Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

CHAPTER 31

Sohyun’s POV

Sudah beberapa hari terlewati dan tingkah Taehyung semakin aneh. Semenjak kejadian ‘itu’, dia menjadi semakin acuh padaku. Belakangan ini, dia pergi ke kantor agency atau kemana pun tanpa mengajakku. Alasannya ‘Kau harus sembuh total’. Selalu begitu. Padahal, luka yang kudapat saat tergelincir di kolam renang tidaklah terlalu parah, sehingga sudah dipastikan aku benar-benar sehat sekarang.

Tanpa sepengetahuan Taehyung pula, sebenarnya aku sering keluar jalan-jalan saat ia meninggalkanku sendirian. Entah bagaimana bisa ia memberikan password apartemennya padaku begitu mudahnya, bagiku itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Sekarang aku bebas keluar masuk apartemen tanpa terpergok oleh Taehyung.

Aku mungkin beruntung karena bisa bebas kemana pun. Tetapi, di sela-sela kebebasanku itu aku juga merasa sangat khawatir. Ketika aku sedang keluar, aku  merasa was-was karena aku selalu merasa ada orang yang mengikutiku. Entah saat aku sendirian, maupun saat aku sedang bersama Jungkook. Ya, tentu saja aku keluar untuk menemui kekasihku itu. Aku dan Jungkook jadi semakin jauh gara-gara pekerjaanku. Jadi, akan lebih baik jika aku sering-sering menemuinya. Aku merasa sangat bersyukur, Jungkook tak pernah marah padaku dan ia selalu memahami keadaan yang aku terima dari pekerjaanku.

Hari ini, pagi-pagi setelah Taehyung berangkat pergi bersama manajernya, aku memutuskan untuk berjumpa dengan Jungkook di taman kota. mungkin ini menjadi yang terakhir, sebab Taehyung lama-kelamaan mulai peka akan kepergianku yang diam-diam.
Ini adalah pemikiranku yang kesekian kalinya, ‘Mengapa Taehyung terlihat tidak suka jika aku pergi berkencan atau sekedar mengobrol dengan Jungkook lewat handphone?’. Taehyung selalu mencari-cari alasan agar aku tidak melakukan kedua hal tersebut. Ia semakin aneh bukan?

Hatiku pun mulai berkecamuk. Apa benar, Taehyung mempunyai perasaan terhadapku? Hanya saja ia tidak tahu apa yang setiap kali ia rasakan ketika bersama diriku itu adalah perasaan cinta.

Ah! Ayolah Sohyun, itu tidak mungkin? Dia penyanyi terkenal, kekanakan pula! Apa mungkin dia menyukaimu?

Tapi aku melihat kegugupannya saat ia menatap ke arahku. Dan… debaran jantungnya, iramanya selalu terdengar di telingaku setiap saat kami berpapasan.
Eo… atau mungkin itu hanya perasaanku saja?

Jujur, aku juga selalu merasa nyaman berada di dekatnya. Melihat ia mengacuhkanku begitu saja, entah mengapa membuat hatiku sedikit terluka. Dan.. berkencan dengan Jungkook beberapa hari ini, rasanya sangat hambar. Tidak sama seperti saat pertama aku bertemu dengannya. Semua berubah begitu saja.

Saat ini, aku tengah menunggu Jungkook di kursi panjang sekitar air mancur di taman kota. Sesekali aku menggosok-gosokkan kedua tanganku sebab hawa dingin yang dibawa salju beberapa hari lalu masih terasa. Sambil menunggunya, otakku kembali melayang-layang dengan berbagai pikiran. Tapi, kali ini aku hanya berfokus pada satu hal saja. Aku, Kim Sohyun, hari ini akan memastikan kesungguhan cinta Jeon Jungkook. Aku tidak ingin ia terluka karena diriku mulai merasa tidak ada cinta di antara kami. Lagipula, aku tidak bisa selamanya berada dalam tubuh ini. Dunia kami berbeda. Akan akan tetap begitu sampai kapan pun juga.

“Eh?”

Aku bergeming, ketika tiba-tiba aku merasa seseorang menutup mataku dari belakang.

Jeon Jungkook? Ini tidak lucu!”

Ucapku sedikit membentak.

“Oh.. ayolah.. kau selalu tepat bidikan. Bagaimana kau tahu kalau itu adalah aku?”

“Karena hanya Jeon Jungkook lah yang akan melakukan hal sia-sia seperti ini.”

Jungkook tersenyum manis. Lalu ia mengambil tempat duduk di sebelahku. Ia merangkulku dan menempatkan kepalaku pada salah satu pundaknya.

“Apa kau merindukanku?” Jungkook bertanya.

“Kalau tidak, kenapa? Lagian kita sudah bertemu secara diam-diam kan akhir-akhir ini?”

“Huh?! Kau ini tidak romantis sama sekali.”

Jungkook semakin mengeratkan rangkulannya. Membuat kepalaku terdesak di bahunya.

“Neomu bogoshipeoyo….”
Lanjutnya.

Mendengar perkataannya itu, aku menjadi tidak enak. Aku akan merasa sangat bersalah jika meninggalkannya suatu hari nanti.

“Jungkook-ah…. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Pintaku padanya.

“Tentu saja, chagi…”

Lihatlah. Betapa manis dirinya memanggilku dengan ucapan sayang.

“Jungkook-ah… apa kau sangat mencintaiku? Seberapa besar kau mencintaiku?”

“Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja aku sangat mencintaimu. Cintaku sebesar Gunung Himalaya. Kau tahu itu?”

Oh. Dia mulai membual. Aku tahu dia sangat mencintaiku.

“Pandai sekali ya sekarang kau menggombaliku?”

“tak percaya padaku??? Mau bukti??”

Aku melirik Jungkook penasaran. Bukti apa yang akan dia berikan?

Cup~~~

Tiba-tiba saja Jungkook mengecup bibirku.

“Aku menciummu, tapi tak hanya sekedar mencium. Ada cinta yang terselip di antaranya. Kau pasti bisa merasakan betapa manisnya cintaku.”

Astaga Jungkook! Kau membuatku malu.. pipiku pasti memerah saat ini. Aku jadi semakin sulit melepasnya. Jeon Jungkook, kau hanya membuat bebanku bertambah berat saja. Bagaimana aku bisa melepaskanmu nanti?

“Kau nakal ya!” Aku pun memukuli dadanya sampai dia kesakitan.

……………………………

“Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

“Dengan senang hati chagi…. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terluka kembali atau aku akan ikut terlukai.”

Aku hanya memicingkan senyum. Menganggap remeh rayuannya. Sungguh, Jungkook jadi pandai merayu saja.
Aku pun masuk ke dalam, Jungkook masih menatapku dari dalam mobilnya yang terhenti tepat di depan lobi. Di halaman apartemen.

Oh, sial! Tasku tertinggal di dalam mobil Jungkook. Padahal aku sudah berada di dalam lift. Dengan lelah hati, aku pun berbalik lagi menuju lobi. Aku harap, mobil Jungkook masih berada di tempatnya. Lagipula, aku baru masuk lift dan lift juga belum jalan.

Saat aku kembali, aku melihat Jungkook sedang mengobrol bersama seorang wanita. Wanita itu, Im Nayeon. Apa yang dibicarakan antara seorang jurnalis dan artis terkenal?
Samar-samar aku mendengar.

“Kita bertemu saja di Whalien Café! Nanti malam, pukul 7 tepat!”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghampiri mereka.

“Hai! Apa yang kalian bicarakan?”

“eoh… Soh… ehm.. Yoojung? Apa kau sedari tadi disitu?”

“Tidak. aku baru datang, aku harus mengambil tasku yang tertinggal di dalam mobilmu.”

Aku bergerak menuju mobilnya. Membuka pintu depan dan menenteng kembali tas yang aku temukan.

“Hei! Kenapa kalian diam saja?”

“Oh.. Yoojung, sebenarnya aku dan Jungkook sedang membicarakan masalah pekerjaan. Iya kan? Bukannya kau mau membuat artikel tentang kepulanganku dari Jepang, Jungkook-ssi?”

“Ah iya! Itu benar. Kebetulan sekali kita berpapasan disini.”

“Ohhh….” Ujarku singkat.

“Ehm… Yoojung, apakah Taehyung ada di apartemennya?”

“Sebenarnya dia ada urusan bersama manajernya. Ia akan pulang nanti malam.”

“Oh.. ya sudah, sebaiknya aku pulang saja dulu. Aku juga masih ada urusan lain.”

“Aku juga chagi.. aku harus kembali ke kantor. Masih banyak artikel yang harus aku selesaikan.”

“Tentu saja. Kalian bisa pergi. Hati-hati di jalan ya!”

………………………….

Author’s POV

Ini sudah hampir pukul tujuh malam. Sebentar lagi, Taehyung akan pulang.

Baru saja Sohyun membatin, pintu apartemen sudah terbuka. Memperlihatkan wajah pria tampan nan imut dari balik sana. Sohyun langsung menghampiri bosnya, dan melepaskan mantelnya.

Taehyung menatap Sohyun dingin. Namun, sebenarnya di dalam tubuh Taehyung sedang gemetaran karena menahan rasa gugupnya. Bahkan untuk berucap saja ia sudah tidak mampu.

“Taehyung-ah… apa kau sudah makan malam?”

“Belum. Memang kenapa?” jawab Taehyung penuh harap.

“Mari makan di luar. Aku tahu tempat yang bagus.”

Taehyung terkejut akan ajakan Sohyun. Jujur saja, ia tidak merasa lelah sedikit pun. Ia justru merasa sangat gembira ketika Sohyun mengajaknya makan malam bersama. Masih dengan wajah cueknya, Taehyung mengangguk setuju.

Taehyung langsung menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Segera turun dan berangkat makan bersama Sohyun.

“Pak sopir, tolong antarkan kami ke Whalien café, ya!”

Taehyung menoleh ke arah Sohyun.

“Whalien Café?” Tanya Taehyung

“Ya. Apa kau pernah ke sana?”

“Tidak. tapi itu tempat favorit Yoongi Hyung saat masih berkuliah dulu.”

Kami pun sampai dalam hitungan menit. Memang letak café itu tak jauh dari apartemen Taehyung. Jadi perut kita tidak akan merasa kelaparan dalam hitungan menit.

Café tersebut cukup ramai. Sohyun dan Taehyung memutuskan untuk memesan makanan dari salah satu bilik di dalam café. Café whalien, adalah salah satu café di Seoul dengan desain interior yang berbilik-bilik. Sehingga menghadirkan nuansa seperti  makan di dalam salah satu pintu loker. Baru saja sampai, Sohyun meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Taehyung mendengus kesal, namun mengizinkannya begitu saja.

Di sisi lain, Jungkook sedang berbicara serius dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Im Nayeon. Atau mungkin saja dia Im Nayeon palsu? Panggil saja dia Kim Yoojung!

“Yak! Kau bodoh sekali. Melukainya saja kau tidak becus!”

“Astaga.. itu bukan salahku! Salahkan saja nyawanya yang berada dalam tubuhku. Aku memukulnya keras, dan ia terbentur parah saat itu. Tapi tetap saja dia selamat. Eh, tunggu dulu, kau tidak berniat membunuhku kan?”

“Ck! Tujuanku bukan membunuhmu. Aku hanya ingin membuat gadis itu keluar dari tubuhmu agar aku tahu keberadaan tubuhnya yang masih hidup.”

“Kau yakin dia masih hidup?”

“Tentu saja aku yakin. Jika tidak, tidak mungkin laki-laki itu merasa takut dan gelisah saat bertatap muka denganku.”

“kau sangat ambisius! Apa kau benar-benar mencintainya? Aku jadi penasaran!”

“Mencintainya? Maksudmu mencintai wajahmu? Hahahah…”

“Aish! Kau kan bisa melihat wajahnya di dalam tubuhku. Jadi apa benar-benar sudah jatuh hati padanya sampai-sampai kau ingin mencari tubuhnya yang hilang?”

“Cinta itu palsu! Kau pikir, aku mencintai gadis cerewet itu? Dia saja yang mengejar-ngejarku. Aku hanya mendekatinya untuk alasan tertentu. Alasan yang terkait dengan masa depanku. Juga masa laluku. Kau tidak pelu tahu itu.”

“Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Jeon Jungkook?”

“Aku sendiri, yang akan mencelakainya!”

"Baiklah. Aku akan membantumu."

"Tidak. Itu tidak perlu. Jeon Jungkook tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada siapa pun. Lagipula,mata-mataku selalu mengawasinya kemana pun dia pergi. Jadi biar aku saja yang menanganinya. Kau hanya perlu kembali ke tubuhmu setelah aku berhasil mengusirnya!"

…………………………

“Kau lama sekali ke kamar mandinya?” Tanya Taehyung sedikit ngambek.

“Maaf, tiba-tiba saja perutku sakit.”

“Apa kau baik-baik saja? Apa sebaiknya kita pulang saja dan membungkus semua makanan ini?”

Tanya Taehyung begitu khawatir.

“Wajahmu juga terlihat pucat Yoojung!”

“Baiklah kita pulang saja! Pelayan??! Tolong bungkuskan makanan ini. Aku akan membawanya pulang.” Lanjut Taehyung.

Dengan sigap, Taehyung merengkuh tubuh gadis itu. Membawanya masuk ke dalam rangkulannya, dan menuntunnya pulang.

Aish! Jinjja.. ada apa lagi dengan gadis ini? Apa dia tahu, aku sangat mengkhawatirkannya.

Batin Taehyung.










































To Be Continued….

Next ya...
This is just a beginning.
The next chapter is more complicated.

Simak kelanjutannya...
Di publish sekarang juga.



Salam dari oppa taehyung yg imutt😘

Salam dari Sohyun eonni yang tak kalah imutt😘

Btw.. pada ngikutin radio romance nggak nih😆

Aku udah pastilahh😁😁

Sayang banget sama Sohyun Eonni yang aktingnya luar biasa!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro