Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

BAB XVIII : Pertanggung Jawaban Jonathan

Pameran Seni, Eldoria, 2017.

Terlambat. Satu kata itu terngiang di benak Jonathan, mencerminkan situasi yang tidak bisa lagi dia kendalikan. Rasa marah menguasai dirinya, menciptakan badai emosi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Apa tujuannya melakukan ini padanya? Dan siapa sebenarnya pelakunya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Jonathan merasa frustrasi. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang ketika memulai hubungan dengan Jessie. Tempat pertemuan yang selalu dipilihnya sangat privat. Dia berhati-hati, menghindari percakapan yang berlebihan di ponsel pribadi, dan tidak pernah bermesraan di depan publik. Namun, semua usahanya sia-sia. Foto-foto yang menunjukkan dia dan Jessie berciuman di ruangan tertutup terasa sangat ganjil baginya. Jika foto itu diambil di dalam mobil, mungkin ada paparazzi yang membuntuti mereka, tapi ini... ini berbeda. Seolah-olah Jessie dirancang untuk hadir dan menghancurkan reputasinya.

Kemarahan Summer yang diungkapkan dalam bentuk teriakan keterkejutan dan ketidakpercayaannya pada Jonathan semakin memperparah situasi. Wajah Summer memerah, matanya berair, dan bibirnya sedikit bergetar. Pemandangan itu mengguncang hati Jonathan. Dia merasa takut, bukan takut akan konsekuensi dari skandal yang menimpa dirinya, tetapi takut kehilangan kepercayaan dan kedekatan dengan Summer. Rasa takut yang lebih dalam dari ketakutannya ketika ibu yang paling dicintainya pergi meninggalkannya. Jonathan tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar tidak berdaya.

Melihat kepergian Summer yang penuh amarah, Jonathan segera bangkit dan berusaha mengejarnya. Namun, langkah Summer terlalu cepat untuknya, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih setelah dipaksa bekerja keras selama beberapa minggu terakhir. Jonathan hanya bisa menatap punggung Summer yang semakin menjauh, merasa frustrasi dan tidak berdaya.

Setelah menyadari bahwa Summer telah mengambil mobilnya dari petugas valet di depan lobi gedung pameran, Jonathan segera bertindak. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ajudannya yang sejak tadi berada di sekitar lokasi, berhati-hati untuk tidak menarik perhatian Summer. Dengan nada tegas namun penuh kekhawatiran, ia memberikan instruksi, "Segera ikuti tunangan saya dan pastikan dia aman."

Ajudannya mengerti situasinya dan langsung bergerak untuk mengikuti mobil Summer, siap untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menjamin keselamatannya. Selain itu, Jonathan juga segera meminta satu mobil lagi untuk menjemputnya agar dia bisa menyusul Summer secepat mungkin. Sementara menunggu, pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi pada Summer.

Jantung Jonathan berdegup kencang, rasa nyeri menghantamnya seolah-olah tikaman Jessie malam itu terulang kembali. Dari kejauhan, ia melihat ajudannya yang ia perintahkan untuk mengikuti Summer, sedang mengusir beberapa orang yang mengenakan topeng kain hitam yang menutupi wajah mereka. Pandangan Jonathan seketika dipenuhi kekhawatiran yang mencekam.

Begitu mobil Jonathan tiba, diikuti oleh satu mobil lain di belakangnya, para penjahat itu segera melarikan diri, meninggalkan Summer yang masih terjebak dalam mobil. Jonathan segera melompat keluar dari kendaraannya, berlari menuju Summer dengan hati yang penuh ketakutan dan amarah yang membara.

Melihat kepergian mereka, salah satu ajudan Jonathan segera mencoba membuka pintu kemudi Summer, sementara ajudan yang lain mengejar para penjahat. Mereka telah masuk ke mobil dan menancap gas untuk melarikan diri. Dalam upaya terakhir untuk menghentikan mereka, ajudan Jonathan melepaskan beberapa tembakan, berusaha membidik ban dan kaca mobil mereka.

Saat pintu mobil berhasil terbuka, Jonathan merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Summer terkulai tak sadarkan diri, dengan darah mengalir dari dahinya. Jonathan menariknya ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk pipi Summer, berharap bisa membangunkannya. Summer perlahan membuka matanya dan bergumam dengan lemah, "Jo, aku takut."

Tidak ada kata-kata yang mampu diucapkan Jonathan pada saat itu. Perasaan lega menyelimuti hatinya, entah karena Summer merespon dan tampak bernafas normal, atau karena untuk pertama kalinya Summer menurunkan tembok pertahanannya, mengakui bahwa ia ketakutan. "Semuanya akan baik-baik saja, Bree. Tetaplah sadar dan bertahanlah bersamaku," bisik Jonathan, mencoba menenangkan Summer sambil menunggu bantuan lebih lanjut.

"Tuan, kami sudah memanggil ambulans dan polisi. Satu mobil kami juga sudah mengejar para penyerang itu," kata salah satu ajudan Jonathan.

"Kerja bagus. Tapi apakah ambulans masih lama?" tanya Jonathan, dengan nada cemas saat melihat Summer terkulai lemas di pelukannya.

"Seharusnya mereka tiba dalam beberapa menit, Tuan," jawab ajudannya dengan tegas, mencoba meyakinkan Jonathan.

Jonathan mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi kekhawatiran. "Pastikan mereka tiba secepat mungkin. Brianna membutuhkan bantuan medis segera," perintahnya sambil terus memegang Summer dengan lembut, berusaha menenangkan diri dan mencoba mengembalikan kesadaran Summer.

Tidak lama kemudian, suara sirene mendekat, memecah keheningan malam. Sebuah ambulans berhenti di dekat mereka, dan tim paramedis segera keluar, membawa peralatan medis dan tandu.

"Biarkan kami yang menanganinya, Tuan," ujar salah satu paramedis, melihat kondisi Summer.

Jonathan dengan hati-hati menyerahkan Summer ke tim medis, tetap berada di sisi mereka saat mereka melakukan pemeriksaan awal. "Sepertinya ia mengalami benturan keras, dan dahinya berdarah," lapor Jonathan dengan suara serak.

Tim paramedis dengan cepat melakukan pemeriksaan, memeriksa luka di dahi Summer dan memastikan bahwa ia tetap stabil. Setelah memastikan kondisi Summer, mereka menempatkannya di tandu dan memasukkannya ke dalam ambulans. Jonathan mengikuti, duduk di samping Summer, terus memegang tangannya.

Ketika tiba di rumah sakit, Summer segera dibawa ke ruang gawat darurat. Para dokter dan perawat bergegas menanganinya, sementara Jonathan menunggu di luar, gelisah dan cemas tapi ia berusaha untuk terlihat tenang. Norin datang menghampiri Jonathan, ia melaporkan situasi saat ini dan segala usahanya untuk menangani skandal Jonathan dan Jessie.

"Tuan, kami sudah berusaha menghapus beberapa berita Anda dan Jessie. Tapi sepertinya karena kecelakaan Nona Brianna, topik pembicaraannya jadi sedikit melebar. Tingkat kepuasan Anda kemungkinan akan ada penurunan, tapi kami sedang berusaha melakukan yang kami bisa untuk mencegah hilangnya kepercayaan publik terhadap Anda," jelas Norin

Jonathan menyugar rambutnya dan menghela napas berat. Bersamaan dengan itu, seorang dokter keluar dari ruang tindakan dan menghampiri Jonathan. "Selamat malam, saya dokter Gilbert. Dokter yang menangani Nona Brianna. Kami telah menstabilkan kondisinya, Tuan Alden. Dia mengalami gegar otak ringan dan ada robek di dahinya tidak terlalu dalam, tapi dia akan pulih sepenuhnya dengan perawatan yang tepat."

Mendengar kabar itu, Jonathan menghela napas lega. "Terima kasih, dokter. Apakah saya bisa menemuinya?" tanyanya, tak sabar ingin melihat Summer.

"Tentu saja, tapi biarkan dia beristirahat untuk sementara waktu. Dia membutuhkan waktu untuk pulih," jawab dokter itu dengan tenang.

Jonathan mengangguk, bersyukur Summer selamat dari insiden mengerikan itu. Dia masuk ke dalam ruangan, duduk di samping tempat tidur Summer, dan menggenggam tangannya. "Kau akan baik-baik saja, Bree. Aku akan memastikan itu," katanya pelan, menatap wajah Summer yang tenang dalam tidurnya.

*****

"Eunghh..." Summer melenguh kesakitan saat matanya perlahan terbuka. Suara langkah kaki mendekat membuatnya berusaha waspada, meski tubuhnya masih terasa berat dan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. "Sayang, kau sudah bangun," suara lembut yang sangat dikenalnya, suara ibunya, membuat Summer tenang.

"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya Lady Eleanor, khawatir.

"Se... sedikit pusing, Bu," jawab Summer, suara lemah.

"Ibu sudah memanggil dokter. Sabar sebentar ya, sayang," ujar Lady Eleanor sambil mengusap lembut kepala Summer, berharap bisa meringankan sakit kepala putrinya.

Dokter masuk dan memeriksa Summer dengan cermat. Ia menjelaskan bahwa pusing adalah hal yang wajar setelah pingsan dan terbentur kepala, serta menyampaikan diagnosis yang ditetapkan yaitu gegar otak ringan. "Jika semua baik-baik saja, kamu bisa pulang pada hari ketiga," tambahnya sebelum pergi.

Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Summer yang sudah sepenuhnya sadar mulai merasa gelisah. Dalam kebingungannya, ia tak bisa melupakan Jonathan. Ia yakin bahwa pria yang datang dan memeluknya malam itu adalah Jonathan. Hatinya merasa campur aduk—merasa bersyukur telah diselamatkan, tetapi juga penasaran dan khawatir tentang apa yang terjadi setelahnya.

"Bu, bagaimana dengan Jonathan?" tanya Summer dengan nada malu.

Lady Eleanor, yang sedang mengupas jeruk, menoleh dengan sedikit terkejut, namun senyumnya kembali muncul. "Jonathan harus kembali ke kantornya untuk mengurus urusan negara dan kekacauan yang terjadi. Tenang saja, ia sudah ibu marahi saat ibu datang menjenguk. Ia ada di sini sampai jam setengah delapan pagi. Setelah Norin mengantarkan pakaiannya, ia berangkat."

Alis Summer berkerut. "Dia tidak sarapan dulu, Bu?" Summer terkejut dengan pertanyaannya sendiri. Ia merasa sedikit bodoh karena tiba-tiba timbul rasa simpati dalam situasi ini.

Lady Eleanor terkekeh kecil. "Ibu juga sudah memperingatkannya. Tapi ia mengatakan ingin sarapan di jalan dan Norin sudah menyiapkannya di mobil. Sebenarnya, ibu tidak terlalu percaya, tapi dia keras kepala!" ucap Lady Eleanor sambil memasang wajah sebal.

Summer tertawa kecil, dan percakapan mereka berakhir begitu saja. Ruangan menjadi hening, dan Summer merenung menatap ke luar jendela kamar inapnya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang langkah apa yang harus diambil setelah ini. Ia ingin semua ini berakhir, tetapi juga merasa bingung apakah mengakhiri semuanya sekarang akan berdampak pada panti asuhannya.

Summer menghela napas. Saat ia memalingkan wajah dari pemandangan di luar, ia bertatapan dengan Lady Eleanor yang heran melihatnya. Mereka pun tertawa bersama. Dengan keberanian yang tiba-tiba muncul, Summer memberanikan diri bertanya kepada Lady Eleanor. "Bu, kenapa ibu mau terlibat dalam hal ini?"

Lady Eleanor mengerti maksud Summer—bukan tentang jeruk yang sedang dikupas atau kehadirannya di rumah sakit, tetapi tentang penipuan yang mereka lakukan. Jawaban Lady Eleanor membuat Summer terenyuh. "Karena Jonathan sendirian, Bree. Dia membutuhkan dukungan, dan ibu tidak bisa membiarkannya menghadapi semua ini sendirian. Keluarga berarti saling mendukung, bahkan ketika segala sesuatunya tampak kacau."

Summer terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Lady Eleanor. Ia harus menyadari bahwa Jonathan memang sendirian dan memerlukan dukungan. Menampungnya dan menjadi bagian dari keluarga Meyer mungkin adalah pilihan terbaik untuk mengawasi dirinya.

"Aku akan mencoba untuk tidak mengecewakan kalian, Bu," ucap Summer dengan suara lembut dan sedikit bergetar.

Lady Eleanor tersenyum penuh pengertian. "Kau tidak perlu mengatakan itu. Kau, Lexter, dan Jonathan adalah anak-anak kesayangan kami. Kami semua ada di sini untuk saling mendukung. Sekarang, istirahatlah. Semoga kamu merasa lebih baik segera."

Summer merasa hatinya sangat tersentuh oleh perkataan Lady Eleanor. Di tengah-tengah ketidakstabilan emosinya, ia merasa ingin menangis. Semua logikanya seakan runtuh di bawah perhatian dan dukungan ibu angkatnya. Meskipun secara rasional ia harus marah pada Jonathan, perasaan tersebut terasa bersaing dengan rasa empati dan kepedulian yang muncul. Jonathan, pria penipu itu, akan menghadapi tantangan ini sendirian, dan ada bagian dalam dirinya yang ingin membantunya. Namun, Summer segera menyingkir perasaan itu karena amarahnya belum surut.

Ruangan kembali menjadi tenang, dan Summer melanjutkan merenungkan langkah selanjutnya. Dia berharap dapat menemukan cara untuk menghadapi tantangan yang ada di depannya dengan lebih baik, sambil berusaha mengatasi perasaan campur aduk yang menyelimuti dirinya.



















.

.

.

.

.

Biarin ajalah ya, Mr. Jo bepusing-pusing ria ngadepin wartawan. Brianna dan Kak Lexter aja yang aku spill kesehariannya🤭

Semoga suka ya, terima kasih sudah mampir 🙏🥰

Jangan lupa vote, comment dan ❤️-nya 👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro