Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Jendela 14

Hai, Regin and I are back. Gimana kabar kalian semua? Semoga selalu baik dirumah aja. Tetep semangat meski WFH atau kuliah dari rumah diperpanjang yah. 

Kalau kata Lauv. I'm so tired stay at home, stay home, stay at home. Just wanna go out, wanna go out, wanna out. HAHAHAHA oke' gariing.

Siapa tim Dale dan mana tim Bayu?  Tim Dale ngopi Dalgona dulu yah.... Soalnya bab ini masih akan tentang Regin dan Bayu. 

Kuy, lanjut baca. 

************************************************************************************

"Sukanya traveling kemana?" Tanya Regin melalui pesan teks. Sejak mereka bertukar nomer telepon, aplikasi pesan teksnya jadi meriah notifikasi.

"Laut. Free diving is my favorite one." Terangnya kemudian bergegas mencari foto-foto liburannya untuk diperlihatkan pada Regin.

Enam foto berderet masuk. Regin melihat sosok santai dan bebas berdiri berlatar matahari terbenam di sebuah pantai, kemudian di dalam air, dibawah pohon kelapa, dibawah air diantara terumbu karang, ikan, ubur-ubur dan di atas perahu. Jiwa petualang terpantul dari mata di dalam setiap foto yang berhasil membuat kesan lebih dalam di hati Regin tanpa Bayu menyadarinya.

Setiap orang memiliki cara menunjukan kasih sayang dan perhatian. Kedekatan mereka menuju kearah yang lebih jauh lagi. Melangkah berdua berhari-hari, saling dukung, saling menjadi tempat bersandar ketika lelah, saling berusaha meningkatkan daya tarik, saling berusaha menemukan irama terbaik agar perbedaan komunikasi mereka tidak akan pernah jadi batu sandungan.

Kebiasaan bertukar pesan setiap hari dan hampir kapan saja ketika bersama Dale rupanya membuat Regin tidak siap jika orang baru yang datang tidak memiliki pola atau cara yang sama dalam memperlakukannya. Dia tidak biasa jika Bayu hanya menyapanya sekali-dua kali dalam sehari dan hanya bertemu sekali dalam satu minggu meski kotak makan siang masih terus dia kirim. Hal itu menimbulkan perang sendiri karena dia harus berhenti membandingan Bayu dengan Dale.

Suatu malam ketika Bayu mengantar Regin pulang, dia membaca raut wajah tidak biasa yang tidak ingin dia lihat. Sekalipun baginya saat ini Regin adalah segalanya, disuguhi raut muka muram ketika dia berusaha menemui Regin disela-sela kesibukan tetap membuatnya kesal. Selama sepuluh menit, mereka cuma diam di dalam mobil. Masing-masing hanyut ke dunia di dalam ponsel.

Dengusan Regin memecah kekakuan mereka, Regin bergeges keluar. Bayu lantas menahannya.

"Aku cape."

"Aku tahu." Sahut Bayu mendekati Regin untuk menarik kembali pintu mobil. "Lagi ada masalah dikantor?"

Regin menggeleng sebagai jawaban.

"Mukanya kenapa gitu?"

"Aku cuma cape."

"Jangan kasih aku kode, bilang terus terang hal yang ganjal pikiran kamu."

Merasa di desak, Regin akhinya buka suara. "Kamu cuek. Chat pelit, jarang mau di ajak telepon apalagi diajak ketemu. Susah. Harus tunggu jadwal dari kamu."

Bayu terkekeh, sebelah bibirnya tersenyum getir.

"Aku memang bukan tipe orang suka ngobrol panjang-lebar di chat atau telepon. Tapi, bukan artinya cuek. Adanya begini. Kalau soal ketemu, jarak depok-tebet kan lumayan jauh, bukan jauhnya tapi macet. Akan jadi kurang efektif kalau aku maksain ketemu kamu setelah pulang kerja tapi, waktu kita ketemu nanti hanya akan sebentar."

Regin melirik Bayu melalui ekor matanya. Dan diam-diam membenarkan perkataan Bayu soal Macet. Penjelasan Bayu membuatnya merasa bersalah, harusnya dia bisa membuka diri tanpa embel-embel membandingkan Bayu dan Dale.

"Gin."

Punggung tangannya terasa hangat, Regin menoleh melihat tangan Bayu di atas menangkupi tangan kanannya. Regin menariknya perlahan. Rasa pilu mendadak menjalari hati Bayu begitu tangannya hanya menyentuh rok Regin.

"Harusnya aku enggak gini. I mean, aku bukan pacar atau siapa-siapa kamu."

Sekali lagi Bayu menahannya. Dia diam menatap tiang listrik, kemudian mengatakan rencana dadakan yang muncul di otaknya.

"Akhir minggu ini kita pergi ya. Aku mau ajak kamu free diving. Kita habisin waktu bareng, berdua ke sekitar pulau seribu."

"Aku enggak bisa."

"Kamu bisa."

"Aku enggak mau."

"Kamu mau. Muka kamu yang bilang."

Regin melihat Bayu, tatapan petualang yang dia lihat di foto muncul dengan tegas menghias bola matanya yang dia memang sangat ingin jadi bagian di dalamnya. Dia menghela napas setuju.

*

Aroma laut menguar terbang seperti selendang tipis membalut Regin berdiri sendirian di bibir pantai. Anak ombak menggelitik jari-jari kakinya dengan kuku berwarna biru tosca. Sesekali dia menoleh ke belakang menanti Bayu kembali dari kamar mengambil perlengkapan snorkling mereka. Kapal kecil yang akan mereka naiki masih tertambat di dermaga dan terlihat seperti kewalahan naik turun karena gelombang air laut.

Dari arah belakang, Bayu berlari kecil menghampiri Regin, dua tangannya menjinjing sepatu katak, sementara kaca mata dia kalungkan di lengan.

"Gin, ini sepatunya."

"Repot banget, tadi enggak minta bantu."

"Enggak repot kok." Sanggah Bayu entah bagaimana merasa bangga.

Dermaga berderit ketika mereka melewatinya, Bayu masuk kapal lebih dulu, disusul Regin, mereka duduk di bagian depan perahu melipat kaki sambil menunggu rombongan mahasiswa masuk semua ke dalam perahu. Setelah sepuluh menit berlalu perahu berangkat menjauhi pantai. Bayu memasang kacamata hitam, sementara Regin sengaja melepas ikatan rambut dan membiarkannya tersapu angin. Kombinasi deru angin dan suara mesin tidak mampu mengalahkan kehebohan mahasiswa di bagian belakang kapal. Sesekali Regin ikut tertawa mendengar lelucon mereka.

Sama sekali tidak ada percakapan, keduanya tenang menikmati hamparan air laut dan kencangnya angin. Bayu sendiri diam-diam memandangi Regin dari balik kacamata hitam yang dia kenakan. Dia ikut tertawa setiap Regin tertawa, kemudian senyum disaat Regin tidak lagi tertawa.

"Gin."

"Hum."

"Mau tau kenapa aku suka free diving?"

"Kenapa?"

"Aku ngerasa bebas di bawah sana. Terbang tanpa perlu sayap. Jatuh tapi tidak babak belur, tidak perlu menahan nyeri, paling paru-paru kisut."

Regin tertawa kecil, "Bukan terbang, tapi memang ngambang."

"Ya, biar lebih dramatis. Tapi, sebenarnya karena di bawah sana tenang, misterius sekaligus indah."

"Oh iya?"

Bayu mengangguk pelan kemudian dia kembali mengawang menikmati udara laut, sengatan matahari dan goyangan perahu. Dia tidak sabar berbagi semua dunia miliknya, semacam putra mahkota negeri duyung yang pulang membawa calon putri. Dia akan menyeret Regina berenang ke dalam dunianya yang tenang tapi akan penuh dengan kejutan.

Perahu akhirnya berhenti. Salah seorang awak kapal menarik tambang lalu lompat kedalam air untuk menancapkan jangkar di bawah sana. Setelah perahu dipastikan aman tidak akan lari kemana-mana, mahasiswa-mahasiswa itu juga sudah lompat kedalam air, sekarang gilirang Bayu. Dia duduk di tepi perahu menurunkan kacamata yang seketika menutupi separuh wajahnya, sambil melambaikan tangan dia menjatuhkan tubuhnya kedalam air, tanpa pelampung. Beberapa detik setelah itu, kepalanya kembali ke permukaan.

Bayu menarik keatas kacamatanya, kedua kakinya menari-nari di bawah sana, menjaganya agar tetap terbang. Dia mengulurkan satu tangan menggundang Regin masuk kedalam air. Kaitan pelampung berbunyi diam-diam sebanyak tiga kali tanda siap pelampung merekat agar Regin tidak tenggelam.

"Ayo." Bayu sengaja berenang mundur memberi ruang saat Regin lompat.

Air masuk ke dalam mulut. Di dalam sana Regin merasa tidak aman dan panik yang mencekik melumpuhkan kemampuan berenangnya. Dia muncul ke permukaan, batuk-batuk, hidung perih seperti terbakar, matanya merah. Dia seolah merasa bukan cuma air yang tadi masuk kedalam tenggorokan saat melewati sepersekian detik zero moment yang mendorongnya kembali naik menghirup udara.

Bayu mendekat, meraih pelampung Regin. Meyakinkan bahwa dia mustahil tenggelam. Bayu memintanya lebih tenang dan tidak banyak bergerak.

"Kamu cuma perlu tenang."

"Terakhir kali nyebur ke laut, setahun lalu."

Bayu tersenyum maklum, kerut dikeningnya mendadak muncul begitu menyadari sesuatu yang seharusnya ada.

"Kacamata kamu mana?"

Regin celingukan melihat sekitarnya, cuma air sebatas dagu dan kumpulan mahasiswa. "Kayanya jatuh Bay."

Bayu menggeleng, "Kayanya masih di perahu."

Dia meluncur mengambil kacamata di atas perahu sesaat kemudian lompat kembali kedalam laut dan tau-tau sudah berada dihadapan Regin.

"Kamu dasarnya bisa renang kan?"

"Bisa."

"Kalo gitu mau coba free diving ke bawah?"

Ingatan zero moment yang tadi mencekik dirinya timbul kembali, dia spontan menggeleng. Bayu menatapnya lekat-lekat, dia mengatakan yang dibutuhkan untuk berbaur dan menyatu dengan air dibawah sana hanyalah ketenangan dan kerelaan untuk melepas napas yang jadi dunia kita di atas sini. Perkataan Bayu terdengar mudah tapi juga sulit bagi Regin apalagi saat ini hidungnya masih terasa nyeri.

"Aku balik ke perahu dulu ambil minum."

Setengah botol air mineral berhasil masuk ke tenggorokan, sesuatu yang normal telah kembali sebagaimana mestinya. Tapi dia tahu ini tidak berlangsung lama karena Bayu sudah tidak sabar menunggu dirinya dibawah sana. Dia menyimpan kembali botol lalu bangun dan tidak melihat Bayu di permukaan air sejauh mata menelusuri setiap jengkal wajah manusia yang terapung-apung.

Sekelebat dari bawah perahu, melintaslah sosok mirip Bayu terbang tanpa sayap dengan kecepatan tidak terburu-buru. Itu memang Bayu, kacamata bertali biru yang dikenakannya membuat Regin mudah mengenalinya. Dari posisinya memperhatikan, Bayu seperti menari ditengah pesta topeng biota-biota laut.

Dan entah bagaimana hal itu memberinya keberanian melepas pelampung, memasang kacamata dan sepatu katak kemudian lompat menyusul Bayu. Ratusan bulir air lahir mengitari tubuh baru yang perlu tetap tenang berada di zero moment agar dia tidak tersedak. Tubuhnya memanjanng vertikal sempurna dia berusaha melepas dan melupakan napas yang menjadi dunianya di atas sana.

Sekuat dan secepat yang dia bisa, Regin berenang mendekati Bayu. Tangan keduanya bertautan. Bayu melempar senyum penuh lalu menarik Regin keluar dari air. Napas keduanya terengah-engah, keras memburu hak-nya kembali bebas seperti seharusnya. Diantara buruan napas itu Regin tertawa kecil merayakan apa yang baru saja dilakukannya.

"Gimana rasanya? Kirain kamu masih diperahu."

Tidak ada kata yang terdengar kecuali sebuah senyum selebar yang Regin pikir cukup melukiskan perasaannya saat ini. Sensasinya tidak berhenti sampai disitu. Bayu mengajaknya berenang sedikit menjauhi perahu, dia bilang sedikit sunyi akan memberikan kejutan lebih. Regin ikut tanpa bertanya apapun. Dia berenang persis disamping Bayu.

Jauh dari perahu dan gerombolan mahasiswa, mereka mendapat tempat yang lebih luas untuk dinikmati tanpa harus bertubrukan dengan kepala, kaki, pungung bahkan pantat orang lain. Mereka menahan napas, melepas dunia agar mendapat hal lain dibawah laut. Regin tidak pernah berenang sedalam itu, meski jujur saja melihat terumbu karang sedekat menatap roti-roti dietalase kaca membuat dadanya terasa berat, paru-parunya mati-matian menyesuaikan diri dengan pengalaman baru ini.

Dia perlu delapan hingga dua belas kali keluar-masuk air sebelum akhirnya Regin berhasil menahan napas lebih lama. Berhasil seakan benar-benar melepas kehidupannya sebagai manusia darat.

__________________________________________________________________________

Terima kasih sudah baca, pls jangan lupa tinggalin komen dan votenya. :)


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro