Epilog
Karya ini akhirnya terbit setelah aku hiatus lama, dan sekarang sudah sampai bab terakhir. Aku benar-benar terharu!
Mungkin ada beberapa adegan yang terasa kaku karena aku baru mulai nulis lagi, tapi aku sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca sampai akhir dan memberikan dukungan dengan vote dan komentar.
Dukungan kalian benar-benar berarti bagiku selama proses menulis. Maaf, kalau ada update yang telat dari yang dijanjikan. 🙏
Jangan lupa untuk follow akunku verashafira05 supaya tidak ketinggalan cerita selanjutnya ya! 🤗
Oh, dan apakah kalian ingin ada extra part dari cerita ini? Let me know!👉
Keesokan harinya, pagi yang cerah dengan embusan angin segar dari pegunungan membawa semangat baru bagi Summer. Seolah mimpi yang begitu indah, Summer masih merasa tak percaya dengan kejadian malam sebelumnya. Jonathan kembali, dan hubungan mereka yang sempat tegang kini mulai membaik. Ada kehangatan yang menyelimuti hatinya, seakan-akan kebersamaan mereka kini lebih kuat dari sebelumnya.
Di vila peternakan keluarga Meyer, pagi hari selalu diwarnai dengan rutinitas yang menenangkan. Salah satu kebiasaan Summer adalah pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan dengan ibunya. Meski statusnya sebagai anak angkat keluarga bangsawan membuatnya tidak harus melakukan hal ini, namun kegiatan sederhana di dapur selalu membuatnya merasa lebih dekat dengan ibu angkatnya.
Ketika Summer keluar dari kamarnya, dia mendengar suara tawa lembut yang familiar dari arah dapur. Saat ia mendekat, Summer melihat Lady Eleanor dan Sir Reginald sedang bercanda di sana, keduanya tampak begitu bahagia. Pemandangan ini membuat Summer tersenyum, melihat orang tuanya berinteraksi dengan begitu hangat dan penuh cinta selalu memberikan ketenangan tersendiri baginya.
"Selamat pagi, Ayah, Ibu," sapa Summer dengan senyum ceria saat dia masuk ke dapur.
Lady Eleanor menoleh dan menyambut putrinya dengan senyum hangat. "Selamat pagi, sayang. Kau mau sarapan sekarang? Ibu berencana membuat sup labu yang ringan untuk pagi ini."
Sir Reginald juga menyapa dengan senyum lebar. "Selamat pagi, Brianna. Bagaimana tidurmu semalam? Dan bagaimana percakapanmu dengan Jonathan tadi malam? Ayah lihat kalian sempat mengobrol setelah makan malam."
Mendengar nama Jonathan disebut, pipi Summer langsung bersemu merah. Ada sedikit rasa gugup ketika ditanya tentang pasangannya. "Aku tidur nyenyak, Ayah. Aku memang ingin ke dapur untuk membantu ibu, dan ya... percakapanku dengan Jonathan berjalan baik. Dia bilang ingin memulai hubungan yang lebih serius."
Lady Eleanor mengangguk, tatapannya penuh perhatian. "Syukurlah, Brianna. Kami senang mendengar itu. Tapi bagaimana perasaanmu setelah semua yang terjadi? Kami tahu ini bukan situasi yang mudah bagimu."
Summer terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Aku merasa lega, Bu. Sejujurnya, aku sedikit terkejut dengan perubahan Jonathan... Dia menjadi lebih terbuka, lebih peduli. Mungkin ini awal yang baik bagi kami."
Sir Reginald mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Summer dengan penuh kasih sayang. "Pertunangan adalah masa yang indah, tapi juga penuh tantangan. Kau dan Jonathan sedang dalam proses untuk mengenal satu sama lain lebih dalam. Jangan khawatir jika ada masa-masa sulit, yang penting adalah bagaimana kalian menghadapinya bersama."
Lady Eleanor menambahkan dengan lembut, "Ketika kami bertunangan, Ibu dan Ayahmu juga mengalami banyak pasang surut. Waktu itu, Ayahmu sangat sibuk dengan pekerjaannya di peternakan, dan ketika usia Ayahmu menginjak tiga puluh, dia mendapat tanggung jawab sebagai Dewan Penasihat Kerajaan. Ibu sempat merasa diabaikan."
Summer tertawa kecil, merasa terhibur oleh cerita itu. "Jadi, bagaimana Ibu dan Ayah mengatasi itu?"
Lady Eleanor tersenyum, matanya penuh kenangan. "Kami belajar untuk saling mendukung, memahami bahwa karier dan tanggung jawab adalah bagian dari hidup. Ibu menyadari bahwa meskipun Ayahmu sibuk, dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk hal-hal kecil yang membuat Ibu merasa dihargai. Seperti saat Ayah tiba-tiba datang ke kota hanya untuk makan siang bersama Ibu, meski hanya sebentar."
Sir Reginald mengangguk sambil tertawa. "Dan kau tahu, Ibumu juga tidak ragu untuk menyuarakan apa yang dia rasakan. Itu membuat komunikasi kami lebih kuat. Jangan takut untuk berbicara dari hati ke hati dengan Jonathan, Brianna. Kalian berdua harus saling mendukung."
Summer merasa hangat mendengar nasihat orang tuanya. "Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku akan ingat itu. Jonathan dan aku masih belajar, tapi aku percaya kita bisa melalui ini bersama."
Lady Eleanor merangkul Summer dengan lembut. "Kami percaya padamu, Brianna. Kalian berdua sudah mengambil langkah besar, dan kami akan selalu ada di sini untuk mendukungmu."
Tak lama kemudian, Lexter muncul dengan semangat. "Selamat pagi semuanya!" Ia memeluk setiap anggota keluarga satu per satu dan menambahkan ciuman di pipi Summer dan Lady Eleanor. Melihat Summer yang tampak bahagia, Lexter berniat sedikit bercanda. "Sepertinya, ke depannya, waktuku bersama adikku akan jauh berkurang. Ibu pasti akan memonopoli adikku, dan Perdana Menteri yang telah mencuri hatinya ini akan mencuri seluruh perhatiannya juga."
Sir Reginald ikut bergabung dalam candaan itu. "Wah, benar juga. Apakah ayah perlu menunda pernikahan mereka? Sepertinya ayah juga akan kesulitan mengajak Brianna jalan-jalan."
Lexter tertawa kecil, menanggapi dengan nada ceria meskipun setengah serius. "Benar, Ayah. Persulit mereka. Ulur waktu selama mungkin supaya Brianna tetap di rumah dan tidak hanya fokus pada Jonathan."
Meskipun Sir Reginald dan Lexter bercanda, Summer bisa merasakan kehangatan dan cinta yang tulus di balik kata-kata mereka. Mereka hanya ingin memastikan bahwa Summer tetap menjadi bagian penting dari kehidupan mereka, meskipun kini Jonathan juga mengambil tempat di hati Summer. Namun, Summer tahu bahwa cinta tidak terbagi—sebaliknya, cinta itu justru bertambah ketika dibagikan kepada lebih banyak orang.
Percakapan mereka berlanjut dengan canda tawa, membicarakan hal-hal ringan tentang kehidupan sehari-hari. Mereka saling berbagi cerita lucu tentang masa lalu, dan suasana di dapur itu dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang. Hari itu, Summer merasa lebih yakin bahwa dengan dukungan orang tuanya, dia bisa menghadapi tantangan apa pun yang datang dalam perjalanan hidupnya bersama Jonathan.
*****
Sore harinya, setelah Jonathan beristirahat, ia mengajak Summer duduk di teras vila yang menghadap ke pegunungan. Udara sore yang sejuk dan pemandangan yang memukau menciptakan suasana yang sempurna. Jonathan tampak lebih santai sekarang, dan Summer bisa merasakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang penting.
"Jo, besok sore kami akan kembali ke ibu kota. Apakah kau akan kembali bersama kami?" tanya Summer dengan hati-hati, karena setelah bercerita panjang lebar kemarin, ia tahu Jonathan menjadi sensitive tentang topik politik dan keluarganya.
"Ya, aku akan ikut kalian kembali. Aku juga harus kembali bekerja," jawab Jonathan dengan nada santai.
"Kau punya pekerjaan, Jo?" tanya Summer penasaran.
Jonathan tertawa lembut mendengar pertanyaan itu. "Sebenarnya, aku sudah mundur dari partai dan memutuskan tidak bersinggungan langsung dengan istana. Setelah masa jabatanku habis, aku mendapat tawaran untuk mengajar ilmu politik di Universitas Reveria dan berencana mengambil tawaran itu. Aku juga memiliki perusahaan konsultan strategi yang sudah aku kembangkan bersama beberapa teman dan mungkin aku akan ikut andil juga mengembangkannya."
"Oh, begitu," jawab Summer, merasa sedikit lega mendengar rencana Jonathan.
Jonathan menggenggam tangan Summer dan mengelusnya dengan lembut. "Bree," ucapnya sambil mengajak Summer duduk di pangkuannya, "Aku tahu mungkin ini masih terlalu dini setelah aku berkata akan menunjukkan usahaku terlebih dahulu, tapi aku telah memberi tahu ayahmu bahwa aku ingin menikahimu. Apakah kau keberatan dengan niatku itu?"
Summer, yang duduk di pangkuan Jonathan dengan tangan merangkul punggungnya, hanya bisa menatap Jonathan dengan penuh tanda tanya. Jonathan melanjutkan, "Kau tahu, usia kita berbeda cukup jauh. Mungkin kau akan menghadapi kesulitan ketika aku sudah tua atau sakit nanti. Aku khawatir kau akan merasa terbebani oleh jarak usia kita dan mungkin merasa malu jika aku sudah beruban."
Mata Summer mulai berkaca-kaca. Ia merasa sedih membayangkan kemungkinan perpisahan setelah mendengar betapa Jonathan tampaknya memperhatikannya dengan cara yang sangat mendalam. "Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Aku merasa sangat sedih membayangkan jika kita harus berpisah," ucapnya, suaranya bergetar.
Jonathan tertawa kecil, mencoba menghilangkan ketegangan. "Maafkan aku, Bree. Aku tidak bermaksud menakutimu. Yang aku maksudkan adalah jarak usia kita dan kemungkinan tantangan di masa depan. Aku ingin tahu apakah kau keberatan dengan lamaranku pada ayahmu."
Pipi Summer bersemu merah. "Tidak, aku tidak keberatan," jawabnya dengan penuh keyakinan.
Jonathan tersenyum bahagia, merasa lega dan bangga dengan keputusan Summer. "Dan ada satu hal lagi. Saat pertama kali bertemu dan kemarin setelah aku memberi pidato dan berpamitan, aku secara tidak sadar memaksamu untuk tetap menjadi Brianna Caitlyn Meyer. Padahal, kau punya nama dan kehidupanmu di panti asuhan sebagai Summer. Apakah kau merasa nama itu membebanimu?"
Summer menatap mata Jonathan yang penuh ketulusan. Ia membelai pipi Jonathan yang sudah mulai ditumbuhi beberapa helai rambut kecil karena ia belum bercukur. "Jujur saja, pada awalnya aku merasa terbebani. Tapi mendengar penjelasanmu tentang arti nama dan harapanmu membuatku merasa sangat berharga. Selama ini aku tidak kesulitan berhubungan dengan saudara-saudaraku di panti asuhan, dan ibu bahkan menyarankan membuat program agar aku bisa sering berkunjung. Jo, aku ingin menjadi Brianna Caitlyn Meyer. Itu adalah nama yang indah dan saat ini sudah menjadi bagian dari diriku, dan Meyer adalah keluarga pertamaku yang akan selamanya menjadi bagian dari hidupku, sampai akhir hayatku."
Jonathan tersenyum penuh kebahagiaan, merasa lega dan bangga dengan keputusan Summer. Ia meraih tangan Summer dan mengecupnya dengan lembut. "Terima kasih, Brianna. Aku janji akan selalu menjagamu, dan bersama-sama kita akan melewati semua ini."
Mereka saling menatap, merasakan cinta yang semakin mendalam di antara mereka. Senja pun mulai menjelang, memayungi mereka dengan kehangatan dan harapan baru untuk masa depan yang akan mereka jalani bersama.
TAMAT
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro