Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

18. [Cursed]

YEAR 6 ; CURSED
"I was just trying to protect you!"

--

"Aku sangat menyukai bagaimana kau membuat ramuan itu beberapa minggu lalu" 

Athena tertawa kecil dan berterimakasih kepada Slughorn. Ia menyadari Draco berdiri dan berjalan ke suatu ruangan, ke kamar mandi. Slughorn terus menerus memuji gadis dihadapannya dengan menggengam sebuah butterbeer di tangannya.

"Ah ya, selagi Malfoy pergi... Maukah kau pergi makan malam untuk beberapa murid yang terpilih?" tanya Slughorn dengan penekanan diakhir kalimatnya. Athena bisa mengerti kenapa guru dihadapannya bertingkah seperti itu. Ia menghindari anak-anak yang orang tuanya dirumorkan sebagai pelahap maut. Seperti Theo dan Draco.

"Tentu saja, sir. Sebuah kehormatan bagiku" ucap Athena dengan senyum lebar. Beberapa malam lalu Dumbledore menyuruh Athena untuk mendekati Slughorn, tak hanya Harry.

Athena sedikit menengokkan kepalanya ke kiri dan melihat Harry yang menatapnya dan Slughorn. Pandangannya langsung teralihkan ketika Athena menangkapnya basah sedang meratapinya.

"Potter itu... Sangat bertalenta ya" ucap Slughorn ikut menatap Harry.

Athena tersenyum dan mengangguk, menyetujui semua perkataan yang keluar dari mulut Slughorn. "Aku akan pergi menyapa mereka, kau mau ikut?" tanya pria separuh baya itu. "Tak usah, sir. Aku harus menghabiskan minumanku" ucap Athena sembari memberikan pandangan kearah minumannya yang tersisa setengah. 

Slughorn bangkit dari duduknya dan segera pergi menghampiri trio yang sedang terduduk diujung ruangan. Athena terduduk terdiam, menunggu Draco yang entah sedang melakukan apa.

Athena segera bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mengecek, namun ketika ia masuk ke ruangan itu tak ada seorang pun disana. Entah Draco meninggalkan gadis itu ketika ia dan Slughorn sedang berbincang atau laki-laki itu menyihir dirinya pergi dari situ, namun itu sepertinya tak mungkin.

Ia habiskan beberapa waktunya di tempat itu hingga minum pesanannya habis. Ia berfikir bahwa Draco mungkin hanya sedang dalam mood yang tidak baik karena Slughorn yang terus mencampakkannya dan memilih mengobrol dengan Athena.

Ia bergegas berjalan keluar dari tempat itu. Dibelakang gadis itu berjalan Harry, Hermione dan Ron saling merangkul satu sama lain. Sepertinya mereka juga hendak kembali ke kastil.

Pikiran Athena dibuyarkan ketika seorang gadis dihadapannya berteriak, salah satu dari kedua gadis dihadapannya terlihat kejang-kejang dan melayang ke atas dengan mulutnya yang terbuka lebar. Dia Katie, gadis yang melayang itu Katie.

Athena melihat sesuatu ditanah bersalju itu. Sebuah kalung-- Atau mungkin saja artefak terdampar disamping Leanne.

Tak lama, Katie yang melayang terhantam ke tanah. Ia terdampar sembari kejang-kejang tak sadarkan diri.

"Minggir, kalian semua" suara berat itu terdengar dari belakang. Athena menengok dan melihat Hagrid yang berjalan kearah Katie. Ia mengangkat Katie yang terdampar dengan mudah. Harry hendak melihat kalung yang terletak ditanah bersalju itu sebelum Hagrid melarangnya.

"Jangan disentuh kecuali dengan pembungkusnya. Kalian semua ikuti aku"

--

"Kau yakin Katie tak memilikinya saat ia masuk ke Three Broomsticks?" tanya McGonagall setelah menatap kalung itu.

"Seperti yang kukatakan, ia masuk ke kamar mandi dan kembali dengan membawa bungkusan" jawab Leanne. Ia terhenti sebentar lalu ia membuka kembali mulutnya. "Katanya itu penting dan dia akan mengantarnya"

Kamar mandi? Draco menghilang setelah dari kamar mandi. Tak mungkin ia yang melakukannya bukan?

McGonagall mengangguk mengerti. "Apa dia bilang untuk siapa?" tanya wanita itu kepada Leanne.

Leanne terdiam. "Professor Dumbledore" ungkap gadis itu.

McGonagall menahan nafasnya ketika ia mendengar bahwa barang terkutuk ini dikirim untuk Dumbledore. "Bagus. Terimakasih, Leanne. Kau boleh pergi" ucap McGonagall dengan senyumnya yang sedikit terpaksa.

Leanne pergi dari tempat itu, Athena hendak mengikutinya. Ia berfikir bahwa ia hanya kebetulan ada disitu dan tak terlibat akan apapun.

"Miss Grindelwald, tetaplah disini. Kau adalah saksi bersama Potter dan yang lain" ucap wanita itu ketika ia melihat Athena yang hendak pergi.

Athena mengurungkan niatnya dan kembali berdiri ditempat asalnya.

"Dan kalian. Kenapa jika ada kejadian seperti ini kalian bertiga selalu terlibat?" ucap McGonagall kepada Harry, Hermione dan Ron yang sedari tadi terdiam.

"Percayalah profesor, pertanyaan itu sudah ada diotakku selama 6 tahun terakhir"

Suara langkah kaki terdengar, Athena melihat Snape yang menghampiri mereka dengan pakaiannya yang serba hitam dan wajah datarnya.

"Oh, Severus" ucap McGonagall.

Tanpa berpikir panjang, Snape langsung menganalisa kalung terkutur tersebut. Ia melihat kalung itu dengan seksama dan merasakan bagaimana aura gelap memenuhi kalung itu.

"Bagaimana menurutmu" tanya McGonagall dengan khawatir.

"Menurutku Bell beruntung masih hidup" jawab Snape dengan ketus.

"Dia dikutuk, ya? Aku kenal Katie, diluar lapangan Quidditch dia tak akan pernah melukai seekor lalat. Jika dia antarkan itu untuk Dumbledore, ia pasti tak tahu ada manteranya" ucap Harry yang kelewat khawatir dengan Katie.

"Yes, she was cursed" ucap McGonagall menjawab penjelasan Harry.

"It was Malfoy" tuduh Harry secara tiba-tiba.

Athena menengok dengan cepat kearah Harry yang sudah menatapnya dengan cukup sinis. Athena berfikir bagaimana bisa Harry menuduh Malfoy dengan terang-terangan? Walaupun memang Athena juga mencurigai kekasihnya itu.

"Itu tuduhan yang sangat serius, Potter" ucap McGonagall yang tak kalah kaget dengan semua orang yang berada disitu.

"Indeed" geram Snape yang mendengarnya. "Apa buktimu, Potter?" sahut Athena yang lumayan geram ketika Harry menuduh kekasihnya itu.

"I just know" jawab Harry dengan gampang.

"You just....."

"...Know"

Snape menatap Harry tak kalah ketusnya dengan Athena, keduanya nampak sangat tak terima Harry menuduh Draco. "Sekali lagi kau membuatku takjub dengan kelebihanmu, Potter. Kelebihan yang hanya bisa diimpikan oleh manusia lain. Betapa hebatnya menjadi yang terpilih" ucap Snape.

McGonagall berkedip kaget. "Kalian semua kembalilah ke asrama" ucap wanita itu.

--

"Aku tak percaya kau melakukan ini tanpaku"

Draco menghela nafasnya kasar sembari mengacak-acak rambut pirangnya dengan frustasi. "Kau harus mengerti, aku tak mau kau terseret akan ini, Thena" ucap pria itu mencoba menahan rasa frustasinya.

"Aku sudah terseret, Draco. Tidakkah kau mengerti?" 

"I was just trying to protect you!"

Athena terdiam mendengarnya. Niat Draco memang baik, tentu saja. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari melihat langit malam pemandangan dimenara astronomi kala itu.

"Bukannya aku tak memercayaimu" ucap Draco. Athena masih terdiam, untungnya rencana Draco tanpa dirinya ini tak membahayakan Dumbledore. "Tatap aku, Thena" tangan Draco meraih wajah Athena untuk menatapnya.

"Aku hanya khawatir, itu saja. Potter mencurigaimu dan dia tampak sangat yakin ketika ia menuduhmu" ucap Athena. Draco tak boleh membunuh Dumbledore, harus Snape yang melakukannya. Athena bahkan berfikir bahwa bagaimana jika ia saja yang membunuh Dumbledore agar semuanya cepat terlaksana.

"Akan berantakan jika Potter tahu niatmu, Draco" ungkap gadis itu lagi. Draco mengangguk mengerti ia meremas lengan gadis dihadapannya dan menariknya ke dalam pelukan yang hangat.

"Maafkan aku" ucap Draco sembari mencium puncuk kepala Athena.

Athena membalas pelukan Draco, ia tak bisa menahan dirinya untuk terus-terusan marah kepada pria dihadapannya. Walaupun memang, ia cukup kecewa dengan keputusan Draco yang memilih untuk mencoba membunuh Dumbledore tanpa sepengetahuan Athena.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro