BAB XXVIII : Tekad Untuk Kembali
Jonathan tiba di Reveria pada Jumat pagi, udara segar kota itu menyambutnya begitu ia melangkah keluar dari pesawat. Setelah berjam-jam terbang dari Italia, tubuhnya terasa lelah, tetapi pikirannya dipenuhi dengan tekad yang kuat. Sebelum keberangkatannya, ia telah menghubungi Fabio untuk memastikan mengirim sopir yang akan menjemputnya di bandara. Segera setelah menjejakkan kaki di tanah Reveria, Jonathan langsung masuk ke mobil yang telah disiapkan, menyembunyikan rasa gelisahnya di balik sikap tenang yang selalu ia tunjukkan.
"Ke kastil keluarga Meyer, segera," perintah Jonathan dengan nada tegas namun sopan, menatap pemandangan kota yang mulai ramai dari balik kaca mobil. Perjalanan menuju kastil keluarga Meyer memang tidak singkat, hampir satu jam perjalanan dan Jonathan merasa waktu seolah berjalan lebih lambat. Rasa tegang terus menghinggapi pikirannya, membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi setibanya di sana.
Lexter, ketika mereka berbicara sebelumnya, hanya menyebutkan hari tanpa memberikan detail waktu pertemuan. Itu membuat Jonathan semakin resah. "Apakah aku akan datang terlambat?" pikirnya, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Hanya satu harapan yang terus menari di benaknya, bahwa kedatangannya masih bisa diterima, terutama oleh orang yang paling ia rindukan.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpanginya tiba di gerbang besar kastil keluarga Meyer. Pemandangan kastil yang megah dengan arsitektur klasik yang indah tak mampu mengalihkan perhatian Jonathan dari kecemasan yang terus menguasainya. Saat ia melangkah keluar dari mobil, pintu besar kastil terbuka, dan sosok yang sudah tidak asing lagi baginya menyambutnya dengan senyuman hangat di depan pintu masuk kastil. Sophie, kepala pelayan keluarga Meyer, berdiri di ambang pintu, wajahnya memancarkan keramahan yang tulus.
"Selamat datang, Tuan Jonathan," sapa Sophie dengan nada penuh hormat. "Silakan masuk. Apakah Anda ingin segera beristirahat di kamar Anda? Saya akan meminta pelayan untuk menyiapkannya."
Jonathan mengangguk singkat, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa urgensi yang meliputinya. "Apakah Brianna ada di sini?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya mengungkapkan keinginannya yang kuat untuk segera bertemu dengan Summer.
Sophie tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu, tetapi dengan cepat mengendalikan dirinya dan menjawab, "Oh, semua anggota keluarga telah pergi sejak dini hari tadi, Tuan."
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar Jonathan. "Pe... pergi ke mana?" tanyanya, nyaris tak percaya.
"Saya tidak mendapatkan detailnya dari Lady Eleanor," jawab Sophie dengan tenang. "Tetapi beliau mengatakan bahwa ini adalah acara keluarga dan mereka akan menginap hingga hari Minggu. Jika tidak salah, Lady Eleanor sempat menyebutkan bahwa mereka akan ke vila keluarga di Belsar."
"Belsar?" Jonathan mengulang kata itu, pikirannya berpacu dengan berbagai kemungkinan. Belsar terletak jauh di pedesaan, hampir lima jam perjalanan dari tempat mereka sekarang. Waktu menjadi musuhnya saat ini, dan ia tidak bisa menunda lebih lama lagi jika ingin bertemu dengan Summer.
"Baiklah kalau begitu," kata Jonathan setelah berpikir sejenak, tekadnya semakin bulat. "Saya akan menyusul mereka ke Belsar."
"Baik, Tuan," jawab Sophie dengan hormat, meskipun ada kekhawatiran yang samar di wajahnya.
Jonathan segera bergegas kembali ke mobil, pikirannya berkecamuk dengan berbagai perasaan—kekecewaan, kecemasan, dan sedikit ketakutan. Saat mobil melaju meninggalkan kastil, Sophie segera menghubungi Lexter, memberitahukan bahwa Jonathan benar-benar telah datang ke kastil dan tengah dalam perjalanan ke Belsar untuk mencari Summer.
Di dalam mobil, Jonathan merasakan kekosongan yang menyesakkan di dalam dadanya. Hatinya dipenuhi oleh ketidakpastian—bagaimana jika ia terlambat? Bagaimana jika Summer telah membuat keputusan untuk melanjutkan hidupnya tanpa dirinya? Namun, di balik semua keraguan itu, satu hal yang pasti, ia tidak bisa menyerah sekarang. Ia harus menemui Summer dan mengatakan semua yang terpendam di dalam hatinya, sebelum semuanya terlambat.
Perjalanan menuju Belsar terasa lebih lama dari yang ia bayangkan. Setiap detik terasa seperti menit, dan setiap menit seperti jam. Jalanan yang berkelok-kelok di antara perbukitan semakin memperlambat laju mobil, menambah beban di hatinya. Tetapi Jonathan tetap fokus, matanya menatap lurus ke depan, berpikir tentang apa yang akan ia katakan ketika akhirnya bertemu dengan Summer.
Keputusan untuk kembali ke Reveria sudah diambil, dan ia tidak akan mundur. Di hadapannya terbentang jalan panjang menuju Belsar, dan di ujung jalan itu, ia tahu bahwa ada seseorang yang menunggunya—atau setidaknya, itulah yang ia harapkan. Hati Jonathan dipenuhi oleh cinta dan penyesalan yang mendalam, tetapi juga oleh tekad yang tak tergoyahkan untuk memperbaiki segalanya.
Anggota keluarga Meyer akhirnya tiba di kawasan peternakan mereka yang luas dan indah. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di vila keluarga. Seharusnya, setelah beristirahat, Summer akan pergi ke kandang sapi dan ayam bersama Sir Reginald untuk memantau hasil ternak mereka. Namun, Lady Eleanor, sang ratu keluarga Meyer, tiba-tiba merajuk dan meminta agar Summer menemaninya ke pabrik pembuatan keju tradisional mereka untuk membuat keju bersama. Sir Reginald, dengan senyum penuh pengertian, akhirnya mengalah dan membiarkan Summer pergi bersama istrinya. Sementara itu, Lexter, yang awalnya berencana bertemu dengan beberapa wanita—entah pacarnya atau hanya teman—terpaksa membatalkan rencananya setelah menerima ultimatum dari Sir Reginald untuk lebih melakukan kegiatan yang produktif.
Matahari sudah cukup tinggi, namun sinarnya yang terik masih terasa lembut, dilunakkan oleh hawa sejuk dan angin sepoi-sepoi khas pegunungan. Summer duduk di samping Lady Eleanor dalam mobil klasik keluarga dengan atap terbuka, menikmati perjalanan yang tenang melalui pedesaan menuju pabrik keju tradisional keluarga Meyer. Lady Eleanor, dengan ketenangannya yang menyejukkan, memberikan senyuman hangat kepada Summer. Pagi menjelang siang itu dipenuhi dengan aroma bunga liar dan rumput segar yang terhembus oleh angin, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Summer setelah beberapa hari yang penuh ketegangan.
Keluarga Meyer adalah keluarga yang sangat dihormati di daerah ini. Nama mereka tumbuh dan berkembang di sini, di mana mereka berhasil menciptakan banyak lapangan pekerjaan melalui peternakan dan perkebunan mereka. Meskipun persaingan dalam penjualan produk pertanian dan peternakan semakin ketat, hasil ternak dan perkebunan keluarga Meyer tetap menjadi yang paling terpercaya. Pabrik keju tradisional mereka, yang sudah berdiri selama beberapa generasi, adalah salah satu usaha kebanggaan keluarga Meyer. Sebagian susu dari peternakan mereka dikirim ke pabrik ini untuk diolah menjadi keju. Meskipun produksinya tidak terlalu besar, keju buatan mereka sangatlah laris karena diproduksi dengan metode tradisional dan dijual secara eksklusif.
Sesampainya di pabrik, Summer dan Lady Eleanor disambut dengan hangat oleh para pekerja yang telah lama mengenal keluarga itu. Senyum Summer melunak saat ia menyapa mereka dengan ramah, mencoba menutupi rasa rindu yang masih membayangi hatinya. Mereka berdua kemudian berjalan-jalan di sekitar pabrik, mengamati proses produksi yang berjalan lancar, sembari merasakan kebanggaan dan kedekatan dengan warisan keluarga yang begitu berarti.
Saat mereka berada di bagian pabrik yang paling tenang, Lady Eleanor memutuskan untuk membuka topik yang telah lama ia pikirkan. "Brianna," katanya lembut, menghentikan langkahnya dan menatap mata Summer dengan penuh perhatian. "Bagaimana perasaanmu tentang Jonathan? Apakah kau masih ingin melanjutkan pertunangan ini?"
Summer terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan itu. Pandangannya terarah pada keju yang sedang disimpan untuk proses pematangan, seolah-olah mencari jawaban di dalam tumpukan roda keju yang berjejer rapi. "Aku tidak tahu, Ibu," akhirnya ia menjawab dengan suara pelan. "Ada begitu banyak hal yang terjadi begitu cepat, dan aku merasa bingung."
Lady Eleanor mengangguk pelan, memahami perasaan yang diungkapkan Summer. "Aku bisa mengerti kebingunganmu, sayang. Pertunangan ini tidak terjadi dengan cara yang biasa. Tapi aku ingin tahu... apakah ada perasaan yang lebih dalam terhadap Jonathan? Sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu abaikan? Jika kau merasa tidak nyaman dengan pertunangan ini dan ingin membatalkannya, ibu akan membantu berbicara dengan Jonathan."
Summer menatap Lady Eleanor dengan mata yang dipenuhi kebimbangan dan keterkejutan. "Jonathan adalah orang yang baik, dia selalu memperlakukan aku dengan hormat. Tapi... semuanya terasa terlalu rumit. Aku tidak yakin apakah perasaanku benar-benar berasal dari hati, atau hanya karena keadaan yang membuatku terbawa perasaan."
Lady Eleanor tersenyum lembut, meletakkan tangannya di bahu Summer. "Perasaan memang seringkali membingungkan, terutama dalam situasi seperti ini. Namun, ingatlah, Bree, hanya kamu yang bisa menentukan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Dan apa pun keputusanmu, pastikan itu adalah yang terbaik untuk dirimu sendiri."
Summer menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Aku hanya takut membuat keputusan yang salah. Aku juga bingung, apakah Jonathan merasakan hal yang sama?"
Lady Eleanor memandang Summer dengan penuh kasih. "Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, Bree. Tapi jika kamu mengikuti hatimu dan tetap jujur pada dirimu sendiri, ibu yakin kamu tidak akan menyesal. Cinta adalah tentang keberanian untuk mengambil risiko, dan kadang-kadang, risiko itu sepadan dengan hasil yang akan kamu dapatkan. Dan jika kamu penasaran dengan perasaan Jonathan, kamu berhak untuk menanyakannya. Bagaimanapun, kamu adalah tunangannya."
Kata-kata Lady Eleanor memberikan sedikit ketenangan pada hati Summer, meskipun kebingungan masih menyelimuti dirinya. Namun, ia merasa sedikit lebih kuat, dan bertekad untuk mengungkapkan perasaannya kepada Jonathan. Ia siap untuk menghadapi apa pun yang akan disampaikan Jonathan, termasuk jika itu berarti perpisahan yang sebenarnya.
Kalian tim nungguin cowok confess duluan atau tim cewek yang berani ambil langkah pertama?🤭
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mampir, vote, comment, dan follow. Dukungan kalian sangat berarti! 🙏🤗💞
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro