
10. Pertemuan pertama
Happy Reading
🍀🍀🍀
Tepat jam sepuluh, mobil sedan berwarna silver bertandang di depan rumahku. Dapat kupastikan, itu adalah mobil suruhan dari Haydan. Aku segera mengunci pintu rumah dan berjalan menghampiri mobil tersebut. Sebelum membuka pintu, jendela mobil terbuka terlebih dahulu.
"Mbak Naya, ya?" tanya seorang lelaki dengan pakaian serba hitam, khas seperti orang yang hendak pergi melayat. Namun, dalam konteks kali ini, pakaian serba hitam dapat kuartikan bahwa pekerjaannya memang seorang sopir.
Aku menganggukkan kepala sebelum ia mempersilakanku untuk masuk ke dalam mobil. Dalam sekejap, mobil itu pun melesat, membawaku ke tempat yang mungkin akan menyediakan cerita baru di dalam hidupku.
Entahlah, apakah niatanku membantu Haydan ialah benar atau tidak. Sebab, rasa-rasanya, aku begitu jahat karena hendak menipu keluarga Haydan tentang hubungan kami.
Aku terus merenung, bahkan tanpa kusadari, mobil yang kutumpangi telah berhenti tepat di pekarangan luas sebuah rumah megah. Aku membuka pintu mobil dan untuk sesaat aku terpesona dengan rumah yang tidak lain merupakan kediaman Haydan dan sekeluarga.
"Mewah banget," gumamku. Di tengah-tengah acara terpesonaku, tiba-tiba saja terdengar suara yang menginterupsi.
"Belum pernah ngelihat rumah mewah, ya?"
Aku menoleh ke sebelah kiri, mendapati Haydan yang kini tampak cool dengan turtleneck abu yang dikenakan lelaki itu.
"Pernah, kok," jawabku yang tidak mau dipandang remeh. Lagi pula, rumah Opa juga dulunya mewah seperti ini. Ah, tidak. Rumah Haydan lebih mewah dari rumah yang pernah kutinggali itu.
Kulihat Haydan mengedikkan bahunya, lantas berjalan menuju pintu utama rumahnya. Aku yang sedikit linglung memilih untuk segera mengekori Haydan dari belakang.
"Hari ini, bokap gue gak ada di rumah. Lagi banyak kerjaan di kantor. Adik gue juga lagi latihan dance. Jadi, lo ketemu sama nyokap dulu aja," ujar Haydan dari depan. Jika saja, aku tidak segera menyadari bahwa hanya aku satu-satunya orang yang berada di belakang Haydan dan yang paling berpotensi untuk lelaki itu ajak bicara, maka aku tidak akan mendengarkannya. Melainkan, aku akan sibuk menilik seisi rumah Haydan.
"Lo tunggu di sini bentar, biar gue panggilin nyokap," ucap Haydan lalu dengan segera berlalu dari hadapanku.
Aku melihat beberapa sofa di ruang tamu yang ukurannya cukup besar ini. Namun, aku tidak tertarik untuk segera mengambil posisi duduk di sana. Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah meja panjang dan melihat satu per satu figura foto yang ada di atas meja. Foto pertama kuyakini sebagai foto keluarga Haydan. Pasangan pria dan wanita yang dalam posisi duduk di foto tersebut adalah papa dan mama Haydan. Sedangkan, dua orang lainnya ialah Haydan dan adik perempuannya. Dalam sekali lihat, aku dapat menebak bahwa papa Haydan adalah seorang yang tegas dan mamanya ialah seorang yang lemah lembut.
"Nay." Panggilan itu membuatku sontak menoleh ke belakang. Aku mendapati Haydan yang kini bersama dengan seorang wanita yang persis di foto keluarga itu.
"Ma, ini Naya yang kemarin aku ceritakan sama Mama," ucap Haydan yang membuatku seketika mengernyit.
Cerita? Apa saja yang sudah diceritakan lelaki itu kepada mamanya?
"Nay, kenalin, ini nyokap gue."
Aku tersenyum sembari menyalami tangan mama Haydan. "Halo, Tante. Salam kenal. Saya temannya Haydan," ucapku.
"Halo Naya. Saya Magdalena. Panggil saja, Tante Lena. Ngomong-ngomong, mari duduk," ujar Tante Lena mempersilakanku.
Kulihat Tante Lena mencubit kecil lengan Haydan. "Kamu ini gimana, sih, Dan. Temen kamu kok gak disuruh duduk," bisik Tante Lena kepada Haydan yang masih cukup jelas di telingaku.
"Ya, dia bisa duduk sendiri kali, Ma."
"Udah, mending kamu ke belakang, minta Bibi buatin minum."
Aku menikmati perbincangan antara ibu dan anak di hadapanku itu sembari tersenyum tipis. Benar dugaanku, bukan? Tante Lena adalah tipikal wanita yang lemah lembut. Dapat dipastikan dengan tutur katanya yang begitu halus. Berbeda dengan Haydan yang cenderung sedikit kasar dalam berbicara.
Setelah Haydan beranjak pergi, aku tersenyum canggung kepada Tante Lena.
“Maafkan anak Tante, ya. Anaknya memang begitu. Nggak bisa romantis dikit,” ujar tante Lena. Aku mengangguk sopan.
"Jadi, kamu ini temannya Haydan atau pacarnya?" tanya Tante Lena yang seketika membuatku tegang.
"Santai saja, Naya. Tante gak gigit orang, kok," ucap Tante Lena yang membuatku semakin canggung dalam suasana ini.
"Haydan sudah banyak cerita tentang kamu kemarin. Awalnya, Tante sedikit gak percaya. Karena, yang Tante tahu, anak Tante satu itu sedikit tertutup mengenai urusan perempuan. Seumur-umur, Tante belum pernah lihat dia jalan sama perempuan. Maka dari itu, Tante sedikit terkejut pas dia bilang, dia bakal perkenalkan Tante sama pacarnya. Tante kirain, dia bakal bohong, loh. Nyatanya, dia beneran bawa kamu ke sini."
Aku hanya tersenyum menanggapi cerita Tante Lena. Sebab, aku sendiri bingung, harus merespons seperti apa.
"Kalian sudah berapa lama berpacaran?"
"Baru dua bulan, Tante," jawabku tanpa keraguan. Mengingat, Haydan telah mempersiapkan semuanya, termasuk jawaban-jawaban dari pertanyaan yang berpotensi dilontarkan oleh papa dan mamanya.
"Oh, baru dua bulan. Gimana Haydan? Anaknya gak macem-macem, 'kan?"
"Memangnya, Mama pikir, aku ngapain, Ma?"
Aku segera menoleh ketika mendengar suara Haydan. Tante Lena hanya tertawa kecil merespons pertanyaan Haydan barusan.
"Jadi, kalian kenal dari mana? Coba ceritain sama Mama."
Aku terdiam, membiarkan Haydan si sutradara yang menjawab pertanyaan itu. Meskipun aku sudah tahu apa yang harus kukatakan. Akan tetapi, Haydan tentunya akan lebih luwes menjelaskan.
"Ceritanya panjang, Ma. Ya, intinya, sih, kami ketemu di perpustakaan kampus. Naya anaknya rajin, Ma. Sering nongkrong di perpus," jawab Haydan.
Kami memang satu kampus. Hal itu baru kuketahui kemarin. Dan, pernyataan aku yang sering nongkrong di perpustakaan tidak sepenuhnya benar. Sebab, intensitasku pergi ke perpustakaan dapat dihitung dengan jari.
"Ternyata, selain cantik dan sopan, Naya juga rajin, ya," puji Tante Lena yang membuatku tersipu.
"Tante bisa aja," ucapku.
Perbincangan kami terhenti sejenak, ketika seorang wanita datang dengan membawa nampan berisikan 3 cangkir berbahan keramik.
"Ini Bi Asih, Nay. Asisten rumah tangga di sini," kata Tante Lena.
"Silakan diminum tehnya, Bu, Den, Non," ujar Bi Asih. Aku lantas tersenyum sopan kepadanya.
"Terima kasih, Bi."
Aku menyeruput sedikit teh hangat dari cangkir tersebut, sebelum Tante Lena kembali mengajakku berbincang santai. Sesekali, Haydan menyela dengan gaya bicara yang sedikit memuji diri sendiri. Dari yang kuperhatikan, gaya bicara lelaki itu memang begitu. Terdengar sedikit angkuh dan over pede. Tapi, itu tidak masalah. Sebab, dengan keberadaan Haydan, kami malah sering tertawa. Lebih tepatnya, aku dan Tante Lena yang sibuk menertawakan kepedean lelaki itu.
Perbincangan kami terus berlanjut hingga suara pintu yang terbuka membuat kami semua menoleh. Seorang gadis dengan outfit serba ungu pastel berjalan masuk. Aku dapat menangkap raut terkejutnya ketika melihatku. Mungkin, ia sedikit heran, mengapa ada orang asing yang berada di rumahnya.
Aku sepertinya dapat menebak siapa gadis yang usianya kuperkirakan berada di bawah usiaku itu. Pastinya, dia adalah adik Haydan.
"Nika, kamu baru pulang?" tanya Tante Lena. Gadis yang dipanggil Nika berjalan menghampiri dan mencium telapak tangan Tante Lena. Tak lupa juga menyambut tangan Haydan.
"Iya, Ma, soalnya tadi mampir bentar ke rumah Siska. Hari ini, mamanya masak soto betawi, jadi diminta buat nyicipin," jawab Nika.
"Ini siapa, Ma?" tanya Lena seraya menatap ke arahku. Aku tersenyum kepadanya.
"Oh iya, kenalin, ini Naya. Pacar abang kamu."
Telingaku sedikit geli mendengar kata pacar. Namun, aku harus mencoba untuk terbiasa dengan sebutan itu, sebab sekarang aku tengah berstatus sebagai pacar pura-puraan Haydan.
"Cantik," puji Nika singkat. Sedetik kemudian, Nika mengulurkan tangannya ke hadapanku. "Hai, Kak Naya. Aku Darunika Acisclo, panggil aja Nika. Adik satu-satunya Bang Haydan," ujarnya dengan riang.
"Kenalan dirinya biasa aja kali. Gak usah seheboh itu," ucap Haydan yang langsung mendapat cibiran dari Nika.
"Iri bilang, Bos!"
Sementara itu, aku dan Tante Lena tertawa kecil melihat interaksi keduanya.
Aku membalas uluran tangan Nika dan kemudian ikut serta memperkenalkan diri. "Hai, Nika. Nama Kakak Hafika Dinaya. Salam kenal."
"Wah, Nika, Fika. Nama kita hampir-hampir mirip," katanya sembari mendaratkan tubuhnya di atas sofa, mengisi ruang kosong di antara Tante Lena dan Haydan. "Nama panggilannya apa, Kak? Hafi? Fika? Dina? Atau, Naya?"
"Kalau di rumah, biasanya dipanggil Hafika. Cuma, Haydan manggil Kakak Naya. Kamu juga boleh, kok, manggil Kak Naya," jawabku dengan ramah.
"Ah, kalau gitu, aku manggil Kak Fika. Gimana? Biar nama panggilan kita sebelas dua belas, Kak," ucapnya yang membuatku tertawa kecil.
"Boleh banget."
"Dih, gak tahu malu. Orang disuruh panggil Naya, dia malah mencetus nama panggilan sendiri." Haydan kembali beraksi, membuat Nika lantas mencubit lengan lelaki itu yang membuatnya mengaduh.
"Kamu gak malu, Dan? Di depan pacar sendiri, masih suka bertingkah kayak gitu," ucap Tante Lena. Ia lantas menoleh ke arahku. "Maafkan anak Tante, ya, Naya. Haydan memang suka begitu, suka usilin adiknya."
"Gak pa-pa, kok, Tan. Naya sama sekali gak merasa terganggu," ujarku dengan tulus, tanpa adanya kebohongan yang sengaja dibuat. Sebab, jujur saja, aku menikmati pemandangan di hadapanku itu.
Sejak kepulangan Nika, aku dapat melihat sisi lain dari Haydan. Haydan yang selama ini kelihatannya sedikit angkuh jika dinilai dari cara bicaranya, dapat berubah menjadi sosok abang yang usil kepada adiknya.
"Ya udah, Mama ke belakang dulu, ya. Kalian lanjutin aja ngomongnya," ucap Tante Lena kepada kedua anaknya. "Naya, Tante tinggal dulu."
Aku menganggukkan kepalaku. "Iya, Tan."
Setelah Tante Lena berlalu, kini hanya tersisa aku, Haydan, dan Nika di ruang tamu mewah rumah ini. Untuk beberapa saat, kami tidak bersuara. Hingga Nika mengajakku untuk masuk ke kamarnya.
"Kak Fika, ke kamar aku, yuk. Di kamar, lebih bebas ngomongnya. Kalau di sini, digangguin sama nyamuk," ucap Nika. Aku tersenyum kecil. Aku jelas dapat mengetahui siapa nyamuk yang dimaksud oleh Nika. Ya, siapa lagi jika bukan Haydan.
"Siapa nyamuknya, Ka?" tanya Haydan yang tidak dihiraukan oleh Nika.
"Ayo, Kak." Nika lantas menarik lembut pergelangan tanganku untuk mengikutinya. Meninggalkan Haydan sendirian di ruang tamu.
🍀🍀🍀
1.556 words
©vallenciazhng_
December 29, 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro