24. Kegundahan Taeyang.
Laki-laki berkebangsaan Korea itu termenung di teras, menyaksikan sang surya yang perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat. Warna kemerahan meinggalkan jejak di langit, bersamaan dengan desiran angin yang membelai halus rambut Taeyang.
Pemuda itu masih menatap kosong ke arah di mana sang pujaan hati pergi. Taeyang enggan beranjak dari tempatnya, menolak untuk makan ketika ditawari berkali-kali oleh Bang Sat, dan bahkan mungkin enggan berkedip juga. Satu jam berlalu sudah, tampaknya mata Taeyang sudah cukup kuat menahan debu yang nantinya akan menggumpal menjadi belek.
Kenestapaan Taeyang menjadi tontonan bagi warga rumah. Iblis dan Dedemit yang baru saja pulang, heran akan pria berkebangsaan Korea itu yang tiba-tiba saja diam seperti batu. Padahal biasanya Taeyang seperti balon joget yang tak mau diam dan sibuk pecicilan saat menari.
Entah siapa yang mengutuknya menjadi patung seperti malin kundang. Ah, Iblis dan Dedemit juga tak yakin ada yang tega mengutuk anak sebaik Taeyang. Jikalau ada yang harus dikutuk menjadi batu karena kedurhakaannya, maka itu adalah Bang Sat dan Setan. Yap, anak mereka sendiri yang selalu membuat geleng-geleng kepala ketika menghadapi tingkah kebobrokannya.
“Tan, ada apa sama temen kamu?” tanya Iblis.
Setan diam seribu bahasa, bingung hendak menyalahkan siapa. Jangan sampai kedua orang tuanya tahu kalau ia menyuruh Lucy naik ke atas pohon lalu gadis itu jatuh dan berakhir ditangkap Taeyang. Dari kejadian itulah Mawar melihat dengan penuh kesalahpahaman yang berakhir membuat kembang desa itu merajuk. Gara-gara kesalahpahaman ini juga, Taeyang menjadi gundah gulana memikirkan gadis itu.
“Anu … gara-gara Bang Sat, tuh,” ucap Setan mengalihkan permasalahan ke kakaknya. Memang Bang Sat paling cocok dijadikan kambing hitam, “Bang Sat, sih! Segala manggil Oppa pake Tayang. Jadi ngambek ‘kan, Oppa Taeyang-nya. Udah tahu dia gak suka dipanggil gitu gara-gara takut salah paham—”
“Wes, cocotmu, Setan!” potong Bang Sat. Kali ini ia tak mau diam saja dijadikan kambing hitam, mengapa? Karena ia adalah manusia! Manusia yang merdeka dan tak bisa diguna-guna begitu saja. Merdeka Bang Sat!
“Gara-gara Setan, tuh! Udah nyuruh Lucy naik pohon buat nyari sinyal, malah lempar kesalahan. Nek kowe ora nyuruh Lucy naik pohon, pasti dia gak bakal jatuh terus ditangkap Taeyang, dan dilihat Mawar.”
Setan gatal ingin membungkan mulut Bang Sat yang terbuka lebar mengalirkan aduannya. Dasar ember!
Dedemit menggelengkan kepalanya. Sudah seperti yang ia bilang, kan? Kelakuan anak-anaknya memang minta di-approve untuk menjadi batu malin kundang selanjutnya.
“Yes, that’s true! Mana aku dibohongin Setan. She said I would get a signal if I climbed a tree, but sinyalnya sama aja di atas atau di bawah juga.”
Mulut satu ini lagi! Batin Setan, gadis itu kini beralih pada Lucy yang langsung menyengir ketika mendapat tatapan tajamnya. Lengkap sudah tuduhan yang diarahkan ke Setan, gadis itu tinggal menunggu kedua jaksa di depannya, menentukan akan seperti apa nasibnya.
“Udahlah, namanya juga muda-mudi, pasti kalau soal cinta bakal sensitif,” ucap Iblis sembari menyalakan televisi, tetapi saat itu juga ia matikan ketika iklan Marjan langsung muncul. “Yang bisa kalian lakukan sekarang itu, bantu Taeyang gimana caranya untuk meluruskan kesalahpahaman dengan Mawar.”
Sontak Bang Sat dan Lucy melirik Setan. Tanpa perlu mereka berkata-kata pun, Setan tahu kalau saat ini ia sedang dijadikan penjahat oleh keduanya. Untung saja ayahnya tak begitu mempermasalahkan hal ini, Setan harap ibunya pun begitu.
“Yang salah itu kamu nipu Lucy buat manjat pohon untuk cari sinyal. Udah tahu dulu pengalaman jatuh dari pohon gara-gara ngotot nyari sinyal, masak sekarang diulangin lagi?” tegur Dedemit, “jangan bilang yang dipanjat Lucy, pohon mangga? Haduh ….”
Sebuah kurva cemberut terpeta di bibir Setan. Gadis itu malu mendengar Dedemit mengungkit masa lalunya. Namun, yang lebih malunya lagi adalah Lucy tahu alasan ia menyuruh gadis bule itu naik ke atas pohon mangga!
Baik, mau tak mau Setan harus membantu Taeyang mendapatkan kembali hati pujaan hatinya. Duh, mengapa lama kelamaan ia harus berurusan dengan kebucinan? Bang Sat dengan mba Seranissa, Lucy dan pangeran—maksudnya Harry di Amerika sana, dan kini Taeyang dengan Mawar. Kenapa? Tak bisakah mereka membiarkan jomlo seperti Setan untuk tenang?
Setidaknya Setan harus berbahagia Dedemit melupakan uangnya yang dipinjam Mawar. Anggap saja uang ini adalah pembayaran atas jasa untuk membantu Taeyang.
“Oh, iya. Mumpung ke rumah Mawar, sekalian ambilin uang Ibu yang dipinjam dia, ya?”
“Tadi dikasih Mawar, Bu. Tapi diambil Setan. Bener-bener memang kelakuan dia.”
“Bang Sat!”
Ck! Lengkap sudah penderitaan Setan kali ini. Sudah menjadi jomlo satu-satunya, berurusan dengan kebucinan mereka pula, dan sekarang, duit yang Setan angan-angan mau digunakan untuk membeli bakwan jagung nanti sore, malah tidak jadi gara-gara mulut lamis Bang Sat. Kampret memang.
"Eh, sudah dikasih ke sini?"
"Iya, udah, Bu. Tadi mau tak bilangin Ibu, tapi lupa."
"Halaaah, bilang aja mau dikorupsi."
"Bang Saaat!"
"Wes, sudah sudah." Dedemit yang sudah pusing tujuh keliling akhirnya menengahi perdebatan kedua anaknya. "Kalian ini, gelutan terus kerjaannya."
"Bang Sat itu, Bu."
"Hust! Uwes!" Dedemit berkacak pinggang di depan keduanya. "Sudah sini mana uangnya? Mau Ibu beliin lauk buat buka nanti sore."
Dengan keadaan terpaksa, Setan akhirnya menyerahkan lembaran duaribuan dua dan seribuan satu yang ia kantongi kepada Dedemit. Sebenarnya, Setan sedikit heran dengan ibunya. Memangnya, lauk apa yang bisa dibeli dengan uang limaribu itu? Ah sudahlah, apa pun itu, nantinya, kan, juga Setan ikut makan. Tidak apa-apa, deh.
***
"Hah? Ini apa, Tantia?"
"Ini namanya kembang api, Oppa," jawab Setan sambil menunjuk gambar yang ada di kemasan kembang api itu.
"Eh, buat apa? Nanti kalo meledak gimana? Nggak, ah, Tan. Nggak usah beli ini. Beli bunga aja, deh."
"Eh, Oppa, bentar." Taeyang sudah mau kabur kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Setan. "Ini, tuh, enggak meledak. Oppa tenang aja."
"Iya, Mas. Ini gak jebluki. Bukan sejenis mercon, kok. Mas-nya tenang aja." Bapak-bapak penjual kembang api itu ikut menjelaskan pada Taeyang.
"Tuh, kan. Udah, Oppa tenang aja. Gue jamin, rencana kali ini pasti berhasil, Oppa."
Taeyang menatap Setan dengan raut wajah waswas. Bukan, bukan tidak percaya kalau kembang api itu tidak meletus, melainkan tidak yakin dengan rencana yang gadis itu susun. Bagaimanapun, ide-ide antimainstream yang Setan ucapkan seringkali terlalu over, sampai-sampai sering melenceng dari perkiraan.
"Ya udah, saya beli tiga bungkus ya, Pak," ucap Taeyang pada penjual kembang api sembari menyerahkan lembaran uang berwarna biru.
Mendengar itu, wajah penjual kembang api dan Setan sontak cerah seketika.
Kalau penjual kembang api itu langsung membungkus pesanan Taeyang, maka Setan langsung memikirkan rencana selanjutnya. Rencana yang kini, seratus persen ia yakin akan berhasil membuat Taeyang dan Mawar baikan dalam sekejap.
Memikirkannya saja berhasil membuat Setan tersenyum bangga, apalagi kalau nanti sudah terlaksana. Dirinya benar-benar berbakat menjadi mak comblang andal ternyata.
"Ya udah, ayo pulang. Oppa jangan lupa dandan yang keren, ya," ucap Setan di sela-sela perjalanan pulang, "nanti habis tarawih, tugas gue yang ngajak Mawar buat ketemuan sama Oppa di jembatan sana." Setan menunjuk jembatan kayu yang tak jauh dari rumahnya.
Taeyang ikut memperhatikan arah pandang Setan. Memang, sih, jembatannya terlihat keren dan aesthetic kalau siang hari. Malamnya pun tidak terlihat seram walau hanya diterangi cahaya nyamplik. Namun, apa tidak terlihat seperti hantu pacaran kalau dirinya dan Mawar ketemuan di sana?
Ah sudahlah. Persetan dengan hantu asli. Biarin mereka iri melihat kemesraan dirinya dan Mawar nanti di jembatan sana. Misalnya mereka tiba-tiba muncul, Taeyang dan Mawar tinggal bilang saja pada mereka, "Iri, bilang, bos!"
Atau kalau masih tidak mempan, Taeyang tinggal bagi saja kembang api yang ia punya pada mereka. Kan asyik, tuh. Bisa main kembang api bareng.
Astaga! Sepertinya Taeyang sudah ketularan virus tidak warasnya Setan dan Bang Sat. Sampai-sampai, pikirannya yang polos dan masih suci sesuci dan suji itu kini ternoda dengan pikiran absurd mereka.
Semoga saja nanti rencananya dan rencana Setan bisa berjalan dengan lancar, sehingga bayangannya tentang bermain kembang api romantis dengan Mawar bisa terealisasikan. Taeyang bisa membayangkan, jika nanti berhasil, pasti keduanya terlihat seperti pasangan romantis seperti yang ada di drama korea.
Tidak terasa, waktu yang dinanti pun akhirnya tiba. Bang Sat terlihat ngos-ngosan saat memasuki rumah. Pria itu bertugas memberi kode pada Taeyang agar segera ke jembatan, sedangkan Setan bertugas membujuk Mawar agar mau ke jembatan.
Taeyang sudah berdiri di jembatan. Di tangannya, terdapat kembang api yang ia beli tadi, lengkap dengan korek gasnya.
Jantung pria Korea itu berdentum tidak karuan bersamaan dengan suara Mawar dan Setan yang semakin mendekat. Namun, bersamaan dengan itu pula, suara guntur ikut-ikutan meramaikan suasana. Astaga, jangan sampai hujan juga ikut-ikutan.
"Eh, War. Gue tiba-tiba mules, nih. Bentar mau setor dulu, ya. Lo bantu nyari tokek dulu di sekitar sana. Nanti kita tangkap bareng," ucap Setan sambil pura-pura memegangi perutnya. Kemudian, tanpa aba-aba ia lari begitu saja.
"Lah, kok aku ditinggal dewekan, sih." Mawar naik jembatan sembari celingukan. "Emang Bang Satria beneran masih ngompol, ya. Sampai harus dicariin tokek buat obatnya?"
Saat Mawar hampir sampai di tengah-tengah jembatan, matanya tidak sengaja menangkap sosok jangkung berjalan dari arah depan. Jantungnya berdegup tidak karuan. Dia hampir lari, tetapi urung saat menyadari sosok itu adalah Taeyang yang tengah mencekal pergelangan tangannya.
"Geuman, Mawar."
Bahu Mawar berputar kala dirinya ditarik mendekat, membuat gadis itu kini berhadap-hadapan dengan Taeyang. Jika saja Mawar tak teringat akan kejadian Taeyang menangkap si gadis bule itu, maka ia akan heboh sendiri kala dirinya berada di dekat Taeyang.
"Mengenai Lucy, ia kebetulan jatuh ke tanganku dari pohon mangga," jelas Taeyang, "aku menangkapnya pun hanya karena ia adalah temanku, tak ada perasaan lebih untuknya."
Perempuan di depannya masih terus menundukkan kepala. Memilih untuk menghindari tatapan Taeyang yang bisa menggoyahkan hatinya.
"Mawar-ssi ... mianhae." Setelah mengucapkan hal itu, Taeyang terdiam, dirinya perlahan-lahan mengambil bunga tabur yang tersimpan di kantung celananya.
Mawar masih terus mematung, memikirkan penjelasan Taeyang. Dirinya berkonflik haruskah memaafkan Taeyang atau tetap teguh pada pendiriannya yang sudah dipenuhi prasangka.
Tidak, Taeyang sudah memberikan penjelasannya, Mawar sendiri juga mengakui ia terlalu cepat menarik kesimpulan. Perempuan cantik itu mengangkat kepalanya, menatap Taeyang, dan hendak memberikan jawabannya. Namun, niatannya itu segera dibatalkan ketika taburan bunga membanjirinya.
Mawar menatap tajam Taeyang yang tersenyum lebar tanpa tahu salah apa yang dibuatnya. Haruskah Mawar beri tahu kalau yang Taeyang taburkan adalah bunga tabur untuk kuburan? Memangnya Mawar sebentar lagi mau meninggal?
Oh, bukan! Ia pasti mendoakanku cepat berpulang ke rahmatullah agar bisa berduaan dengan bule itu! batin Mawar. Yaps, Taeyang terlihat penuh salah di matanya. Lagi pula, bukan cowok namanya jika selalu benar.
"Saranghae, Mawar!"
Sekali lagi Taeyang menaburkan bunga. Sayang sekali Taeyang tak tahu kalau hal itu menambah kekesalan Mawar.
Dua kali taburan mawar artinya tanda bahwa Setan harus menyalakan kembang api. Harusnya saat ini juga, di seberang jembatan akan terbentuk hati dari cahaya kembang api.
Namun, yang ditunggu-tunggu tak kunjung pula terjadi. Taeyang sudah khawatir apakah Setan ketiduran atau malah diculik Wewe Gombel. Oke, Taeyang akan coba positif thinking sekali lagi, mungkin saja mata gadis itu sudah rabun.
Taeyang menaburkan bunga untuk yang ketiga kalinya. Bersamaan dengan itu, hujan pun turun secara tiba-tiba dengan deras padahal masih gelombang pertama. Jadi, hujanlah penyebab hancurnya rencana Taeyang dan Setan.
"Aduh, mianhae Mawar. Tiba-tiba hujan begini--"
"Oppa bodoh!"
Ditinggalkannya Taeyang dalam kebingungan. Pria berkebangsaan Korea itu akhirnya sadar bahwa ia semakin menorehkan kekecewaan di hati pujaannya.
Alam semesta memperhatikan pria di tengah jembatan itu. Semesta tahu, saat ini bukan hanya langit yang sedang menangis.
to be continue ....
best regards, itsmeqia mssana7 DRestiPertiwi xxtnaruwlsy RanEsta13 onederfulonly Ren-san22 wishasaaa yuniizhy_ Kokokruunch
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro