Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 6

Selamat datang di chapter 6

Tinggalkan jejak dengan vote, komen, atau benerin typo

Thanks

Happy reading everyone

Hopefully you will love this story

♥️♥️♥️

____________________________________________________

Dengan demikian, kendati tanpa susunan huruf yang dirangkai untuk diverbalkan, apa yang kami lakukan sudah mewakili dan memperjelas status kami sekarang

—Quorra Wyatt
____________________________________________________

Musim dingin
Santander, Madrid, 9 Februari
10.42 a.m.

Mengejutkan. Semuanya serba mengejutkan. Mulai dari Alejandro menelepon dan mengajakku bermain ice skating sampai menyetujui akan membantuku mengelupas selotip-selotip yang membingkai pola geometris di ruang tunggu rumah sakit hewan eksotis. Entakan jantung di balik rongga dadaku pun meningkat cepat karenanya. Dan berdiri sedekat ini dengan Alejandro membuatku merasa kecil, tak berdaya sekaligus ingin melemparkan diri ke dekapan pria beraroma kayu memikat ini.

Ugh! Seandainya tahu Alejandro akan menemuiku, seharusnya aku mengenakan pakaian cantik dan beraroma wangi. Bukan ala kadarnya seperti ini dan bau cat. Kurasa, ini buruk. Mungkin aku akan memintanya menungguku mandi dan mengganti pakaian dulu sebelum pergi makan siang dilanjutkan bermain ice skating.

Kupikir sewaktu tidak memberi komentar tentang tiket ice skating pemberian orang tua Nilo, Alejandro tidak tertarik. Lalu aku berencana ke sana bersama Zurina dengan tiket itu. Yang tidak terduga olehku, tiketnya justru disimpan Alejandro dan aku tidak berani memintanya karena ... yah ... toh itu hanya tiket yang bahkan bisa kubeli sendiri. Meski demikian, rupanya harapanku seolah pupus dan membuatku cemberut. Bagaimanapun cuma-cuma itu lebih baik, bukan?

Namun, tiba-tiba pria itu membawa harapan baru dengan berkata menyayangkan tiket-tiketnya kalau tidak digunakan. Karena secara harfiah, tiket itu milik kami. Apakah aku salah sangka mengira Alejandro sedang mendekatiku terang-terangan dengan alibi tersebut?

Oh! Tuhan! Apa yang sebenarnya kupikirkan? Jangan sampai ibu tahu aku sedang mengalami gejala ini. Ibu pasti akan marah besar dan menyuruhku fokus pada karier serta melupakan perasaan—yang dipercayainya merupakan sebuah kebodohan—ini. Seperti yang sudah-sudah.

Semenjak tersibaknya hubungan gelap ayah dengan beberapa wanita di waktu aku masih sekolah menengah atas, ibu menjadi protektif sekali terhadap hal semacam ini. Ibu tidak ingin aku merasakan apa yang ibu rasakan—dikhianati dan mengharuskannya memilih perceraian serta merawatku seorang diri ketimbang memaafkan atau memberi ayah kesempatan. Meskipun pada kenyataannya, aku sudah cukup terkena dampak keluarga tidak utuh sampai dewasa, mandiri dan tinggal sendiri.

Bagi ibu, selingkuh itu mutlak hal yang sangat fatal dalam suatu hubungan apa pun, termasuk sepasang kekasih. Kalau masih pacaran sudah berselingkuh, bagaimana nanti saat menikah? Dan walaupun selama pacaran tidak pernah berselingkuh, siapa yang bisa menjamin pria akan setia selamanya dalam hubungan suami istri? Berdasarkan doktrin itulah aku harus selektif dalam memilih pasangan.

Pertanyaan terbesarku saat ini berlandaskan kontradiksi yang kurasakan terhadap pendapat ibu ialah: siapa yang bisa mengendalikan hadirnya rasa cinta dalam hati setiap umat manusia jika bukan Sang Pencipta alam semesta ini? Lagi pula aku sudah cukup dewasa untuk memilih dengan siapa aku jatuh cinta dan memutuskan akan bagaimana status pria itu di dalam hidupku.

Omong-omong, berhubung masih belum meyakini apa yang baru saja kudengar dari Alejandro, aku memutuskan menanyakan itu sekali lagi. “Sungguh? Kau mau membantuku melepas selotip-selotip ini?”

Wajah Alejandro yang semula sudah ketus, menjadi lebih ketus—bagian yang paling menarik, menurutku. Lengkap dengan jawabannya. “Kenapa tidak? Sudah kukatakan kalau aku sedang tidak ada kerjaan dan bosan melihatmu bekerja. Jadi beri tahu aku harus mulai dari mana.”

Sembari berkacak pinggang, aku melihat sekitar. Di bawah dinding yang baru saja aku cat ada beberapa kaleng cat beserta pengecernya. Juga beberapa kuas yang masing-masing satu berdasarkan warna cat tersebut. Pun, gunting, pencil dan penghapus untuk menggambar pola, selotip, serta tangga yang kugunakan untuk bekerja pada bagian atas yang hampir menyentuh langit-langit.

Aku pun mengarahkan, “Pertama-tama, kita harus menyingkirkan kaleng-kaleng cat, kuas dan benda-benda lainnya.”

Kami bergotong royong menyingkirkan benda-benda yang kumaksud ke bagian ujung ruangan agar tidak menggangu pekerjaan kami selanjutnya.

“Lalu tolong geser anak tangganya agar mudah menarik ujung selotip bagian atas dan itu bagianmu. Tolong hati-hati saat menariknya karena selotipnya menyatukan setiap polanya. Aku akan menarik bagian yang lain.”

“Kau benar-benar jadi bos hari ini,” sindirnya.

Aku tak menggubris dan hanya berterima kasih.

Pria itu menggotong tangga tepat di tengah-tengah dinding lalu mulai menarik ujung-ujung selotip sesuai arahanku. Sedangkan diriku? Bukannya bekerja pada sisi lain agar cepat selesai, aku justru mengamati Alejandro. Meski dalam balutan jaket abu-abu terang, aku bisa melihat otot-otot punggung kekarnya yang bergerak sesuai anggota gerak atasnya mengarah.

Saat menyadari langkah pria itu hendak mencapai anak tangga bawah bersama selotip-selotip yang ditariknya, aku buru-buru mengerjakan bagianku. Namun, karena posisiku yang terlalu dekat dengan dinding, salah satu pola selotip hasil tarikan Alejandro tersangkut di kucir dan beberapa helai rambut cepolku. Aku pun tak kuasa mengaduh karena kesakitan. Rasanya seperti dijambak.

“Maaf, aku tidak sengaja karena tidak melihatmu,” ucap Alejandro. Keketusannya berubah menjadi suara rasa bersalah. Meski manusiawi, ekspresi lain yang kutemukan pada diri Alejandro membuatku merasa lebih mengenal dan dekat dengannya.

“Tidak apa-apa. Salahku juga karena berdiri terlalu dekat,” balasku sambil meraba-raba selotip di kucir dan rambutku untuk berusaha melepasnya. Sayangnya tidak semudah yang kupikirkan.

Alejandro kemudian mengambil inisiatif membantu. “Tunggu sebentar, jangan bergerak. Aku akan bertanggung jawab melepasnya,” cetusnya sembari menuruni tangga lalu membalik tubuhku supaya membelakanginya. Aku bisa melihat pantulan bayangan kami di dinding kaca yang memisahkan ruang tunggu dan meja resepsionis kosong di depan kami. Selain terperangkap aroma khas Alejandro, dadanya yang nyaris menempel punggungku menjadikan konsentrasiku buyar.

“Mendongaklah, Quorra.”

Suara berat Alejandro yang berada tepat di atas kepalaku membangunkan bulu kudukku. Sembari melaksanakan perintahnya, aku mengatupkan bibir rapat-rapat dan mengangkat telapak tanganku ke dada untuk menahan debar jantungku. Di akhir musim dingin ini seharusnya membuat tubuhku menggigil. Pada kenyataannya, pipiku justru memanas akibat posisi kami yang terlalu intim—menurutku.

“Sedikit lagi,” bisik Alejandro yang kian memperparah degub jantungku.

“Nah, sudah selesai,” katanya lagi.

Aku pun menghadap Alejandro dan mendongak untuk menatap sepasang iris gelapnya. “Terima kasih, Alex.”

“Bentuk rambutmu jadi berantakan. Kurasa sebaiknya kau melepas kucirmu.”

“Oh!”

Sentakan kaget menjalari tulang belakangku secepat kilat menyambar di langit mendung kala Alejandro menarik kucirku hingga lepas dan rambutku secara otomatis terurai bebas. Aku tidak bisa bergerak ke mana pun. Kemampuan bicaraku juga lenyap akibat terperangkap tatapan penuh intimidasinya. Sementara tangannya terulur menyematkan sebagian rambutku ke belakang telinga. Lalu menyentuhkan jari-jemarinya yang besar ke permukaan kulit pipiku secara lembut sambil berkata, “Jangan menatapku seperti itu, Quorra.”

Aku menelan saliva sekali dan rasanya susah sekali. “Se-seperti apa?” bisikku gugup luar biasa. Selain benar-benar tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat ini, aku justru mendapati nada menantang yang terselip dalam kalimatku. Lengkap dengan daguku yang sedikit lebih terangkat dari sebelumnya.

Alejandro menyipitkan netra dan menarik salah satu bibir ke atas membentuk smirk smile. “Jangan pura-pura bodoh. Kau pasti tahu betul bagaimana wajahmu saat ini karena tahu aku sedang mendekatimu. Bukankah begitu?” tanya pria itu dengan sorot mata serupa mata pisau yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, orang bisa terjerumus oleh pesonanya dan membiarkan dirinya jatuh sepenuhnya. Sedangkan di sisi lain, perangai Alejandro bisa diartikan sebagai bentuk tuduhan kejam.

Dan kini aku terperangkap dalam dua sisi tersebut. Sehingga kendati tertohok dengan kalimat menusuk itu, dengan susah payah, aku memilih jujur. “A-aku tidak akan bohong. Aku memang tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat ini. Tapi—ya—aku tidak bodoh, Alex. Aku tahu kau sedang mendekatiku dan aku membiarkannya. Aku hanya tidak percaya kau melakukannya padaku.”

Bibir Alejandro menipis sinis sebelum mengucapkan, “Kalau begitu, bukankah sudah jelas seharusnya kita akan menjadi apa, Quorra?”

Dorongan kuat menyentuh dada Alejandro sementara jemarinya masih di pipiku rupanya tidak bisa kuabaikan begitu saja. Jadi, aku pun melakukannya. Dan aku merasakan detak jantung Alejandro yang sama kencangnya dengan detak jantungku meski tak seirama. Hal itu membuatku semakin penasaran dan ingin dia memperjelas maksudnya. Oleh sebab itu aku mendesaknya. “Akan menjadi apa memangnya, Alex?”

Ada jeda beberapa detik sebelum Alejandro menukas, “Aku menginginkanmu menjadi kekasihku, Quorra Wyatt.”

Meski tanpa jarak waktu sedetik pun diriku buru-buru diserbu rasa senang, tetapi satu yang tidak kumengerti; ekspresi muram, sinis dan keketusan Alejandro yang seolah-olah sangat benci karena harus mengungkapkan kalimat itu kepadaku. Sehingga membuatku ragu antara percaya dan tidak percaya.

“Benarkah?” tanyaku impulsif.

Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya sehingga smirk slime yang terbentuk menjadi lebih jelas ketimbang tadi. “Jangankan kau. Aku juga tidak percaya kalau rupanya diriku menginginkanmu sebesar ini untuk menyandang status itu. Jangan munafik, Quorra. Kita berdua sama-sama tahu jawabanmu. Bukankah begitu?”

Alejandro Rexford tidak memberi kesempatan diriku untuk menjawab, berpikir, berlogika atau menduga-duga karena pria berkulit perunggu ini secepat kilat menarik wajahku lebih mendongak. Sedangkan tangannya yang lain menarik tubuhku lebih dekat sampai jarak kecil yang terbentang di antara kami hilang sepenuhnya. Kemudian, dia menunduk dan menyapukan bibirnya ke bibirku.

Seharusnya minimal aku melawan atau memberontak lantaran pria itu terlalu arogan dalam bertindak. Lucunya, kemampuan hidup dalam bentuk pemberontakan yang kumiliki seakan sirna. Pun, sikap defensif yang telah lama dilatih dan ditegakkan ibu kini hilang sejak aku jatuh cinta pada Alejandro. Sehingga aku meninggalkan akal sehatku dan membiarkan tubuhku mengambil alih pikiranku untuk merangkul pria itu serta membalas ciuman lembut Alejandro.

Dengan demikian, kendati tanpa susunan huruf yang dirangkai untuk diverbalkan, apa yang kami lakukan sudah mewakili dan memperjelas status kami sekarang.

Aku hanya berharap, semoga Alejandro bukan termasuk salah satu pria yang memiliki sikap seperti ayah. Dan tetap bersamaku serta tidak berpaling dariku.

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo

It’s mean a lot to me

Bonus foto Quorra Wyatt

Well, see you next chapter teman-teman

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Rabu, 8 Juni 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro