Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

BAB VI : Pelarian

St. Thomas General Hospital, Eldoria, Reveria.

Umur hidup Norin seperti berkurang setengahnya, setelah rentetan kejadian luar biasa malam ini. Pertama, ia harus mendengarkan curhatan kekasihnya yang sedang memiliki mood buruk karena sedang datang bulan. Norin harus mendengarkan dengan seksama sekitar 30 menit curhatan itu supaya tidak mendapatkan amukan yang lebih parah dari kekasihnya, menyebabkan ia harus duduk di kursi tunggu di lobi Hotel, saat kembali dari Penthouse Jonathan.

Belum sampai 15 menit, perjalanan pulangnya terganggu setelah mendengar wanita asing memberitahukan bahwa bosnya, Perdana Menteri negeri ini sekarat dengan 5 tusukan. Dan saat ini ia harus menghadapi kekacauan ini sendirian, tanpa arahan dan skenario handal dari Jonathan.

Norin dibuat pusing setengah mati dengan keadaan saat ini. Bosnya beberapa jam yang lalu ada di Penthouse dengan kekasihnya, tapi kemudian ada wanita asing yang menolong bosnya saat sekarat dan mengantarnya ke rumah sakit, namun pertanyaannya dimana kekasih bosnya saat ini? Siapa wanita bergaun merah yang menolong bosnya? Atau semua ini adalah skenario penyerangan yang dilakukan wanita bergaun merah itu ? Apa yang terjadi pada bosnya saat di dalam penthouse? Apakah bosnya seorang penganut BDSM atau hubungan seksual ekstrem lainnya hingga berakhir seperti ini?

Norin menghela napas dengan kasar, semua spekulasi dan teka-teki dalam kepalanya membuatnya sesak. Tiba-tiba Norin disadarkan dengan sebuah kemungkinan, ia teringat kembali detail pertemuannya dengan wanita bergaun merah itu. Ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan access card penthouse, di sana tertulis Whitehall Penthouse. Norin juga mengingat jika dirinyalah yang memungut kartu tersebut saat bertabrakan dengan wanita bergaun merah itu. Jadi kemungkinannya sangat besar bahwa wanita tersebut adalah penolong Jonathan Alden. Norin berdiri dan berlari menuju ruang tunggu IGD dimana ia tadi melihat wanita itu.

Tapi, keberuntungan tidak kembali berpihak padanya. Wanita itu menghilang, pikirannya kembali buntu. Norin terduduk kembali, matanya terpejam kuat. Seseorang menepuk pundak Norin dan membuatnya sedikit terkejut. Ia mendongak dan mendapati Jacob− Kepala Keamanan Perdana Menteri− berwajah pucat seperti dirinya. Norin tidak tau apakah Jacob berwajah pucat karena mengkhawatirkan keselamatan Jonathan, namun yang pasti ia tahu bahwa beban pikiran Jacob sama besarnya dengan dirinya. Semua orang yang bekerja dengan Jonathan saat ini pasti sedang kalut, memikirkan bagaimana lolos dari situasi yang kemungkinan besar akan berakhir dengan dipecat atau bahkan lebih ringan diturunkan pangkatnya karena membuat kelalaian yang menyebabkan seorang pejabat penting sekarat.

"Semua Ajudan yang berada di rumah sakit ini adalah anak buahku dan personil yang resmi terdaftar sebagai tim keamanan Perdana Menteri. Kemungkinan besar pelakunya adalah Jessie dan ajudan yang bersama Tuan Jonathan adalah komplotannya. Besok pasti aku akan di panggil menghadap ke kesatuan untuk memberikan kronologisnya dan kemungkinan kita berdua akan di interogasi oleh pihak kepolisian. Apa yang terjadi pada Tuan Jonathan di Penthouse? Beritahu aku detailnya?" tanya Jacob dengan tegas dengan wajah yang berubah menahan emosi.

'Astaga, apa yang harus kulakukan saat ini? Jacob adalah orang asing bagi Tuan Jonathan, ia bahkan tidak tahu hubungan Jonathan dan Jessie? Ah, mungkin saja dia memang sudah curiga juga, tapi tidak memiliki bukti. Tapi sebelum dia benar-benar mengatakan bahwa dia mengetahui rahasia Tuan Jonathan, aku tidak boleh mengatakannya. Tapi bahkan dengan menghindari Jacob saat ini juga tidak menuntaskan semua masalah, aku pasti akan diinterogasi kembali oleh pihak kepolisian. Apa yang harus aku lakukan? Tuan Jonathan tolong aku!!!!' batin Norin yang sudah sangat frustasi dan ingin menjambak rambutnya tapi harus memasang wajah tenang dihadapan Jacob.

Norin berpikir dengan keras untuk menemukan jalan keluarnya tapi buntu, ia semakin terdesak. Jika ia berdiam lebih lama, akan sangat mencurigakan. 'Ayo, Norin buatlah keputusan! Apa keputusan yang Tuan Jonathan inginkan ? Ah, iya. Norin, ayo berpikir seperti Tuan Jonathan! Berpikir seperti Tuan Jonathan... berpikir seperti Tuan Jonathan...'

Sebuah ide muncul di kepala Norin, keputusannya sudah bulat. Ia akan memberikan semua fakta kecuali hubungan Jonathan dengan Jessie. "Tuan Jonathan pergi untuk makan malam dengan kekasihnya, aku dan Jessie menemani seperti biasa. Karena pacarku menelepon, akhirnya aku pulang terlebih dahulu karena memang tugasku dan Jessie hanya menyiapkan keperluan makan. Aku tidak tau apa yang terjadi setelahnya,"

"Apakah yang meneleponmu itu kekasih Tuan Jonathan?" tanya Jacob pada Jonathan.

Norin terjebak juga dalam kebohongannya, tapi ia juga harus mengakui bahwa ia sempat lalai. Mungkin ia harus mempercayakan semua pada wanita bergaun merah itu, karena semua keanehan ini lebih memberatkan Jessie. " Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah bertemu kekasih Tuan Jonathan. Tapi, wanita itu sempat bertabrakan denganku dan tidka sengaja kartu akses penthouse Tuan Jonathan tertukar. Sejak saat panggilan darurat Tuan Jonathan, aku tidak pernah bisa menghubungi Jessie. Aku tidak mengetahui detailnya. Dan aku yakin saat wanita itu menelpon Tuan Jonathan masih sadar."

Jacob hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak sepenuhnya percaya pada Norin. Tapi harus di setujui bersama bahwa Jessie sangat mencurigakan.

*****

Velosia, Reveria, 2017.

Setelah menempuh perjalanan selama lima jam dengan bus, Summer tiba di Velosia saat matahari sudah terbit. Udara pagi Velosia memang sangat berbeda dengan East End, kesejukan langsung menyambut Summer saat turun dari bus. Tanpa membuang waktu, ia segera menuju area pusat informasi, di mana terdapat papan pengumuman yang menjadi jendela kota ini. Papan tersebut penuh dengan beragam informasi. Dari pengumuman orang hilang hingga promosi destinasi wisata yang memukau, dari pembukaan restoran baru yang menggiurkan hingga iklan pencarian jodoh yang penuh harapan, semuanya terpajang di sana. Summer memandang papan itu dengan mata yang tajam, berharap menemukan petunjuk atau peluang untuk bertahan di kota yang ramai dengan mahasiswa dan wisatawan ini.

Mata Summer tertuju pada sebuah pengumuman mengenai kamar kecil untuk disewa di pusat kota, dekat dengan universitas, dengan harga yang terjangkau. Tanpa membuang waktu, ia mengikuti peta yang diberikan secara gratis oleh pengelola terminal kepada para turis, menuju tempat yang dituju.

Summer memutuskan untuk berjalan kaki. Jalan-jalan kecil yang ia lalui mengingatkannya pada East End, namun ada perbedaan mencolok. Rumah-rumah di Velosia sangat bersih dan indah serta trotoar yang rapi tanpa bau tidak sedap. Bau harum makanan dari sebuah rumah makan sederhana mengganggu perutnya yang keroncongan. Summer memutuskan untuk beristirahat dan makan sebelum melanjutkan pencarian.

Restoran yang ia datangi tidak terlalu besar, hanya memiliki 7 meja kecil yang bisa menampung 4 orang. Summer duduk dan memperhatikan sekeliling rumah makan itu, hingga seorang wanita dengan rambut yang sudah sedikit memutih menghampirinya. "Kami baru saja buka, apakah tidak apa-apa jika waktu memasaknya sedikit lama?" tanyanya dengan ramah.

Summer hanya mengangguk, wanita itu pun menyodorkan sebuah buku menu. Summer memesan sup krim jamur untuk sarapannya, walaupun sejak tadi malam ia tidak makan tapi saat ini tubuhnya butuh asupan untuk perjalanan. Sambil menunggu, ia tak sengaja mendengar keributan di dapur restoran yang jaraknya tidak begitu jauh dari mejanya.

"Cobalah kamu cari tenaga lain untuk cuci piring, Samia baru saja melahirkan. Mungkin butuh waktu lebih dari tiga bulan untuk pulih, kita akan kerepotan kalau sedang ramai," ucap seorang pria di dapur.

"Iya, nanti aku akan memasang pengumuman," jawab wanita yang tadi menghampiri Summer.

Summer menduga restoran ini dikelola keluarga, dan orang-orang di dapur adalah pasangan suami istri pemilik rumah makan. Pekerjaan sebagai pencuci piring adalah pekerjaan sederhana dan tidak mencolok. Pembayaran gaji ini direstoran ini juga pasti tunai dan tidak butuh identitas yang resmi. Summer berpikir jika ia perlu mencari sebuah pekerjaan untuk menghidupi selama di dalam pelariannya. Bekerja di restoran juga mungkin akan menghemat biaya makannya.

Dengan sedikit menaikkan topi untuk memperlihatkan wajahnya tanpa sepenuhnya terlihat, Summer bertanya kepada wanita tersebut. " Maaf tadi aku mendengar Anda membutuhkan pekerja? Berapa yang bisa saya dapatkan jika bekerja sebagai pencuci piring?"

Wanita tersebut terlihat terkejut sejenak , "Kami buka jam enam pagi hingga sembilan malam. Kau boleh datang jam tujuh pagi, tapi saat pulang kau harus membantu kami untuk membersihkan dapur. Restoran kami cukup ramai, dan kami akan membayar delapan dolar perjam. Untuk sarapan, makan siang dan makan malam, kau boleh ambil dari restoran kami. Bagaimana apa kau tidak keberatan?"

Summer merasa senang dengan tawaran tersebut dan mengangguk. "Saya baru saja sampai beberapa menit yang lalu dan ingin pergi ke penginapan setelah ini. Namun, saya bisa mulai bekerja pukul dua siang," jelasnya, sedikit menambahkan kebohongan untuk menutupi situasinya.

Summer hanya menjawab dengan anggukan dan wanita itu kembali menjelaskan sesuatu. "Namaku Peggy dan itu suamiku Shwan. Kami sudah tua, biasanya ada anak perempuan kami dan suaminya yang membantu tapi anakku baru saja melahirkan dan mereka sedang fokus dnegan keluarga baru mereka. Jika aku boleh tau siapa namamu, Nona?"

Summer terkejut, disaat seperti ini ada rasa sedih terbersit dihatinya. Sebuah nama yang indah terpikirkan olehnya, dengan sedikit ragu ia menjawab, "Namaku.....Jasmine."

Wanita bernama Peggy itu mengangguk puas. "Baiklah, selamat menikmati makanannya. Dan kau bisa memulai pekerjaan jam dua siang. Kami akan menunggumu, Jasmine."

4 Hari Kemudian

Saat Summer sibuk di dapur restoran, tayangan berita dari radio kecil di sudut ruangan menarik perhatiannya.

"Perdana Menteri Reveria, Jonathan Alden, saat ini masih dalam kondisi koma setelah menjalani perawatan intensif dan tindakan bedah akibat penyerangan yang dialaminya. Pihak kepolisian telah mengantongi beberapa nama yang diduga terlibat dalam serangan tersebut. Jessie, sekretaris pribadi Jonathan Alden, bersama seluruh tim ajudan yang mendampinginya pada hari kejadian, dilaporkan tidak diketahui keberadaannya. Mereka kini ditetapkan sebagai terduga pelaku penyerangan."

Suara berita tersebut mengalihkan perhatian Summer dari pekerjaannya, menyadarkannya kembali akan dunia luar yang masih penuh dengan bahaya dan ketidakpastian.

"Pihak kerajaan telah memberikan izin untuk dilakukannya penyelidikan besar-besaran terkait kasus ini. Kepala Polisi Reveria mengumumkan pembentukan satuan tugas khusus yang akan bekerja sama dengan tentara kerajaan untuk menyisir wilayah East End dalam rangka mencari para tersangka."

Rasa lega bahwa bukan dirinya yang dicurigai menguap seketika. Summer merasa ketakutan saat menyadari bahwa kasus ini mungkin bukan hanya kasus penyerangan atau percobaan pembunuhan semata. Sepertinya Raja menganggap bahwa ini sebuah pemberontakan. Jantung Summer kembali berdetak kencang, tangannya tanpa sadar mulai bergetar. Ia berusaha keras untuk tetap fokus pada berita yang disiarkan.

"Dalam perkembangan terbaru, kesaksian mengejutkan muncul dari beberapa narasumber di rumah sakit tempat Perdana Menteri dirawat. Seorang saksi mata yang berada di rumah sakit mengungkapkan, "Ada seorang perempuan bergaun merah yang mendampingi Tuan Jonathan saat dibawa ke IGD rumah sakit. Saat itu, saya baru saja keluar dari IGD setelah mengantar teman saya yang mengalami kecelakaan." Hingga saat ini, pihak kepolisian belum berhasil mengidentifikasi wanita tersebut.

Penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap motif di balik penyerangan dan menangkap para pelakunya. Masyarakat diminta untuk memberikan informasi yang mungkin membantu proses penyelidikan"

Summer berpikir bahwa pelarian ini bukanlah sementara. Dengan ketatnya protokol penyelamatan, sterilisasi IGD, ruang penanganan khusus, semua itu tampat tidak berguna. Mereka akan tetap memberi kesaksian, dan mereka melihat Summer. Semua harapan Summer untuk menyelamatkan panti asuhan seakan pupus, hanya ada gambaran masa depan yang buruk, mungkin ia akan di hukum mati atau paling ringan adalah penjara seumur hidup.

*****

Eldoria, Reveria, 2017.

Sementara itu, di sebuah kastil di pinggiran Kota Eldoria. Seorang pria berbaring di kursi panjang dengan segelas wine di tangannya, menikmati momen berjemur dengan tenang di bawah sinar matahari. Di samping kirinya, seorang pelayan pria memegang tablet yang menyiarkan sebuah berita dari radio digital dengan wajah yang pucat, sedangkan pria berjas hitam yang sangat formal berdiri di sisi lain, sedikit menunduk menunjukkan sikap penuh hormat.

Selama berita disiarkan, pria yang berbaring itu hanya mendengarkan dengan senyum sinis. Namun, begitu berita selesai, tawanya menggema di seluruh ruangan, menandakan kepuasan yang menakutkan. "Ini sangat bagus! Aku suka kerja mereka. Tapi kau harus cari tau siapa wanita itu? Jika dia tahu tentang rencana kita, kau harus segera membunuhnya," katanya dengan nada yang penuh kebanggaan.

"Baik tuan, lalu bagaimana dengan sekertaris itu?' tanya pria berjas, masih dengan sikap hormatnya.

"Kita lihat nanti," jawab pria yang berbaring sambil menggoyangkan gelas winenya. "Jika rencana ini sesuai dengan yang aku inginkan, beri dia reward. Kita turuti permintaannya untuk mengirimnya keluar negeri. Tapi jika ia melakukan kesalahan, kau harus membunuhnya. Pastikan semua jejaknya tertutupi sempurna."

Pria berjas itu pergi setelah menerima perintah. Sementara tuannya masih berbaring menikmati winenya di pagi hari yang cerah. Dengan nada yang pongah ia kembali bersuara, "Jonathan, semua impianmu tidak akan pernah tercapai. Baik itu kasih sayang keluarga, cinta dari kekasih atau kebanggaan sebagai pria berkuasa. Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia!"

Tawa kembali menggema di ruang kastil, menyebarkan rasa tegang dan ancaman yang mendalam. Memperingatkan semua orang bahwa rencana-rencana gelapnya akan berhasil merenggut satu nyawa.

.

.

.

.

.

.

.


Apa yang kalian pikirkan tentang postingan Mr. Jo ini? 

Sudahkah kalian siap membaca kelakuan Mr. Jo lainnya? 

Yang penasaran, tetap pantau cerita mereka, ya!😘

Terima kasih untuk vote dan commentnya🙏🥰

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro