Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

XXXIII. Secrets Between Us

𝚁𝚊𝚑𝚊𝚜𝚒𝚊 𝙰𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝙺𝚒𝚝𝚊

━━━

Jenna tidak mampu memahami jalan pikiran lelaki muda dan berbakat bernama Dylan Johannes Weisz. Ingin gadis itu mencabik-cabik sang pemuda karena memasukkan larangan untuk keluar dari rumah paling kerennya sejagad raya, kecuali bersama pemuda itu.

Batasnya adalah halaman berumput rumah.

Berbicara perihal rumah, gadis tersebut beberapa kali melihat Aditya berada di hadapan pagar, modar-mandir tak jelas. Jenna menatapnya dari balik jendela. Lelaki itu juga beberapa kali bersitatap dengannya. Aneh, kenapa tidak masuk saja ke rumah?

Bahkan para pekerja dengan ramahnya mempersilakan masuk, tetapi ia tak bergeming.

Antara mencurigakan atau sangat pengecut, untuk itulah ia enggan bertemu dulu dengan pemuda unik tersebut. Mekipun namanya ialah Aditya—sosok yang ia harus temui guna menyingkap tabir misteri tentang suatu hal.

Ia juga belum siap akan kehadiran drama murahan apabila dengan lugunya ketahuan berinteraksi dengan laki-laki lain.

Menghela napas sangat berat, Jenna tidak dapat menghitung berapa kali ia mengeluh dan mengutuk. Tak jarang para pekerja rumah menatapnya ketakutan lalu gadis itu meminta maaf lantas lanjut menghina serta merapal sumpah serapah bak bernyanyi.

Sembari membantu para pekerja apapun itu setelah bermalas-malasan dalam waktu yang lama, wajah bosan yang sering ditampilkan dan hal itu membuat Jenna benar-benar terlihat jelek.

Beberapa kali juga ia melatih kemampuan malaikat yang dimiliki dan teknik menghunuskan pedang sesuai bayangan entah memorinya atau bukan bersama Arael diam-diam di dalam kamar sampai kelelahan. Berusaha sebisa mungkin agar tidak diketahui siapapun kecuali Tuhan dan dirinya sendiri.

Walaupun demikian, Jenna tetap merasa bosan.

Semakin konyol karena dilanda kebosanan akut, Jenna tanpa ragu memasuki ruangan penuh alat musik lalu memainkan dengan asal-asalan penuh emosi. Kadang-kadang juga Jenna bernyayi lagu Korea Selatan masa modern hingga suara tercekiknya yang dihasilkan dari ruangan itu begitu menyakitkan telinga. Sungguh, tak jauh lebih baik dari dengungan lalat.

Tanpa tahu waktu, Jenna menyadari betul kalau permainan musiknya akan merusak gendang telinga seluruh penghuni rumah sehingga menjadi perhatian bagi tuan rumah. Kalau sudah begitu, Dylan segera membantunya melatih vokal dan mengajarinya bermain alat musik, meski Jenna nampak ogah-ogahan.

Jenna sendiri masih konsisten melakoni peran sebagai seorang istri atau asisten pribadi dengan ekspresi yang kian keruh. Bukannya komplain, Dylan justru tertawa renyah tiap kali menyaksikan tingkah sang istri hingga Jenna berpikir untuk mencari dokter jiwa terdekat.

Lambat laun, Jenna luluh. Perlakuan Dylan membuat suasana hatinya sedikit membaik, apalagi hari ini, minggu sore.

"Kau sudah siap?" Dylan bertanya ringan. Mereka kompak mengenakan pakaian kasual.

"Sangat siap."

Dylan dengan percaya diri mengenakan kemeja dan celana coklat, sementara Jenna memakai dress pendek berwarna krem, senada dengan sang pemuda. Iseng sekaligus berinisiatif, Jenna membuka kancing atas lalu menggulung sedikit lengan kemeja Dylan guna menonjolkan otot seksinya.

Kini keduanya berkendara di dalam mobil seraya menikmati udara luar beserta pemandangan ciamiknya. Menoleh ke arah Dylan dengan sorot mata jahil, Jenna bernyanyi. Suaranya melengking tak anggun layaknya preman pasar. Hal tersebut menuai atensi beberapa pengendara lantas Dylan menggumamkan kata maaf.

Kerap kali Dylan menahan tawa. Sedangkan, Jenna menatapnya santai. "Tertawalah atau kau akan kentut apabila menahannya terus menerus."

Menghela napas panjang tatkala Dylan sungguhan tertawa, perkataan Jenna terdengar melantur karena aneh. Namun, tak Dylan ambil pusing sebab telah terbiasa.

"Anjir, suara gue mirip suara knalpot supra."

"Perasaan udah latihan, deh, tapi kok nggak berubah." Jenna bermonolog pada diri sendiri. Akan tetapi, pemuda di sebelahnya yang sedang menyetir mengerutkan kening penasaran.

Ah, rasanya momen ini terasa tidak asing, apalagi perasaan nyaman yang ia rasakan.

Dylan hendak menuntut pernyataan Jenna barusan untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, tetapi diurungkan kala sepasang kekasih yang menunggangi sepeda seakan sengaja menabrakkan diri di depan mobil hingga Dylan terpaksa harus menghentikan laju kendaraan.

Keduanya jatuh dan beruntungnya tidak sampai tewas di tempat. Dylan menatap dua manusia yang tengah berusaha bangkit itu tajam, sementara Jenna meremas jemari cemas karena mengetahui siapa yang ada disana. Sosok itu, sosok itu mengarahkan mata lurus padanya seolah tersakiti atau terkhianati.

Apa yang Jenna lakukan hingga Aditya menatapnya seperti itu?

Dylan bergegas membuka pintu mobil guna menghampiri pasangan kekasih yang tampak mencolok, yakni sang perempuan kaukasia tampak cantik dan menggoda sekali dengan gaun merah muda, lantas sang lelaki pribumi dengan setelan pakaian formal ala orang Eropa.

Ah iya, Jenna baru menyadari kehadiran sosok perempuan disana. Siapa dia?

Alih-alih menghampiri bagai kawan lama, Jenna justru terdiam sembari berpikir keras. Jenna duduk seraya mengusap keringat yang bercucuran. Ia masih mendengar sedikit percakapan antara Aditya yang beberapa kali mencuri pandang ke arahku dan Dylan.

Tidak hanya Aditya yang terang-terangan melemparkan tatapan menyelidik, sang gadis pun demikian. Gadis yang sangat cantik itu secara bergantian memandang Jenna dan Dylan. Ada yang tidak beres dari perempuan tersebut. Raut memuja kentara sekali ditunjukkan untuk Dylan. Ia selayaknya tengah berusaha menggoda pemuda yang masih berbicara.

Jenna berjengit kaget bahkan nyaris melompat saat mereka kompak memandanginya yang masih duduk di dalam mobil.

'Tuhan, oh Tuhan selamatkan hambamu.'

━━━

Tidak ada yang mau memulai percakapan selagi mobil melaju, Dylan dengan ekspresi memendam emosi—membelah jalan yang tidak terlalu padat hingga sesampainya mereka di salah satu pantai terindah di Batavia: Pantai Tjilintjing. Pantai ini terlihat cukup memukau di masa kolonial.

Jenna melangkahkan kaki, mengikuti Dylan yang membawa mereka pada saung di bawah nyiur pohon kelapa. Sekitarnya, beramai-ramai bermain pasir berwarna gelap dan berenang di laut dekat tepian lalu kelompok orang bercengkerama. Di sudut lain, Jenna menangkap aktivitas para nelayan dengan perahu-perahu mereka.

Sedikit terbesit perasaan miris ketika mengingat pantai ini di masa modern. Terbengkalai disertai sampah-sampah berserakan, ditambah laut kian menenggelamkan pesisir. Disini, dimana ia berada kini, hutan mangrove masih tertanam rapi di sudut pantai lain.

Bersandar pada kursi kayu, Jenna yang sedang melabuhkan mata pada laut biru kelam tidak menyadari tatapan penuh misteri dari pemuda di sebelahnya. Keduanya duduk bersisian, namun dipisahkan oleh meja berukuran sedang.

Jenna menoleh lantas mendapati Dylan yang bibirnya bergerak hendak bicara, namun disahut lebih dulu olehnya. Ia menyatukan tangan di depan dada seraya menunduk.

"Aku benar-benar minta maaf karena bertemu dengannya diam-diam tanpa meminta izin atau berbicara jujur padamu. Saat itu juga, aku menghabiskan waktu bersamanya sebelum kau melarangku keluar rumah, sungguh. Aku tidak bohong."

"Aku setuju untuk bersepeda dengannya karena ia bernama Aditya. Seseorang memintaku bertemu dengan Aditya untuk menemukan sesuatu yang membuatku penasaran sejak lama."

"Dan... dan—" Jenna gelagapan menemukan kata kala sepasang netra hijau yang biasa hangat nampak dingin dan tak tersentuh.

"Aku tidak mengerti mengapa tatapan matanya seolah menyihirku untuk mengikuti kemauan dia..." Jenna bahkan mengerutkan kening. Ia kembali pada memori perihal kejanggalan ini.

"Saat aku tak sengaja mendengar lagu-lagu pemujaan pada Tuhan, perasaan berbunga-bunga yang aneh itu lenyap dari hatiku." Jenna juga tanpa sadar mengusap kedua jari pada dagu lantas berpikir. Seketika mengabaikan pemuda yang merasa dikejutkan lagi oleh tingkahnya.

Berdecih, sang pemuda membuyarkan lamunan Jenna. "Sepertinya kau telah mengungkapkan rahasiamu sebelum aku bertanya."

Sang gadis membeliak, ia segera bersimpuh di atas butiran pasir bagai sudah melakukan kesalahan fatal sehingga akan dijatuhkan hukuman mati. "Apapun yang aku lakukan itu tidak berkaitan dengan dirimu apalagi membahayakanmu."

Mendadak sesuatu hinggap di kepala Jenna, ia bergerak mendekat pada Dylan yang ekspresinya mengeras bagai batu. Kali ini, kedua tangan Jenna satukan untuk berdoa kepada Tuhan. Ia merapalkan kalimat penuh permohonan agar Dylan disadarkan apabila terpengaruh oleh sentuhan iblis.

Kepala Dylan terasa berputar. Ia menyentuh dua sisi kepalanya. Jenna yang mengetahui langsung membawa pemuda itu ke dalam dekapan. Sang pemuda yang telah sadar mencoba mendongakkan wajah. Ia mengurai rengkuhan keduanya lantas tersenyum tipis. Amarah yang menguasai perlahan luntur. Apalagi mengingat semua ucapan gadis itu.

"Seandainya aku berniat jahat padamu, sudah sejak kau tinggalkan uang padaku lalu merampok di kamarmu, kemudian aku kabur atau membunuhmu pada saat dengan tenang dan bahagianya kau memainkan alat musik."

Dylan memeluk Jenna erat tatkala sang gadis kembali menceracau tanpa menyadari Dylan memejamkan mata. Pemuda itu justru sibuk menghirup aroma tubuhnya.

"Yang paling pasti, aku juga tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah manapun."

Selama memantau gadis itu, kecurigaannya tentang mata-mata ataupun niat membunuhnya tidak terbukti. Jenna hanya selayaknya gadis dari dunia antah berantah yang tak sengaja terjebak di dunia berbeda.

"Tidak seharusnya kau bercerita tentang dirimu seperti ini."

Jenna mengerjapkan mata beberapa kali.

"Karena ikatan kita terlampau semu untuk saling berterus terang."

━━━



Ilustrasi Pantai Tjilintjing.

Source : Pinterest by bintoro hoepoedio



╰┈➤XXXIV. To Be Honest



╔═════*✩‧₊˚═════╗

TO BE CONTINUED.

╚═════*✩‧₊˚═════╝



Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro