoring bersama Kak Mifta. Kami duduk melingkar di batu pantai. Ada sekitar tujuh orang yang hadir. Mereka semua adalah mahasiswa Bahasa Inggris. Kak Mifta ini tiga tahun di atasku. Dia anak Jambi. Berkacamata dan punya tahi lalat hidup di bawah mata. Cantik dan ayu dengan busana syar’i. Aku ingin belajar agama dari dia. Tidak banyak sih yang aku harapkan dengan mengikuti mentoring agama Islam darinya. Minimalnya aku bisa berkumpul dengan akhwat yang juga ingin dengar cerita hijrahnya Kak Mifta. Caranya tidak menggurui, tetapi membagi pengalaman.

”Kamu sedang jatuh cinta, Zura?” Bukan Kak Mifta yang bertanya, tapi Mona. Setingkat denganku walau beda jurusan. Dia bertubuh mungil dan hitam manis.

”Nggak sih cuman mau tanya aja. Teman-teman di kelasku hampir semuanya punya pacar. Kadang aku malu kalau ditanyain siapa pacarku.”

”Bagus tuh Zura kamu nggak pacaran. Pacaran itu kebanyakan jadi dosa. Apa-apa yang dilakukan dicatat dosa. Lihat-lihatan saja dosa, apalagi udah mulai pegang-pegangan, rangkul-rangkulan, atau sampai jadi cium-ciuman. Hiiih,” kata Anggini berpendapat.

”Pacaran ‘kan nggak selalu sentuhan. Yang LDR contohnya, cuman dengar suara aja. Mereka saling kasih perhatian, mengingatkan ibadah, dan saling jaga komitmen untuk bersama nantinya,” timpal Adelia.

”Tergantung kamu maunya pacaran yang gimana. Tapi ... bisa aja kamu nggak usah pacaran. Jaga hati aja dan doa sama Allah supaya nanti dijodohkan sama dia. Nggak usah pakai judul ‘pacaran’ segala.” Pendapat Ratu ada benarnya.

”Tapi kalau kita sudah percayakan hati kita dan jaga perasaan kita untuk setia sama dia. Menunggu dia sampai dijadikan sebagai jodoh buat kita. Lalu tiba-tiba ada yang berani nembak dia duluan dan mereka jadian terus nikah, nasib kita gimana? Capek-capek aja deh kalau gitu. Coba kalau kita gerak duluan siapa tahu dia juga suka. Aku sih percaya jika kita sampaikan sebuah perasaan, lama-lama itu akan merasuk ke jiwanya. Dan dia akan punya pertimbangan untuk kita. Siapa tahu jodoh kita dan dia semakin dekat.”

”Kamu kayaknya maksa banget deh, Zura, dijodohkan dengan dia. Memangnya siapa sih orangnya?” tanya Mona dengan nada jail.

”Jadi Kak Mif, boleh enggak sih?” Kulempar lagi kepada Kak Mifta yang sejak tadi senyum-senyum saja melihat kami beradu pendapat.

”Tanyakan sama hatimu. Kamu mau atau tidak jalin cinta dalam mode pacaran? Siap tidak kamu dengan risikonya?” serang Kak Mifta dengan pertanyaan juga.

”Pusing dianya, Kak, ditanya seperti itu,” ejek Mona. Perasaan Mona nyambar terus dari tadi.

”Bukan mau pacaran sih, Kak. Gimana yah jelasinnya. Kalau kita suka sama seseorang, memangnya apa lagi yang diharapkan kalau bukan jadi pacarnya?” tanyaku lesu.

”Jadi istrinya biar bisa menjalankan sunah Rasul,” cetus Anggini sambil tersenyum tipis.

”Sunah-sunah apa sih.”

”Jangan marah dong. Kita akan bantu dengan doa supaya perasaanmu enggak berjalan satu arah.” Adelia yang bijak mengusulkan.

”Kalian memangnya belum pernah naksir cowok?” tanyaku murni karena ingin tahu. Aku merasa jadi cewek paling centil di kumpulan ini.

Mereka hanya tersenyum kecil.

***

Aku sengaja pergi naik angkutan kota ke kampus tadi pagi. Jadi dari pantai aku berjalan kaki ke gedung fakultas. Tidak begitu jauh sih, bisa dicapai selama sepuluh menit dengan jalan santai. Panas sudah mulai terik, untung aku membawa payung. Sudah tidak heran lagi melihat para perempuan, khususnya mahasiswa, berjalan kaki pakai payung saat cuaca panas. Aku salah satunya kalau sedang tidak bawa si pink.

Hari Minggu pendopo tetap ramai. Ada beberapa kelompok orang yang sedang berlatih menari. Berkuliah di kampus seni sangat asyik. Hampir setiap bulan akan ada pagelaran tari atau sekadar praktik tari dan nyanyi oleh mahasiswa jurusan Sendratasik. Kadang unit-unit kegiatan seperti Unit Kegiatan Kesenian mengadakan konser dengan memakai pendopo sebagai tempatnya.

Aku suka duduk di sini karena bebas melihat Cowok Masjid yang sering mojok sendirian. Dia mahasiswa yang rajin. Suka mengetik tugas kuliah di laptop sambil menunduk. Jadi kalau dia sedang begitu, dia tidak sadar aku sedang mengamatinya dari jauh. Benar juga kata Voni, aku ini seorang penguntit.

Jodoh kali, ya? Demi Allah, aku tidak berharap akan bertemu Cowok Masjid hari ini. Tadi sebangun tidur, aku hanya berniat untuk mentoring. Singgah di pendopo karena aku senang melihat ramai dan hebohnya cowok tari saat bicara. Mereka lucu, gemulai, tapi asyik. Siapa yang menduga kalau Cowok Masjid juga akan main-main ke kampus di hari libur ini.

Dengan gesit aku berdiri, bersiap untuk pulang. Walau naksir, aku belum punya muka atas kejadian kemarin. Jangan-jangan kalau ketemu aku lagi, dia akan panggil begini, ‘Kakak yang lupa isi bensin.’

”AW!”

Ya Allah. Aku kena sial lagi? Rasanya sakit sekali, Ya Tuhan. Mengapa pakai jatuh segala sih? Aku ingin menangis, tak tahan dengan denyut perih akibat benturan pinggul dengan lantai. Keramiknya tidak licin loh padahal. Dasar kaki yang gemetar akibat lihat cowok cakep!

Orang-orang tidak ada yang mau menolong. Kalau saja tidak malu, aku pasti sudah menangis guling-guling di sini. Tulang ekorku mau copot rasanya. Mereka pikir aku tidak butuh bantuan apa? Coba habis ini mereka rasakan gimana rasanya jatuh. Bukan patah hati saja yang sakit. Patah tulang ekor juga—

”Kakak bisa berdiri?”

Sadar, Zura! Itu Cowok Masjid. Di antara semua orang hanya dia yang menawarkan bantuan. Dia mengulurkan tangannya yang putih, bagaikan langit dan bumi denganku. Membantuku untuk berdiri. Aku bertambah lemas sampai-sampai aku harus menumpu seluruh bobotku di tangannya. Ini bukan lagi karena sakit terpeleset, melainkan kakiku berubah selembek agar-agar.

”Terima kasih,” cicitku dengan dada yang deg-degan tak tahu malu.

Dia tersenyum simpul. Itu menambah detakku semakin kencang. Aku ingin berteriak, ‘Jangan sampai dia sadar kalau aku bisa jatuh begini karena dia. Ma, anakmu bisa serangan jantung tiap saat berdekatan dengan pemuda ini.’

💫💫💫

Bersambung

OKI, 16 September 2k19

Diramein yuuk. 🐸🐸🐸

Jadi ini ceritanya pernah dipublish tahun 2015. Series cerita ini adalah Status Gantung dan Crazy Revenge (sudah terbit) juga A Nur Kedua (unpublish).  Status Gantung tokohnya adalah Anel (pacarnya Voni)  dan A Nur Kedua adalah Voni (sahabat Zura). Kalau Crazy Revenge tentu saja Eya dan Zoffan (adiknya si Cowok Masjid)..  Info ini bagi reader yang ingin tahu alur cerita di lapak Kasev 😅😅😅

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro