Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

PAST (8)

Halohaa... ya ampun udah lama kali gak update cerita ini. satu tahun loh, wkwkwk
mohon maaf kalau kalian harus baca ulang karena lupa sama ceritanya. Mohon maaf juga jika chapter ini kurang memuaskan.

 Karena udah lama gak nulis, mungkin diksiku agak berbeda di sini. Gak seciamik biasanya, maklum baru berhasil berdamai dengan diri sendiri soalnya.

Oke, doakan aku selalu semangat buat berkarya. Aku bakal berusaha menamatkan cerita ini bagaimana pun caranya. Terima kasih atas kesabaran kalian menungguku. Selamat membaca.

============================


Monica dan Peter telah sampai di bandar udara internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Begitu keluar bandara, mereka langsung menyewa mobil beserta sopir untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan yaitu Banyumas. Lokasi di mana tanaman Ki leho beureum atau Saurauia cauliflora yang langka itu dibudidayakan secara tertutup dan ilegal.

Mereka menempuh waktu perjalanan sekitar enam jam. Rasa lelah setelah penerbangan bukanlah penghalang bagi kedua orang itu untuk bekerja cepat. Paling tidak, sesuai pesan Maximilliam, mereka harus kembali satu hari setelah mendapatkan tanaman penting tersebut. Lokasi tujuan dekat dengan area perhutanan. Mobil berhenti di depan gerbang dengan pagar beton luas yang sengaja dibangun agar orang luar tidak bisa melihat bagian dalam. 

Monica dan Peter keluar dari dalam mobil bersamaan setelah membayar uang sewa kepada si sopir.  Peter menyandangkan tas ransel di bahu begitupun dengan Monica. Matahari sore menjelang malam membuat suasana di sekitar terasa sepi. Tempat ini ternyata sangat jauh dari pemukiman warga. Tidak ada satu pun warga yang melewati tempat ini karena aksesnya yang tidak penting. Monica bertanya-tanya bagaimana cara masuk ke dalam karena pintu gerbang yang terbuat dari baja itu tampak begitu kokoh dan sulit dibuka sembarangan.

"Menurutmu kita harus ketuk pintunya sambil mengucapkan salam?" tanya Monica sambil tersenyum.

"Ya, ide yang bagus, Monic!"

Pria itu melangkah lebih dekat ke pintu lalu mengetuknya menggunakan kerikil yang ia dapat di bawah kakinya. Rencana ini sudah mereka atur sebelumnya. Ketika seseorang membukakan pintu dan memberi sedikit celah, Peter langsung meminta izin dengan cara baik-baik menggunakan bahasa Indonesia. Si penjaga berkulit kecokelatan dan bertubuh tinggi tersebut berpenampilan biasa, yang jika orang lain melihatnya, tak ubah seperti buruh tani yang belum mandi. 

Monica menyaksikan sendiri bagaimana Peter berdialog dengan pria tersebut, sangat lancar dan mudah dimengerti oleh lawan bicaranya. Peter jelas berpengalaman dalam bidang ini. Ia menguasai banyak bahasa dan itu memudahkannya untuk bernegosiasi dengan siapa saja. Tak lama setelah Peter memperkenalkan diri, pria berambut keriting itu pun mempersilakannya masuk. Tempat itu memiliki halaman yang cukup luas. Sebuah rumah yang lebih mirip dengan gudang penyimpanan berdiri kokoh di sebidang tanah. Mereka melewati beberapa orang penjaga dengan tatapan penasaran. Si rambut keriting mengantarkan mereka pada seseorang yang lebih berwenang.

Untuk saat ini, Monica belum memikirkan apa langkah selanjutnya. Mungkin akan menjadi tugas Peter saja. Ia hanya menunggu instruksi bilamana tenaganya diperlukan. Namun, ketika mereka berhadapan dengan seorang pria berperawakan besar yang tidak menyambut mereka dengan ramah, Monica mulai awas.

"Selamat malam," sapa Peter.

Pria itu membalas sapaan. Peter kembali memperkenalkan diri kemudian berjabatan tangan. Tegar, nama pria itu, tampaknya juga memasang mode waspada ketika Peter menyebutkan satu nama.

"Kami ingin bertemu dengan Ibu Respati, terkait dengan hubungan bisnis. Apakah beliau ada di tempat? Atau mungkin Anda bekenan mengantarkan kami padanya?"

Tegar memicingkan matanya bersamaan dengan kening yang mengerut. Tentu saja, Respati merupakan pemilik tempat dan dari apa yang Monica dengar tentang wanita tersebut, Respati memiliki jaringan khusus ke beberapa penadah tanaman langka yang ia budidayakan. Mungkin tidak akan berisiko besar bila hanya soal tanaman langka, tetapi bakal sangat sensitif karena yang ia tanam termasuk tumbuhan terlarang seperti bahan utama narkoba. Itu sebabnya wanita itu sulit diajak kerja sama karena ia tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain meski nama Black Mountain terbilang besar.

"Sayang sekali, Ibu Respati sedang tidak ada di tempat. Kau mungkin bisa datang kembali beberapa hari kemudian. Itu pun kalau beliau bersedia menemuimu."

Monica tersenyum miring lantas berbisik pada Peter, "Wanita itu ada di dalam. Dia hanya menghalang-halangi."

Peter mengangguk paham, percaya seratus persen dengan hasil pemindaian pikiran yang dilakukan Monica. "Akan lebih mempersingkat waktu jika Anda membiarkan kami bertemu dengannya di dalam, Pak Tegar."

"Sudah kubilang Ibu Respati tidak ada. Apa kau mengerti bahasaku?" balas Tegar dengan nada sedikit tinggi.

"Tolong beri kami kesempatan. Aku yakin pertemuan ini tidak akan lama."

Sebelah tangan tegar meraih sesuatu di belakang pinggang. Peter dan Monica mulai berhati-hati sebab pria itu hendak mengeluarkan senjata api.

Peter kembali tersenyum sabar. "Jangan mengusir kami dengan cara kasar, Pak."

Kalimat itulah yang langsung diterjemahkan oleh Monica sebagai sebuah perintah. Ia menjetikkan jari tepat di muka Tegar. Pria itu langsung terdiam dengan pandangan kosong. Semudah itu, mereka diantarkan langsung oleh Tegar ke ruangan di mana Respati harusnya berada. Rumah itu sangat luas dan tertata rapi dengan gaya natural. Tanaman-tanaman hias menutupi hampir setengah permukaan dinding bagian atas, dedaunannya lebat merambat dan berbunga di banyak sisi. Sekilas Monica suka dengan tempat ini dan ingin sekali memuji perancangnya secara langsung, tetapi akan terlihat norak di saat serius seperti ini.

Tegar membawa mereka berhenti di depan pintu berwarna biru langit. Ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Monica mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggris lalu mengikuti Peter yang sudah masuk lebih dulu.

"Bu Respati Tanujaya," sapa Peter dengan nada ramah yang dibuat-buat.

Seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah kursi goyang sambil mengembuskan asap rokok. Bibir merah meronanya tampak mencolok, tatapan matanya yang tajam seakan-akan tidak suka diganggu. Ia berhenti menggoyangkan kursi, melihat Monica dan Peter bergantian tanpa kata-kata. Baju terusan batik sutera yang dikenakan membuatnya sangat cantik meski di usia yang tidak lagi muda. Monica merasakan aura yang tidak biasa. Saat Respati berdiri dan berjalan menghampiri mereka, Monica dibuat takjub dengan aroma parfum yang terhidu.

"Bagaimana bisa Tegar mempersilakan kalian masuk tanpa meminta izinku dulu?" Suara yang dikeluarkan Respati mendayu, tapi tegas dalam artian mengancam. Ia berdiri begitu dekat dengan Peter dan matanya terlalu memperhatikan Monica.

"Dia pria yang sangat murah hati," jawab Peter gampang. Lagi-lagi, Peter memperkenalkan diri sebagai Garrick dan Chloe sebagai rekannya. "Kami berniat untuk membuat kerja sama dengan Anda, Bu Respati."

"Aku sudah tahu," balasnya. Ia mengisap rokok, lalu membuang asapnya sambil bicara di hadapan Monica dan Peter. "Semua orang asing yang datang ke sini sudah pasti menginginkan anak-anak kesayanganku. Kau dari organisasi mana?"

"Black Mountain, kau pasti sudah pernah dengar."

"Ah ..." Respati tertawa. Ia membalikkan badan, melangkah menjauhi mereka. "Aku sudah pernah bilang pada The Meredith, tidak akan pernah menjual Ki leho beureum padanya dengan alasan apa pun. Dan sekarang ia mengutus seorang penerjemah dan gadis polos padaku untuk memohon? Yang benar saja."

Peter dan Monic saling memandang. "Jika Anda masih bersikeras, mungkin Anda mengizinkan kami untuk mengetahui alasan Anda menolak kami," ujar Peter.

"Aku tidak perlu menjelaskannya pada siapa pun. Aku yang menentukan dengan siapa aku bersedia kerja sama."

"Itu terdengar tidak adil, Bu." Peter mengepalkan tangan kirinya. Monic menerka kalau Peter sedang menahan emosi.

"Aku tidak peduli," bentak Respati. Ia mematikan rokok dan kembali menghadap kedua tamunya. "Dan aku tahu siapa kau!" unjuknya pada Monica.

Keheningan sejenak menyergap. Monica membaca hal yang sangat tidak ia sukai dari wanita itu. Ternyata benar, Respati mengenali Monica sejak awal. Semua kata-kata penghinaan yang menari-nari di dalam kepala Respati membuat Monica geram dan tak mampu menahan rasa sabar. 

Monica pun menggeleng lalu berkata, "hentikan omong kosong ini!" Ia mencengkeram dagu Respati, mengunci tatapan matanya kuat-kuat. "Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang menghina masa laluku. Kau terlalu sok tahu!"

Peter mencoba menarik tangan Monica. "Monic, hentikan! Tahan emosimu. Kita tidak boleh membuat kegaduhan. The Meredith ingin kerjasama ini berlangsung lama, bukan sesaat."

"Dia mengolok-olokku!"

"Itu hanya di dalam pikirannya saja, dia tidak mengolokmu secara langsung!"

Rasa geram di dalam hatinya hampir sulit diredam. Respati tidak akan melawan sebab intuisinya telah Monica kunci sedemikian mudah. Barangkali Respati sudah tahu dari awal bakal bagaimana nasibnya ketika berhadapan dengan Monica. Hal seperti ini sudah pasti terjadi.

"Okey, kau sudah terlanjur memperdayanya. Sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan." Peter mengeluarkan sebuah map berisi dokumen dari dalam tas ranselnya. "Kuharap kau bisa memintanya untuk menandatangani surat perjanjiannya ini."

Hal itu tidak sulit sebagaimana yang pernah Monica terka. Begitu Monica melepas cengkeramannya, Respati langsung berjalan menuju meja kerja, menuruti semua instruksi Peter yang akan lebih mudah dicerna bila menggunakan bahasa yang sama. Tanpa membaca, Respati menandatangani surat-surat tersebut seperti robot yang dikontrol remot. Begitu lugas dan santun. Setelah selesai dengan surat-surat, mereka dituntun ke sebuah ruang penyimpanan. Para pekerja yang berada di ruangan tersebut tidak dapat berkomentar apa pun sebab Respatilah yang membawa mereka langsung.

Peter dan Monica mengekor Respati dari belakang dan berhenti di depan sebuah rak penyimpanan toples-toples tanaman kering. Dengan tangannya sendiri, Respati mengambil satu toples kaca bertuliskan Ki Leho dan menyerahkannya langsung pada Monica.

"Kami butuh lebih banyak untuk persediaan," kata Peter. "Kau harus memberi semua stok yang ada."

Dengan cepat, Respati menyuruh anak buahnya untuk memberikan apa yang Peter minta. Dari sanalah akhirnya mereka bisa membawa pulang dua puluh peti yang masing-masing berisi sepuluh toples. Meski dengan cara yang tidak lazim, begitupun Black Mountain tetap manaati peraturan. Transaksi dilakukan sebelum barang dimuat ke dalam truk. Monica menyerahkan tas ransel berisi uang kes kepada Respati sesuai jumlah uang muka yang telah disepakati. Peter berharap The Meredith bisa mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari dengan Respati jika ingin kerjasama tersebut berlangsung selamanya. Begitu selesai dengan urusan transaksi, semua barang-barang disusun ke dalam truk pengangkut. Lantas dengan bantuan anak buah Respati yang cakap, mereka mengantarkan barang-barang itu ke pelabuhan untuk dimuat ke kapal kargo yang sudah dipesan Peter sebelumnya.

Sekarang, tugas Monica dan Peter telah selesai. Mereka kembali ke Jakarta untuk memesan hotel sebelum jadwal penerbangan yang tercepat besok siang. Sesampainya di kamar hotel, Monica menaruh barang-barang dan mandi. Namun, ia masih belum mengantuk untuk menikmati kehangatan kasur hotel yang empuk. Ia pun memutuskan untuk mencari hiburan ke pub hotel tanpa Peter. Monica perlu menyendiri sebagaimana kebiasaannya sejak masa hukuman.

Musik DJ menjadi latar suasana ramai nan berisik. Monica menikmati tequilanya di meja bar, merenungkan perihal gadis yang ia temui di toilet bandara. Wajah Laura terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Monica tahu soal mitos yang mengatakan manusia memiliki tujuh kembaran di muka bumi, tetapi wajah Laura tampak begitu mirip dengan Felicia. Demi apa pun, Monica tidak mungkin melupakan semburat wajah adiknya, keluarganya sendiri. Sesuatu di dalam jiwanya membara terlebih saat ia mendengar nama belakang Laura.

Heoglir, jika benar nama itu ada kaitannya dengan Theodore Heoglir, Monica harus mencari keluarga itu ke mana pun dan bagaimana pun caranya. Berita tentang kaburnya ia dari Lower Saxony pasti sudah sampai di telinga Mandy. Detektif itu tidak mungkin tenang mengingat keterlibatan mereka dalam kasus kematian si bartender yang menjadi asal mula petaka.

Monica tidak dendam. Sama sekali tidak menyimpan dendam pada kelarga Heoglir. Mereka telah banyak membantunya saat ia terisolasi di penjara. Sesekali, Mandy mengirimkan makanan dan buku-buku bacaan untuk teman Monica. Ia sangat bersyukur Heoglir masih memedulikannya. Namun, rutinitas kunjungan hadiah itu menghilang secara mendadak di tahun ketiga ia dihukum. Terus terang Monica merasa kehilangan, tetapi ia tidak bisa berharap banyak dari orang lain yang bukan keluarganya.

Di tengah lamunannya yang penuh taktik buntu, Monica dikejutkan dengan kehadiran Peter yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Aku mencarimu ke kamar, dan ternyata kau ada di sini." Peter duduk di sebelah Monica lalu memesan segelas wine pada bartender. "Seharusnya kau istirahat, besok kita akan pulang, bukan?"

Monica menggeleng sambil memainkan gelas tequilanya. "Aku tidak bisa tidur."

"Kau pasti sedang memikirkan Laura." Peter menyesap minuman sambil menatap Monica yang tidak menanggapi tebakannya. "Hei, dengar. Kau orang yang telah membebaskan iblis dari dalam diriku, aku sangat bersyukur dan mungkin aku bisa menawarkan sesuatu untuk membalasmu."

Kalimat itu terdengar menarik. Monica langsung tersenyum, terlebih ketika menangkap isi kepala Peter yang begitu tulus. "Terima kasih, Peter. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu terlalu jauh."

"Kau mungkin sudah tahu apa yang sedang kupikirkan. Jangan khawatir, aku pasti akan membantu mencari tahu tentang gadis yang kau bilang mirip dengan mendiang adikmu. Aku punya banyak koneksi di berbagai belahan dunia. Informasi semacam itu sangat mudah kudapatkan. Tapi ... jika boleh tahu." Peter meneguk minumannya sekali dan bertanya, "apa yang akan kau lakukan jika benar dia adikmu? Dan bagaimana jika sebaliknya? Kupikir kau harus memikirkan konsekuensinya baik-baik. Kau tentu tidak ingin kembali ke penjara dengan hukuman yang lebih berat."

Monica menunduk, berbicara dengan wajah lesu yang diselimuti kesedihan. "Sulit menjelaskan apa yang sedang kurasakan sekarang. Aku tahu, peristiwa itu sudah sangat lama dan harusnya aku meninggalkan kenangan itu terkubur besama jasad keluargaku. Mungkin dengan menerima kenyataan dan menghadapi keadaanku yang sekarang, aku bisa hidup lebih bahagia. Tapi rasanya sangat sulit, masa-masa indah itu terus menghantuiku, seolah-olah mereka memintaku untuk merangkul mereka dan hidup bersama kembali."

"Maaf, jika aku sok tahu. Kurasa kau hanya merasa kesepian, Monic."

"Jangan ajarkan aku soal kesepian, Peter. Kita pernah merasakan hal yang sama hanya saja aku berada di level yang jauh darimu." 

Peter mengangguk paham. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan gadis yang butuh didengar. 

"Aku tahu ini gila. Tapi, aku butuh Felicia. Meski Laura bukanlah Felicia, aku akan tetap menjadikannya adikku, Peter. Adikku. Tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangiku untuk mendapatkannya."

Tatapan mata yang ditunjukkan Monica seketika membuat Peter terdiam. Ia tidak sedang terhipnotis. Peter seakan bisa melihat seperti apa rasa sakit di dalam diri Monica begitu besar hingga sulit dituntaskan jika keinginannya belum terpenuhi. Entah apa cara yang akan ditempuh Monica, tetapi Peter telah berjanji untuk membantu gadis itu.

"Sekarang kau terobsesi dengan Laura," kata Peter menghakimi.

"Terserah mau dibilang apa." Monica menenggak habis minumannya lalu berjalan keluar pub dengan perasaan yang bercampur aduk.

Bersambung ...

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro