
IV. e a s e
e a s e
freedom from labor, pain, or physical annoyance; tranquil rest;comfort:
Seperti sebuah candu. Seperti kombinasi mematikan antara alkohol dan obat-obatan. Seperti memori yang tidak akan dengan mudah dapat dilupakan.
Malam itu Savannah berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara ketika ia hendak masuk ke dalam pantry. Ia menghentikan langkah kaki mungilnya ketika melihat dirinya tidak sendirian pada malam itu. Savannah melihat ibunya tengah duduk di bangku tinggi depan bar, menikmati segelas wine. Bukan, bukan segelas wine. Mungkin lebih banyak daripada yang Savannah kira, terbukti dari sisa wine yang berada di botol sebelahnya.
"Isabella," Savannah lagi-lagi terdiam ketika mendengar suara ayahnya yang sarat dengan nada kecewa. "Apa yang kau lakukan? Aku tau kalau kau lebih baik daripada ini."
"Pergilah Gordon." Isabella mengibaskan tangannya dan berusaha memicingkan matanya. Wanita itu terlihat jelas sedang mabuk pada saat itu.
"Berhentilah." Gordon mengambil botol wine yang berada di hadapan Isabella lalu menaruhnya kembali ke atas rak, jauh dari jangkauan wanita itu. Isabella hanya melirik sekilas, memainkan gelas wine nya dan menyesapnya pelan. Gordon menggeram pelan ketika ia merebut gelas wine yang berada di tangan Isabella lalu membanting gelas itu. Serpihan kacanya jatuh di dekat kaki Savannah, gadis kecil yang diam-diam mengamati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gadis kecil yang mendengarkan mereka tanpa mereka sadari.
Isabella berdiri terhuyung, berusaha meraih salah satu botol wine lainnya ketika lagi-lagi Gordon menghentikannya dan mencekal tangannya. "Apa yang kau inginkan Isabella?"
"I want my husband." Isabella menangis terisak. "I want my husband back."
***
Savannah melihat barang-barang yang di masukkan ke dalam rumah barunya. Rumah itu sudah selesai di cat dan di perbaiki. Sebagian besar kertas dinding yang terkelupas sudah di lepas dan diganti dengan yang baru. Pintu dan kusen jendela yang berwarna coklat pudar sudah di cat menjadi putih. Ilalang dan rumput setinggi betisnya sudah di potong rapi, Savannah baru menyadari kalau ada sebuah tempat mandi burung di tengah taman yang tidak terlihat karena tertutupi tanaman liar. Dalam waktu tiga hari, rumah tua itu terlihat nyaris seperti baru. Berterima kasihlah kepada Daniel Wellington, miliuner pemilik jaringan W hotel itu sudah membantunya hingga ke tahap seperti ini.
Savannah menekan satu-satunya nomor yang tersisa di ponsel yang dulunya milik Danny itu. Menunggu beberapa saat hingga pria itu akhirnya mengangkat telfonnya.
"Danny."
"Hm?"
"Terima kasih untuk hadiahmu."
"No problem,"
"Danny?"
"Ya?"
"Nevermind." Savannah menggigiti bibirnya gelisah. Sampai kapan ia akan lari seperti ini? Surat yang dikirimkan Nathan kepadanya hanya membuatnya semakin gelisah. Meskipun Nathan berkata kalau ia akan selalu bersamanya, kenyataannya kini ia sendirian tanpa seorang pun yang mengetahui keberadaannya selain Danny. Apakah dia akan baik-baik saja? Sampai kapan dia akan seperti ini?
"Katakan kepadaku, Anna. Tidak ada apapun lagi yang bisa kau sembunyikan dariku." Ucap Danny pelan.
"Apakah dia.. Baik-baik saja?"
"Tidak." Danny menarik nafas pelan sebelum kembali melanjutkan. "Dia datang ke kantorku nyaris setiap hari, mengacaukan keadaan dan tidak ingin pulang sebelum aku memberitahu keberadaanmu.Tapi Anna.. Dia akan baik-baik saja. Kalian akan baik-baik saja."
"Aku tidak tau Danny." Savannah melihat dos-dos berisi barang-barang miliknya serta beberapa perabot baru yang diberikan Danny kepadanya.
"Dia membuat pilihan yang salah, Anna. Sekarang dia harus menghadapi konsekuensinya."
***
Savannah memindahkan kopernya dari dalam kamar yang ia tempati selama di The Break. Christie membantunya merapikan kamarnya dan memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal.
"Kau akan menetap di Lockport?"
"Ya, aku akan menetap di rumah Mrs. Monroe." Savannah merapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam kopernya yang lain.
"Aku sudah mendengarnya, lads. Orang-orang membicarakan rumah tua itu, aku nyaris tidak percaya ketika mereka bilang seorang pendatang yang menyewanya." Christie merapikan bajunya kemudian membantu Savannah mengangkat koper-kopernya. "Mrs. Monroe bukan wanita yang ramah. Rumah itu dulu milik anaknya,"
Savannah ingin mengabaikan gosip lama yang Christie hendak berikan kepadanya tetapi mendengar nama anak Mrs. Monroe membuat Savannah sedikit tertarik. "Aku tidak tau Mrs. Monroe punya anak."
"Dia punya. Anaknya pindah ke Boston bertahun-tahun yang lalu." Christie mengambil koper paling besar yang berada di tangan Savannah dan mengangkatnya dengan mudah, memasukkannya ke dalam bagasi mobil Porsche milik Danny. "Tidak banyak yang mau bertahan di kota kecil seperti Lockport. Rafe dan Dr. Ruthbone hanya sebagian kecil yang ingin menetap di kota ini. Nah, aku harap yang terbaik untukmu, nak." Christie menepuk-nepuk tangannya lalu menarik Savannah ke dalam pelukan.
"Terima kasih, Christie." Savannah membalas pelukan Christie.
"Siapapun yang menyakitimu, ku harap dia segera menyesal." Christie berbisik pelan di telinganya lalu tersenyum tipis sementara Savannah hanya tercengang menatapnya. Apakah luka di hatinya begitu terlihat jelas?
***
Savannah berdiri di depan klinik Enlive Health dengan tidak yakin. Dengan langkah pelan, Savannah masuk ke dalam klinik Enlive Health dan disambut oleh seorang resepsionis wanita yang menatapnya dengan tanda tanya.
"Aku ingin bertemu dr. Ruthbone." ucap Savannah ragu-ragu.
"Apa kau ada janji sebelumnya?" Wanita itu menaikkan alisnya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Emm.. Tidak." Savannah menjawab bingung. "Bisakah kau memanggilnya?"
"Aku akan memanggil dr. Ruthbone, tunggu disana." Wanita itu mempersilahkan Savannah duduk di ruang tunggu pasien yang kelihatan kosong. Savannah memperhatikan artikel kesehatan dan poster-poster vaksin yang di tempel di dinding klinik dengan canggung. Ruangan klinik Enlive Health memang tidak sebesar Mayo Clinic di New York, tempat dimana Savannah pernah magang selama beberapa saat.
"Halo?" Savannah mendongakkan kepalanya dan menatap tidak mengerti ke arah seorang pria yang ia perkirakan berumur pertengahan lima puluhan tengah menatapnya bingung dengan tatapan yang sama tidak mengertinya.
"Aku mencari dr. Ruthbone." gumam Savannah pelan.
"Mungkin kau mencari anakku, Theo!" ucap pria itu yang akhirnya disambut anggukan pelan dari kepala Savannah. "Sayang sekali, Theo sedang tidak berada di Lockport saat ini."
"Eum, sebenarnya.." Savannah menggigit bibirnya gelisah. "Aku ingin mencari tau apakah aku bisa bekerja disini."
"Fantastic!" Savannah menatap tidak percaya ke arah Dr. Ruthbone senior ketika pria itu memberikan senyuman lebar sejuta watt kepadanya. Sekarang ia tau dimana kemiripan dr. Ruthbone junior dan senior. Keduanya memiliki senyum sejuta watt yang sama.
"A-apa?" Savannah lagi-lagi terpana dengan dr. Ruthbone senior ketika pria itu menarik tangannya, memaksanya berdiri dan lalu menggenggam tangannya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu langsung denganmu. Savannah, bukan?" kata dr. Ruthbone senior ketika pria itu melepaskan genggaman tangannya dan membuat Savannah diam terpaku. Wanita itu hanya mengangguk sekilas sebelum pria itu kembali melanjutkan. "Namaku James Ruthbone, kau bisa memanggilku James."
"Okay." Savannah menatap pria itu bingung. Mungkin dia telah salah mencoba mencari pekerjaan di tempat ini. Di New York sudah ada Mayo Clinic yang menunggu kepastiannya untuk program residency nya disana.
"Jadi, kau membawa segala hal yang kubutuhkan?" ucap dr. Ruthbone tidak sabaran.
"Emm.." Savannah mengambil folder berisi ijasah dan sertifikatnya yang baru saja dikirim Danny kepadanya, ia lalu memberikan folder itu dengan ragu-ragu kepada James.
"Kau lulusan John Hopkins Medical School bukan?" James Ruthbone membaca folder milik Savannah dengan cepat. "Theo menceritakannya kepadaku."
"Dia menceritakannya kepadamu?" Savannah mengerutkan keningnya tidak mengerti. Kota ini benar-benar lebih kecil daripada yang ia kira.
"Ya." Pria itu hanya bergumam sesaat. "Kau akan bekerja di bawah arahanku dan Theo."
"Aku.. Diterima?" Savannah tidak bisa mempercayai keberuntungannya pada hari itu.
"Ya?"
"Maksudku, kau tidak ingin memeriksa ijasah atau sertifikatku? Siapatau aku merupakan penipu ulung yang sedang mencoba menipumu?"
"Apa kau seorang penipu, nak?" James menatapnya lurus-lurus.
"Tidak?" Savannah menjawab ragu.
"Baguslah. Berarti tidak ada yang perlu aku khawatirkan." James kembali tersenyum kepadanya. "Kau bisa mulai bekerja besok. Kami buka dari jam setengah sembilan hingga pukul empat sore." James mendorong punggung Savannah dengan lembut dan mengarahkan gadis itu kembali ke lobi. "Aku akan memberitahu, Theo. Besok dia yang akan mengarahkanmu langsung."
"Bukan anda yang akan mengarahkanku?" Tanya Savannah tidak percaya.
"Aku akan beristirahat besok. Lockport biasanya tidak memiliki banyak pasien." James menghentikan langkah kakinya. "Emma, bisa tolong antar dr. Wright? Mulai besok ia akan menggantikanku."
"Tentu, sir." Resepsionis wanita yang ternyata bernama Emma itu mengantar Savannah hingga ke depan pintu klinik. Savannah yang masih tercengang kembali kaget ketika ia menyadari kalau ia sudah berada di luar klinik Enlive Health.
"God." Savannah bergumam pelan.
***
Savannah membongkar dos-dos berisi barang-barang miliknya yang selama ini ia taruh di apartemennya di New York. Buku-bukunya ia rapikan ke dalam rak-rak kayu yang diberikan Danny kepadanya.Savannah tidak tau kalau dia memiliki dua buku To Kill a Mockingbird, buku favoritnya sepanjang masa. Walaupun ia juga menyukai buku roman, ia menyadari kalau tidak semua kisah akan berakhir indah seperti yang novel-novel itu gambarkan. Lucu rasanya, ketika ia pindah rumah seperti saat ini, ia baru menyadari hal-hal kecil yang selama ini ia miliki.
Dia lalu membuka album-album foto tua miliknya yang baru ia lihat lagi setelah sekian tahun. Foto-foto masa kecilnya dan Nathan terlihat lucu dan menggemaskan yang sayangnya sejak usianya sepuluh tahun, foto-foto itu semakin jarang di ambil. Tentu saja, Savannah bergumam pelan di dalam hati.
Saat usianya sepuluh tahun, ayahnya berselingkuh dengan Katherine, guru pianonya dan ibunya tenggelam dalam kesedihan atas pernikahannya yang berantakan, nyaris melupakan kedua anaknya yang masih membutuhkan arahannya. Memaksa Savannah bersikap lebih dewasa daripada usianya. Savannah kecil tidak lagi menjadi anak manja tukang merengek yang akan menjerit bila keinginannya tidak di patuhi. Dia akan duduk bila disuruh duduk, tersenyum bila disuruh tersenyum. Tanpa banyak protes atau keluhan. Melakukan apapun agar kedua orang tuanya bisa peduli kepadanya. Menjadi pianis handal karena pernah sekali ibunya berkata kalau ia menyukai permainan pianonya, menjadi seorang atlet lacrosse karena ayahnya juga pernah menjadi atlet lacrosse, menjadi yang terbaik dimana pun dan kapan pun ia berada. Pada saat itu, melindungi Nathan, adiknya yang masih berumur tujuh tahun seperti melindungi masa kecilnya sendiri. Memastikan agar adiknya tidak perlu tau apa yang terjadi diantara keluarga mereka.
Savannah menutup album foto itu dengan sedih. Ia mengambil botol wine beserta gelas wine yang Danny kirimkan kepadanya. Ia menuangkan wine itu hingga penuh lalu menyesapnya pelan. Kini ia tau bagaimana perasaan ibunya pada saat itu. Rasa pahit dan manis wine bagaikan candu di lidahnya, mengingatkannya dengan pesan yang Kade kirimkan kepadanya. Surat yang hingga detik ini belum ia buka.
Ponsel Savannah yang bergetar pelan menyadarkan Savannah sesaat di tengah kesedihannya. Savannah mengangkat ponselnya sembari berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Halo?" Savannah terhenyak kaget ketika mendengar suara ibunya. Diantara sekian orang yang ia bisa pastikan akan menghubunginya, ia tidak tau kalau ibunya akan menjadi salah satunya. "Anna, my baby."
"Ma," Savannah tau kalau suaranya mungkin terdengar bergetar. Bukti kalau ia menahan jutaan emosi yang selama ini ia tumpuk, tidak hanya sejak kepergiannya tepat pada hari pernikahannya tetapi juga sejak malam itu. Malam dimana semuanya berubah.
"Apa kau baik-baik saja disana sendirian, Anna?" Isabella menahan nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Danny bilang kau sedang butuh ketenangan Anna, tapi aku.. Demi Tuhan, aku ibumu!"
"Aku tidak tau, Ma." Savannah menggigit bibirnya pelan tanpa peduli kalau ia sudah menyebabkan bibirnya terluka dan berdarah.
"Anna." Isabella menghela nafasnya panjang. "Kau akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja. Kembali lah."
"But the truth is the world is shattering Ma, and all of this things are driving me crazy."
*****
Troye Sivan ft. Broods - Ease
I'm down to my skin and bone
And my mommy, she can't put down the phone
And stop asking how I'm doing all alone, alone
But the truth is the stars are falling, ma
And the wolves are out c-calling, ma
And my home has never felt this far
But all this driving
Is driving me crazy
And all this moving
Is proving to get the best of me
And I've been trying to hide it
But lately
Every time I think I'm better
Pickin' my head up, getting nowhere
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro