Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐿️ Part 15 🐿️

Unexpected Destiny

Part 15


"Pergi dari sini!" Kata-kata itu terus terngiang di benak Adiz. Mata yang biasanya memancarkan ketegasan kini tampak sendu dan rapuh.

Masih bisa diingat jelas bagaimana kemarahan papanya hingga mampu mempermalukan anaknya sendiri di depan umum. Bahkan mengusir dengan cara tidak terhormat.

Aldrift hanya bisa terdiam, memandang sendu papanya dengan tatapan terluka. Di balik mata berkaca, luka yang tertoreh semakin dalam dan menyakiti.

Suara klakson mengejutkan Aldrift dari bayangan beberapa waktu lalu di kantor sang papa. Di mana niat baik yang ia lakukan disalahartikan. Belum sempat menjelaskan, pengusiran yang ia dapatkan.

Memutar kemudi ke arah kiri, ia memakirkan porsche 718 di pinggir jalan sejenak-mobil keluaran terbaru pemberian sang mama. Kedua lengan Aldrift melipat di atas kemudi, menyembunyikan wajahnya yang sedih.

Bahunya bergetar, suara isak tangis mulai terdengar. Bohong jika laki-laki sepertinya tak akan bisa menangis saat seseorang yang ia banggakan memperlakukan dirinya berbeda.

Menarik napas dalam, ia berusaha menormalkan deru napas yang terasa sesak beberapa saat lalu akibat suatu kejadian kecil. Membersihkan jejak air mata, ia mulai mengamati jalan sekitar yang dilewati.

Ini adalah jalan menuju ke panti. Mengingat tak ada niat untuk pulang dan bertemu ayahnya, ia memutuskan untuk mengunjungi anak-anak yang selalu menghadirkan tawa, juga pengurus panti yang selama ini menjadi tempat berkeluh kesah.

Kuda besi mulai melaju, cepat membelah jalanan kota, berbelok pada arah yang dituju dan berhenti pada bangunan yang selalu menghadirkan ketenangan untuk dirinya.

Melalui kaca tengah ia memerhatikan wajah, tak ingin terlihat sedih di depan anak-anak panti nantinya. Keluar dari mobil, ia berjalan ke arah panti asuhan yang dikelola sepasang suami istri paruh baya.

"Assalamualaikum," sapanya pada kumpulan anak-anak panti yang tengah bermain di pekarangan. Tak jauh di sana, sepasang laki-laki dan perempuan mengawasi dengan duduk di teras.

Aldrift mendekat, meraih tangan keduanya untuk mencium punggung tangan mereka. "Sehat Pak, Bu?"

"Alhamdulillah kami baik. Kamu sendiri?"

Aldrift menerbitkan senyum tipis. "Baik, Pak." Lihatlah mereka yang bukan siapa-siapanya, tak pernah lupa menanyakan kabar saat ia menginjakkan kaki di tempat ini.

Sebuah tarikan membuat ia menoleh, gadis kecil dengan boneka kelinci lusuh berada dalam pelukan.

"Kakak ayo main." Aldrift mengangguk, diraihnya tubuh mungil itu dalam gendongan.

Sebelum itu, ia sempat meminta izin terlebih dahulu pada Pak Ropik dan Bu Susi. Lalu membawa gadis berkepang dua menuju pada teman-temannya yang lainnya.

Melupakan kesedihan sejenak, ia membagi tawa dengan para anak panti yang tak memiliki orang tua.

Aldrift duduk di bangku depan panti, memandang langit yang hanya menampakkan kepekatan. Tak ada satu pun gemintang yang mengintip. Persis dengan kondisi hatinya saat ini.

"Kamu tidak pulang?" Suara berat dari arah kanan membuat ia menoleh, sosok Pak Ropik mengenakan sarung dan kopyah berdiri di sana. Terlihat sekali berwibawa.

"Eh, Pak." Aldrift menggeser duduknya, mempersilahkan Pak Ropik untuk duduk di sebelahnya.

"Ada apa?" Aldrift menoleh dengan kerutan pada kening, tidak mengerti akan pertanyaan yang diajukan padanya.

Sedang laki-laki di berbulu mata tipis itu menampakkan senyum, menepuk pelan bahu kanannya. "Bapak tahu kamu ada masalah. Ada apa?" Aldrift masih diam, ia belum mampu untuk mengatakan pada Pak Ropik.

Ia hanya menunduk, memilin jarinya di antara kedua kaki. "Tidak papa kalau kamu belum mau cerita."

Menghela napas dalam, ia mencoba merangkai kata. "Hari ini Al menggagalkan proyek besar milik Papa. Bukan maksud Al untuk seperti itu. Hanya saja, seseorang yang bekerja sama dengan Papa bukanlah orang baik. Al tidak mau Papa nanti mendapat masalah karena berurusan dengan orang itu."

"Tahu dari mana kamu kalau dia bukan orang baik?"

Aldrift menoleh. "Al tahu dari beberapa waktu lalu yang menyangkut salah satu teman Al. Tapi Papa tidak percaya. Bahkan, Al belum sempat menjelaskannya tapi Papa lebih dulu marah-marah."

Lagi. Hanya senyuman yang diberikan Pak Ropik padanya. "Setiap manusia yang hidup, pasti akan mendapatkan suatu masalah selagi dia masih bernapas. Jika bukan melalui jalan ini, makan ada juga jalan lainnya. Mengenai keputusan kamu untuk menolong Papa kamu, tidak ada jalan mudah untuk mencapai suatu kebaikan. Asal kamu yakin ... bahwa Alloh menyertai jalanmu. InsyaAlloh semua akan menemukan jalan terbaiknya."

Lihatlah laki-laki paruh baya ini menanggapi masalah, hanya senyuman yang terpatri di wajahnya. Ia tahu, itu bukan meremehkan, atau bukan karena tak mengalami sendiri maka mudah berkata.

Akan tetapi, Pak Ropik adalah sosok yang meyakini jika manusia hidup memiliki masalahnya masing-masing. Berat atau ringan suatu cobaan, percayalah Alloh tidak akan menguji hambanya jika hamba itu tidak mampu.

"Aldrift mau tidur di panti malam ini." Sebuah anggukan yang didapat menerbitkan senyumnya.

"Hei!" Gerakan tangan Aldrift yang akan memantik api pada dedaunan kering yang sudah terkumpul urung kala suara lembut menyapa telinga.

Ia menoleh dan mendapati Kayla yang turut berjongkok di sampingnya. "Apa kabar?" tanyanya dengan senyum yang mengembang.

Aldrift menarik garis senyum tipis. "Baik." Ia menepuk telapak tangan membersihkan sisa debu.

"Sudah baikan?"

Aldrift menoleh, menatap Kayla dengan kedua alis yang menukik naik. "Maksudnya?"

Senyum itu semakin lebar, membuat mata Kayla menyipit. "Aku melihat kamu seperti berbeda dari biasanya. Ketika Ibu Susi tidak sengaja mengatakan kamu sudah di sini beberapa hari, aku menyadari ada yang salah dengan kamu. Jadi ... aku sedikit memaksa Ibu Susi untuk bercerita." Perempuan ini menyatukan ibu jari dan jari telunjuk, mengisyaratkan sedikit yang dimaksud.

Aldrift hanya terkekeh, tidak ingin membahas masalahnya. Namun, tidak dengan perempuan di sampingnya. "Masalah itu harus cepat diselesaikan." Tangan lentik itu memunguti dedaunan kering di sekitar tubuh mereka.

Satu daun kering diangkat dan diarahkan di depan wajahnya. Aldrift yang tidak mengerti pun hanya menatap bingung.

"Ibarat daun kering ini. Ia jatuh dan berserakan. Memandang mereka membuat kita pusing. Coba kalau kita satukan." Beberapa dauh kering yang sudah terkumpul di tangan dijadikan satu dengan tumpukan di depannya.

"Terlihat lebih bersih, rapi, enak dipandang dan membawa ketenangan," ucapnya dengan senyuman. "Seperti suatu masalah, jika kita lari, maka masalahnya akan semakin rumit."

Kali ini, Kayla mengambil alih pemantik dari tangannya. "Sebaiknya kita bicarakan agar semuanya cepat selesai." ucapan itu dibarengi dengan api yang mulai membakar tumpukan daun kering. Baranya menjilat-jilat ke udara.

"Masalah selesai, hidup jadi tenang." Aldrift memandang paras ayu yang dipenuhi senyuman.

Sosok yang lemah lembut ini mampu mengalirkan kehangatan dalam dirinya. Dalam keadaan sadar ia berucap, "Kayla. Uhibbuki filla."

Aldrift baru saja turun dari lantai dua. Kaki berbalut sepatu olahraga berwarna putih itu menapaki anak tangga satu persatu, melangkah menuju arah luar rumah.

"Lihat anak tidak tahu diri itu. Baru pulang sudah mau pergi lagi." Menarik napas dalam, Aldrift sudah berjanji kali ini untuk menebalkan telinganya.

"Papa, sudah. Masih pagi. Jangan buat keributan." Syukurlah ia mendapatkan pencerahan yang sangat berarti dari seseorang untuk tidak memperkeruh suasana.

"Anak kesayangan kamu itu. Terbukti dia tidak bisa apa-apa. Baru hari pertama kerja saja dia sudah membuat perusahaan kehilangan tender besar." Tak menggubris perkataan papanya, pun tidak memedulikan cacian yang dilontarkan papanya.

Berdiri tegak, ia memandang kedua orang tuanya dengan senyum tipis. "Pa, Ma, Aldrift izin keluar dulu," pamitnya.

"Pergi sana. Biasanya juga tidak pakai pamit." Ia mengambil tangan sang mama dan mwnciumnya, tetapi papa, ia kembali mendapat oenolakan.

"Tenang dong, Pa. Lebih baik kita bahas Revin yang katanya mau Papa jodohkan. Memangnya dia mau? Mama nggak mau, ya kalau anak-anak kita jadi tertekan." Aldrift yang sudah melangkah sempat berhenti, sedikit mencuri dengar dengan apa yang baru saja diucapkan sang mama.

"Revin anak yang penurut."

Kakaknya dijodohkan. Apakah kali ini ia juga harus membawa Kayla?

Aldrift meragu. Apalagi ketika mengingat ucapan papanya beberapa waktu lalu saat tahu dirinya menyukai seseorang.

Hanya saja, takdir tidak ada yang tahu bukan?

Mengembangkan senyum, Aldrift memutuskan untuk juga membawa Kayla pada orang tuanya. Sepertinya ia harus menjemput perempuan itu terlebih dahulu.

Langkah Aldrift pasti memasuki area perkampungan kumuh, menuju tempat Kayla mengajar biasanya. Senyumnya mengembang kala siluet perempuan berhihab hijau lumut tertangkap indra penglihatan.

"Kayla," panggilnya ketika ia sudah berdiri di sisi pintu masuk kelas anak-anak jalanan belajar. Tangannya menyanggah pada tiang bambu dengan napas ngos-ngosan akibat jalannya yang terburu-buru.

Meski wajah terkejut Kayla bisa ia lihat, perempuan itu tetap mendekati dirinya. Hanya saja Aldrift merasa ada jarak kali ini. "Aldrift " ucap Kayla lirih.

"Kay, aku ingin mengajak kamu ke rumah. Aku ingin mengenalkanmu pada kedua orang tuaku," paparnya dengan menggebu-gebu. Sedari tadi di perjalanan ia sudah tak sabar untuk mengatakan ini pada Kayla.

Akan tetapi, respon berbeda ia tangkap dari gestur tubuh perempuan di hadapannya. Jika ia mengatakan ingin mengajak menemui orang tuanya, Kayla pasti tahu ia tengah berbicara serius mengenai perasaan.

Biasanya, akan ada senyum yang terpatri di wajah itu. Sayangnya kali ini tidak. Kayla hanya menunduk dengan menautkan kedua tangannya di depan dada.

Ada yang aneh. "Kay. Ada apa?" tanyanya lirih.

"Ma ... maaf. Aku tidak bisa." Kening Aldrift semakin mengerut. Tidak mengerti apa maksud dari Kayla.

"Kay," panggilnya lirih. Sedangkan yang dipanggil masih menunduk tanpa mengangkat wajahnya sedikit pun.

"Ayah. Ayah menjodohkan aku dengan laki-laki anak temannya."

Siang semua. Ada yang kangen sama Mom?

Kangen dong. Masak enggak?🤭🤭🤭

Readers kesayangan Mom
Mom juga bawa cerita baru, yes.
Judulnya Kunca, genrenya Fiksi remaja. Mampir ya semua
Nih covernya 👇


Satu lagi, Your Wife is Mine Post ulang dongg. Jangan lupa mampir ☺️☺️☺️☺️

Yuk yang mau baca silakan votenya.
Juga komen kecenya.

Ketcup jauh dari Mom 😘😘😘😘😘

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro