Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chibi Will

Hari ini Will mendapatkan tugas membuat ramuan, Will meminta bantuan teman-teman seperbangsatannya, semuanya senang hati membantu--Sion dan Julius seperti biasa memberikan reaksi malu tapi mau sekalian modus.

Pada akhirnya Julius dan Sion sudah ada di atelier, selain mereka berdua Lihanna dan Colette, ada seonggok mahluk bukan dari ras Lyzance--mengaku sebagai bodyguard tambah elf berambut hijau yang mengaku "teman" Will.

Lihanna dan Colette bak mana yang membantu majikannya meracik dan sangat teliti dalam pemilihan bahan untuk membuat ramuan, sayangnya sehebat apapun mana yang dimiliki majikan jika majikannya unik, ada aja   kejadian tidak terduga.

Dari dalam cauldron keluar asap tak hentinya, Lihanna dan Colette yang waspada langsung mundur ke belakang, berbeda dengan Will yang tetap berdiri di dekat cauldron padahal Colette sudah menyuruhnya menjauhi cauldron.

5 menit mereka yang ada di kelas berusaha untuk mengeluarkan asap yang memenuhi ruangan, wajah mereka panik karena takut didatangi guru, apalagi kalau Guru Edward yang menemukan atelier mereka dalam keadaan seperti ini.

Bisa-bisa tidak jadi lulus sekolah.

Asap telah menghilang muncul maslaah baru, tubuh Will jadi kecil mirip dengan peri yang ada di buku  dongeng.

Dari sudut pandang Will, teman-temannya seperti titan kolosal di anime sebelah, tinggi juga raksasa.

Orang pertama yang mengangkatnya adalah Sion, Will udah siap-siap menutup dua telinganya. Will mengira Sion akan memarahinya abis-abissan.

Will mengerti Sion marah padanya itu karena khawatir, tapi Will berharap dia tidak mendapat ceramah singkat Sion dalam keadaan seperti ini.

"Bocah ini jadi kecil, gimana kita menjelaskannya ke Workner-sensei?"

"Sebelum ketahuan guru mending kita bikin penawarnya sesegera mungkin."

"Kalo ketahuan Edward-sensei habis kita, harusnya aku ga ikutan."

"Mau bagaimana lagi, aku dan Colette akan bikin ramuannya."

"Gimana bikinnya?!" Colette kaget tidak percaya.

"Memutar balik cara yang ada di buku resep," jawab Lihanna dengan oenuh percaya diri.

Mereka yang mendengar jawaban Lihanna mendadak sakit kepala dan berharap siapapun guru yang ada di sekolah tidak melihat ini semua.

Selagi Colette dan Lihanna sibuk membuat ramuan, tiga lelaki tampan yang memendam perasaan pada Will kini sedang bermain dengan mainan barunya.

Mereka sibuk jailin Chibi Will tanpa henti.

Sion menahan jubah sekolah Will. Will terperosok jatuh, saat mencoba bangkit, kacamata bulatnya diambil Wignall, dan Julius menoyor dahi Will sampai tubuh mungil itu terbaring di meja.

"To ... tolong hentikan ... aku salah apa sampai dibuli kaya gini ...." Will menangis, wajah merah dan nampak imut.

Imut di mata tiga siswa bejat yang senang sekali bermain-main dengan Will.

Tes, tes, darah tiba-tiba jatuh membasahi meja. Darah segar itu menetes dari hidung Sion. Dalam sekejap kepala Sion dipukul dengan koran yang dilipat oleh Wignall dan Julius.

Mereka membuat taruhan, siapa yang mimisan liat Will, bakal dipukul pake koran.

Setelah itu kepala Wignall dan Julius (Sion bonus disumpel daun sirih hidungnya dengan kasar) juga ikut dipukul sama Lihanna.

Kehadiran Lihanna bak pangeran berkuda putih bagi Chibi Will. Will berterima kasih pada Lihanna sudah menyelamatkannya dari mereka bertiga.

"Laki-laki bejat mending buang sampah sana, berhenti ngebuli dan berbuat hal mesum ke Will Serfort."

"Baik Nyonya Owenzaus."

"Cih, menyebalkan."

"Ini semua gara-gara si anak gagal."

"SION! BERHENTI NYALAHIN WILL! KAMU YANG MIKIR MESUM DULUAN!"

"SI ... SIAPA YANG MESUM?!"

Tiba-tiba tiga kilat petir menyambar di hadapan mereka.

"Cepat buang sampahnya atau kalian mau disamber petir?"

"Jangan marah Lihanna, aku akan buang sampahnya."

"Iya-iya, gausah marah gitu."

"I ... iya, aku buang sampahnya."

Tiga laki-laki itu pun pergi ke luar ruangan.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro