Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 8

Selamat datang di chapter 8

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo meresahkan yang suka bergentayangan

Thanks

Happy reading everybody

Hope you like and enjoy this story like I love this story

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Kupikir apa pun yang dilakukan atau berkaitan dengan Alejandro,
aku menyukainya dari segala aspek

—Quorra Wyatt
____________________________________________________

Musim dingin
Santander, Madrid, 17 Februari
08.50 a.m.

Alejandro tidak tahu bahwa dibutuhkan betapa banyak keberanian yang harus kukumpulkan untuk mencium pipinya. Namun, respons yang diberikan pria itu justru meyakinkan aku kalau usaha tersebut hanyalah sia-sia belaka dan menerbangkan kepercayaan diriku.

Smirk smile yang terlihat tampan, cerdas dan penuh kharisma seorang pemegang kendali menghiasi wajah Alejandro ketika dia menuduh, “Wah ... wah ... wah ... pantas saja kau memilih pilar paling bekalang yang sepi. Rupanya kau memang berencana menyerangku ya, Mi Querre?

“T-tidak,” elakku cepat-cepat. Gelengan menyertai tanganku yang bergerak-gerak di depannya guna mempertegas kata-kataku. “Ke-kebetulan sekali kita berhenti di sini. Aku melihatmu murung dari tadi dan itu membuatku khawatir. Apakah terjadi sesuatu padamu? Apakah itu berkaitan dengan proyek ballroom ini? Tapi rupanya bukan dan kau sudah mengatakan ada kaitannya dengan proyek barumu. A-aku hanya ingin memberimu semacam ... penyemangat. Yah, semacam itulah. Jadi, itu tidak ada hubungannya dengan pilar ini sama sekali.”

Selama penjelasan panjang lebar dan cepat itu, aku gelagapan lantaran gugup sekali. Bagaimana mungkin dia bisa meledekku seperti itu? Ih! Dasar Alejandro! Menyebalkan! Membuatku tidak percaya diri saja! Namun, justru bagian itulah yang termasuk salah satu dari sekian hal yang kusukai dari Alejandro.

Em, baiklah. Lupakan soal itu karena kupikir apa pun yang dilakukan atau berkaitan dengan Alejandro, aku menyukainya dari segala aspek. Ini mungkin sangat berkaitan erat dengan rasa cintaku pada pria itu yang kian besar semenjak aku menyerahkan jiwa dan ragaku sepenuhnya pada Alejandro.

“Benarkah?” tanya pria berbadan tegap ini dengan sorot mata yang seolah-olah kapan saja bisa menerkamku hidup-hidup dan aku tidak bisa lari atau melawannya.

“Sungguh.” Aku berdeham sekali sambil memejam beberapa kali dan mengangguk-angguk sebelum melanjutkan, “Ekhm, sepertinya kau sudah kembali bersemangat. Jadi, saatnya kita kembali bekerja.”

Aku mengacungkan tangan dan hendak berbalik arah untuk berniat pergi. Namun, dengan sigap Alejandro menarik kedua pundakku lalu mendorongku secara perlahan, tetapi dengan tenaga yang tak bisa kulawan hingga punggungku menubruk pilar.

Sementara aku mencerna serangkaian gerakan dadakan Alejandro dengan jantung hampir merosot ke perut, dengan kecepatan yang tidak bisa kujangkau, sebelah tangan pria itu mengunci sisi wajahku. Sebelah tangannya yang lain memegang rahangku serta memaksa diriku mendongak untuk menatap sepasang iris gelapnya yang menawan. Aku merasa jiwaku bagai diisap olehnya. Ditambah aroma maskulin khas Alejandro yang berpadu dengan aroma asap rokok, kemampuan berpikir logisku pun nyaris hilang sama sekali.

Sekali lagi pria itu menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum miring lalu berkata tepat sejengkal di depan wajahku. “Kau pikir bagiku akan cukup hanya dengan kau mencium pipiku? Hanya sedangkal itukah? Kau kira status kita hanya sebatas teman, Mi Querre?”

Aku kembali mengacungkan tangan. Baru membuka mulut hendak mengatakan sesuatu—yang sesungguhnya tak tahu apa itu—yang pasti untuk membantah sekaligus membenarkan omongannya. Namun, yang dilakukan Alejandro—sekali lagi—berpotensi kuat memicu kinerja jantungku untuk berdetak dua kali lipat lebih cepat daripada tadi.

Alejandro Redford membungkam mulutku dengan ciuman lembut, tetapi bertekanan kuat dan mendominasi. Bagian menariknya, tidak pernah kusangka sebelumnya kalau rasa nikotin yang Alejandro bagikan bisa akan memberi sensasi berbeda. Ciuman pria itu jadi terasa lebih manis dari sebelumnya, sampai-sampai rasanya kakiku lembek bagai jeli. Tangan-tanganku pun secara otomatis menggapai leher kekasihku agar tidak merosot, linier dengan kedua netraku yang memejam.

Aku baru akan mengikuti irama Alejandro, tetapi dia terburu menarik diri dan berucap di depan wajahku. “Malam ini aku ingin kau menginap di penthouse-ku, Mi Querre.”

Aku tidak bisa menjawab. Toh sepertinya Alejandro juga tidak butuh jawaban. Karena saat aku tengah sibuk merampok oksigen selagi mencerna perkataannya, Alejandro kembali membubuhkan bibirnya di bibirku. Kali ini sangat singkat sehingga aku ragu dia melakukannya atau tidak.

Setelahnya, dia mengusap bibirku secara perlahan menggunakan ibu jarinya dan berkata lagi. “Sekarang, bekerjalah yang rajin karena aku baru saja memberimu suntikan energi.”

Dalam keadaan masih kebingungan dengan kejadian barusan, aku hanya terpekur sambil mengerjap-ngerjap melihat Alejandro sudah menggerakkan kedua kaki yang menyangga tubuhnya untuk menjauhiku dan pergi dari ballroom—asumsiku dia kembali ke ruangannya.

Hingga akhirnya detak jarum jam bergerak sesuai porosnya selama beberapa saat yang singkat dan oksigen yang kuhirup memberikan efek pada otakku, aku baru merasa nyawaku dikembalikan Alejandro ke ragaku.

Detik ini pula, aku ingin berteriak kencang-kencang: Alejandro Rexford .... Bagaimana bisa aku rajin bekerja setelah apa yang baru saja kauperbuat dan kaukatakan padaku?!

Aku mencintaimu! Aku sungguh-sungguh mencintaimu!

Musim dingin
Santander, Madrid, 18 Februari
05.51 a.m.

“Bisakah kau memberiku libur sehari? Gravitasi kasur ini benar-benar berat. Lihat, dia tidak mau melepaskanku.” Dalam balutan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh hingga kepala, aku lebih membenamkan diri di kasur Alejandro sehingga suaraku mendengung. Tak lupa menghidu aroma khas pria itu yang menempel di sprei putih gadingnya—padahal orangnya ada di sebelahku, satu selimut denganku pula. Mataku pun sangat berat sehingga terus memejam sedari tadi.

“Apa maksudmu lebih mesra dengan kasur daripada denganku?” protes Alejandro sambil berusaha menyingkap selimut sampai setengah punggungku tersibak dan udara pagi yang dingin pun menyapa.

Alejandro menyeka rambutku. Permukaan tangannya yang bersentuhan dengan punggungku membuatku merinding. Wajahku pun memanas dan sejujurnya aku rikuh. Benar-benar rikuh. Oleh sebab itu lebih memilih bergumul dalam selimut ketimbang berhadapan dengan pria itu.

Semua ini gara-gara tindakan cerobohku yang disalahartikan oleh Alejandro sebagai provokasi kemarin pagi. Sebaliknya, dia meresponsnya secara berlebihan. Sampai-sampai aku tidak terlalu fokus pada pekerjaanku.

Dan seperti yang dikatakannya kemarin, Alejandro  mengajakku menginap di penthouse-nya. Lalu kami bercinta semalam dan langsung tertidur nyenyak pasca membersihkan diri.

Begitu mentari menunjukkan eksistensinya dan aku dikembalikan keluar dari alam mimpi, pria itulah yang pertama kali kulihat di dunia nyata. Dalam tidur yang nyenyak, wajah Alejandro terlihat damai. Alis-alisnya yang sering berkerut pun normal. Dia memelukku erat. Rasanya nyaman sekali. Seperti dibalut kehangatan yang selalu terjamin. Rasanya, aku tidak mau melepaskan diri hingga Alejandro terbangun, mengecup keningku singkat, meraba-raba nakas untuk mengambil jam weker dan memastikan berapa lama lagi kami harus berangkat kerja. Barulah aku mulai mengeluh soal itu.

“Mi, Querre,” panggil Alejandro lagi yang secara otomatis menarikku dari lamunan. “Apa kasurku lebih menggoda daripada aku?”

“Hm?” balasku masih dengan mata terpejam. Senyum yang terakit di bibirku menandakan geli. Akhirnya aku membuka mata dan mendapati alisnya sudah berkerut seperti biasanya. “Sepertinya begitu,“ godaku.

“Begitu rupanya,” jawab Alejandro tenang dengan suara masih seberat tadi. Lalu dia menyapukan jemarinya ke punggungku lagi secara perlahan dan menyipitkan mata. Gaya nakal Alejandro.

Napasku kontan memberat. Aku pun berusaha tidak cepat-cepat melemparkan diri kepada Alejandro. Sayangnya, sangat susah sehingga aku lebih memilih mengalihkan perhatian dengan bertanya, “Jadi, boleh tidak aku libur?”

Pria itu menghentikan kegiatannya dan mendengkus. “Memangnya siapa yang suka bekerja? Kalau uang bisa datang sendiri, aku lebih memilih di sini seharian bersamamu daripada bekerja. Begitu juga denganmu, kan?”

Aku tak kuasa menahan tawa. Dia membuatku rileks. Aku menyukainya. Aku jadi tidak canggung lagi. “Dasar kau! Mana bisa begitu?”

“Sudah tahu tidak bisa, kenapa masih bertanya?”

“Aku hanya ingin melihat responsmu. Ternyata kau manusiawi,” jawabku sembari memberanikan diri menggesekkan permukaan jemariku ke dagunya yang bercambang. Aku melihat reaksinya menelan ludah. Gelombang kejut menerpaku ketika Alejandro membalik tubuhku hingga menghadapnya yang sedang berbaring dalam posisi miring.

Pria itu merapatkan tubuhku ke dalam pelukannya lalu kembali membersihkan anak-anak rambut yang terurai di wajahku, sebelum mencium bibirku dan menjawab, “Kau pikir aku manusia setengah robot?”

Lagi-lagi aku tertawa kecil mendengar dengkusan Alejandro. “Siapa tahu. Zaman sekarang teknologi sangat canggih. Iya kan?”

“Ck! Berani-beraninya kau, Mi Querre.”

Aku mulai menertawakan Alejandro sampai pria itu mengambil posisi menjulang di atasku dan kembali melahapku dengan tuntutan balasan setimpal. Aku yang tidak kuasa menolak akhirnya kembali menyerahkan diri kepadanya.

Siang ini Alejandro harus bertemu dengan klien sehingga tidak bisa makan siang bersamaku. Oleh sebab itu aku membuat janji makan siang bersama Zurina di Parrilla La Leña. Tempatnya berada di tengah-tengah antara Belleza Pura dan Paraíso del Mundo. Jadi sangat adil bagi kami. Sedangkan Luzi sudah pergi makan siang lebih dulu.

Ketika aku hampir menutup lift, Beatrisa berjalan cepat dari arah depan dan memintaku menahan pintu untuknya.

“Terima kasih,” ucapnya lega. Matanya mengarah pada tombol-tombol lift.

“Mau ke lantai berapa?” tanyaku. Barangkali dia mau meminta tolong padaku, tetapi sungkan.

Senyum menghiasi wajahnya. “Lobi, terima kasih.”

“Sama-sama. Omong-omong, kau tidak pergi menemui klien dengan Señor Rexford?” tanyaku setengah basa-basi, setengah penasaran. Lift pun mulai bergerak turun.

“Maksudmu, Alex? Oh, tidak. Dia lebih suka makan berduaan dengan klien wanita. Dan kenapa kau bisa tahu jadwal Alex?”

Jawaban enteng Beatrisa menumbuk jantungku. Aku sontak menatapnya. Dan bukannya menjawab aku malah bertanya, “A-Alex? K-klien wanita?” Kenapa dia memanggil bosnya dengan sebutan akrab begitu?

Beatrisa membelalakkan mata seolah baru mengingat sesuatu. “Oh! Tuhan, tidak lagi,” gumamnya, tampak menyesal. “Jangan katakan kau juga dekat dengan Alex?”

“Aku pacarnya,” akuku. Sebenarnya aku tidak ingin mengumbar hubunganku dengan Alejandro. Namun, kali ini, kurasa perlu.

Tawa Beatrisa menggema seketika di dalam lift. Señora Wyatt, maafkan aku. Aku turut prihatin padamu. Aku juga dulu mengira Alex pacarku karena dia intens mendekatiku. Tapi saat aku mulai menyukainya, dia menghilang dan bersikap seolah kami tidak pernah dekat melebihi profesi. Begitu juga dengan lusinan wanita lainnya. Mungkin, termasuk klien kami yang dia temui saat ini.”

Lift berhenti di lantai lobi, Beatrisa pun keluar. Sebelum pintu tertutup, dia menambahkan, Señora Wyatt, aku mengatakan ini karena kita sama-sama wanita. Sebaiknya, kau menjauh darinya daripada nanti akan kecewa sama sepertiku.”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo

Kelen luar biasa

It’s a lot to me

Bonus foto Alex dan Quorra lagi picirin

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Rabu, 15 Juni 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro