Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐿️ part 3 🐿️

Part 3


Terbiasa dengan kehidupan yang kita miliki, terkadang membuat diri lupa bahwa masih banyak di luar sana yang jauh lebih kurang dari kita. Hanya saja, mereka menutupnya dengan senyuman.


🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️🌵🌵🌵🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️



Tubuhnya masih tidak bergerak sedikit pun, pandangan tertuju pada sosok perempuan berhijab yang kini tampak kembali melihat dirinya. Bahkan, ia yang tadi sempat marah-marah kini hanya bisa mengatupkan bibir, tanpa ada satu kata pun yang terucap. Tatapan yang ia dapat dari perempuan berpipi chubby ini seolah membius, membekukan seluruh syaraf. Semilir angin yang menerbangkan kerudung itu, membuat Aldrift dapat mencium aroma mawar dari sana. Mata tajam itu kini terpejam, menikmati wangi yang masuk dalam Indera penciuman. Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Ada apa, ya?" Suara lembut itu kembali terdengar, segeralah Aldrift membuka mata. Menatap perempuan berhijab di depannya dengan senyum merekah. Ia mengalihkan pandangan pada anak-anak yang sebelumnya dimarahi, lalu berdehem untuk mengembalikan kesadaran yang dimiliki.

Tangan Aldrift terangkat, menunjuk satu persatu anak jalanan yang kini juga menatap dirinya polos. "Mereka. Mereka sedang mencuri di mobil ini. Untung saja aku memergokinya. Kalau tidak, mungkin semua barang yang ada di dalam mobil sudah raib mereka bawa." Pemuda itu bangga akan dirinya yang baru saja menangkap maling itu beralih menunjuk barang-barang di dalam mobil, lalu menatap perempuan manis yang ada di hadapannya.

"Apa kamu pemilik mobil ini?" tanyanya kemudian. Aldrift mengembangkan senyum kala perempuan di hadapannya mengangguk, merasa bangga dengan apa yang baru saja ia lakukan. Merasa menjadi penyelamat barang-barang milik perempuan yang baru saja ia temui. "Ah, untung saja aku menghentikan mereka."

Senyum manis yang didapat membuat Aldrift membusungkan dada, pasti setelah ini ia akan mendapat pujian. "Tapi mereka tidak mencuri. Mereka hanya membantuku untuk mengangkat buku-buku dan makanan untuk sekolah mereka nanti." Bagai jatuh tersungkur ke tana, dan dalam posisi memalukan, itulah keadaannya saat ini. Hanya menampakkan senyum canggung karena telah salah sangka pada anak-anak jalanan ini.

Namun, Aldrift berusaha mengenyahkan perasaan itu. Jangan salahkan dia yang berprasangka demikian melihat gelagat mereka. Berdehem sebentar, ia menatap perempuan dengan tas kecil di pundaknya sekilas, lalu menatap anak-anak jalanan yang sebelumnya sempat ia marahi. "Maafkan kakak, ya. Kakak tidak tahu. Maaf." Dia menatap kelima bocah itu penuh sesal, merasa bersalah akan tuduhan yang telah ia berikan pada mereka.

Kelima bocah itu mengangguk. "Iya, Kak." Senyum terbit di wajah Aldrift, merasa bersyukur jika anak jalanan itu mau memaafkannya.

Pemuda bermata sipit itu kembali mengalihkan pandangan pada perempuan yang masih berdiri dengan jarak dua meter darinya. "Maaf," ucapnya. Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum singkat.

"Ayo anak-anak, segera dibawa bukunya. Yang lain sudah menunggu." Aldrift memperhatikan perempuan yang belum ia ketahui namanya itu menginstruksi kegiatan anak-anak yang sempat ia hentikan dengan tuduhannya pun kembali berlanjut.

“Kak Kay baru saja membeli permen kopi, ya?” Seorang anak perempuan yang memakai baju warna merah muda yang sudah tampak pudar bertanya pada perempuan itu, dengan ramah pertanyaannya dijawab.

Satu kata yang berhasil menarik perhatian Aldrift. Kay? Namanya Kay? Seperti Key di mana bisa diartikan sebagai kunci. Kunci hatinya.

Sadar, Al. Apa yang kamu lakukan?

“Lala minta ya, Kak?”

“Boleh, Sayang.” Katakan. Betapa bahagianya kalian jika memiliki istri dan anak yang seperti mereka? Membuka bungkusan plastik yang ada di tangan, Aldrift hanya mampu memandangi seseorang yang baru saja ia temui tengah membagikan permen pada anak-anak jalanan itu.

Dipandangi kembali semua anak itu berlalu dengan satu kardus di tangan masing-masing, Aldrift melihat perempuan itu tampak kesusahan dengan kantung-kantung plastik yang jumlahnya cukup banyak. Segera ia mendekati dan membantu. "Biar aku bantu." Ia mulai mengambil alih beberapa kantung dari dalam mobil, sedikit lebih banyak agar perempuan itu tidak kesusahan membawanya. Pandangan mereka sempat bertemu yang lagi-lagi mampu membuat diri seperti terhipnotis.

"Terima kasih," ucap perempuan yang kini sudah mengalihkan pandangan. Setelah menutup pintu mobil, keduanya berjalan beriringan di trotoar. Tidak memedulikan kendaraan yang lalu lalang di jalan Mastrib Kota Surabaya.

"Ah, kita belum kenalan. Namaku Aldrift, kamu?" Aldrift menyatukan semua kantung yang ia bawa pada tangan kiri, lalu mengulurkan tangan kanan pada perempuan cantik dengan pakaian berwarna merah jambu di sampingnya.

"Kayla," ucapnya sopan. Aldrift menerbitkan senyum saat Kayla membalas jabatan tangannya.

Kedua anak Adam itu kembali melanjutkan perjalanan, memasuki gang rumah-rumah milik warga. Hingga mereka sampai pada tempat yang jauh dari kata layak untuk dikunjungi. Aldrift sempat merasa heran, apa benar ini tempat yang akan perempuan ini kunjungi? Namun, pertanyaan itu segera dienyahkan saat melihat Kayla yang terus melangkah. Ia sedikit berhati-hati saat memasuki area pembuangan sampah, tetap mengikuti perempuan yang terlihat biasa saja berada di tempat ini. Sepertinya, sudah terbiasa.

Hingga tumpukan-tumpukan sampah berhasil dilewati, ia melihat sebuah gubuk yang terbuat dari kayu-kayu bekas. Tidak terlalu tertutup, karena bisa dilihat beberapa anak yang tengah bercanda di bawah gubuk beratapkan kain berwarna biru. Dilihat dari pakaian, sepertinya mereka adalah kumpulan anak jalanan di sini.

Tepat saat ia dan Kayla berhenti, semua anak-anak itu menoleh dan menerbitkan senyum yang sangat lebar. "Kak kay," panggil semua anak-anak itu ketika mendapati kedatangan mereka. Permainan berhenti, semuanya berbondong-bondong menghampiri.

Satu persatu dari anak jalanan itu berbaris rapi, mulai menyalami Kayla. Tatapan polos itu kini tertuju padanya, membuat Aldrift merasa bingung sendiri. Ah, tatapan polos itu. Bagaimana bisa tadi ia menuduh mereka mencuri?

"Oh iya, kenalkan. Ini namanya Kak Aldrift." Kali ini, mereka semua bergantian menyalaminya. Bahkan kelima anak yang tadi ia tuduh pun juga melakukan hal yang sama. Lagi-lagi membuat ia merasa malu.

"Kak Aldif juga akan mengajar kita?" Salah satu anak bersuara, menatap perempuan bernama Kayla dengan mengerjap lucu. Membuat Aldrift tertawa renyah dengan panggilan yang ditujukan padanya.

Ia melirik perempuan berhijab di sebelahnya. Tidak disangka, pandangan mereka kembali bertemu. "Mm, melihat kalian, kakak juga ingin mengajar. Tapi kakak belum tahu mau mengajar apa. Nanti kakak akan pikirkan. Ok?" Semua hanya mengangguk patuh. Perasaan bahagia dan lega tiba-tiba merasuk dalam tubuhnya, tidak tahu apa dan mengapa. Mengalihkan pandangan ke samping, Aldrift mendapatkan tatapan tidak percaya. Namun, ia hanya membalas dengan senyum meyakinkan.

"Kalau begitu, kita belajar seperti biasa dulu, ya?" Suara Kayla membuat perhatian para anak jalanan kembali teralihkan. Melihat anggukan polos dari mereka, membuat Aldrift merasakan sesuatu yang asing.

Kini, kegiatan belajar mengajar Aldrift nikmati dengan perasaan senang. Dipandangi perempuan yang baru saja dikenal tengah mengajarkan anak-anak jalanan dengan begitu telaten dan sabar. Diakuinya, perempuan itu telah berhasil mengambil kepingan hati.

***

Delivery.” Aldrift menoleh saat sebuah suara sedikit berteriak, mendapati seseorang berseragam merah dengan gambar ayam memakai topi berdiri membawa dua kantong kresek di tangan kanan dan kiri. Sepertinya kurir makanan.

“Iya, Mas.” Jawaban Kayla yang dibarengi dengan langkah mendekati laki-laki itu membuatnya bangkit dari duduk, mendekati Kayla dan membantu ketika mengambil alih dua kantong kresek berwarna putih.

“Terima kasih.” Aldrift hanya menanggapinya dengan senyuman dan anggukan. Ia melihat gerak-gerik Kayla yang berjalan ke arah meja, lalu meraih sling bagnya.

Segera Aldrift kembali menatap kurir sebelumnya. “Ini belum dibayar?” tanyanya.

Kurir berkumis tipis itu menggeleng. “Belum, Mas,” jawabnya kemudian.

“Berapa semuanya?”

“Dua ratus tujuh puluh lima ribu, Mas.” Aldrift merogoh saku celananya, mengambil dompet dan segera mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah dengan angka nol berjumlah lima.

“Ambil saja kembaliannya,” ucapnya kemudian.

“Terima kasih.” Ia mengangguk, lalu meraih dua kantung kresek yang sebelumnya ia letakkan di bawah dan mendekati Kayla.

Namun, suara Kayla menghentikannya. “Loh ... Mas kurirnya mana?”

“Sudah pulang,” ucap Aldrift sembari membawa kresek putih itu pada anak-anak yang masih belajar. Ia yakin makanan ini untuk mereka. Memangnya untuk siapa lagi makanan sebanyak ini kalau bukan untuk anak-anak di sini?

“Ah, letakkan di sana saja.” Langkahnya sempat terhenti, menoleh dan mendapati tempat yang ditunjuk Kayla. Aldrift mengangguk, berjalan ke arah pohon yang di bawahnya sudah dibentangkan sebuah tikar untuk duduk. Sesekali ia memandang Kayla yang mendekati anak-anak didiknya.

Tak lama, perempuan itu berjalan ke arahnya bersama anak jalanan. Dari balik mata sipitnya ia memindai gadis cantik berkerudung itu, senyum yang manis dari bibirnya yang tipis, mata bulat dengan bulu mata lentik, juga lesung pipi yang menghiasi. Cantik sekali.

Entah mengapa, melihatnya membuat ia merasa betah di sini. Di tempat kumuh yang jauh dari kata layak untuk ditinggali. Berbeda jauh dari kediaman rumah Gautama. Hanya saja, di sini ada kehangatan. Buktinya, ada bidadari cantik yang menjadi seorang guru di sini.

“Duduk. Kakak akan bagi.” Suara Kayla membuatnya membuyarkan lamunan. Ia segera berdiri dan membantu Kayla membagikan kotak berwarna merah bergambar paha ayam yang sudah digoreng.

Aldrift memandang puas saat semua anak-anak sudah mendapatkan bagian, senyumnya mengembang dengan menarik napas dalam. Lelah, tetapi menyenangkan.

“Ini untuk kamu.” Aldrift menoleh, melihat Kayla dengan senyum manis mengulurkan kotak makanan padanya. “Ini untuk kamu.”

Aldrift menerima lalu menjawab, “Terima kasih.”

Kayla mengangguk, ia mengikuti Kayla untuk duduk. Lalu memerhatikan perempuan yang berhasil mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Keduanya makan bersama anak-anak jalanan yang terlihat lahap.

Melihat itu, ia menyadari sesuatu. Bagaimana sebuah makanan yang sering ia makan ternyata begitu mewah bagi mereka yang hanya untuk makan saat ini harus mencarinya saat itu juga. Seharusnya, ia bersyukur akan keadaannya meski keadaan keluarganya tak sehangat kelihatannya.

Mungkin saja ia kurang bersyukur sehingga hidupnya tidak pernah merasa tenang berada di rumah. Ia kembali menoleh pada Kayla, di balik benak sana ia mengucap syukur karena dipertemukan dengan perempuan ini. Ah, tidak. Dengan semua orang yang ada di sini.


🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️🌵🌵🌵🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️













Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro