Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

BAB XVII : Skandal Jonathan

Kastil Keluarga Meyer, Reveria, 2017.

Summer melangkah menuju kamarnya setelah mendapat kabar bahwa Jonathan sedang berada di kastil dan ingin menemuinya. Kabar ini membuatnya bertanya-tanya, terutama setelah berminggu-minggu tanpa kehadiran pria itu. Di satu sisi, Summer merasa enggan untuk menemuinya, mempertanyakan alasan mendadak Jonathan muncul di kastil. Namun, ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya—sebuah rasa yang tidak dapat ia jelaskan dengan mudah. Seiring langkahnya menuju kamar, perasaan aneh itu semakin menguat, menimbulkan debaran di dadanya yang tak biasa.

Tanpa sadar, langkahnya menjadi lebih cepat, seolah-olah ada magnet yang menariknya menuju sosok pria yang sempat menghilang dari kehidupannya. Ia mencoba menepis rasa penasaran yang mulai menguasai dirinya, tetapi semakin ia mencoba, semakin kuat dorongan untuk segera bertemu dengan Jonathan. Setiap detik terasa lambat, seakan waktu mempermainkan dirinya.

Namun, ketika Summer tiba di depan pintu kamarnya, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di detik itu juga, kesadaran kembali menghampirinya. Mengapa ia begitu bersemangat hanya untuk bertemu Jonathan? Mengapa ada rasa bahagia yang tak dapat dijelaskan setiap kali ia memikirkan pertemuan mereka? Perasaan ini tidak seharusnya ia rasakan, pikirnya. Ia mulai menyadari bahwa apa yang ia rasakan mungkin merupakan bibit dari sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang ia takuti untuk diakui.

Summer menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak di hatinya. Ia harus menjaga sikap, mengingat siapa dirinya dan posisinya dalam seluruh situasi ini. Ia tidak boleh membiarkan hatinya menguasai diri, tidak boleh terjebak dalam perasaan yang belum tentu memiliki dasar. Dengan tekad untuk bersikap biasa saja, Summer berusaha menenangkan dirinya dan menyusun kembali pikirannya. Perasaan yang tumbuh ini harus dikendalikan sebelum berkembang lebih jauh.

Dengan pikiran yang lebih tenang, Summer memegang kenop pintu kamarnya, mempersiapkan diri untuk menghadapi Jonathan. "Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Jonathan Alden? Bukankah kau sibuk dengan pekerjaanmu setelah kembali bekerja? Ah, apakah aku perlu mengucapkan selamat? Apa kau perlu rangkaian bunga seperti yang berjejer di depan kantor Perdana Menteri?" tanya Summer dengan nada sarkastis. Rasa jengkelnya tiba-tiba memuncak saat melihat wajah Jonathan.

Alis Jonathan berkerut, terkejut dengan sambutan Summer yang tidak bersahabat. Namun, ia tiba-tiba tertawa kecil, melihat Summer yang terlihat lucu di matanya. Jonathan bangkit dari kursinya dan dengan lembut menarik Summer untuk duduk, karena saat itu Summer berdiri dengan wajah garang dan tangan terlipat di dada.

"Duduklah dulu," ucap Jonathan, mencoba menenangkan amarah Summer. "Aku tidak menyangka bahwa persiapan kembali menjabat itu sangat rumit. Pekerjaanku sangat menumpuk, dan saat aku sampai di rumah, aku sangat lelah. Apakah kau sedang merajuk saat ini?"

Jonathan mendekatkan wajahnya, mengamati ekspresi Summer dengan saksama. Summer yang mendengar pertanyaan itu langsung melotot dan menyangkalnya, "Tidak, apa kau pikir hubungan kita sedekat itu, Tuan Jonathan?"

Jonathan terdiam mendengar perkataan Summer yang terlontar dengan nada tinggi. Sebenarnya, Summer juga terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan. Jonathan mundur dan kembali ke kursinya, mengambil sebuah tablet yang terletak di meja sebelah sofa. Ia mendekat lagi dan menggenggam tangan Summer. "Aku kemari karena ingin menunjukkan ini padamu," kata Jonathan sambil menyerahkan tablet itu kepada Summer.

Summer membukanya dan melihat foto-foto saudara-saudaranya di panti asuhan. Jantungnya berdegup kencang. Summer belum menangkap maksud foto-foto itu sampai ia sadar bahwa saudara-saudaranya berfoto dengan senyum lebar di sebuah tempat yang asing. Di akhir foto, ada beberapa gambar interior rumah hingga foto sebuah gedung yang terlihat rapi dan nyaman dengan papan bertuliskan Panti Asuhan Butterfly.

"Apa maksudnya ini?" tanya Summer, masih sulit mencerna foto-foto di dalam tablet.

"Kami sudah mendapat akses untuk masuk dengan leluasa ke East End. Aku memindahkan gedung panti asuhan ke pinggiran kota dan memperbaiki gedung mereka. Semua anak-anak di panti asuhan sudah didaftarkan sebagai anak asuh di bawah Departemen Sosial Kerajaan. Anak-anak di atas delapan belas tahun dikirim ke asrama pendidikan untuk mendapatkan beberapa keterampilan agar mampu hidup mandiri di masyarakat. Kami akan terus memantau perkembangan mereka. Tapi ada satu anak di atas delapan belas tahun yang memohon untuk tetap tinggal di panti asuhan dan menjadi pengasuh di sana, namanya Kennis. Apa kau mengenalnya?"

Summer mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Jonathan. Awalnya, ia merasa bingung dan sedikit curiga dengan apa yang hendak disampaikan Jonathan melalui foto-foto tersebut. Namun, seiring penjelasan Jonathan yang semakin jelas, Summer merasakan gelombang kelegaan dan kehangatan yang menyelimuti hatinya. Rasa lega itu semakin nyata ketika ia melihat foto-foto saudara-saudaranya di panti asuhan yang tersenyum bahagia di tempat yang tampak asing namun nyaman.

Air mata mulai membasahi sudut matanya, bukan karena sedih, tetapi karena rasa haru yang mendalam. Ia tak pernah menyangka bahwa Jonathan akan melakukan sesuatu yang begitu berarti dan penuh perhatian. Bayangan tentang Jonathan yang mengancam saudara-saudaranya beberapa waktu lalu kini tergantikan oleh sosok yang peduli dan dermawan. Summer merasa bahwa bebannya sedikit terangkat, mengetahui bahwa anak-anak panti asuhan, yang sudah seperti keluarga baginya, akan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Saat Jonathan menyebut nama Kennis, Summer langsung menganggukkan kepala dengan antusias. "Ya, aku mengenalnya," jawabnya dengan suara yang terdengar serak karena menahan emosi.

"Terima kasih," ucap Summer dengan suara yang bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Kata-kata itu terasa begitu kecil dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Jonathan. Ia menyadari bahwa perasaannya sulit untuk diungkapkan hanya dengan kata-kata. Hatinya dipenuhi dengan perasaan hangat dan syukur yang luar biasa. Ia merasa terharu dan bersyukur, bukan hanya karena bantuan yang diberikan kepada panti asuhan, tetapi juga karena ia mulai melihat sisi lain dari Jonathan—sisi yang peduli dan tulus dalam membantu orang lain.

Ketukan di pintu menginterupsi perbincangan mereka. Summer segera mengusap sudut matanya yang mulai digenangi air mata. "Permisi, Nona. Ini teh dan biskuitnya," ucap pelayan yang masuk ke ruang santai dan meletakkan nampan berisi set teko teh, cangkir, dan sepiring kecil biskuit. Setelah meletakkan nampan, pelayan tersebut keluar dari ruangan.

"Ini adalah biskuit buatanku dan Lady Eleanor, dan aku jamin rasanya sangat lezat. Kau harus mencicipinya. Apakah kau mau kutuangkan teh?" tanya Summer.

Jonathan hanya mengangguk, menyetujui tawaran Summer. Ia mengamati dengan kagum bagaimana anggunnya Summer saat menyiapkan teh untuknya. Sesekali, ia bertanya kepada Jonathan apakah ia ingin tambahan pada tehnya. Jonathan menyunggingkan senyum, merasa lega melihat amarah Summer yang kini mereda. Jonathan mengambil sebuah biskuit dan menyantapnya, lalu terkejut oleh kelezatannya. "Wow, sepertinya Lady Eleanor memang seorang guru yang luar biasa! Aku sungguh gembira bisa menyantap makanan yang dibuat langsung oleh Bree-ku," ujar Jonathan sambil tertawa.

Summer tertawa geli mendengar panggilan itu. "Oh, ya. Ada satu lagi penebusanku karena akhir pekan kita bersama terlewatkan," tambah Jonathan.

Summer memasang wajah heran mendengar perkataan Jonathan. "Kau tahu, kau tidak harus melakukan itu. Aku tidak sedang merajuk, hanya sedikit kebingungan dengan apa yang kau lakukan setelah dengan terbuka mengumumkan hubungan pertunangan kita. Semua orang sudah mengetahui wajahku sebagai Brianna Caitlin Meyer," terang Summer sambil mengangsurkan gelas teh yang telah ia siapkan untuk Jonathan.

"Aku tahu," jawab Jonathan singkat sebelum menyesap tehnya, "Ini adalah tugas selanjutnya untukmu sebagai tunanganku."

*****

Setelah mengatakan kata singkat itu, Jonathan meminta Summer untuk segera bersiap karena ia ingin mengajaknya keluar. Summer yang masih duduk di sofa terus-menerus meminta penjelasan dari Jonathan, namun akhirnya terpaksa bangkit ketika Jonathan berjalan menuju lemari pakaiannya dan memilihkan sendiri pakaian yang akan dikenakan Summer. Setelah selesai mengenakan pakaian yang diberikan Jonathan, Summer berniat merias diri, dan masih melihat Jonathan yang duduk santai di ranjang tempat tidurnya sambil membawa cangkir tehnya. Ia terus memperhatikan Summer yang sedang berdandan di depan kaca sambil sesekali menyesap tehnya.

Summer dibuat tercengang saat ia dibawa ke sebuah pameran seni. Turun dari mobil, Summer langsung digandeng oleh Jonathan dan diajak masuk ke dalam gedung pameran. Mereka segera disambut oleh pemilik galeri, kurator, dan beberapa pelukis yang karyanya dipajang di sana. Jonathan berbincang sejenak dengan mereka, dan mereka mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta menawarkan untuk memandu. Namun, Jonathan menolak dan mengatakan bahwa ia ingin menikmati pameran berdua saja dengan tunangannya. Mereka semua memberikan privasi dan menyerahkan brosur pameran kepada Jonathan dan Summer.

"Jadi, ini adalah tugas yang kau maksud?" tanya Summer.

"Ya, tugasku adalah memastikan pameran ini sukses. Ini adalah tempat edukasi seni yang sangat luar biasa dan aku ingin mempromosikannya. Aku ingin mensosialisasikan bahwa pameran ini layak dikunjungi oleh semua kalangan, tidak hanya bangsawan tapi juga orang-orang yang menyukai seni dan sedang mendalami bidang ini," jawab Jonathan dengan antusias.

Summer hanya mendengus kecil mendengar penjelasan Jonathan yang terdengar seperti mengada-ada. Meski begitu, ia dan Jonathan terus menyusuri lorong-lorong tempat karya seni dipajang. Summer belum pernah mengunjungi pameran seni seperti ini sebelumnya, sehingga ia merasa sangat penasaran dengan seluruh isinya. Selama beberapa puluh menit, ia bahkan begitu fokus pada karya-karya yang dipajang, membaca penjelasan yang tertera di brosur dengan penuh minat.

Setelah beberapa menit, mereka sampai di ruang karya utama. Summer dan Jonathan berhenti di depan sebuah lukisan besar yang menggantung di dinding. Summer terpesona oleh ukuran dan detail lukisan tersebut. Suasana hening sejenak, sebelum Jonathan memecah keheningan dengan suara lembut, "Ibuku sangat pandai melukis."

Summer menoleh ke arah Jonathan, terkejut dengan pembukaan percakapan yang tak terduga itu. Ia tak menemukan kata-kata untuk menanggapi pernyataan Jonathan dan hanya bisa mendengarkan.

"Isabella Alden, dia ibuku. Aku berharap dia tetap menjadi ibuku." Jonathan menatap Summer yang terlihat penasaran dengan arah pembicaraan ini. "Apa kau percaya jika aku bukan anggota keluarga Alden yang sesungguhnya?"

Summer tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Jonathan. Ia sempat berpikir bahwa Jonathan sedang menyindirnya, namun ia memilih untuk tetap diam dan mendengarkan. Jonathan melanjutkan perkataannya, matanya masih terpaku pada lukisan.

"Aku juga seorang anak panti asuhan. Ibu Isabella mengadopsiku di sebuah asrama gereja di desa terpencil, saat itu ia sedang menjalankan misi yayasan amal untuk membantu korban bencana alam. Aku tidak benar-benar ingat apa yang terjadi, aku hanya berumur lima tahun saat itu. Mereka bilang orang tuaku hanyut terbawa air bah, dan hanya aku yang selamat. Ibu menyukaiku dan membawaku pulang, memberiku nama keluarga yang indah namun juga penuh beban."

Summer terkejut mendengar pengakuan Jonathan. Ini adalah sisi dari dirinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia bisa melihat kesedihan dan beban di mata Jonathan, sesuatu yang tersembunyi di balik penampilannya yang tenang dan percaya diri.

"Aku tidak pernah menyangka," kata Summer pelan. "Kau selalu terlihat begitu kuat dan tegar, seperti seseorang yang tak pernah mengalami kesulitan."

Jonathan tersenyum tipis, wajahnya mengungkapkan campuran rasa prihatin dan pengertian. "Aku pernah bilang kepadamu untuk tidak menjadi representasi dari panti asuhanmu. Ini yang aku maksud—jangan biarkan masa lalu atau label menahanmu. Kau memiliki nilai dan potensi yang jauh lebih besar daripada apa yang orang lain mungkin lihat atau katakan."

Sebelum Summer bisa menjawab, sebuah pesan masuk ke ponsel Jonathan. Dia mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan dari Norin dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius. Summer menatap Jonathan dengan penuh rasa ingin tahu, merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada apa?" tanya Summer, melihat perubahan mendalam di wajah Jonathan. Karena jarak mereka yang cukup dekat, Summer dapat melihat layar ponsel Jonathan. Ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut saat membaca pesan tersebut. "Skandal Hubungan Jonathan Alden dan Sekretarisnya Terbongkar!"

Summer merasakan gelombang emosi yang campur aduk—terkejut, marah, dan terluka. "Jadi ini alasan sebenarnya kau membutuhkan tunangan pura-pura? Kau hanya ingin menutupi hubungan gelap dengan sekretarismu!" ucap Summer dengan suara bergetar, rasa kecewa dan kemarahan menciptakan nada yang sulit disembunyikan.

Jonathan terkejut dengan reaksi Summer dan mencoba menjelaskan, "Bree, tidak seperti itu. Aku—"

Namun, Summer memotongnya dengan tajam. "Cukup! Semua yang kau katakan tentang melindungi reputasiku hanyalah kebohongan. Kau hanya menggunakanku sebagai alat untuk menutupi perilaku tidak bermoralmu!" Dengan kemarahan yang meluap-luap, Summer berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Jonathan.

"Brianna, tunggu!" Jonathan memanggilnya, berusaha mengejarnya, tetapi Summer tidak menggubrisnya. Ia merasa dikhianati dan dipermainkan. Tanpa menoleh ke belakang, Summer melangkah keluar dari galeri dan meminta kunci mobil Jonathan dari valet.

Dengan mobil yang telah diambil, Summer menekan pedal gas dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju kastil keluarga Meyer. Namun, saat ia melintasi batas kota, ia menyadari ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Awalnya, ia mengira itu adalah Jonathan, tetapi ketika mobil itu berhasil sejajar, ia melihat bahwa orang-orang di dalamnya bukanlah Jonathan atau ajudannya.

Merasakan adanya ancaman, Summer semakin meningkatkan kecepatan mobilnya, tetapi mobil yang mengikuti terus memepetnya, berusaha membuatnya berhenti. Tiba-tiba, sebuah tabrakan keras membuat mobil Summer kehilangan kendali dan menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Summer masih sadar setelah benturan tersebut, namun kepalanya terasa sangat sakit.

Sementara ia berjuang melawan rasa pusing, pintu kaca mobilnya dipaksa terbuka oleh orang-orang yang mengikutinya dengan pemukul baseball. Summer merasa ketakutan dan terpojok, terpaksa menghadapi ancaman yang tiba-tiba muncul di hadapannya.




















.
.
.
.
.

OMG, apa yang akan terjadi dengan Summer? Siapa orang-orang yang menyerangnya? 😱

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro