BAB XXVII : Kesepian Jonathan
Jonathan merasa sesak di dadanya, setiap kali melangkah di tanah Reveria setelah mengumumkan berakhirnya masa jabatannya. Reveria bukan sekadar negara baginya, tapi tanah kelahiran dan tempat di mana ia dibesarkan dengan penuh cinta dan dedikasi. Sejak kecil, Jonathan terinspirasi oleh kakeknya, yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membangun dan memajukan negara ini. Kakeknya, dengan semangat nasionalisme yang tak tergoyahkan, berjuang keras untuk meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi Reveria.
Ibunya, Isabella Alden, juga tidak kalah bersemangat. Ia dikenal karena acara amal yang secara khusus ditujukan untuk warga Reveria, menggunakan kekayaannya untuk menunjukkan kepedulian tanpa sedikit pun menyinggung keluarga kerajaan. Isabella mendirikan yayasan yang sering bekerja sama dengan pihak kerajaan untuk mendistribusikan bantuan, melakukan survei kesejahteraan, dan mensosialisasikan gaya hidup sehat. Semua ini dilakukan dengan tujuan mulia untuk meningkatkan kehidupan rakyat Reveria.
Namun, meskipun dedikasi keluarganya tidak pernah pudar, Jonathan merasakan kepahitan yang mendalam. Selama ini, ia telah berjuang dan mengorbankan banyak hal demi kemajuan Reveria dan keluarganya. Namun, kenyataan yang terungkap membuatnya semakin hancur. Perilaku licik yang ditunjukkan oleh pihak keluarga Alden, terutama keputusan untuk membebaskan Alexander Alden dengan cara yang sangat tidak etis, dan pemanfaatan yang dilakukan oleh Raja terhadapnya, telah meruntuhkan semua rasa hormat dan idealismenya.
Apa yang dulunya dianggap sebagai fondasi keadilan dan integritas dalam hidupnya kini tampak rapuh dan hancur. Jonathan merasa telah dipermainkan dan dimanfaatkan, tidak hanya oleh pihak kerajaan tetapi juga oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Semua usaha dan pengorbanan yang ia lakukan seakan sia-sia ketika ia melihat keluarganya sendiri terlibat dalam permainan kotor yang mengkhianati prinsip-prinsip yang selama ini ia pegang.
Dengan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam, Jonathan merasa tersingkir dan dikhianati oleh negara yang selama ini ia anggap sebagai rumahnya. Idealismenya tentang membangun masa depan yang lebih baik kini tampak hampa dan tidak berarti. Semua impian dan harapan yang ia miliki untuk Reveria seolah lenyap, meninggalkan rasa hampa yang mendalam.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan kebingungan, Jonathan memutuskan untuk mencari ketenangan di negara-negara tetangga. Ia berharap menemukan kedamaian dan mungkin sebuah awal yang baru, jauh dari kerumitan dan kekecewaan yang kini membelenggu hidupnya di Reveria. Keputusannya untuk pergi bukan hanya sebuah pelarian, tetapi juga sebuah pencarian akan makna dan ketenangan yang semakin sulit ia temukan di tanah airnya yang tercinta.
Jonathan memilih Riva Del Garda, Italia, sebagai tempat untuk beristirahat. Terletak di ujung utara Danau Garda di wilayah Garda Trentino, daerah ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Jonathan membeli sebuah vila yang menghadap langsung ke Danau Garda dan dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi. Setiap hari, ia menyibukkan diri dengan menjelajahi kota ini, berinteraksi dengan penduduk setempat, dan mencoba berbagai aktivitas yang ditawarkan tempat ini.
Pada awal minggu kedatangannya, Jonathan membeli paket tur perahu untuk menikmati pemandangan Danau Garda dan bersantai di atas air. Selanjutnya, ia terlibat dalam komunitas panjat tebing lokal, berlatih dengan tekun untuk mencapai puncak tertinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa bosan mulai merayapi dirinya. Ia beralih ke berbagai kegiatan lain, seperti berlayar, berselancar angin, bersepeda, hingga mendaki gunung, mencari kepuasan baru dalam setiap pengalaman.
Suatu siang, saat makan di sebuah restoran yang menawarkan pemandangan indah Danau Garda dan Hyatt yang bersandar di danau, Jonathan melihat sepasang kekasih yang sedang berjemur. Pemandangan itu secara mendalam menyentuh hatinya, dan membuatnya teringat pada Summer. Tiba-tiba, ia merasa terjaga dari lamunannya, menyadari betapa egoisnya ia telah meninggalkan seseorang yang penting di Reveria. Kesadaran ini menimbulkan rasa kekosongan yang mendalam di dalam dirinya.
Jonathan merasakan sepi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seolah ada bagian dari dirinya yang hilang. Momen-momen indah dan aktivitas yang ia lakukan di Riva Del Garda tidak lagi mampu mengisi kekosongan itu. Dalam diamnya, ia merenung dan mengakui betapa besar kerinduannya terhadap Summer. Hatinya terasa hampa tanpa kehadiran Summer, dan ia mulai merasakan betapa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga.
*****
Jonathan pulang menuju vilanya setelah makan siang, berjalan kaki dengan lesu. Setibanya di rumah, ia langsung merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit kamar, mencoba mengusir lamunan tentang Summer. Namun, lamunannya terputus oleh bunyi handphone yang menunjukkan panggilan masuk dari Lexter, sahabatnya dan calon kakak iparnya—jika Summer masih mengingatnya.
"Hai, Bro. Bagaimana kabarmu? Kau dimana?" tanya Lexter di ujung telepon dengan nada ramah.
"Baik, aku sedang berada di Italia," jawab Jonathan sambil menarik napas panjang.
"Wah, kenapa kau tidak mengajakku? Kau meninggalkan semua orang di sini dan bersenang-senang sendirian, ya!" Lexter menyindir, suaranya terdengar penuh nada bercanda.
"Ada perlu apa kau menelepon?" tanya Jonathan dengan malas.
"Hmm, begini. Aku ingin menanyakan statusmu dengan Brianna," jawab Lexter dengan nada serius. "Jika kau tidak berniat melanjutkan pertunanganmu dengan adikku, tolong putuskanlah. Ibu ingin mengenalkan Brianna pada orang lain yang bisa menjaganya di sini. Lagipula, Brianna sudah cukup umur untuk menikah."
"Apa maksudmu? Kenapa kau memaksanya untuk menikah?" tanya Jonathan dengan bingung.
"Aku tidak memaksanya, hanya saja kami ingin memastikan masa depannya jelas. Kami hanya akan mengenalkan beberapa calon pendamping, tanpa memaksanya menikah dalam waktu dekat. Lagipula, kau sendiri yang menitipkannya pada kami dan menjadikannya bagian dari keluarga kami. Kami tentu saja harus menjaga anggota keluarga kami dengan baik. Apa hakmu untuk melarang adikku menikah, cepat atau lambat?" ujar Lexter dengan nada kesal.
"Tapi kau tidak bisa melakukan itu padanya?" tanya Jonathan dengan penuh rasa tidak percaya.
"Ah, sudahlah. Jika kau tidak bisa datang ke sini untuk menjelaskan pada ayahku, bilang saja padaku sekarang. Apakah kau ingin melanjutkan pertunangan ini? Jika iya, kapan kau akan kembali?" Lexter bertanya dengan tegas. "Apa kau tidak kasihan pada adikku?"
Pertanyaan itu membuat Jonathan bimbang dan terdiam. Perhatian Summer, senyumannya, dan kecerdasannya membuat Jonathan merasa terpesona. Summer adalah miliknya dan akan selalu begitu. Namun, ia juga meragukan kapan ia bisa kembali ke Reveria.
"Kau terlalu lama, Jo. Jika kau tidak ada di sini hingga hari Jumat, kau tidak akan bisa melihat Brianna lagi. Ingat itu, setelah ini, dia bukan milikmu!" Lexter menegaskan dengan nada tegas.
Kata-kata Lexter mengejutkan Jonathan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertengkar, mungkin saat mereka masih di sekolah menengah atas. Sejak itu, mereka tumbuh menjadi dua pria yang lebih rasional, selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, tanpa perlu konfrontasi fisik. Namun, kata-kata tajam Lexter kali ini membuat Jonathan merasakan kegelisahan yang mendalam. Tanpa pikir panjang, ia segera memesan tiket untuk pulang ke Reveria.
Di sisi lain, Lexter tersenyum puas kepada ibunya. Rencana mereka untuk menguji Jonathan tampaknya akan membuahkan hasil. Senyumnya penuh kemenangan, merasa yakin bahwa dengan panggilan ini, Jonathan akan segera kembali.
Di dalam pesawat, Jonathan duduk di kursi kelas satu, tangannya menggenggam erat tiket yang baru saja ia beli. Pikiran tentang Summer terus berputar di benaknya, seperti film yang diputar berulang-ulang. Rasa rindu yang ia rasakan sangat mendalam, lebih dari yang pernah ia bayangkan. Meskipun jarak memisahkan mereka, Brianna telah menjadi bagian dari dirinya yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Perjalanan ini bukan sekadar langkah nyata menuju tanah airnya, tetapi juga perjalanan emosional yang penuh dengan penyesalan dan harapan. Jonathan sadar betapa egoisnya ia telah meninggalkan Brianna tanpa kabar, hanya demi menghindari rasa sakit dan kebingungan yang menghantui dirinya. Namun, sekarang ia tahu, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia telah meninggalkan seseorang yang mungkin merupakan bagian penting dari hidupnya.
Saat pesawat mulai mendekati bandara, kegelisahan dalam diri Jonathan semakin memuncak. Perasaan cemas bercampur dengan harapan, menciptakan pergulatan batin yang sulit dijelaskan. Namun, satu hal yang ia yakini—ia harus melihat Summer, mendengar suaranya, dan mengungkapkan semua perasaan yang selama ini ia pendam.
Apa pendapat kalian tentang Kak Lexter dan Lady Eleanor? 🤭
Terima kasih yang sudah vote, comment dan follow 🙏🤗💞
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro