Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

26. Tentang pekerjaan

Happy Reading

🍀🍀🍀

“Buna, Hafika berangkat kuliah dulu, ya,” pamitku kepada Buna. Tak lupa, aku menyalami serta mencium permukaan telapak tangan Buna sebelum berangkat ke kampus.

“Iya, Sayang, hati-hati, ya. Jangan kencang-kencang bawa sepedanya, nanti jatuh lagi kayak waktu itu,” pesan Buna yang membuatku seketika teringat dengan insiden waktu itu. Insiden yang pada akhirnya membawaku harus berurusan dengan Haydan.

Aku hanya terkekeh kecil menerima pesan Buna, sebelum mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Buna kembali sibuk dengan adonan kue yang ada di hadapannya.

Aku meraih tote bag yang ada di atas kursi ruang tamu, lantas berjalan keluar seraya menutup pintu dengan satu tangan. Aku bersiap menurunkan sepedaku dari teras rumah, namun pergerakanku terhenti ketika aku melihat seorang lelaki yang kini berdiri di depan rumah.

Aku membuang wajah, tidak berniat melihat wajah lelaki itu dan kembali pada niatanku menurunkan sepeda. Kakiku terangkat untuk menaiki sepeda saat setang sepedaku ditahan oleh lelaki menyebalkan itu.

“Minggirin tangan kamu. Aku mau pergi,” ucapku dengan nada yang sedikit ketus.

“Lo ngeblokir sosial media gue?” tanya lelaki itu.

“Nggak.”

“Kalau nggak, kenapa semua sosial media lo gak bisa dihubungin?”

“Ya, mana aku tahu. Jaringan kamu eror kali.”

“Lo pikir, gue anak kecil yang bisa dengan seenak jidat lo bohongin?”

“Ya, kalau kamu ngerasa dibohongin, gak usah banyak tanya lagi sama aku,” jawabku dengan kesal. Ini masih pagi, dan kehadiran lelaki ini membuatku sedikit kehilangan mood baikku.

“Kenapa cara bicara lo jadi kayak gitu?”

“Kenapa apanya? Gak ada yang berubah dari cara bicara aku. Kamunya aja yang sensitif,” ujarku. Melihat tangannya yang masih setia menempel di setang sepedaku, aku menggesernya dengan paksa.

“Lo mau kemana? Ke kampus? Biar gue antar,” katanya yang membuatku menatap jalang ke arahnya.

Aku menyunggingkan senyum kecil di bibir, lantas berkata, “Gak perlu repot-repot urusin kehidupan aku. Aku saranin, lebih baik sekarang kamu pergi dan nyari korban baru untuk kamu jadikan pacar pura-puraan kamu.”

Setelah berkata demikian, aku lantas mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga, mengabaikan suaranya yang masih mencoba memanggilku untuk berhenti.

🍀🍀🍀

Setibanya di kampus, aku menghentakkan kakiku dengan keras di lantai koridor, berusaha menyalurkan rasa kekesalanku pada Haydan. Biar saja banyak pasang mata menatapku dengan aneh, aku tidak peduli. Yang jelas saat ini ialah aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam kelas yang akan digunakan belajar nantinya.

“Jalannya santai aja kali, Mbak. Nggak usah dihentak kayak gitu,” celetuk seseorang dari arah belakang. Aku membalikkan tubuh dan ....

“Kenapa kamu sekarang ada dimana-mana, sih? Kamu ngikutin aku?” tanyaku penuh emosi ketika mendapati Haydan kini ada di sekitarku. Apa tidak cukup ia membuat mood-ku kacau? Lalu, ia masih ingin menggangguku di kampus.

“Gue nggak ngikutin lo, tapi kaki gue yang ngebawa gue sampai ke sini,” jawabnya mengeles. Tapi, persetan dengan semua itu, aku benar-benar tidak peduli.

“Lo mulai kelas jam berapa? Gue perlu bicara bentar sama lo,” ucapnya.

Sorry, aku nggak bisa. Bentar lagi kelasnya mau dimulai,” ucapku yang tak sepenuhnya berbohong.

“Kalau gitu, bentar aja, plis. Gue mohon.”

Entah kenapa, aku merasa tidak tega melihat Haydan yang kini terkesan seperti memohon padaku. Atas perasaan tidak tega itu, akhirnya aku mengiyakan permintaannya.

“Oke, lima menit aja,” finalku.

🍀🍀🍀

“Jadi, apa yang mau kamu omongin?” tanyaku to the point.

“Gue mau minta maaf untuk urusan yang kemarin. Gue bener-bener nggak bermaksud buat manfaatin lo, Nay. Cuma, keadaan yang memaksa gue. Awalnya, gue sama sekali nggak kepikiran buat minta tolong sama lo untuk jadi pacar pura-puraan gue. Sama sekali nggak kepikiran, Nay. Lo masih inget, kan, pas gue minta nomor telepon lo waktu itu?”

Aku menganggukkan kepalaku. Jelas, aku masih ingat.

“Pulangnya, gue masih gak kepikiran apa-apa sebagai pengganti dari masalah ganti rugi lo. Bahkan, gue udah gak mau mempermasalahkan itu. Sayangnya, malam itu, bokap gue kembali ngebahas soal perjodohan itu yang buat gue mendadak kepikiran buat minta tolong ke lo.”

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan teman cewek kamu yang lain?”

“Gue bukan tipikal cowok yang punya banyak teman cewek. Sekalipun ada, rata-rata udah punya cowok. Gue gak mungkin gila minta tolong ke mereka. Yang ada, gue dikira ngerusak hubungan orang.”

Benar juga apa yang dikatakan oleh Haydan. Tidak mungkin, ia meminta tolong kepada teman perempuannya yang telah memiliki pacar.

“Nay, lo masih belum maafin gue, ya?” tanya Haydan yang membuatku menghela napas.

“Sebenarnya, sedikit berat untuk aku maafin kamu. Tapi, aku selalu ingat satu hal. Kalau Yang Maha Esa aja bisa maafin semua dosa umat-Nya. Lalu, kenapa aku yang umat-Nya gak bisa memaafkan sesama aku?”

Haydan menatapku dengan mata berbinar. “Jadi, lo maafin gue?”

“Iya. Aku maafin.”

Thanks, Nay,” ucap Haydan. Lelaki itu—dengan refleks—menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhku seketika menegang mendapat perlakuan seperti itu. Aku hendak memintanya untuk melepaskan pelukan itu, sayangnya tubuhku seolah kaku dan tidak bisa bereaksi apa-apa.

“Eh, sorry, gue refleks, Nay,” ucapnya setelah mengurai pelukan itu. Aku yang masih dalam tahap shock hanya bisa terdiam. Bibirku begitu kelu untuk sekadar mengeluarkan kata-kata.

Satu hal yang kini rasanya begitu enggan untuk kuakui, tapi ... mengapa pelukan Haydan terasa begitu menenangkan?

🍀🍀🍀

“Sayang, kamu udah pulang?” tanya Buna tepat di saat aku mendaratkan tubuhku di atas kursi.

Aku tersenyum lantas menganggukkan kepalaku. “Udah, Buna. Barusan aja.”

“Oh, gitu .... Ehm, Sayang, ada yang pengin Buna omongin sama kamu.”

Aku membetulkan posisi dudukku lantas mulai fokus mendengarkan setiap kalimat yang akan Buna bicarakan. Biasanya, jika Buna sudah berkata seperti itu, ada topik serius yang akan Buna bawakan.

“Tadi pas Buna ke warung, Buna ketemu sama bu Ineke, tetangga kita yang rumahnya mewah itu. Kamu kenal, kan?”

Aku meneguk ludahku. Entah mengapa, perasaanku mendadak tidak enak. Apa jangan-jangan bu Ineke sudah memberitahu Buna perihal status pekerjaku sebagai babysitter anaknya?

“Hafika?”

“Eh, iya, Buna. Hafika kenal,” jawabku dengan terbata-bata.

“Kenapa kamu jawabnya terbata-bata kayak begitu? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Buna?”

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Sepertinya, memang benar, Buna sudah tahu semuanya. Terbukti dari cara Buna bertanya seperti tadi.

“Kenapa kamu tutupin masalah ini sama Buna, Sayang? Kenapa kamu nggak cerita sama Buna kalau kamu sekarang bekerja di rumah bu Ineke dan menjadi babysitter anaknya?”

“Maaf, Buna. Hafika cuma nggak mau buat Buna kepikiran soal pekerjaan Hafika,” ucapku penuh penyesalan.

“Kenapa begitu? Memangnya, ada yang salah dengan pekerjaan babysitter?”

Aku menggelengkan kepala. “Hafika cuma takut Buna malu karena Hafika cuma bisa kerja jadi babysitter.”

Buna mengelus bahuku dengan perlahan. “Hei, Anak Buna. Tatap mata Buna sekarang.”

Dengan ragu, aku mengangkat kepala dan menatap kedua bola mata Buna.

“Untuk apa Buna malu, Sayang? Babysitter itu kan pekerjaan halal,” ujar Buna.

“Tapi, Bun—”

“Buna paham maksud kamu. Buna paham banget. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu, Sayang. Apa pun pekerjaan yang kita tekuni, selama itu halal dan tidak merugikan orang lain, kita nggak perlu malu,” kata Buna yang membuat aku seketika merasa malu dengan isi pikiranku.

“Lagian, pekerjaan babysitter itu bukan pekerjaan yang sembarang. Nggak semua orang bisa menjadi babysitter yang baik dalam mengurusi anak-anak. Kalau kamu merasa mampu menekuni pekerjaan itu, tandanya kamu itu hebat,” lanjut Buna.

“Udah, kamu nggak perlu malu. Buna bangga, kok, sama kamu. Buna bangga karena kamu mau mengambil pekerjaan itu. Nggak perlu malu sama Buna, atau sama siapa pun. Paham, Anak Buna?”

Aku menganggukkan kepalaku dengan perlahan, lantas dengan segera menghambur masuk ke dalam pelukan Buna.

“Makasih, Buna, karena selalu mendukung semua keputusan Hafika. Hafika sayang sama Buna.”

🍀🍀🍀

1.211 words
©vallenciazhng_
January 16, 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro