BAB XI : Awal Yang Canggung
Eldoria, Reveria, 2017.
Kegelapan menyapa Jonathan saat ia terjaga dari tidurnya, menatap langit malam yang memanjakan matanya melalui kaca jendela besar kamar rawatnya. Gemerlap lampu Kota Eldoria menyebar di hadapannya, menciptakan panorama yang menenangkan. Namun, hatinya tidak bisa tenang. Satu nama terus berputar di benaknya—Summer. Tidak, harusnya ia memanggilnya Brianna Caitlin Meyer, wanita yang akan menjadi tunangannya, wanita yang anggun seperti para bangsawan lainnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya sulit untuk mengabaikan daya tarik alami yang dimiliki Summer.
Ada daya tarik yang memancar dari dirinya, seolah-olah ia memang ditakdirkan untuk bersinar di tengah kerumunan. Jonathan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dari perasaan yang tak terduga ini. Sosok yang dikenalnya di masa lalu—ibu tercintanya—memang memiliki aura yang mirip, meski tidak identik. Ibu Jonathan selalu menjadi pusat perhatian, mengundang kekaguman dan sorotan, tidak peduli kemana ia pergi.
Menyamakan Summer dengan ibunya terasa konyol dan membingungkan. Jonathan sudah menerima laporan penyelidikan dari Ethan. Summer adalah sosok yang misterius, berasal dari panti asuhan kumuh di East End, dan terlibat dalam pekerjaan yang tidak lazim—peniru identitas. Dalam catatan Ethan, wanita ini sering menggantikan posisi wanita bangsawan untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan. Tiga tahun lalu, ia menggantikan anak seorang pejabat East End dalam perlombaan piano, dan meskipun Summer menang, anak bangsawan yang sebenarnya menjadi wajah yang dikenal di atas panggung menerima penghargaan.
Jonathan merasakan percikan rasa yang tak terduga dalam dirinya, sebuah keraguan yang membasahi pikiran rasionalnya. Ia berusaha keras untuk menempatkan Summer sebagai bagian dari rencana dan bukan sebagai objek perasaannya. Namun, setiap kali ia memikirkan wanita ini, ia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa ada sesuatu yang membuatnya terus tertarik—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan fakta-fakta yang telah ia ketahui.
Jonathan harus memastikan bahwa Summer akan tetap di sampingnya sebagai Brianna, sementara ia berusaha keras untuk menangkap pelaku dan menyelesaikan tugasnya dengan tenang. Masa jabatannya harus dimaksimalkan, terutama karena warga Kota East End belum sepenuhnya terbebaskan dari masalah yang ada. Peristiwa ini mungkin telah memaksa Yang Mulia Raja untuk mendorong aparat penegak hukum dan militer masuk ke wilayah yang sebelumnya tidak terjamah. Jonathan bertekad untuk segera pulih dan kembali menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, berkomitmen untuk mewujudkan semua visi dan misinya demi kebaikan negara.
*****
Keesokan paginya, Summer datang lebih awal dan menemukan Jonathan masih tertidur pulas. Dengan hati-hati, ia melangkah perlahan, berusaha agar tidak membangunkannya. Di sofa, Norin sudah siap dengan setelan kerjanya, tanpa jas. Ia berdiri dan menyapa Summer.
"Selamat pagi, Anda datang lebih awal. Pola tidur Tuan Jonathan sedikit berubah akhir-akhir ini. Semalaman dia tampaknya kesulitan tidur dan baru bisa terlelap menjelang fajar. Sekarang, siang hari pun ia lebih sering tidur, mungkin karena pengaruh obatnya juga. Apakah Anda sudah sarapan?" tanya Norin.
"Tidak apa-apa, mari kita beri waktu untuk Tuan Jonathan bisa beristirahat. Saya sudah sarapan, jam berapa kita akan bertemu pihak kepolisian?" tanya Summer yang tidak punya pilihan selain menunggu Jonathan.
"Saya sudah mengatur pertemuan pukul sepuluh pagi," jawab Norin sambil menimbang sesuatu. Matanya melihat berpindah antara Jonathan dan Summer, kemudian melanjutkan ucapannya, "Jika Anda tidak keberatan, bisakah Anda menjaga Tuan Jonathan sementara? Tuan Ethan akan tetap bersama Anda di sini. Saya akan pergi ke kantin rumah sakit sejenak."
Summer hanya mengangguk, "Ya, tidak masalah." Setelah Norin berbicara sebentar dengan Ethan dan meninggalkan ruangan, Summer kembali sendirian di tengah kesunyian. Ia duduk sambil bertopang dagu, matanya tertuju pada pemandangan Kota Eldoria di luar jendela. Pikiran Summer tenggelam pada misinya kali ini.
Identitas barunya ini bukan sekadar pengganti, melainkan tampaknya memang dibuat khusus untuknya. Semuanya terasa sangat teratur dan nyaman, dari rumah yang indah hingga keluarga barunya yang tampak hangat dan menerima. Namun, Summer tidak bisa menahan rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya diinginkan Jonathan dan keluarga Meyer. Ia baru saja bertemu dengan Lady Eleanor dan belum berkenalan dengan anggota keluarga lainnya. Ketidakpastian mengenai bagaimana mereka akan menerima dirinya menambah beban pikirannya.
Yang paling membingungkan adalah keterlibatan Keluarga Meyer, yang dikenal sebagai bangsawan terkemuka, dalam rencana besar yang melibatkan penipuan terhadap seluruh rakyat Reveria dan bahkan Yang Mulia Raja. Summer mencoba memahami motivasi di balik semua ini dan mencari tahu apa yang sebenarnya dipertaruhkan dalam permainan ini.
Tiba-tiba, terdengar suara dari tempat tidur, Jonathan terbangun dengan kaget. Ia memandang sekeliling dengan penuh kebingungan dan segera memanggil, "Norin," dengan suara serak yang penuh kekhawatiran.
Summer mendekat, "Saat ini Norin sedang pergi ke kantin rumah sakit, apakah Anda butuh bantuan?"
Jonathan mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha fokus melihat Summer. "Bree," panggilnya dengan suara yang serak, membuat Summer terkejut. "Tolong ambilkan air," pintanya dengan nada memelas.
Summer mengambil gelas dengan sedotan dan membantu Jonathan untuk minum. Setelah itu, Jonathan kembali merebahkan diri di kasur yang sedikit tegak. "Apakah kau sudah lama menunggu?" tanyanya lembut.
"Belum begitu lama. Saya datang untuk menyamakan kesaksian dengan Anda sebelum bertemu pihak kepolisian. Norin sudah mengatur pertemuan pukul sepuluh pagi. Anda bisa beristirahat kembali," jawab Summer.
"Bree," panggil Jonathan lagi. Summer yang selama ini menunduk, akhirnya mengangkat kepala dan menyadari bahwa Jonathan sudah tidak menggunakan masker oksigen. Tiba-tiba, Jonathan menarik tangannya dengan lembut, memaksanya duduk di pinggiran tempat tidur.
"Apakah kau pernah membaca novel romansa?" tanya Jonathan.
Summer terkejut dan mengerutkan kening. "Tidak, kenapa?"
"Kau tidak tahu bagaimana berperilaku sebagai pasangan. Kau berbicara dengan bahasa formal padaku, padahal pasangan biasanya menggunakan bahasa yang lebih akrab. Ini terlihat canggung dan seperti kita orang asing," kata Jonathan.
Mata Summer melebar, rasa malu menyapu wajahnya saat ia menyadari kekurangan pengetahuannya tentang bagaimana bersikap sebagai pasangan. Ia merasa canggung membicarakan topik ini, terutama karena ia belum melakukan riset tentang bagaimana berperilaku dalam hubungan romantis. Merutuki diri sendiri, Summer merasa frustrasi dan menyesal karena mengabaikan aspek penting ini dalam persiapannya.
"Kamu bisa memanggil namaku langsung. Sebagai pasangan, kita harus terlihat akrab, lebih dekat daripada teman, dan lebih intim daripada saudara. Kita akan bertemu pihak kepolisian, dan aku akan mengenalkanmu sebagai tunanganku. Bukankah akan aneh jika kita berperilaku seperti ini?" Jonathan menjelaskan dengan nada yang lebih serius.
Entah kenapa, Summer merasa sangat sulit untuk membantah Jonathan. Meskipun ia tidak nyaman dengan situasi ini dan merasa tertekan untuk selalu menurut, rasa sungkan dan sedikit ketakutan membuatnya hanya bisa mengangguk dan diam. Tatapan Jonathan yang tajam dan otoritatif, ditambah dengan sikapnya yang penuh wibawa, membuat Summer merasa terjebak dalam ketidakmampuannya untuk menolak atau berbicara lebih lanjut.
Jonathan terlihat tidak senang dengan situasi ini. "Menjadi tunanganku berarti kamu harus bisa berbicara di depan publik, menghadapi wartawan, dan orang banyak. Dalam kerja sama ini, aku juga memerlukan pendapatmu, bukan hanya diam dan tidak menilai situasi di sekelilingmu. Aku memilihmu karena aku tahu kemampuanmu dan apa yang kau bisa lakukan."
Belum sempat Summer menjawab, beberapa perawat masuk untuk memeriksa Jonathan, diikuti oleh petugas yang mengantarkan makanan. Hal ini membuat Summer dan Jonathan tidak dapat berbicara dengan leluasa. Waktu berlalu dengan cepat hingga akhirnya pihak kepolisian tiba di ruangan.
"Saat ini kau adalah tunanganku, Brianna Caitlin Meyer. Lupakan siapa kau sebelumnya. Pihak kepolisian akan lebih fokus padaku untuk menanyakan kesaksian lebih lanjut. Ikuti alur kesaksianku, kau hanya perlu menjelaskan bahwa kedatanganmu adalah untukku karena hubungan kita. Mengerti?" perintah Jonathan dengan nada tegas namun lembut.
"Aku mengerti!" jawab Summer dengan penuh keyakinan.
Norin, yang sudah kembali ke ruangan, menerima isyarat dari Jonathan untuk mempersilakan pihak kepolisian masuk. Jonathan memperhatikan raut wajah Summer yang berubah seiring dengan kedatangan detektif. Dengan senyum lembut, ia menyapa mereka. Ada dua detektif yang masuk: seorang perempuan dan seorang laki-laki. Mereka berjabat tangan dengan Summer dan Jonathan secara bergantian.
"Maaf jika selama beberapa waktu ini Anda kesulitan mendapatkan keterangan dari saya. Saya baru bisa berkomunikasi dengan baik hari ini. Perkenalkan, wanita di samping saya adalah tunangan saya, Brianna Caitlin Meyer," ucap Jonathan dengan suara lemah namun berwibawa.
Keduanya tampak terkejut, tetapi segera menetralkan ekspresi mereka. Mereka hanya beramah-tamah sejenak sambil menjelaskan prosedur interogasi yang berwujud wawancara, meminta izin untuk merekam semua kesaksian. Selain itu, identitas Summer sebagai Brianna juga diperiksa dengan detail, bahkan detektif tersebut mengeluarkan alat pemindai sidik jari dan menyambungkannya ke laptop kepolisian. Dalam hitungan detik, data muncul di layar, dan Summer terkejut mengetahui betapa kuatnya kekuatan Jonathan. Di layar laptop tercetak wajahnya, nama, tanggal lahir, alamat, dan informasi lainnya sebagai Brianna. Summer terdiam, tidak bisa berkata-kata.
Summer mengira bahwa permasalahan akan selesai dan ia akan aman karena sejak awal pertanyaan-pertanyaan banyak ditujukan kepada Jonathan. Sampai detektif perempuan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Summer terperangah. "Kenapa saat itu Anda berdandan mirip dengan Angela Travis, anak pejabat di kantor Walikota East End? Saya sempat terkejut melihat Anda hari ini yang terlihat sangat berbeda."
Summer hampir tidak percaya. Mereka berhasil mendapatkan rekaman dirinya dan bahkan mengidentifikasikan kemiripannya dengan Angela Travis. Ketika Summer akan menjawab, Jonathan menyela dengan tenang, "Apakah Anda familiar dengan cosplay? Kegiatan di mana seseorang mengenakan kostum atau aksesori untuk meniru karakter tertentu. Brianna sering melakukan ini saat menghabiskan waktu bersamaku," jelas Jonathan dengan wajah datar, membuat semua orang di ruangan bingung.
"Bermain kostum," Jonathan menegaskan sekali lagi, hingga detektif perempuan berdeham dan menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja, Summer mengerti bahwa 'bermain kostum' yang dimaksud Jonathan merujuk pada aktivitas seksual yang melibatkan berpura-pura atau bermain peran sebuah karakter tertentu, dan wajahnya memerah seketika.
Detektif perempuan, sepertinya memahami perubahan warna wajah Summer, tetap melanjutkan tugasnya dengan enggan. "Apakah benar apa yang dikatakan Tuan Jonathan, Nona Brianna?" tanyanya, berusaha profesional.
Summer hanya bisa mengangguk malu, menundukkan kepala, dan menutupi setengah wajahnya dengan punggung tangan. "Emmm, aku tidak menemukan referensi yang sesuai malam itu, jadi aku menggunakan Angela Travis sebagai acuan."
"Ba...baiklah, masih ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan untuk Nona Brianna. Tolong dijawab," kata detektif perempuan.
Saat ini, Summer merasa betapa benar kata-kata Lady Eleanor tentang pentingnya menjadi setara dan tidak terintimidasi. Dengan kesaksian Jonathan yang asal dan cara dia mengungkapkan hal-hal yang memalukan, Summer merasakan campuran rasa malu dan marah. Ia merasa reputasinya sebagai Brianna Caitlin Meyer benar-benar terancam hancur.
Setelah sesi interogasi berakhir, Summer tidak bisa menahan rasa malu yang terus membekas. Saat para detektif berpamitan dan keluar dari ruangan, Summer mengatur napasnya sambil melirik Jonathan dengan tatapan campur aduk antara kesal dan bingung.
" Well, Jonathan, sepertinya aku harus mulai mempelajari 'cosplay' lebih mendalam... terutama jika ini melibatkan peran yang lebih, eh, 'pribadi'." Jonathan hanya tersenyum santai, sementara Summer terpaksa tersenyum kaku, berharap wajah merahnya tidak terlalu mencolok.
'Sialan!' umpat Summer dalam hati.
Maaf teman-teman atas ketidakaktifan kemarin, saya sedang tidak dalam kondisi yang baik. Saya jadi merasa kehilangan feel untuk bab ini. Semoga setelah membaca update kali ini yang sudah saya edit, kalian bisa menikmatinya.🙏🤗
Terima kasih yang sudah berkunjung dan memberi dukungan!😘
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro