
9 - Aria
Rasa sakit mulai di pergelangan tanganku, itu terus bertambah buruk bersama setiap detik yang aku habiskan dengan tanganku terikat di belakang punggung dalam posisi yang canggung. Kabar baiknya, penyerang sekaligus penculikku sepertinya memutuskan untuk tidak membunuhku. Kabar buruknya? Aku tidak tahu berapa lama dia akan berpegang pada keputusan itu, yang meninggalkanku dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan.
Aku rasa dia juga tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan padaku. Mungkin karena itu dia membawaku ke kemahnya. Ada dua tenda didirikan dengan serampangan menghadap ke apa yang aku anggap sebagai awal dari api unggun. Setidaknya ada empat pria berkulit biru lagi selain penculikku dan semuanya menatapku dengan berbagai tingkat rasa ingin tahu. Meskipun tidak satu pun dari mereka yang mendekatiku setelah penculikku menjatuhkanku ke tanah dan mengikat tanganku pada sudut yang menyakitkan. Mereka bahkan tidak mendekat saat aku berusaha dengan keras untuk duduk dari posisi tengkurapku. Di mana sopan santun ketika aku mengharapkannya, ya?
Aku tidak memiliki keraguan jika mereka sedang berdebat tentangku. Sayang sekali karena mereka berbicara terlalu pelan sehingga aku hanya berhasil menangkap beberapa patah kata seperti 'Apa dia?' dan 'Kita bisa meninggalkannya.' Aku tidak suka dengan saran itu sama sekali jika ada yang bertanya padaku. Tiga yang lain tidak banyak mengajukan pertanyaan, tapi satu yang aku anggap paling tua di kelompok itu sepertinya masih berdebat dengan penculikku. Aku berharap dia berdebat untuk melepaskanku tapi aku benar-benar tidak tahu itu.
Beberapa argumen lagi terjadi sebelum akhirnya penculikku menggelengkan kepala dengan tidak sabar dan pergi begitu saja. Hebat! Sekarang apa? Tetap diam? Mencoba mencari sekutu? Cobalah untuk tidak terlihat? Yang terakhir jelas tidak mungkin karena sekarang empat pasang mata sedang menatapku. Jadi aku menawarkan mereka senyum yang ramah, itu sepertinya memberikan efek yang salah karena keempatnya sekarang menyipitkan mata padaku.
"Aku tidak bermaksud jahat. Aku sama sekali tidak bersalah," ucapku karena aku harus mengatakan sesuatu sebelum lidahku benar-benar lumpuh karena ketakutan.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa, dan sepertinya mereka hanya bertekad untuk mengabaikan keberadaanku. Pria yang aku anggap sebagai yang paling tua akhirnya memerintahkan tiga yang lain untuk pergi. Aku tidak tahu ke mana, berburu mungkin? Mencari kayu bakar? Atau mungkin membujuk penculikku untuk kembali?
Itu meninggalkanku sendirian dengan satu yang tertua di antara mereka. Dia menatapku selama satu menit penuh dan aku mulai merasa tidak nyaman di bawah tatapnya.
"Jadi, apakah kalian memutuskan untuk tidak membunuhku?" tanyaku, karena aku harus mengatakan sesuatu. Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ketegangan dan ancaman kematian di cakrawala ini.
"Berburu Flameking adalah kejahatan, tapi hal itu tidak menjamin hukuman mati."
Aku terkejut pada nada suaranya yang lembut, hampir ramah, dan kata-katanya memberiku sedikit harapan. Sampai dia meneruskan kata-katanya.
"Hukuman bagi mereka yang memburu hewan suci Dewi adalah pemotongan pergelangan tangan, atau mungkin dalam kasusmu jari akan cukup. Mengingat kamu menggunakan panah?"
Aku meringis, pemotongan tangan terdengar lebih baik dari pada mati, tapi jika aku memiliki pilihan. Aku lebih suka jika aku bisa lolos dari keduanya.
"Aku tidak tahu kalau itu ilegal."
Pria biru itu memiringkan kepalanya seolah mempertimbangkan jawabanku. Seolah dia bisa melihat kebenaran melalui diriku dan jika memang demikian dia akan melihat aku tidak bersalah.
Tanpa peringatan dia mengambil langkah mendekat dan mengambil posisi berjongkok di depanku. Kedekatannya meresahkan dan aku harap aku bisa membuat jarak di antara kami.
"Siapa namamu?" ucapnya, mengejutkanku. Aku tidak melihat itu datang, aku tidak mengharapkan salah satu dari mereka akhirnya melihatku sebagai pribadi.
"Namaku Aria, aku tidak berasal dari sekitar sini. Sejujurnya aku benar-benar tidak seharusnya berada di sini, tapi aku baru saja terjebak." Aku tahu aku sedang mengoceh tapi aku tidak bisa berhenti saat pria itu sepertinya mendengarkan dengan baik. Saat dia sepertinya mempercayai setiap kata dariku.
"Aku terbangun di semacam kuil, kemudian aku bertemu dengan seorang wanita dari jenismu. Dia memberitahuku hal-hal. Ramalan dan kutukan. Semuanya tidak masuk akal, tapi tidak ada yang masuk akal sejak aku terbangun di sini, jadi mungkin itu tidak masalah.
"Dia menawarkan padaku dan saudariku tempat untuk berlindung. Dia merawat kami saat terluka. Aku tidak ingin menjadi beban, jadi aku menawarkan diri untuk setidaknya menyediakan buruan selama masa tinggal kami. Aku sedang memeriksa semua jerat yang tidak beruntung ketika aku melihat hewan ini. Dan kemudian pria ini—" Aku melihat ke arahnya memeriksa apakah dia masih mendengarkanku. "Laki-laki ini menyerangku. Menuduhku sebagai penjahat tidak peduli apa pun yang aku katakan."
"Jadi maksudmu Jenderal kami baru saja menyerangmu tanpa alasan?"
"Aku memang hampir memanah hewan ini, Flameking? Benar? Tapi aku tidak mau, ada sesuatu yang sangat aneh, perasaan yang tidak dapat aku jelaskan saat aku menatap ke matanya. Aku tidak akan melepaskan anak panah itu. Dan bahkan jika aku melakukannya, aku bisa dibilang tidak bersalah, aku tidak tahu hukumnya. Bagaimana seseorang yang tidak tahu, dihukum dengan cara seperti itu? Bagaimana itu adil bagiku?"
"Jadi kamu menyarankan bahwa Jenderal Crux berlaku tidak adil?"
Aku membuka mulut tapi segera mengurungkan niatku, itu terdengar persis seperti pertanyaan jebakan, dan aku merasa tidak asing dengan nama yang baru saja dia sebutkan.
"Aku tidak bermaksud demikian, tapi jika kamu berada di posisiku, kamu tentu akan memiliki argumen yang sama."
"Jenderal memberitahuku kalau kamu sempat menggunakan sihir yang tidak biasa." Dia menungguku utuk mengatakan sesuatu, dan aku balas menyipitkan mata padanya.
"Apakah ini semacam trik interogasi? Apakah ini saat kalian akan bertanya baik-baik padaku sebelum kalian membawa lebih banyak siksaan jika aku tetap tutup mulut? Karena sepertinya Jenderal memiliki lebih banyak sihir aneh dibanding aku. Dia praktis memanggil kegelapan untuk bangkit atas perintahnya!"
"Jadi memang ada sihir?"
Mereka akan kecewa, karena aku akan menjawab semua pertanyaan. Aku tidak akan memberi mereka alasan untuk penyiksaan.
"Aku hanya bisa memanggil percikan cahaya. Itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kegelapan mengamuk yang Jenderal panggil," ucapku.
Jika aku pikir itu akan menenangkan pria di depanku, aku salah besar karena aku bisa melihat pupilnya yang tidak biasa melebar, seolah dia terkejut.
"Kamu mampu memanggil cahaya?"
Aku mengangkat bahuku dengan sia-sia. "Hanya percikan."
"Dan membuat dirimu berada di dua tempat sekaligus?"
Nah itu pertanyaan yang aneh. Aku menaikkan alisku, undangan baginya untuk menjelaskan lebih banyak, tapi jelas sekali ketika dia tidak mendapatkan undangan itu. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."
"Jenderal mengatakan saat dia menahanmu, dirimu yang lain muncul dan menyerangnya."
Aku ternganga. Aku percaya jika mereka pikir Avery adalah sihirku. Itu konyol.
"Itu sama sekali bukan sihir. Apa yang Jenderal lihat adalah saudara kembarku," ucapku tapi aku tidak melihat pemahaman yang muncul di matanya.
"Saudara kembar?" ucap pria itu.
Aku mengangguk dengan antusias, mereka harus tahu apa itu saudara kembar bukan?
"Kamu tahu ketika seseorang dikandung di saat yang sama. Terlahir di waktu yang sama. Seseorang yang memiliki fisik yang hampir sama persis? Bukankah kalian memiliki anak kembar di sini?"
"Kami tidak."
"Ohh, oke. Baiklah, intinya itu bukan sihir," ucapku berharap dia akan mempercayaiku.
"Dan kamu bisa memanggil cahaya?"
"Agak seperti itu, tapi aku benar-benar payah. Saudariku lebih baik dalam hal memanggil cahaya ini."
Aku tidak yakin apa yang akhirnya meyakinkannya, tapi pria itu memotong tali yang mengikat tanganku. Aku segera mendesah lega, menggosok pergelangan tanganku yang sudah memerah dari gesekan tali yang terlalu erat.
"Jadi apakah saudara kembarmu adalah Yang Cerah? Karena jika memang demikian, kami sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya," ucapnya begitu tiba-tiba.
Kemudian semua itu diklik pada tempatnya. Jenderal Crux. Orang-orang ini, mereka adalah yang dimaksud Ynez, siapa yang seharusnya menjadi pengawalku. Betapa ironisnya itu, huh? Nah sekarang aku tidak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan itu. Bagaimanapun aku dihindarkan dari keharusan untuk menjawabnya karena ternyata penculikku memutuskan untuk kembali.
Aku segera berdiri, tidak ingin ditangkap dalam keadaan rentan. Meskipun jika aku jujur, tidak banyak perbedaan apakah aku duduk atau berdiri.
"Haakon! Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak seharusnya melepaskan dia!" bentak penculikku, yang sekarang aku ketahui adalah Jenderal mereka. Dia terlihat sangat kesal, mungkin masih karena tendangan ke bola. Catatan pribadi, jangan menendang bola jika tidak bermaksud untuk membunuhnya.
Pria yang lebih tua. Haakon hanya mengedikan bahu yang tidak bersalah. "Dia tidak terlihat berbahaya seperti yang kamu katakan."
Jenderal sepertinya tetap tidak setuju, aku benar-benar mulai berpikir itu karena tendangan itu. Jika aku tahu, aku tidak akan melakukannya. Astaga.
"Aku benar-benar tidak bermaksud jahat. Bahkan jika kalian hanya melepaskanku, aku akan pergi tanpa menyebabkan masalah."
"Kamu tidak ke mana-mana," ucap Jenderal, nada seraknya masih membuatku ketakutan.
Aku menghela napas, sepertinya setiap kata dariku sia-sia.
"Baik, tapi tolong jangan mengikatku. Itu menyakitkan."
Aku mengharapkan penolakan lagi. Lebih banyak geraman dan argumen di mana aku berbahaya dan tidak mungkin dia membiarkan aku tidak terikat tapi yang mengejutkanku dia menyentak dagunya. Memberiku isyarat yang jelas tentang di mana dia ingin aku berada.
Aku tidak melawannya, menuruti perintah diam itu tanpa banyak argumen. Aku berjalan ke dekat tumpukan kayu dan duduk di sana seperti tahanan yang baik. Tiga pria lain muncul tidak lama kemudian. Satu membawa setumpuk kayu bakar, yang lain jelas baru saja mengisi kantung kulit dengan air, sementara yang terakhir membawa setidaknya enam ekor Jageon. Semuanya telah dikuliti dan dibersihkan. Ditusuk dengan batang kayu siap untuk dibakar.
Semuanya menatapku, dan aku punya perasaan yang sangat tidak nyaman ketika jelas aku menjadi orang aneh di sini. Aku tidak menawarkan senyum lagi. Alih-alih aku menemui setiap tatapan mereka satu per satu. Memegang kontak mata sampai setiap dari mereka memalingkan muka lebih dulu. Seolah mereka tidak bisa menahan tatapanku.
"Jadi ceritakan tentang dirimu!"
Kata-kata itu mengejutkanku, membuatku terlonjak dan memalingkan muka pada wajah tajam Jenderal. Dia duduk tepat di seberangku saat yang lain menyiapkan api unggun. Aku menatap ke matanya, entah bagaimana merasa tertarik ke dalamnya.
"Aku tidak berasal dari sini." Aku mulai dan aku perhatikan diam-diam mereka semua mendengarkan.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro