Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐿️ Part 16 🐿️

Unexpected Destiny

Part 16

🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️🌵🌵🌵🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️

Aldrift masih mematung di tempat kala Kayla telah berlalu. Ucapan yang baru saja didengar dari perempuan yang ia cintai barusan sungguh membuat dirinya terkejut bukan main, candaan yang tidak lucu karena ini bukanlah lelucon.

Aroma parfum vanila yang baru saja melewati dirinya masih begitu terasa pada hidung, enggan pergi meski si pemilik raga telah jauh. Iris hitam legam memandang ke arah bawah dengan kosong, terasa hampa akan apa yang baru saja didapat.

Apa ini? Ada apa ini? Kenapa seperti ini?

Benak sana masih tak mampu mencerna akan apa yang ia terima dari berbagai arah, seolah segalanya enggan berada untuk memihak dirinya. Jangan, cukup berdiri dekat saja sepertinya ogah.

Sebuah sentuhan pada jemari kiri membuat Aldrift tersadar, ia menunduk dan melihat bocah laki-laki dengan kaus putih lusuh tengah menatap dirinya polos. "Kak. Kak Kayla mau ke mana? Kenapa katanya dia sudah tidak bisa ngajar kami lagi?" tanyanya.

Mata Aldrift mengerjap, rasa sesak mulai menjalar, sakit mulai mengimpit. Riak itu mulai terbentuk di pelupuk mata. Berhenti mengajar? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi.

Kali ini, tangannya digoyangkan. Aldrift kembali menunduk dan mendapati bocah yang sama masih berdiri di depannya. Kali ini, beberapa berada di barisan belakang.

Mensejajarkan tubuh, Aldrift memegang bahu anak itu, menatap satu per satu wajah-wajah lugu yang selama ini mendapatkan ilmu dari Kayla.

Aldrift tersenyum. "Kakak juga tidak tahu. Nanti Kakak akan tanyakan sama Kak Kayla." Semua mengangguk lesu. Ia yakin, sosok Kayla adalah salah satu yang berharga dari mereka. Jika perempuan itu tak lagi mengajar, pasti anak-anak ini merasa kehilangan.

"Kalian belum belajar hari ini?" Semua menggeleng.

Salah satu anak yang ada di barisan belakang menimpali, "Kak Kayla tadi ke sini cuma pamit, Kak."

"Kalau begitu, hari ini biar Kakak yang akan mengajar kalian." Lihatlah senyum yang kini terpatri di wajah-wajah polos itu. Mendengar dirinya akan mengambil alih pelajaran hari ini, mereka begitu antusias.

Mana tega ia membiarkan semangat itu surut. Ia akan mencari tahu kenapa Kayla melakukan ini. Sekaligus mengenai mereka ke depannya.

Sungguh. Sisi egois dalam dirinya tiba-tiba saja muncul. Merasa tidak menyukai keputusan Kayla.

Perasaan lega, bahagia tanpa beban Aldrift tuangkan di temapt kumuh ini. Bertindak sebagai pengajar, ia menemukan hal baru di tempat yang asing namun terasa nyaman.

Lagi. Ia menemukan kenyamanan bukan di tempat yang bisa dikatakan rumah.

Belajar, bercanda dan bercengkerama membuat Aldrift lupa waktu akan keberadaan dirinya. Seusai mengajar tadi ia tidak langsung pulang, malah menyisir area kotor itu. Bahkan bermain sepak bola bersama anak-anak pemulung sana.

Waktu menunjukkan pukul 16:00. Hari sudah beranjak sore, ia memutuskan untuk pulang hari ini.

Menyusuri tumpukan sampah, rumah kumuh hingga gang kecil, ia melangkah menuju jalan raya. Andai saja ada akses untuk mobilnya.

Di perjalanan yang sepi, saat itulah ia mendapati dua orang di salah satu gang sempit tengah berdiri berhadapan. Merasa ada yang aneh, ia berjalan mendekat dengan pelan.

Otaknya mulai bekerja, benaknya mulai mengingat kala ia melihat siluet salah satu laki-laki yang lebih pendek dari lainnya, berdiri menyamping sehingga ia masih bisa melihat wajah anak itu.

Ya. Yang dia lihat seorang anak.

Bimo. Satu nama yang terlintas dalam benaknya kala menangkap garis wajah itu. Mengingat dulu ada sesuatu yang ia curigai dalam diri anak itu, Aldrift segera meraih ponsel di saku celana. Mengetikkan sesuatu lalu mengirimnya pada seseorang.

Pelan, ia mencoba mendekat. Bergerak seperti angin agar dirinya tidak ketahuan. Saat berada dekat dengan mereka, Aldrift tahu kalau keduanya tengah bertransaksi narkoba.

Ah. Dugaan Aldrift benar mengenai anak bernama Bimo itu.

Tanpa banyak bicara, Aldrift segera menyerang keduanya, bergerak gesit melumpuhkan mereka. Bagi dirinya, cukup si penjual yang perlu dikalahkan.

Bimo, cukup dengan tatapan tajam, anak itu tidak berkutik.

Memandang seorang laki-laki dengan luka jahit di bagian dagu, dan kini ditambah dengan lebam yang baru saja ia beri, Aldrift hanya menjaga si pengedar agar tidak kabur dengan duduk santai pada sebuah batu.

Di sebelahnya ada Bimo yang duduk dengan kepala menunduk dan menggigil. Tangan kanannya tak henti-henti memberi tepukan pada bahu anak di bawah umur itu.

Sungguh miriz, di saat semua temannya tengah giat belajar, Bimo telah terjerumus ke jalan yang salah.

Pergerakan tangannya pada bahu Bimo terhenti kala melihat empat pasang sepatu di depannya. Ia mendongak, menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya bergantian.

Bangkit dari duduk Aldrift berucap. "Lakukan sesuai yang aku sarankan." Didaratkan satu tepukan pada salah satu bahu mereka. Lalu pergi dari tempat itu untuk menyelesaikan urusan yang lain.

"Papa tidak ingin Aldrift ikut dalam acara pertemuan Revin dengan keluarga calon istrinya. Titik."

Kata-kata itu terngiang dalam benak Aldrift. Bagaimana sederetan kalimat itu sudah jelas bahwa keberadaan dirinya sangat tidak diinginkan.

Pandangannya lurus, menerawang suasana malam pekatnya kota. Tangan yang berada di atas meja terkepal, menahan sesak dengan kenyataan betapa tidak berharga dirinya di dalam keluarga.

Tangan Aldrift terkepal, dengan secepat kilat gelas yang ada di tangan kanan melayang membentur dinding setinggi badan yang ada di atap cafe. Belum lagi dengan perkataan Kayla yang terus terngiang di kepala.

Suara langkah kaki yang mendekat tidak membuat dirinya mengalihkan pandangan. Hanya terpaku satu titik di mana serpihan gelas yang pecah menggambarkan hatinya yang tengah remuk.

"Al." Itu suara Candra, Aldrift hanya menjawab dengan gumaman saja. "Kakak lo dari tadi hubungi gue mulu."

Melalui ekor mata ia melirik Candra yang mengulurkan ponsel padanya. Diam, tak menanggapi lalu kembali mengalihkan pandangan.

"Halo." Tidak lama, Candra berdiri di depannya dengan mengulurkan kembali ponsel berlogo buah digigit itu. "Ngomong."

Lelah memberontak, ia pun menerima ponsel itu. Meletakkan pada telinganya. "Pulang. Ikut acara gue."

"Gue nggak dibutuhin," jawabnya acuh.

"Gue nggak akan berangkat sebelum lo pulang dan ikut." Aldrift berdecak. Drama apa yg dimainkan kakaknya ini.

"Aldrift cepat pulang. Jangan mengacaukan acara Revin!" Teriakan di seberang sudah pasti sang papa. Ia berdecak, pusing memikirkan sikap plinplan itu, segera mematikan sambungan tak ingin mendengar cacian lebih panjang lagi.

Bangkit, mengembalikan ponsel Candra dan berlalu dari sana.

"Mau ke mana?"

"Nyerahin nyawa."

"Diminta pulang ya pulang. Tambeng. Tidak bisa dibilangin." Satu keluarga itu kini berada dalam satu mobil di perjalanan menuju rumah calon yang akan dijodohkan dengan Revin. Sedari tadi, hanya hinaan yang Aldrif dapatkan.

"Bukannya Papa nggak mau kalau aku ikut? Papa sendiri yang bilang tadi siang." Hening, Aldrift tersenyum miring di tempat duduknya .

Mungkin sang papa terkejut mengetahui hal itu.

"Maksudnya?" tanya Revin. Aldrift hanya diam tidak menggubris.

"Tetap saja. Kalau diminta pulang ya celat pulang." Tetap. Masih tidak mau disalahkan.

"Untuk apa pulang kalau tidak diharapkan," bantahnya. Kali ini ia tidak ingin disalahkan.

"Kau—"

"Pa, Al. Sudah. Bisa kita tenang sebentar untuk acara Revin?" Hanya senyuman miring serta miriz yang ia tampilkan, sedang pandangannya hanya tertuju pada luar kaca mobil.

Kuda besi memasuki sebuah rumah minimalis dengan taman mini di bagian kiri. Pandangannya mengedar saat keluar dari mobil.

Diam, ia mengikuti keluarganya berjalan ke arah pintu utama yang terbuka, sosok laki-laki sudah berdiri di sana. Menyambut mereka dengan senyuman dan pelukan pada papanya.

"Ini namanya Revin?" Laki-laki berkacamata itu bertanya dengan menepuk pundak sang Kakak.

"Iya. Anak pertamaku yang aku ceritakan." Selalu. Hanya ada kebanggaan yang papanya ungkapkan mengenai sang kakak.

"Tampan. Gagah. Seperti yang kau bilang."

"Pasti dong. Pak Indra tidak bakalan menyesal dengan putraku ini." Semua tertawa, hanya dirinya yang mengukir senyum tipis tanda miriz.

"Lalu yang ini?" Masih mempunyai etikat baik, Aldrift segera meraih tangan si pemilik rumah dan mencium punggung tangan.

"Dia adiknya. Namanya Aldrift."

"Semua anakmu hebat sekali sepertinya." Aldrift membalas tatapan kagum  dari laki-laki bernama Indra itu. Baru pertama kali ia mendapat hal seperti itu, dan hanya dari orang lain.

"Ayo masuk. Kayla sudah menyiapkan makan malam." Tubuh Aldrift yang tadinya tenang kini tampak kaku. Nama yang baru saja disebut membuat hatinya bergetar. Kayla. Sosok perempuan yang selama ini dikenal terbayang dalam benak sana. Apakah orang yang sama?

Tidak ingin menduga, ia masuk dengan rangkulan pada lengan oleh mamanya. Menyusuri ruang tamu, Pak Indra membawa mereka ke sebuah ruangan di mana meja panjang dengan berbagai macam hidangan tersaji di atasnya.

"Kayla. Sudahkah, Nak?"

"Belum, Pa." Suara perempuan terdengar dari arah dapur yang dipisahkan meja pantri kecil terdengar. Langkah yang diambil berhenti, meresapi suara yang baru saja menyapa indra pendengarnya.

Ia kenal betul suara itu.

"Kayla ambil piring, Pa." Tidak lama, sosok perempuan dengan pasmina berwarna kuning senada dengan tunik yang dikenakan muncul.

Raga yang begitu ia kenali tertangkap mata. Bagai sebuah tembok yang mengimpit paksa, sesak itu rerasa nyata kala mata mereka saling membalas.

Kayla. Guru pengajar anak jalanan berdiri kaku di sana. Menunjukkan mimik wajah terkejut sama dengan dirinya. Mungkin ... karena melihat keberadaannya pula.

"Kayla," ucapnya lirih. Obrolan yang sedari tadi saling bersahutan terasa menghilang entah ke mana.

Hanya ada rasa hampa dan kesunyian disusul suara pecahan berasal dari tumpukan piring, jatuh dari tangan perempuan bermata hazzle yang telah mematri hatinya.

Takdir bicara, permainan alam seakan menegaskan, bahwa sekedar cinta tak cukup memenangkan sang kuasa.

🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️🌵🌵🌵🐿️🐿️🐿️🐿️🐿️

Aldrift juga up
Siapa yang kangen. Kuy merapat
🤗🤗🤗🤗🤗

Jangan lupa share ya
😘😘😘😘😘😘

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro