Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Seriously?

NAERA POV

Aku masuk ke dalam bersamanya dan melihat 11 namja lainnya. Mataku melotot.

Aku akan tinggal dengan 12 namja ini?!

"Ya! D.O kau lama seka-"namja itu menggantung kata-katanya saat melihatku.

"Perkenalkan ini Naera. Mulai sekarang ia akan menjadi bagian dari kita."kata D.O lalu merangkulku.

"Annyeonghaseyo. Kang Nae Ra imnida."kataku lalu membungkuk.

"Perutmu kenapa?! Dan kau juga D.O-ya! Mukamu babak belur begitu!"namja dengan eyeliner berteriak-teriak panik.

"Ah jadi begini."D.O mulai menceritakan dari awal. Dari bagian ia sedang berjalan lalu ada perampok yang memukul wajahnya lalu mengambil dompetnya. Sampai bagian alasan mengapa aku akan tinggal di sini.

"Aku minta maaf kalau aku mengganggu kalian semua."kataku lalu membungkuk.

"Ani! Kita malah membutuhkan teman di sini. Semakin banyak semakin baik."kata namja yang putih dengan wajah yang dewasa.

"Ah tunggu tunggu!"kata namja yang memakai eyeliner yang berlebihan lagi. "Namamu siapa kau bilang tadi?"

"Kang Nae Ra."kataku dengan suara serak.

"Ah! Namamu seperti nama yeoja!"katanya lalu tertawa. Aku mempoutkan pipiku diam-diam. Aku memang yeoja.

Tapi aku harus menjaga rahasia besar ini. Kalau tidak aku tinggal di mana? Maaf ya D.O dan kawan-kawan.. Aku berbohong pada kalian..

Aku akan bekerja dan saat uangku sudah cukup aku akan mengekos rumah secukupnya. Ya. Aku harus semangat.

Hwaiting!

"Akh! Kau belum tahu nama kami semua kecuali D.O!"kata namja itu dengan senyum lebar. "Perkenalkan aku Kim Jong Dae. Tapi aku lebih suka dipanggil Chen."katanya lalu tersenyum.

"Aku Byun Baekhyun! Salam kenal."kata namja dengan eyeliner tebal lalu tersenyum.

"Aku Xi Lu Han. Kau bisa panggil aku Luhan."kata namja yang berwajah seperti yeoja, tersenyum layaknya angel. Dia cantik.. Tapi dia juga tampan..

"Aku Kim Joon Myun. Kau bisa panggil aku Suho. Salam kenal."kata namja dengan wajah dewasa itu.

"Aku Kim Min Seok. Panggil saja aku Xiumin."katanya dengan pipi seperti hamster.

"Oh Sehun."kata namja dengan wajah datar. Aku bergidik. Ia seram. Sangat berbeda dengan namja dengan senyum angelicnya itu.

"Aku Kim Jong In. Tapi kau harus memanggilku Kai."katanya lalu mengeluarkan smirk. Yang ini aku juga takut..

"Aku Zhang Yi Xing. Panggil saja aku Lay."kata Lay dengan lesung pipi yang dalam.

"Aku Yi Fan. Panggil aku Kris."kata namja dengan tatapan cool.

"Aku Huang Zi Tao! Panggil aku Tao saja ya!"katanya lalu memberiku wink. Aku bergidik ngeri.

"Hai! Namaku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku Yeol atau PCY atau richteeth."katanya lalu mengarahkan sign peacenya ke arah wajahnya.

"Luhan Hyung akhirnya kau ada teman!"kata Baekhyun. Ha? "Lihat! Wajahnya cantik seperti seorang yeoja! Sama seperti kau!"katanya lalu tertawa. Aku pout lagi. Luhan juga melakukan hal yang sama denganku.

Asalkan kalian tahu aku memang yeoja! Aish tapi aku harus menjaga rahasia ini sebaik mungkin.

"Kamarmu di sebelah situ ya! Diantara kamar Sehun dan Kai."kata Chen sambil menunjuk kamar di lorong bagian kanan. Aish aku diantara 2 namja yang kutakuti?

"Kalian tidak mandi? Ini sudah malam loh."kata Baekhyun.

"Oh iya. Ayo mandi bersama Naera!"kata D.O lalu menarik tanganku.

A-APA?!

Aku langsung melepaskan tangannya dan berkata,

"Uhm a-aku mandi sendiri saja."kataku lalu tersenyum.

"Tidak apa. Biar tidak buang waktu! Ayo sana!"kata Baekhyun lalu mendorongku ke kamar mandi dengan senyum jahil.

D.O menyeretku ke kamar mandi. Ia menutup pintunya. Aku gelagapan.

Ba-Bagaimana ini? Aku kan yeoja! Aku-

"Ayo lepas bajumu. Kita kan sama-sama namja. Lagian kau harus membersihkan darah di perutmu itu."katanya lalu membuka bajunya. Aku membuang muka dan menutup mataku. Aku tidak mau lihat! Aku tidak mau!!

Aku keluar dari kamar mandi dengan nafas tersengal-sengal.

"Naera! Kau kenapa?"kata Sehun dengan wajah panik. Aku bingung. Tadi ia sangat cuek padaku.

"Se-Sehun, a-aku tidak apa-apa."kataku lalu mengusap dadaku.

"Sehun?"ia menyebut namanya sendiri dengan alis terangkat.

"Ne. Kau Sehun kan?"kataku lalu menaikkan alis.

Ia tertawa lalu berkata, "Aku Luhan, babo."katanya lalu tersenyum dengan senyum angelicnya. Ia lalu mengacak-acak rambut coklat pendekku. Aku mempoutkan pipiku.

"Oh kau Luhan.. Mianhae."kataku lalu menunduk.

"Tidak apa. Omong-omong, kenapa kau belum mandi?"katanya masih bingung.

Aku gelagapan lagi. "Uhm a-aku se-sebenarnya.."

"Malu?"ia memotong.

Aku menunduk lalu mengangguk.

Ia tertawa lalu mengacak-acak rambutku lagi.

"Kau lucu."katanya lalu pergi.

A-Aku lucu?!

===

"Hei Naera! Ayo sini!"kata Chen lalu menepuk sofa di sampingnya. Aku duduk di sampingnya.

"Biasanya setiap malam sebelum tidur, kami akan berkumpul di ruang ini dan mengobrol atau main atau menonton dan lain-lain."jelas D.O yang duduk di sampingku.

Aku mengangguk mengerti.

"Naera-ah, kau sekolah di mana?"tanya Xiumin.

Aku menunduk malu. "A-Aku tidak bersekolah semenjak kedua orangtuaku meninggal.."aku mengingat kejadian pembunuhan kedua orangtuaku lagi lalu kepalaku serasa berputar. Aku memegang kepalaku.

"Akh!"

"Kau tidak apa-apa?!"tanya D.O rada panik.

"A-Aku rasa tak apa.."kataku lalu tersenyum untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.

"Ja-Jadi kau tidak sekolah.."kata Suho dengan suara prihatin.

"Ne.."kataku lalu membuang nafas.

"Aku ada ide! Bagaimana kalau kau bersekolah bersama kami?"kata Chanyeol dengan mata berbinar.

"Benar juga! Pasti seru!"kata Baekhyun lalu bertepuk tangan.

"Jinja? Ta-Tapi bagaimana caranya aku membiayai sekolahku?"tanyaku bingung.

Kulihat Sehun mendengus. Apa sih anak itu?

"Kau tidak perlu biaya!"kata Chen. Aku memiringkan kepala bingung.

"Hhmm jadi begini.."kata Suho lalu mulai berbicara, "Mansion ini adalah milik kedua orangtuaku. Tapi mereka memberi aku mansion ini. Karena terlalu besar untuk ditempati aku seorang diri, aku mengundang teman-temanku untuk tinggal bersamaku."

"Dan sekolah yang kami tempati itu uhm sekolah.. milik pamanku. Jadi aku dan teman-temanku tidak perlu biaya untuk masuk sekolah. Karena kau juga teman kami di sini, kau tak perlu membayar. Aku akan bilang pamanku."kata Suho lalu menepuk pundakku.

"Jinja?"tanyaku tak percaya. Sepertinya Suho ini benar-benar orang berdarah biru.

"Ne. Aku akan memberi tahu pamanku."katanya lalu beranjak dari tempatnya.

"Sekolah kami sekolah campuran. Apa kau tidak masalah?"tanya Suho setelah balik.

"Tidak masalah sama sekali."kataku lalu tersenyum.

"Kau bisa sekolah minggu depan. Seragam san buku-bukumu sedang si proses."kata Suho lalu kembali duduk.

Wow. Ia memang benar-benar kaya.

"Oh ya!"tiba-tiba Baekhyun bicara. "Daripada kita tidak tahu apa sebutan untuk kau, aku akan bertanya. Kau lahir tanggal berapa?"

"Oh, aku 7 Mei 1992."kataku lalu tersenyum.

"WOAH! Kita beda satu hari!"kata Baekhyun lalu tersenyum. "Tapi tetap! Kau panggil aku Hyung ya!"katanya lalu memberiku wink yang lucu.

Aku tertawa. Dan semua orang diam melihatku.

"Te-Tertawamu.."

"Saat kau tertawa.."

"Kau mirip yeoja.."

"..Cantik"

"A-Apa? Mana mungkin aku cantik! Aku namja oke? N-a-m-j-a!"kataku.

"Hahaha kami tahu. Tapi saat kau tertawa entah mengapa kau mirip yeoja."kata Lay. Aku pura-pura mengeluarkan wajah marah.

"Gulp. O-Oke mianhae.."kata Lay.

"Kembali ke topik!"kata Baekhyun sambil menepuk tangan. "Kau harus memanggil Xiumin, Luhan, Kris, Suho, Lay, serta aku dengan sebutan Hyung! Karena kami lebih tua daripada kau."

"Dan untuk yang lainnya.. kau bebas memanggil mereka apa."katanya lalu tertawa diikuti dengan yang lain.

Kami berbincang-bincang sampai lupa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.

"Jaljayo~"kata Kai lalu tersenyum dengan senyum miring. Membuatku merinding.

Urutan kamar kami di bagian lorong kanan, dari ujung kanan ke kiri yaitu : Chen, Tao, Lay, Kai, Aku, lalu Sehun. Dan urutan lorong kiri, dari ujung kanan ke kiri yaitu : Xiumin, Kris, Suho, D.O, Chanyeol, Baekhyun, lalu Luhan Oppa. Maksudku Hyung. Huft.

"Oh ya Naera!"tiba-tiba Suho mendatangiku.

"Ada apa Opp- Hyung?"cepat-cepat aku meralat.

"Lampu kamar tidurmu mati. Besok akan dibenarkan. Tak apa ya?"katanya. Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Tidak apa."aku sok berani. Padahal tidakT^T

Aku masuk ke kamar yang gelap dan menguncinya. Aku berjalan ke kasur dengan hati-hati.

Aku meringkuk di bawah kasur dan mengingat kejadian 2 minggu lalu.

#Flashback#

"Mana uangnya?! Sudah hampir setengah tahun kalian belum membayar utangnya! Dan sekarang masih mengulur-ulur lagi?!?!"kata penagih itu dengan kasar. Aku meringkuk di kasurku yang kecil di kamar, mendengarkan.

"Ka-Kami janji, besok kami akan melunaskan se-secepat mungkin."kudengar suara ibuku hampir menangis. Aku keluar untuk mengintip.

"Kalian ini selalu bilang besok besok besok! Mau sampai kapan, huh?"kata penagih hutang yang kedua. Dua penagih hutang itu benar-benar menyeramkan. Walaupun aku jago bela diri, tapi tetap saja aku lemas. Jelas saja, aku lagi sakit demam begini.

"Tapi kami janji.. besok kami akan melunaskan semuanya."kini ayahku memohon. Suaranya pecah karena air mata. Aku menonton penuh kengerian. Tiba-tiba air mata menuruni wajahku.

Kulihat salah satu penagih itu mengambil sesuatu di kantongnya, dan dengan gerakan secepat kilat, benda itu ditancapkan ke perut kedua orangtuaku. Kini aku tahu, benda itu adalah pisau.

"TIDAAAAAKKKK!!!!!"aku teriak sehisteris mungkin. "KALIAN JAHAT! TERKUTUKLAH KALIAN!"kataku lalu memeluk ayah dan ibuku.

"Na-Naera.."ayahku masih sadar.

"Jaga dirimu baik-baik nak.. Lakukanlah yang menurutmu.. benar.."kata ibuku lalu menutup nafasnya untuk selamanya.

"IBUUUUU!!!!!"aku melolong histeris. Aku melihat ke ayahku, "AYAAAHHHHH!!!"ayahku juga telah.. pergi. Untuk selama-lamanya.. Aku menangis sekencang mungkin. Aku meraung-raung dan meronta.

Tiba-tiba aku merasakan tangan besar dan kasar menarikku.

"KALIAN JAHATT!!"aku masih menangis. Aku sudah tak ada tenaga lagi..

Aku ingin memukul mereka tapi tenagaku benar-benar terkuras dan merek benar-benar kuat.

"LEPASKAN AKU!"aku masih teriak histeris. Aku menggigit lengan penagih itu dan ia melepaskanku.

"Akkhh! Sial kau bocah kecil. Bisa apa sih kau ini, huh? Melunasi utang orangtuamu yang sebesar 150juta itu, huh?"ia mendorongku kasar ke tanah kering. Aku terjatuh. Ditinggalkan sendiri dalam kegelapan malam.

#Flashback End#

Aku memeluk tubuhku seerat mungkin. Aku benci.. Aku benci..

Gelap.

Gelap mengingatkanku pada saat orangtuaku dibunuh. AKU BENCI GELAP!

Dan lebih daripada itu, aku benci diriku sendiri. Dulu kalau saja aku menonjok penagih itu sebelum mereka mengeluarkan pisau, kedua orangtuaku pasti masih ada sampai sekarang. Aku benci diriku.

===

Salam dua jari jangan lupa pilih Jokowi~ Wahaha kok jadi nyanyi lagu pemilu._.

Vote and comment really need here:>

Saranghae~

-9July2014-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro