BAB XX : Kebenaran
Summer tersenyum saat membaca pesan Jonathan. Setelah sesi emosional di rumah sakit, di mana mereka saling mengungkapkan perasaan yang terasa sedikit berlebihan bagi Summer, Jonathan tampaknya semakin sering menghubunginya. Setiap akhir pekan, mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan Summer mulai merasakan perubahan signifikan dalam sikap Jonathan. Dari sosok Perdana Menteri yang formal dan tertutup, Jonathan kini mulai membuka diri dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Akhir-akhir ini, Jonathan menunjukkan banyak inisiatif yang tidak biasa. Entah ini sebagai bentuk penebusan atas kesalahan di masa lalu atau upaya untuk membuat Summer terkesan, yang jelas Jonathan benar-benar berusaha keras. Dia tidak hanya mengatur waktu berkualitas bersama Summer, tetapi juga melakukan hal-hal kecil yang penuh perhatian dan kadang terasa agak aneh—seperti menyiapkan makanan favorit Summer atau memberinya bunga. Semua ini tampaknya merupakan usaha tulus Jonathan untuk membuat Summer merasa istimewa dan dicintai.
Saat ini, Jonathan tampak sangat bersemangat, benar-benar menantikan kedatangan Summer. Dia menghubunginya dengan antusias, memastikan segala sesuatu telah disiapkan dengan sempurna untuk menyambutnya. Perubahan dalam sikap Jonathan ini membuat Summer merasa dihargai dan semakin dekat dengannya. Meskipun beberapa upaya Jonathan mungkin terkesan sedikit berlebihan, Summer tidak bisa menahan senyum saat memikirkan betapa kerasnya Jonathan berusaha untuk mempererat hubungan mereka dan membuat mereka berdua merasa lebih bahagia bersama.
Sesampainya di rumah Jonathan, Summer disambut dengan senyuman lebar Fabio. Perubahan positif pada tuannya tampaknya membawa kebahagiaan bagi seluruh staf di mansion ini. "Selamat datang, Nona Brianna," sapa Fabio, tampak ceria.
"Terima kasih, Fabio. Apakah Jonathan masih bekerja?" tanya Summer sambil membalas senyum Fabio dengan rasa nyaman tanpa canggung lagi.
"Tuan belum menyentuh pekerjaannya sejak pagi, Nona. Beliau tadi disibukkan dengan sesi latihan fisiknya."
"Baiklah, di mana Jonathan sekarang?" tanya Summer, merasa sedikit berdebar menjelang pertemuan mereka.
"Ada di perpustakaan, Nona."
"Baiklah, aku akan kesana." Summer melangkah menuju tangga, namun berhenti sejenak dan menoleh ke arah Fabio. "Apakah Jonathan meminum kopi lagi pagi ini?" tanyanya dengan nada prihatin, khawatir Jonathan mungkin memaksa para pelayan untuk membuatkan kopi, padahal ia seharusnya mengurangi konsumsi kopinya.
"Tadi pagi beliau sempat meminta kopi, katanya ingin disajikan hangat saat Anda tiba," jawab Fabio dengan senyum maklum.
"Tolong ganti dengan teh saja, Fabio. Aku akan memberitahu Jonathan langsung, jadi kau dan pelayan lainnya tidak perlu khawatir," jelas Summer.
"Baik, Nona."
Dengan itu, Summer melangkah ke lantai dua dan menuju perpustakaan. Saat membuka pintu perpustakaan, Summer terkesima oleh perubahan yang ada. Ruangan ini terasa lebih luas dan terang, dengan cahaya alami yang masuk dari jendela besar yang mengarah ke taman. Di sudut ruangan, terdapat sofa baru yang empuk, ditempatkan dengan pandangan langsung ke luar taman yang indah. Meja baca dari kayu yang dulu ada di tengah ruangan kini dikelilingi rak-rak buku yang tertata rapi, memberikan kesan yang lebih hangat dan nyaman.
Namun, Jonathan tidak terlihat di mana pun. Summer memanggil dengan lembut, "Jonathan!" Suaranya memecah keheningan perpustakaan yang luas, penuh dengan rak-rak buku yang dapat menutupi seseorang yang berdiri atau duduk. Namun, tanpa sadar hatinya berdebar-debar ingin segera melihat Jonathan.
"Jonathan, apakah kau masih di sini?" panggil Summer kembali. Ketika tidak mendapatkan jawaban, dia mempertimbangkan untuk mencari ke ruang kerja Jonathan atau menunggu di ruang tengah. Namun, tiba-tiba sebuah tangan lebar menangkap pinggangnya, dan sebuah kepala menelusup ke lehernya, mengecup punggungnya. Summer terkejut dan berjengit kecil.
Dia mengenali aroma parfum Jonathan, tetapi tindakan ini, meskipun kesannya sangat akrab, masih membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Namun, jantungnya berdetak kencang dan perutnya melilit.
"Oh, astaga, kau mengagetkanku," ucap Summer, mencoba menenangkan diri. Jonathan hanya menjawab dengan kekehan lembut, membuat suasana menjadi lebih ringan.
"Maaf, aku hanya tidak bisa menunggu untuk melihatmu," kata Jonathan sambil memeluk Summer dari belakang, merasakan detak jantungnya yang cepat. "Aku baru saja menyelesaikan renovasi ini dan ingin kau menjadi orang pertama yang melihatnya. Apakah kau suka?"
"Ini luar biasa. Desain awalnya tidak berubah, tapi sekarang terlihat lebih luas, terang, dan nyaman. Tapi kenapa kau menambahkan sofa di sini?" tanya Summer, diiringi dengan senyum penuh rasa ingin tahu. Jonathan menggandeng Summer dan membawanya menuju sofa di sudut ruangan.
Mereka duduk bersama, dan Jonathan tidak bisa menahan diri untuk terus memberikan gestur lembut, seperti mengelus tangan Summer dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Untuk melakukan ini," katanya dengan lembut, seraya merangkul Summer lebih dekat.
Kedekatan ini adalah sesuatu yang baru bagi Summer, dan perlakuan Jonathan yang penuh perhatian membuatnya merasa malu hingga pipinya bersemu merah. Summer menyentak tangan Jonathan dengan tiba-tiba dan menjauh saat terdengar bunyi pintu diketuk. Pelayan pun masuk, membawakan teh dan camilan. Jonathan, yang tadinya tertawa geli melihat sikap malu Summer, langsung berubah serius saat mendapati pesanan yang diantarkan pelayan tidak sesuai dengan permintaannya.
"Bukankah aku tadi meminta kopi?" tanya Jonathan dengan nada tegas, menatap pelayan.
Summer segera menepuk-nepuk pelan tangan Jonathan, memintanya untuk tidak meninggikan suara. Ia juga memberikan gestur lembut untuk mempersilakan pelayan keluar. "Aku yang memintanya, Jo. Kau harus menguranginya. Ini masih masa penyembuhan luka-lukamu, pola makanmu harus seimbang."
"Tapi ini sudah hampir tiga bulan, Bree," ucap Jonathan sedikit tidak terima.
"Iya, tapi jika bisa dilanjutkan, itu lebih baik," jawab Summer sambil menuangkan teh ke dalam cangkir Jonathan. "Bagaimana hari-harimu minggu ini?" tanya Jonathan, mencoba mengalihkan perhatian.
"Menyenangkan," ucap Summer, menyerahkan segelas teh pada Jonathan dan melanjutkan dengan menghadapnya. "Aku rasa aku sudah menemukan passionku. Lady Eleanor—"
"Ibu," ucap Jonathan, mengoreksi panggilan Summer.
"Ah, iya, ibu mengajakku ke yayasan. Ia mulai mengajarkanku tentang struktur yayasan, pengelolaan, dan program-program rutin atau event khusus yang sedang disiapkan. Ibu bahkan memberi tugas untuk membantu persiapan event baru, sebuah charity ke Afrika. Ini sangat menyenangkan."
"Apa? Ke Afrika? Berapa lama?" tanya Jonathan, terkejut.
"Hmmm, aku tidak tahu. Aku akan tanyakan pada ibu. Saat ini, tugasku baru sebatas membuat dokumen-dokumen persiapan. Belum ada pertemuan dengan pihak pemerintah atau semacamnya," jelas Summer.
"Aku senang kau bisa berkembang, karena kau melakukannya untuk dirimu sendiri. Tapi kenapa harus sampai ke Afrika?" Jonathan bertanya, terlihat sedikit khawatir.
Summer terkekeh geli melihat ekspresi kesal Jonathan yang terasa imut. "Yah, kadang hal-hal yang jauh justru bisa membawa pengalaman baru yang berharga. Lagipula, aku mulai merasa semakin dekat dengan apa yang benar-benar ingin kulakukan."
Selain itu, Summer mulai disibukkan dengan kegiatan di yayasan bersama Lady Eleanor dan kadang-kadang mengikuti Sir Reginald ke peternakan. Ayah angkatnya sangat terbuka dalam urusan perternakan, memberinya banyak wawasan tentang pengembangan dan perawatan kuda. Bahkan, Summer telah diajari menunggang kuda bersama Lexter, yang semakin membuatnya merasa lebih yakin dan bersemangat tentang arah hidupnya.
Jonathan tersenyum, merasakan kebanggaan dan kekaguman terhadap perkembangan Summer. "Aku senang melihat betapa kau menemukan dirimu sendiri dan menjalani passionmu dengan penuh semangat," kata Jonathan, menyentuh lembut tangan Summer.
Dengan perasaan hangat dan penuh harapan, Summer melanjutkan obrolan mereka, merasa semakin dekat dengan Jonathan sambil menyadari betapa pentingnya perjalanan ini dalam menemukan jati dirinya.
Setelah menghabiskan pagi yang santai dengan mengobrol dan membaca buku bersama di perpustakaan, Summer dan Jonathan melanjutkan hari mereka dengan cara yang sama menyenangkannya. Kunjungan akhir pekan ini, yang terasa seperti kencan pribadi, terus berlanjut hingga malam hari. Ketika siang berganti sore, hujan mulai turun dengan deras, menciptakan pemandangan menenangkan dari jendela besar yang menghadap ke taman. Summer dan Jonathan memutuskan untuk mengalihkan aktivitas mereka ke kamar Jonathan, tempat mereka bisa lebih santai. Mereka pindah ke kamar yang luas dan nyaman, dengan tempat tidur besar yang tertutup selimut lembut dan bantal empuk. Jonathan menyiapkan beberapa film favorit mereka untuk ditonton, sementara Summer membuat camilan ringan.
Saat film dimulai, mereka duduk berdampingan di ranjang yang dipenuhi bantal, saling bersandar sambil menikmati suasana santai yang tercipta. Hujan yang terus-menerus mengguyur menambah kenyamanan malam itu, membuatnya semakin ideal untuk berlama-lama di dalam ruangan. Mereka terkekeh dan berbisik satu sama lain, suasana malam terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Namun, baru beberapa saat setelah film dimulai, ketukan pintu menginterupsi mereka, diikuti dengan suara Fabio yang mengabarkan bahwa Ethan meminta untuk bertemu dengan Jonathan. Jonathan meminta maaf kepada Summer dan mengatakan akan menemui Ethan terlebih dahulu. Ia juga menawarkan Summer untuk ikut, namun Summer merasa mungkin akan ada topik tentang urusan negara atau rahasia, sehingga ia memilih untuk tetap di kamar. Jonathan pergi ke ruang kerjanya melalui pintu penghubung kamar, dan meskipun Summer berusaha menikmati waktu mereka, ia merasa khawatir dan berniat mendekat ke arah pintu.
Tak sengaja, Summer mendengar penjelasan Ethan mengenai rekening Felix Darren, yang sering kali dikaitkan dengan Jessie. Nama Alexander Alden muncul dalam percakapan, dan Summer melihat wajah Jonathan berubah mendengar nama itu. Tak lama setelah itu, Jonathan meminta Ethan untuk menyelidiki lebih lanjut apakah ada bukti tambahan. Setelah kepergian Ethan, Jonathan terus memandangi tabletnya yang menampilkan dokumen tanpa benar-benar membacanya. Summer merasa dorongan untuk masuk ke ruang kerja Jonathan.
"Boleh aku masuk?" tanya Summer lembut, berdiri di pintu.
Jonathan mengangguk, terlihat kehilangan kata-kata. Summer melangkah masuk dan berdiri di samping sofa single tempat Jonathan duduk, sementara Jonathan menatap hujan dari jendela, mencoba menenangkan dirinya.
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Ethan," ucap Summer memecah keheningan.
Jonathan menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar. "Ethan mengatakan bahwa semua bukti mengarah pada Alexander Alden."
Meskipun Summer masih mencoba memahami sepenuhnya, ia merasa takut dan terkejut mendengar nama orang terdekat tunangannya terlibat dalam kasus percobaan pembunuhannya. Summer menggenggam tangan Jonathan dengan lembut. "Apakah itu sudah dipastikan?"
"Semua buktinya mengarah padanya, tapi aku meminta Ethan untuk mencari tahu lebih dalam. Saat ini hanya aku yang tahu tentang ini, pihak kepolisian belum mengetahuinya. Apa yang harus kulakukan, Bree? Dia adikku... dia keluargaku," ucap Jonathan, suaranya penuh kesedihan dan kebingungan.
"Bagaimana jika kau mengunjungi keluargamu, konsultasikan pada ayahmu tentang masalah ini? Jika ini sebuah kesalahan, bukankah itu lebih baik? Kau juga bisa memperingatkan mereka atau menginformasikan keadaan ini. Mungkin saja ini adalah fitnah terhadap adikmu."
Jonathan merenungkan kata-kata Summer dan merasa ada benarnya. Ia berharap ini semua hanyalah kesalahan, atau kelalaian Ethan dalam penyelidikan. "Kau benar, Bree. Aku akan bicara dengan ayah."
"Ya, mari kita pikirkan ini besok. Kau harus istirahat," kata Summer sambil menarik Jonathan dalam pelukan erat.
Jonathan merangkul Summer, merasakan sedikit lega dari dukungan dan kehangatan yang diberikan. Dalam pelukan itu, ia merasa sedikit lebih tenang, meskipun ketidakpastian masih membayangi pikirannya. "Tetaplah bersamaku malam ini, Bree."
Summer mengangguk dan dengan lembut membantu Jonathan kembali ke kamar. Ia membereskan tempat tidur dan menemaninya berbaring. Jonathan tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memeluk Summer dengan erat, sementara Summer membalas dengan mengusap punggung Jonathan dengan lembut.
Dalam momen tenang itu, Summer merenungkan betapa dia selalu menginginkan sebuah keluarga, dan betapa sulitnya melihat Jonathan, yang telah diberi kesempatan kedua untuk memiliki keluarga, kini menghadapi cobaan berupa pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Rasa iba dan prihatin mengisi hatinya, dan ia merasa terdorong untuk memberikan dukungan penuh kepada Jonathan dalam masa-masa sulit ini.
Terima kasih yang sudah berkunjung 🙏🥰
Jangan lupa vote, comment dan ❤️ nya ya 👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro