Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

◇ Bab 14: Penyelidikan Dimulai

Asher berbaring di atas kasur lembut. Sudah berganti dengan set baju tidur. Walau malam masih panjang, matanya tidak bisa terlelap sama sekali. Perasaan Asher campur aduk. Dia masih memikirkan tentang Marchioness.

Saat kembali bersama keluarga kandungnya, jujur Asher tidak begitu merasakan apapun. Dia hanya fokus untuk bertahan hidup, lepas dari kejaran Count Lay.

Kalau dihitung-hitung, Asher meninggalkan panti pada umur sebelas tahun, lalu tiga tahun lebih dalam pelatihan yang dilakukan Count Lay dan masuk di kediaman Marquis baru berjalan sekitar dua setengah tahun.

Waktu itu belum lah cukup untuk mempererat hubungan Asher dengan keluarganya. Namun, keadaan Marchioness sangat menyedihkan. Asher suka tinggal di panti karena itulah dia bisa bertemu dengan Ivy. Di sisi lain, Asher juga ingin mendapatkan hak-hak yang seharusnya diterima.

“Aku tidak mau berhenti di sini. Aku ingin mengenal Marquis dan Marchioness lebih dalam lagi ….” Asher meletakkan lengannya di dahi.

Kepala Asher dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang tidak terkendali hingga akhirnya tiupan angin dari balkon berhasil menidurkan lelaki itu.

***

Nyanyian burung-burung  bertengger di depan balkon pun membangunkan Asher. Dirinya lebih segar sehabis istirahat. Asher duduk di ranjang mengumpulkan nyawa. Matanya masih belum terbuka sempurna. Rasa kantuk terus menyuruhnya untuk kembali tidur. Akan tetapi, Asher tidak bisa. Dia harus menemui Marquis hari ini.

Asher pergi ke kamar mandi pribadi. Tetap tidak ada pelayan yang membantu persiapan untuk mandi atas permintaan Asher. Lagipula bila mereka tahu bekas luka lama yang membekas di punggung Asher, pasti akan langsung melaporkan pada Marquis. 

Asher membasuh wajah dan berendam di bathtup.

Ketukan pintu terdengar. "Tuan Muda," panggil Teon. Asher beranjak dari tempatnya dan memakai jubah mandi.

Dia membukakan pintu untuk Teon, kepala pelayan keluarga Rognvaldr.

“Marquis dan Marchioness mengajak Anda untuk sarapan bersama.”

“Baik, Aku akan segera ke sana.”

Asher dengan cepat memakai kemeja formal dan pergi ke ruang makan. Saat memasuki ruangan sudah ada Marquis dan Marchioness di sana.

“Selamat pagi Marquis dan Marchioness,” salam Asher sembari membungkukkan badan.
Marquis mengangguk. “Duduklah, Asher.”

Makanan dibawakan oleh para pelayan. Hanya hadir suara dentingan alat makan. Tidak ada percakapan sedikitpun. Selalu seperti ini walau sudah beberapa kali makan bersama.

Asher berhenti menyuap makanan. Marchioness menyadari sikap Asher dan bertanya, “Kenapa Asher? Apakah makanannya tidak enak?”

Marquis ikut memandang Asher.

Asher tersenyum. “Tidak, Marchioness. Makanannya enak.”

Raut wajah Marchioness sedikit sedih. “Asher, tidak apa-apa bila kamu memanggilku sebagai Ibu dan Marquis sebagai Ayah.”

Tanpa keraguan, Asher membalas, “Baik, Ibu.”

Suasana kembali hening dengan Marchioness melanjutkan makan.
Asher memutuskan untuk buka suara. “Ayah,” panggilnya.

Marquis menoleh. Asher menaruh garpu dan pisau makan miliknya.

“Aku ingin berbicara dengan Ayah sebentar nanti. Apakah boleh?” Asher tidak berani menatap Marquis.

“Bisa. Datanglah ke ruang kerjaku siang nanti. Ada jadwal kosong saat itu.”

***

Asher sudah sampai di depan ruangan Marquis. Dia hanya berdiri di sana sedari tadi. Asher masih mempersiapkan tentang apa yang akan dikatakannya kepada Marquis nanti.

Asher tidak memegang gagang pintu. Namun, dari sisi lain pintu sedikit terbuka. Teon muncul. Asher tersenyum canggung. Sepertinya habis berbicara dengan Marquis.

“Tuan Muda, silakan masuk. Saya dengar Anda akan menemui Marquis,” suruh Teon. “Saya harus pergi terlebih dahulu, ada keperluan yang harus saya tangani. Berbicaralah dengan nyaman bersama Marquis,” ucap Teon sebelum membungkukkan badan dan pergi.

Asher memasuki ruangan. Tidak ada siapapun di sana kecuali Marquis. Banyak sekali rak-rak buku di ruang kerja Marquis. Marquis yang tengah membaca dokumen pun melepaskan kacamatanya.

“Kamu boleh duduk, Asher.”
Marquis merapikan dokumen-dokumen yang berantakan di atas mejanya sebelum duduk berhadapan dengan Asher.

“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?” Marquis menatap lurus Asher.

“Ayah, maaf. Kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu.”

“Tidak apa-apa. Maafkan kami menunjukkan sisi yang menyedihkan.” Marquis tersenyum pahit.

“Ayah, sebenarnya …,” Asher memainkan jari-jarinya. “Saya ingin mendengar dari Ayah tentang bagaimana aku lahir dulu. Aku awalnya ingin bertanya kepada Ibu. Akan tetapi, keadaan kemarin membuatnya jelas bahwa aku lebih baik tidak bertanya kepadanya. Keadaan Ibu masih tidak stabil walau kejadian tersebut sudah lama berlalu,” jelas Asher.

Marquis tidak menjawab. Asher hanya akan menunggu sampai beliau mengatakan sesuatu.

Mata Asher dan Marquis bertemu. “Hari itu, Ayah dan Ibu sedang menyusuri taman. Ibumu ingin melihat bunga. Semuanya baik-baik saja sampai saat perutnya mengalami kontraksi. Ayah akhirnya membopong Ibumu yang akan segera melahirkan ke kediaman Marquis. Juga memanggil dokter untuk membantu persalinan.”

Asher mendengarkan dengan saksama. “Penjagaan saat itu memang sedang longgar karena sebagian sedang menjalankan tugasnya untuk berpatroli di wilayah Rognvaldr. Ayah seharusnya juga ikut berpatroli, tapi Ayah pikir akan pergi setelah membawa Ibumu ke taman. Ternyata kamu ingin keluar lebih cepat.”

“Ayah menunggu sampai suara isak tangis bayi terdengar. Ayah pikir sudah bisa lega karena kamu lahir ke dunia. Ayah masuk melihatmu dan memberi nama untuk kamu yang baru saja lahir.” Marquis menghela napas. 

“Kabar baik itu tidak bertahan lama. Ternyata, Ibumu mengalami pendarahan. Tubuhnya memang tidak terlalu sehat sedari dulu. Semua orang panik. Banyak pelayan yang ditambah untuk membantu dokter.”

“Begitu pun kamu. Kamu dibawa ke ruangan lain karena keadaan sangat kacau. Orang berlalu lalang ke sana kemari. Beberapa jam berlalu hingga kondisi Marchioness kembali stabil."

Marquis memandang jauh sebelum melanjutkan bagian selanjutnya.
"Sayang, kabar buruk langsung menimpa kami. Kamu dilaporkan menghilang. Hal itu terjadi karena sibuknya orang-orang saat kondisi kacau digunakan untuk menculikmu.”

“Maafkan Ayah tidak bisa menjagamu dengan benar.” Marquis menundukkan kepala. Dia sangat malu tidak sebagaimana mestinya menjadi sosok kepala keluarga maupun ayah bagi anaknya yang baru saja lahir. Asher tidak bisa berkata apapun. Lidahnya kelu.

Mengapa seseorang begitu kejam menculik dirinya saat baru lahir?
Bahkan tidak sampai beberapa jam dan disaat kondisi Marchioness melemah. Asher tidak habis pikir.

“Tidak apa-apa, Ayah. Aku bisa berada di hadapan Ayah saat ini menandakan bahwa Aku hidup dan sehat." Asher memberi penghiburan kepada Marquis.

“Semenjak kehilanganmu, Ayah tidak menyerah mencarimu kemana-mana. Berharap kamu masih hidup walau berada jauh dari Ayah. Terima kasih sudah datang kembali ke kami.”

Ruangan hening. Dada Asher sangat sesak. Dia tidak bisa membawa lebih jauh lagi pembicaraan ini. Marquis Juga sudah terpuruk, berbeda dari awal sebelum membahas topik ini.
Asher berlutut memegang tangan Ayahnya. “Aku tidak pandai berkata-kata. Akan tetapi, terima kasih juga Ayah dan Ibu sudah menerima Asher kembali.” Asher sungguh-sungguh berterima kasih dari lubuk hatinya terdalam.

“Maafkan aku membuat ayah mengingat kejadian menyakitkan itu. Aku pamit keluar terlebih dahulu, Ayah. Ayah juga harus selalu memperhatikan kesehatan Ayah.” Asher beranjak dari tempatnya dan akan bergegas keluar.

“A-Asher!” panggil Marquis sebelum Asher keluar.

“Beritahukan kepada ku apa saja yang kamu butuhkan, paham? Ayah akan coba mengabulkannya.”  Asher mengangguk.

Setelah hari itu, beban di dalam hatinya sedikit berkurang. Asher lega tentang fakta bahwa dia tidak ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namun, seseorang yang menyebabkan dia terpisah. Asher bersumpah kepada dirinya sendiri untuk segera menemukan pelaku yang memisahkan dia dengan keluarganya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro