BAB XIX : Pencarian Kebenaran
Kantor Perdana Menteri, Eldoria, 2017.
Sejak pagi hari setelah meninggalkan rumah sakit tempat Summer dirawat, Jonathan tidak pernah beranjak dari kantornya. Waktunya sepenuhnya didedikasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas negara, memastikan bahwa setiap target dan rencana yang telah ia buat untuk masa jabatannya dapat terlaksana dengan sempurna. Jonathan telah memberikan keterangan resmi, menyangkal segala hubungan dengan Jessie, dan menurutnya itu sudah cukup. Apakah orang lain mempercayainya atau tidak, baginya saat ini yang terpenting adalah fokus pada prioritas-prioritasnya. Namun, di balik tekadnya untuk tidak memberi ruang bagi istirahat, ada kekhawatiran yang tak bisa ia abaikan. Setiap kali pikirannya beralih dari pekerjaan, bayangan tentang kondisi Summer terus mengisi benaknya, menggoyahkan ketenangannya.
Jam di atas mejanya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun pemandangan di luar kantornya masih dipenuhi lalu lintas kendaraan. Jonathan memutuskan untuk tetap berada di kantor. Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya, dan ia mempersilakan masuk. Norin dan Ethan masuk ke ruangan.
"Ada apa? Apakah kamu sudah mendapatkan informasi lebih lanjut?" tanya Jonathan dengan nada serius.
"Iya, Tuan," jawab Ethan sambil menyerahkan sebuah tablet kepada Jonathan.
Jonathan, yang tadinya berdiri memandangi pemandangan di luar jendela, berjalan menuju sofa di depan meja kerjanya, tempat ia biasanya menerima tamu. Ethan menunjukkan beberapa dokumen penting yang ditampilkan di layar tablet.
"Saya menemukan bahwa Apartemen Eldoria Heights berada di bawah kepemilikan Samaria Group, tetapi baru diakuisisi empat bulan lalu. Yang aneh, kepemilikan sebelumnya tidak pernah jelas teridentifikasi. Selain itu, proses pembangunan apartemen tersebut juga bermasalah. Pada awalnya, Alden Industries menang dalam tender proyek ini, namun kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh sebuah perusahaan konstruksi baru. Setelah ditelusuri, pemilik perusahaan konstruksi tersebut adalah Freman Oakley, mantan direktur di Alden Corporation."
Jonathan mendengarkan dengan seksama, merasakan ada yang tidak beres. Nama-nama yang disebutkan terasa terlalu dekat, terlalu familiar. Meskipun Jonathan tidak pernah terlibat langsung dalam operasional Alden Industries, ia tahu betul reputasi besar yang dimiliki perusahaan keluarganya di seluruh kerajaan. Sebuah perusahaan sebesar itu, dengan sumber daya dan koneksi yang begitu kuat, tidak akan mundur begitu saja dari proyek yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda tanpa alasan yang sangat kuat.
"Saya juga menemukan bahwa Felix Darren membeli apartemen di Eldoria Heights melalui agen pemasaran, dan dia membayarnya secara langsung. Namun, yang menarik perhatian adalah pergerakan keuangannya. Sebelum Anda menjabat, Felix membuka rekening baru, dan hanya ada beberapa transaksi yaitu mengirim uang kepada Jessie dan menerima uang dari sebuah perusahaan. Perusahaan tersebut ternyata dimiliki oleh mantan pegawai Alden Corporation."
Jonathan merasa semakin gelisah. Keterkaitan ini tampak mencurigakan, meskipun belum ada bukti konkret yang mengungkap siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Namun, Jonathan tahu bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Dia harus menggali lebih dalam untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi. Langkah pertama, tampaknya, adalah mulai dengan Felix Darren.
"Norin, kirimkan semua bukti keuangan yang didapat dari Ethan dan buat laporan anonim ke Departemen Integritas dan Transparansi. Laporkan semua bukti ini dengan indikasi bahwa Felix Darren mungkin telah menerima suap," perintah Jonathan kepada Norin.
"Baik, Tuan," jawab Norin.
"Ethan, selidiki lebih lanjut. Cari tahu mengapa ada nama-nama yang berhubungan dengan keluarga saya dalam kasus ini," lanjut Jonathan dengan tegas kepada Ethan.
Norin dan Ethan segera undur diri, meninggalkan Jonathan yang kini terbenam dalam pikirannya sendiri. Ia kembali memandangi tumpukan dokumen dan layar tablet yang kini menyala dengan informasi yang membingungkan.
Kenapa nama-nama ini muncul? Freman Oakley dan mantan pegawai Alden Corporation—apa hubungannya dengan semua ini? Jonathan berusaha menenangkan pikirannya, tapi pikirannya melayang pada masa lalu. Oakley adalah keluarga yang dahulu menjadi sekutu ayahnya di perusahaan, seorang pendukung kuat untuk adiknya, Alexander, dalam perjuangannya menjadi pemimpin Alden Corporation.
Kenangan itu tiba-tiba terasa relevan. Apakah ini saling terhubung? Jonathan mengetuk-ngetuk jari pada penyangga tangan sofanya, merasakan ketegangan yang meningkat di pelipisnya.
'Apa yang sebenarnya mereka inginkan?' pikirnya. 'Apakah ini tentang balas dendam atau hanya persaingan bisnis? Atau ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?'
Jonathan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Rasa cemas menyerangnya, dan ia merasa buntu dalam menentukan arah kasus ini, khawatir jika semuanya akan berujung pada sesuatu yang lebih buruk. Meskipun hubungan dengan ayah dan adiknya tidak begitu baik, ia merasa sangat bersalah jika karier politiknya berdampak buruk pada reputasi dan keselamatan keluarga mereka.
*****
Keesokan harinya, tepat di akhir pekan, Jonathan memutuskan untuk mengunjungi Summer yang juga akan pulang dari rumah sakit. Sejak pagi, ia sudah merencanakan kunjungannya, merasa ada banyak hal yang perlu dibicarakan dan diluruskan. Saat ia keluar dari kantornya bersama ajudannya, sekelompok wartawan masih setia menunggu di luar, mengintai setiap gerak-geriknya. Mereka dengan sigap mengikuti Jonathan, berharap mendapatkan berita eksklusif saat ia menuju rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit, Jonathan segera berjalan cepat menuju kamar Summer. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai hal yang ingin ia katakan, sementara perasaan bersalah masih membayangi setiap langkahnya. Ketika ia membuka pintu kamar, ia mendapati Summer tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Awalnya, Summer mengira itu adalah Lady Eleanor yang datang, tetapi begitu ia melihat bahwa itu adalah Jonathan, ekspresinya berubah. Ia langsung memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan Jonathan.
Jonathan menyadari reaksi Summer dan perasaan bersalah semakin menyesakkan dadanya. Ia berjalan perlahan menuju sofa yang tidak jauh dari tempat tidur, duduk dengan tenang sambil memperhatikan Summer yang masih terus sibuk dengan tasnya. Meskipun tasnya sudah rapi, Summer tampak berusaha mengalihkan perhatian dengan aktivitas tersebut.
"Bree, aku yang akan mengantarmu pulang hari ini," ucap Jonathan dengan suaranya lembut namun tegas, berusaha menyampaikan ketulusan yang ia rasakan. "Lady Eleanor tidak akan datang. Aku yang memintanya untuk istirahat. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Summer tetap berusaha menyibukkan diri dengan tasnya, meskipun jelas bahwa ia sudah selesai berkemas. Jonathan melihat itu sebagai tanda bahwa Summer sedang berusaha menjauh atau mungkin masih merasa marah. Tanpa ragu, Jonathan bangkit dan menghampirinya. Dengan hati-hati, ia menggenggam tangan Summer yang sedang merapikan tali tasnya, memintanya berhenti dengan sentuhan lembut.
"Bree, cukup. Tasmu sudah siap," katanya, suaranya semakin rendah namun penuh dengan kesungguhan. Jonathan menatap mata Summer dengan harapan bahwa ia bisa melihat niat tulusnya untuk memperbaiki keadaan. "Kita perlu bicara, dan aku ingin kamu mendengarkanku. Aku ingin kita meluruskan semua ini, agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita."
Summer menatap Jonathan dengan tatapan tegas. Ada kemarahan yang jelas terlihat di sana, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Jonathan, yang merasakan betapa dalamnya luka yang telah ia timbulkan, menggenggam tangan Summer lebih erat dan mengajaknya duduk di pinggiran kasur, saling berhadapan. Tangannya masih erat menggenggam tangan Summer, seolah mencoba menyampaikan keputusannya untuk tidak melepaskan apa yang masih bisa diselamatkan.
"Semua ini memang salahku," Jonathan memulai, suaranya berat dengan rasa bersalah yang mendalam. "Apa yang diberitakan tentang hubunganku dengan Jessie itu benar." Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan. "Tapi membawamu pada posisi ini bukan untuk menutupi isu. Jessie... dia melakukan itu karena dia adalah orang suruhan yang dikirim untuk membunuhku. Awalnya aku curiga kamu terlibat, apalagi tidak ada yang tahu siapa dirimu di media. Dan dengan pekerjaanmu, aku berpikir—"
Jonathan terdiam sejenak, rasa bersalah yang menghimpitnya semakin berat. "Tapi setelah kematian Jessie, semuanya menjadi lebih rumit. Ada kemungkinan besar kamu akan dijadikan target berikutnya, baik untuk membuat skandal baru atau untuk mengkambinghitamkanmu sebagai pelaku. Aku akui, tindakan impulsifku waktu itu... aku tidak mengelak. Aku juga bingung apakah aku melakukan itu tanpa sadar atau dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian media."
Summer melihat Jonathan dengan tatapan yang mulai berubah. Pria yang berdiri di depannya bukan lagi Jonathan Alden yang tegas dan tajam seperti biasa. Mata birunya yang dulu setajam elang kini tampak redup dan penuh penyesalan, membangkitkan rasa iba yang tak bisa ia hindari. Namun, Summer tetap diam, menahan perasaan yang campur aduk di dalam dirinya
Jonathan, merasakan kesunyian itu sebagai penolakan, terus berusaha. "Aku pikir semuanya akan baik-baik saja jika hubunganku dengan Jessie tidak diketahui, tapi sekarang, setelah semuanya terbongkar, aku benar-benar merasa hancur. Masyarakat terus mencemoohku, dan aku belum memiliki bukti siapa kaki tangan Jessie. Dan yang paling membuatku terpukul adalah kamu... kamu terluka karena berada di mobilku yang sudah diincar oleh mereka."
Summer akhirnya melepaskan napas yang ditahannya. Hatinya luluh mendengar penyesalan yang tulus dari Jonathan, tetapi ia juga masih merasakan sisa-sisa kemarahan dan kebingungan. Dia menatap Jonathan, mencoba menemukan kejujuran di balik kata-katanya, dan ia menemukannya—kejujuran yang menembus dinding kesalahpahaman di antara mereka.
"Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja, Jonathan," suara Summer akhirnya terdengar, lembut namun tegas. "Tapi aku bisa melihat bahwa kamu benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki keadaan. Kita berdua sudah terlalu banyak terlibat dalam ini semua, dan sekarang, aku rasa kita hanya bisa maju ke depan dengan saling mendukung."
Jonathan mengangguk, mata birunya kembali bertemu dengan mata Summer. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, Bree. Mulai sekarang, kita akan menghadapi ini bersama. Aku akan melindungimu, dan aku akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk menebus kesalahanku."
Summer menghela napas dalam, perlahan rasa lega mulai meresap di hatinya. "Kalau begitu, kita hadapi ini bersama, Jonathan. Tapi ingat, aku juga akan melakukan bagianku untuk membantu. Kita saling melindungi."
Summer memang merasa ada keinginan untuk mempercayai Jonathan tapi ia masih enggan menaruh harapan untuk mempercayakan rasa cintanya untuk Jonathan. Sedangkan Jonathan yang tanpa sadar sudah memberi perasaan pada hubungan ini. Mereka berdua saling menggenggam tangan lebih erat, tanpa sadar merasakan adanya ikatan baru yang mulai terbentuk di antara mereka. Meskipun jalan di depan masih penuh dengan tantangan, mereka tahu bahwa selama mereka saling mendukung, tidak ada yang tidak bisa mereka hadapi.
.
.
.
.
.
.
.
Mr. Jo, jangan sampai membuat Summer kecewa lagi ya! 😉✨
Bagaimana menurut kalian, apakah Mr. Jo sudah bisa membuktikan kesungguhannya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro