BAB XXII : Kebersamaan Yang Baru
Sebelum Jonathan pergi menemui ayahnya, ia sudah menawarkan untuk mengantar Summer pulang, namun Summer dengan tegas menolak dan mengatakan bahwa ia akan pulang sendiri nanti. Meskipun begitu, setelah sarapan, Summer tidak juga beranjak dari Mansion Jonathan. Ada rasa khawatir yang tak bisa diabaikan. Summer merasa gelisah memikirkan hasil pertemuan Jonathan dengan ayah angkatnya, sebuah pertemuan yang entah kenapa terasa sangat penting baginya. Ia khawatir hasilnya tidak berjalan baik, bahwa sesuatu yang tak terduga mungkin terjadi, dan hal itu membuatnya tak mampu meninggalkan mansion.
Di dalam hati, Summer bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah ia khawatir pada Jonathan? Pada apa yang mungkin ia rasakan setelah pertemuan itu? Atau, mungkinkah ini lebih dari sekadar kekhawatiran tentang Jonathan, tapi juga tentang akhir dari misi yang mereka jalani? Summer memutuskan untuk tetap tinggal di mansion, menunggu pria itu pulang. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ia takutkan, apakah perasaan Jonathan yang mungkin berubah atau kenyataan bahwa misinya mungkin segera berakhir, membawa mereka pada ketidakpastian yang lebih besar lagi.
Summer menghabiskan waktu dengan berkeliling mansion, mencoba mengalihkan pikirannya dari kegelisahan yang terus mengganggu. Saat dia melihat seseorang membawa buket bunga dan menyerahkannya pada pelayan, rasa penasaran muncul di benaknya. Di rumah, Lady Eleanor sering mengajarinya cara merangkai bunga—sebuah kegiatan yang perlahan mulai ia nikmati. Summer mendekat pada pelayan tersebut, berharap kegiatan ini bisa memberinya ketenangan sambil menunggu Jonathan kembali.
Pelayan yang menyadari kehadiran Summer segera menunduk hormat. "Nona," sapanya dengan sopan.
"Apakah bunga ini akan dirangkai?" tanya Summer dengan ramah.
"Iya, Nona. Ini akan dirangkai untuk hiasan," jawab pelayan itu.
"Boleh aku membantu?" tanya Summer, tersenyum. Pelayan itu tampak sedikit salah tingkah, mungkin khawatir jika pekerjaannya tidak memuaskan, atau jika harus menyerahkannya pada majikannya, pelayan itu pasti akan ditegur keras.
Fabio, kepala pelayan mansion, mendekati saat melihat interaksi Summer dan pelayan yang terlihat canggung. "Apakah Nona ingin merangkai bunga?" tanyanya lembut.
"Iya, aku ingin mencari kegiatan sementara menunggu Jonathan pulang. Apakah itu akan mengganggu pekerjaan kalian?" Summer bertanya pada Fabio dan pelayan lainnya dengan nada tulus.
"Tentu tidak, Nona. Anda bebas melakukan kegiatan apapun di mansion ini dan meminta bantuan pada kami," jawab Fabio dengan senyum ramah, lalu menoleh pada pelayan yang masih membawa bunga. "Lori, temani Nona Brianna untuk merangkai bunga. Siapkan tempat yang nyaman dan bantu beliau jika dibutuhkan."
"Baik, Tuan Fabio. Mari, Nona Brianna," ucap Lori dengan senyum hangat, menuntun Summer ke sebuah ruangan yang tenang. Dengan cekatan, Lori menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan—gunting, vas, dan menyusun bunga-bunga di atas meja dengan rapi.
Merasa canggung dengan kesunyian yang ada, Summer berinisiatif untuk memecah keheningan. "Apakah kamu selalu merangkai bunga-bunga ini, Lori?"
Lori tampak terkejut mendengar Summer mengajaknya bicara. "Emm... eee... tidak selalu, Nona. Sebelumnya ada pelayan senior yang menangani ini. Saya dulu bertugas di bagian laundry, tetapi beberapa bulan setelah masuk, saya dipindahkan ke dapur dan diminta untuk menyiapkan bunga-bunga ini juga."
"Apakah kamu kesulitan saat pertama kali melakukannya?" tanya Summer dengan nada yang lebih lembut, tertarik pada cerita Lori.
"Awalnya iya, Nona. Bahkan, saya pernah ditegur oleh Tuan Fabio karena Tuan Jonathan tidak puas dengan hasilnya," jawab Lori dengan ekspresi polos, membuat Summer terkejut beberapa detik. Ia tiba-tiba merasa ragu untuk melanjutkan merangkai bunga-bunga tersebut, mengingat betapa jauhnya kemampuannya dibandingkan dengan Lady Eleanor. Ia merasa khawatir jika hasil rangkaiannya tidak sesuai harapan, apalagi jika Jonathan melihatnya.
"Ditegur seperti apa?" tanya Summer, sedikit was-was.
"Tuan Fabio bilang, Tuan Jonathan merasa rangkaian bunganya kurang enak dipandang," jawab Lori dengan jujur.
"Jonathan mengatakan itu pada Tuan Fabio?" Summer bertanya lagi, sedikit ragu.
Lori mengangguk. "Tuan Jonathan sangat suka ada rangkaian bunga di mansion ini. Kata Tuan Fabio, itu karena beliau tidak ingin mengubah kenangan yang ada di sini. Saya juga tidak tahu maksudnya bagaimana, tapi saya berusaha belajar agar bisa membuat rangkaian bunga yang bagus. Bahkan, waktu itu saya meminta pemilik pemasok bunga ini untuk mengajari saya beberapa kali."
Summer mulai memahami maksud di balik pernyataan itu. Ia pernah mendengar bahwa mansion ini adalah rumah musim panas keluarga Alden. Bukan rumahnya yang berarti, tapi kenangan bersama keluarganya yang tak dapat diulang kembali. Dengan pemikiran itu, Summer melanjutkan merangkai bunga dengan lebih serius, berusaha menciptakan sesuatu yang bisa menghibur Jonathan.
Setelah selesai, Summer mengucapkan terima kasih kepada Lori yang telah membantunya. Lori pun pamit untuk menyimpan bunga-bunga itu di tempat yang telah disiapkan. Fabio kemudian mendatangi Summer, mengingatkan bahwa waktu makan siang sudah dekat, dan menanyakan menu apa yang ingin ia santap.
Summer yang tidak memiliki kegiatan tiba-tiba terpikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau aku masak sendiri?" tanyanya dengan semangat, membuat Fabio sedikit terkejut, meski ia berusaha tetap tenang.
"Tentu saja, Nona. Kami akan dengan senang hati membantu Anda di dapur," jawab Fabio dengan hormat, meski sedikit heran. Ia segera membawa Summer ke dapur dan memperkenalkan seluruh staf di sana. Mereka semua menyambut Summer dengan ramah, dan kepala chef bahkan dengan senang hati mengajari Summer cara memasak.
Summer, yang memang cepat belajar, merasa lebih percaya diri di dapur setelah beberapa kali diajari oleh Lady Eleanor. Namun, ia masih sedikit kebingungan dengan beberapa nama bumbu rempah yang tidak bisa dibedakannya. Meski begitu, ia menikmati setiap langkahnya, merasa semakin terhubung dengan tempat ini dan orang-orang di sekitarnya.
Tak lama setelah makanan siap disajikan, Summer bersiap untuk beristirahat sejenak sambil menunggu meja makan disiapkan. Namun, ketika ia melihat Jonathan memasuki mansion, firasatnya terbukti benar, pembicaraan dengan ayah Jonathan tampaknya tidak berjalan baik. Wajah Jonathan terlihat kusut, dengan amarah yang masih terpancar dari matanya. Namun, saat matanya bertemu dengan Summer, ekspresinya melunak, dan ada sekejap keterkejutan di wajahnya melihat tunangannya masih berada di mansion.
Dengan langkah cepat, Jonathan mendekati Summer dan tanpa banyak bicara, memeluknya erat. "Bree," ucapnya pelan, suaranya mengandung kelegaan yang dalam.
Meski terkejut dengan gerakan tiba-tiba Jonathan, Summer membalas pelukan itu tanpa canggung. Di sekeliling mereka, para pelayan dengan cepat menundukkan kepala dan segera menyingkir dari ruang makan, memberi privasi bagi keduanya.
"Apakah pembicaraan tidak berjalan baik?" tanya Summer lembut, meskipun Jonathan hanya menggeleng pelan tanpa kata, mempererat pelukannya
"Baiklah, sekarang makanlah dulu. Nanti kita bisa bicara," ucap Summer sambil perlahan melepaskan pelukan Jonathan, lalu menuntunnya ke meja makan yang sudah tertata rapi. Summer dengan lembut menawarkan berbagai hidangan yang telah ia siapkan, menempatkan makanan di piring Jonathan. Ia pernah melihat Lady Eleanor melakukan hal serupa untuk Sir Reginald, membuat ayah angkatnya itu tersenyum bahagia dan memuji istrinya. Meski Summer tidak mencari pujian, ia berharap bisa sedikit meringankan beban di hati Jonathan.
Jonathan mulai makan dengan malas, terlihat masih terbebani oleh pikirannya. Summer duduk di sampingnya, dan tanpa sepatah kata pun, Jonathan menggenggam tangannya erat. Summer menemaninya makan, memberikan kehadiran yang menenangkan di tengah kerumitan yang jelas masih berputar di kepala Jonathan.
*****
Sesi cerita setelah makan siang beberapa hari yang lalu di Mansion Jonathan tidak mengungkap banyak hal. Summer hanya mengetahui bahwa ayah Jonathan tampaknya tidak peduli dengan situasi dan permasalahan yang dihadapi Jonathan. Bahkan, ia menyarankan Jonathan untuk menganggap semua ini sebagai angin lalu. Summer memahari amarah dan kekecewaan Jonathan mengenai hal ini, terutama karena ia melihat sendiri Jonathan dalam keadaan sekarat.
Namun, Summer merasa bingung tentang bagaimana melanjutkan misi sebagai tunangan pura-pura Jonathan. Meskipun pelaku sudah diketahui, Summer tidak tahu langkah selanjutnya yang harus diambil. Ia merasa sulit untuk membahas topik ini dengan Jonathan, khawatir bahwa Jonathan mungkin belum bisa berpikir jernih. Dari pengamatannya, Summer melihat bahwa Jonathan masih kesulitan menerima kenyataan yang ada.
Untuk mengalihkan pikirannya, Summer memilih untuk fokus pada tugas-tugas barunya di kantor yayasan yang dikelola oleh ibu angkatnya. Beberapa hari terakhir, Summer diberi tugas untuk menyusun jadwal kegiatan acara amal yang akan diadakan di Afrika, yang bertujuan memberikan bantuan makanan dan pemeriksaan kesehatan gratis. Dengan penuh dedikasi, Summer mempelajari dokumen-dokumen acara amal sebelumnya dan merasa sangat puas dengan pekerjaannya. Ada perasaan bangga dalam dirinya, karena ia merasa telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, yang dapat membantu banyak orang. Selain menyusun rangkaian acara, Summer juga diberi tanggung jawab untuk menyusun surat permohonan dukungan yang akan diajukan kepada institusi atau individu yang bersedia menjadi sponsor.
Lady Eleanor, yang baru saja selesai dengan agendanya, masuk ke ruang kerjanya yang terhubung dengan ruangan kerja Summer. Ia menyapa dengan ceria, "Siang, Briannaku! Ada kesulitan dalam belajar?"
Summer menyambut dengan antusias, "Ada beberapa, Bu, tapi aku sudah mendiskusikannya dengan Lamia. Oh, dan mengenai sponsor, aku ingin meminta pendapat Ibu. Bisakah Ibu meluangkan waktu sebentar?"
"Tentu, apa yang membuat putriku kesulitan?" tanya Lady Eleanor sambil mendekati meja Summer.
"Bu, dalam daftar sponsor beberapa tahun lalu ada satu perusahaan yang mungkin bisa memberikan dukungan besar untuk acara ini. Namun, aku baru tahu bahwa perusahaan itu baru saja terkena gugatan pencemaran lingkungan. Kasusnya masih disidangkan, tapi aku khawatir jika ini terlalu riskan," jelas Summer dengan ragu.
"Oh, iya, sebaiknya kita tidak mengajukan sponsorship kepada mereka. Kita bisa dianggap mendukung mereka, padahal kita juga memiliki program pelestarian lingkungan. Coba cari alternatif lain, mungkin perusahaan pakaian bisa jadi pilihan. Meskipun mereka tidak bisa memberikan dana, mungkin mereka mau menyumbang produk pakaian mereka. Kita juga bisa memberikan tambahan bantuan," saran Lady Eleanor.
"Baik, Bu. Aku akan mencari alternatif lain," jawab Summer.
Tiba-tiba, pintu terbuka lebar, dan Lamia masuk dengan ekspresi panik. "Lady, ada berita tentang Nona Brianna!"
Summer merasa tubuhnya membeku. Bingung dan cemas, ia tidak mengerti mengapa namanya muncul di berita, terutama karena ia merasa tidak melakukan kesalahan. Lamia, asisten pribadi Lady Eleanor, memberikan sebuah tablet dan memutar sebuah video wawancara.
Di layar, seorang pria berambut pirang klimis mengenakan pakaian formal muncul. "Saya mengenal wanita bernama Brianna. Ia berasal dari East End, seorang gelandangan yang kekurangan uang dan terpaksa bekerja dengan mucikari, bahkan menjadi pelacur sejak remaja. Hidupnya sangat gelap; ia pernah melayani pejabat tinggi di East End dan bahkan dikirim ke Eldoria. Saya yakin Jonathan Alden adalah salah satu pelanggannya—"
Wawancara terputus ketika Lady Eleanor menekan tombol pause pada tablet. Summer melihat pria itu dan merasa tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Lady Eleanor dengan penuh kecemasan, tidak mengerti makna dari ekspresi wajah ibu angkatnya yang tegang.
Ketakutan melanda Summer. Pria di video itu menyebarkan fitnah yang sangat merusak. Ia merasa seolah hidupnya telah hancur. Baru sebentar ia merasakan kasih sayang dan perhatian, namun kini takdir sepertinya merenggut semua itu dan menggantinya dengan rasa sakit dan ketakutan.
Wah, siapa pria yang berani menyebarkan berita palsu tentang Summer? 😡
Jangan lewatkan keseruan cerita Jonathan dan Summer di chapter berikutnya!🤗
Terima kasih sudah membaca, dan jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini. 🙏🥰👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro