
Dua
Lanjut kita nostalgila ama Bhumpret sama Bebih Bulan, yes?
***
Benar. Si bos jadi makin aneh. Kepalanya, matanya, lehernya, jadi sering terpaku ke arahku (dih, geernya setengah mampus). Tapi, sungguh aku tidak bohong saudara-saudara. Saat kami melakukan liputan di luar, dengan Pak Bhum yang pada akhirnya mau memakai seragam khas TV Lima yang jadi kebanggaan semua orang, dia jadi amat baik kepadaku.
Padahal, biasanya dia selalu mengoceh dalam bahasa gado-gado yang membuat kepalaku puyeng. Bukannya aku bodoh dalam bahasa Inggris, tapi, lidah Jawaku bikin aku susah buat totalitas beraksi. Nilai reading dan writing-ku cukup oke. Makanya tukang baca berita sombong yang sekarang sedang memegang mikrofon di depan sana itu, sering menyuruhku membaca segunung berita dari luar negeri dan menuliskan intisarinya buat dia.
Tolong, deh, Pak. Dirimu cuma perlu baca, tok. Bukankah bahasa Inggrismu super bagus? Bule banget, malah. Tapi, dia senang sekali menyiksaku sampai pening.
"Mbak, minggir, dong. Gue mau foto Mas Bhumi." Sebuah suara membuyarkan konsentrasiku. Seorang perempuan berambut sebahu, memakai kemeja putih tipis yang menampakkan kaos dalam berupa tanktop mendorong tubuhku yang sedang dalam posisi mengamankan Pak Bhum dari incaran penggemar saat dia sedang melakukan liputan langsung seperti ini. Aku hanya membalas santai, "Nanti ya, Mbak. Pak Bhumi sedang siaran." yang malah mendapatkan balasan gerutuan super jutek dari bibirnya.
"Kagak boleh banget, sih. Situ siapanya, berani melarang-larang?"
Cih, aku benci banget situasi kayak gini. Mesti aku menjelaskan siapa aku? Asistennya, anak magang di TV Lima? Bisa-bisa mereka bakal tertawa terbahak-bahak. Masih magang, kok, belagu.
Terima kasih kepada Bapak Adrian Lima, bos kesayangan semua, yang tidak pernah membeda-bedakan pangkat dan jabatan pegawai. Semua orang diberi seragam yang sama dan penanda kalau kami adalah anak magang, pegawai, kru, hanyalah badge yang tergantung di dada. Tapi yang bisa dibaca oleh orang-orang hanyalah tulisan tugas kami. Pembedanya adalah warna. Biru adalah anak magang, merah adalah pegawai kontrak, dan kuning adalah pegawai tetap.
Lalu apa warna badge Pak Bhum? Tentu saja kuning. Warna yang menjadi cita-cita sembilan puluh sembilan persen anak magang TV Lima. Satu persennya tentu saja aku. Aku nggak mau jadi pegawai tetap di sini. Cita-citaku setelah selesai magang, ya, balik ke Jawa dan jadi istrinya Mas Arman.
Lulus kuliah juga, tentu saja.
Dan siapa tahu aku bisa melamar jadi honorer di kecamatan, tempat Mas Arman sekarang berdinas supaya bisa terus melihatnya. Nggak kayak sekarang, LDR terus. Kenapa, sih, sinyal di kampung jelek bener? Aku selalu susah kalau menghubungi dia. Padahal kalau telepon Ibu dan Bapak, lancar-lancar saja.
"Nih, ambil."
Aku tidak tahu berapa lama aku termenung gara-gara mendengarkan suara mendayu-dayu Pak Bhum. Saat sadar, suasana sudah sepi dan kabel-kabel sudah diangkut menuju mobil. Pak Bhum sendiri sudah berdiri di hadapanku sambil memegang teh kemasan dalam botol plastik yang menjadi kesukaanku.
"Habis ini saya ke mana lagi?" Pak Bhum bertanya. Dia kemudian ikut duduk di pinggir trotoar seperti aku. Selagi menunggu kru-kru lain membereskan peralatan syuting, aku kadang memilih nongkrong di tempat-tempat adem supaya bisa sekalian melanjutkan menulis bagian-bagian skripsiku. Toh, nanti ketika aku mengetik, aku tinggal menyalin saja.
Gara-gara itu juga, Pak Bhum yang santai meneguk air teh miliknya, menjulurkan leher, mengintip buku agendaku.
Agendanya.
Ah, mbuh. Gara-gara buku agendaku hilang, Pak Bhum lalu membelikan aku agenda cantik ini dan dia selalu nyengir setiap aku membukanya lalu menghabiskan puluhan menit waktuku demi mencari ilham dan sekalian merancang jadwalnya buat beberapa hari supaya tidak bertabrakan dengan jadwalnya sebagai selebriti yang harus syuting iklan, pemotretan, atau wawancara.
"Udah kamu coret-coret?" Pak Bhum bertanya sambil menyeruput teh dingin dengan sedotan. Matanya melirik ke arah agendaku yang kini sudah kutarik hingga menutupi dadaku sendiri.
"Bapak ngapain ngintip-ngintip? Mau cek isi agenda saya? Jangan, Pak. Ini wilayah khusus perempuan. Laki-laki dilarang ngintip." Aku mengibas-ngibaskan tangan kananku. Meski dia tidak bakal melirik pun, aku harus mengatakan semua itu kepadanya.
"Eh, Bapak malah ketawa. Emangnya lucu, Pak?" Seruku setengah jengkel.
"Gara-gara agenda lama saya hilang, saya mesti nulis ulang draft skripsi saya." aku merepet panjang lebar, "saya sudah bikin sampai bab dua, loh." aku kembali menggerutu.
"Memangnya kamu tidak simpan di laptop?" Pak Bhum melepaskan sedotan dari bibirnya yang entah kenapa merah padahal dia bukan perempuan. Dia juga tidak habis mencium cewek.
Bikin iri, kan? Bibirku aja kalau dilihat-lihat agak dower sedikit. Mesti pakai lipstik warna cerah dan matte biar nggak terlihat offside. Kalau aku berani pakai lipstik glossy, warna merah cabe pula, bakal habis aku diketawai Gema karena dikira barusan makan gorengan dengan minyak-minyaknya.
"Biasanya saya tulis dulu, baru nanti ketik pakai laptop. Kalau lagi kerja gini, kan, nggak sempat buka-buka laptop. Pulang magang udah hampir malam, jam tiga juga mesti bangunin Bapak. Paling banter saya ngetik di akhir pekan atau pas jadwal saya off.
Pak Bhum hanya menganggukkan kepala seolah paham deritaku sebagai anak magang garis miring kacungnya Bhumi Prakasa Harjanto yang nyebelin. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, Pak Bhum yang sekarang udah mulai manusiawi, sih. Udah mau ketawa balas guyonan Om Pel, padahal biasanya, boro-boro. Melirik aja dia kayaknya ogah. Padahal, mereka, kan, manager sama artis.
"Kamu mau siomay?" Pak Bhum tiba-tiba bersuara lagi tepat saat aku baru saja menuliskan titik setelah tulisan beton di dalam agendaku. Gara-gara itu juga, aku lantas mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya, "Mau, dong, Pak. Emangnya mau beliin? Saya lagi bokek, nih." Aku menarik saku celanaku yang memang kosong melompong.
"Boleh." Dia menyeringai. Lalu meletakkan kedua tangannya di depan bibir menyerupai bentuk TOA dan berteriak lantang ke arah depan kami.
"Siomay." Dia berseru, lalu melambaikan tangan begitu abang penjualnya menoleh.
"Lho? Lho? Pak? Serius mau traktir Ulan?"
Dia mengangguk. Aneh, kan? Aneh? Betuuul? Seorang Bhumi Prakasa bisa mentraktir aku di pinggir jalan pula.
Dih, bosku abis kena timpuk siapa, sih, bisa baik begitu?
"Yes." Pak Bhum menjawab pendek. Dia tersenyum lebar memamerkan giginya yang rapi, membuat aku menyipitkan mata demi menemukan perbedaan antara giginya yang sudah copot dengan gigi barunya yang ternyata, mahal pake banget, saudara-saudara.
Om Pel bilang, sebiji gigi implan Pak Bhum paling murah dua puluh lima juta. Bayangkan harga dua gigi bosku yang protol dijotos mantannya, lima puluh juta, MasyaAllah. Bisa beli dua atau tiga motor. Tapi, Om Pel bilang, gigi Pak Bhum yang baru ini bakal sekuat yang lama karena dia dipasang di tulang gigi.
Nggak usah tanya seperti apa prosedurnya. Aku nggak tahu dan nggak mau tahu.
Alhamdulillah, dari kecil aku rajin sikat gigi dan ogah makan yang manis-manis, sehingga gigiku belum ada yang bolong. Jadi aku nggak pernah tahu rasanya menderita kayak lagi Meggie Z, yang lebih suka sakit gigi daripada sakit hati.
"Itu, penjualnya sudah datang. Cepat kamu pesan." Pak Bhum memberi perintah yang membuat aku hampir melongo.
Idih, kenapa bos ku jadi sebaik ini, sih? Bikin curiga aja.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro