Coba vote dan komen dulu sebelum baca. Jangan lupa di share, biar pas dibukuin yang beli lebih banyak. HAHAHAHAHAHA
***
Sejak dikhianati oleh Rafel, mantan kekasihnya, Isvara tidak lagi mudah percaya dengan siapa pun. Karena jika seseorang yang sudah dia cintai dan mengaku mencintainya saja sampai hati mengkhianati dan menipu uangnya di saat Isvara jatuh dan bahkan satu kakinya lumpuh, orang lain mungkin akan lebih kejam padanya.
Pada kakeknya, Isvara juga sebenarnya tidak percaya. Orang tuanya tidak pernah membahas pria tua itu sama sekali, jadi Isvara memiliki terlalu banyak keraguan.
Sayangnya, tinggal sendiri di ibukota dengan kemampuannya sekarang ... Isvara tahu dia tidak mampu.
Isvara tidak bisa lagi menghasilkan uang. Dia sudah sangat tidak berdaya. Uang ratusan juta yang awalnya bisa dia gunakan untuk membuka bisnis kecil-kecilan bahkan dicuri mantannya sendiri.
Membutuhkan waktu dua jam sebelum akhirnya mereka sampai di pelabuhan kecil pulau. Isvara melihat pemandangan yang cantik. Pantainya benar-benar bersih, dengan pasir putih menawan. Tidak ada sampah yang merusak lingkungan.
Sisi-sisi pantai dipenuhi pohon tinggi yang rimbun. Ada jalan beraspal di kejauhan, sepertinya jalan menuju pedalaman desa.
Kursi roda Isvara diturunkan. Deva sekali lagi menggendong Isvara, membawanya turun dari speed boat dan didudukkan di atas kursi rodanya.
"Tas Mbak Isvara biar aku aja." Galih tampak seperti pria yang jujur. Menggunakan kursi roda di atas pasir pasti sulit. Isvara tampaknya memiliki kesan baik tentang Deva, jadi biarkan Deva yang mengambil alih.
"Terima kasih." Isvara berkata lembut.
Galih menyeringai, "Suatu kehormatan membawakan koper wanita cantik."
Isvara hanya tersenyum lucu. Beberapa wanita di belakang Galih tampaknya agak terganggu. Namun Isvara tidak peduli. Dia meluruskan pandangan saat Deva mulai mendorong kursi rodanya.
"Pemandangannya masih sangat bagus. Mungkin karena nggak semua orang bisa masuk ke pulau ini." Deva menjelaskan tanpa diminta. "Pulau ini, sebagian besar wilayahnya dimiliki Kakek Irman, Mbak Isvara tahu?"
"Cukup Isvara aja." Isvara menjawab ramah. "Deva, kamu sendiri nggak mau dipanggil 'Mas'."
Deva tertawa, "Ya." lalu bibirnya menipis saat dia membisikkan nama terakhir, "Isvara."
Isvara tertegun. Perlahan dia menoleh dan mendongak, menatap pria yang juga sedang menunduk, menatapnya.
Jari-jari Isvara melengkung.
Entah kenapa ... dia merasa tidak nyaman?
Deva tersenyum.
Isvara mengerjap, dia menundukkan pandangan, mencengkeram kursi roda lebih erat.
Firasat apa ini?
Isvara agak ragu. Apa benar pilihannya datang ke pulau ini adalah pilihan yang tepat?
Walau bagaimana pun, jika sesuatu terjadi padanya di sini, dia bahkan tidak bisa melarikan diri.
"Takut?" Deva berbisik. Namun suaranya bisa terdengar jelas oleh Isvara.
Isvara mengangguk ragu, dia memang sedikit takut.
"Jangan takut." Deva mendorong kursi roda dengan satu tangan. Tangan bebasnya menepuk puncak kepala Isvara pelan, membuat leher itu lebih meringkuk, "Selama kamu mematuhi aturan di pulau ini, harusnya nggak akan terjadi apa-apa."
"Aturan?" mereka semakin dekat ke jalan beraspal. Sudah ada beberapa mobil jeep yang menunggu di sana.
"Ya, beberapa tempat selalu punya aturan." Deva menjelaskan, "Di pulau ini juga sama. Jadi sebaiknya kita mematuhi adat istiadat yang sudah dijaga nenek moyang."
"Apa yang bakalan terjadi kalau kita nggak mematuhi aturan?"
"Kabarnya, mereka akan menghilang." Deva menjelaskan, "Ada juga yang mati dimakan setan."
"Setan makan manusia?"
"Kenapa nggak bisa?" Deva terkekeh. "manusia juga makhluk." matanya berkedip saat mengimbuhkan, "Makhluk yang rapuh."
Mereka sampai di depan mobil, Deva meletakkan tasnya di bak mobil, lalu menghampiri Isvara lagi, "Permisi." dia mengangkat tubuh Isvara, mendudukkannya di jok mobil. Samping kemudi.
Isvara menoleh, dia menatap Deva dan bertanya, "Apa saya masih bisa meninggalkan pulau ini?"
Deva berdiri di sisi pintu, menatap wanita di depannya, "Mau pulang?"
Isvara agak ragu. Dia menyadari keputusannya datang saat ini terlalu impulsif. Tapi tinggal di ibukota ... dia juga tidak begitu yakin.
Segala keterbatasannya saat ini, sejujurnya membuat Isvara tidak bisa berbuat lebih banyak untuk dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Isvara tidak mengatakan apa-apa.
Deva menutup pintu, berjalan ke sisi pintu jeep lain, membuka pintu dan masuk.
Isvara akhirnya menyadari, selain mobilnya ini ... mobil lain memiliki supir.
Hanya jeep ini saja yang ditempati Isvara dan Deva berdua.
Isvara ragu-ragu bertanya, "Tadi kamu bilang ... sebagian besar wilayah di pulau ini, dikuasai kakek saya." lalu dia mengimbuhkan, "Apa artinya ada orang lain yang menguasai sebagian wilayah?"
Deva mulai melajukan mobilnya. Dua sudut bibirnya terangkat tinggi saat dia berbisik, "Gimana menurut kamu?"
***
"Undangan?" Rafel tertegun. Dia melihat kartu undangan emas di tangannya. Begitu dia membaliknya, dia melihat tulisan di kartu undangan tebal tersebut. "Liburan di Pulau Pengantin selama 1 minggu?"
Rafel menoleh pada teman-temannya, "Di mana itu Pulau Pengantin?"
Manager hotel di depannya tersenyum sopan, "Pulau Pengantin itu salah satu pulau yang sudah dihak milik oleh pemilik hotel ini, Irman Wahyu." dia berdiri di depan sekelompok tamu yang menyewa suite room di hotel yang pria itu kelola. "Destinasi wisata yang memberikan view terbaik, laut yang jernih, dan beberapa sarana bermain yang luar biasa. Karena tidak banyak dijamah oleh teknologi dan tidak bisa sembarangan diakses oleh orang-orang luar, udaranya juga jernih. Tamu-tamu yang bisa masuk ke pulau tersebut terbatas. Reservasi biasanya membutuhkan waktu 3 bulan, satu kelompok hanya terdiri dari 12 orang."
Bisa dibilang, tamu undangannya hanya elit-elit khusus saja.
Tidak ada manusia yang tidak senang diperlakukan secara spesial. Begitu juga Rafel dan 5 orang temannya. Mereka sejujurnya sangat tertarik.
"Tapi, dalam rangka apa? Kenapa kami tiba-tiba mendapat unndangan?"
"Seperti yang saya katakan, hotel ini juga dimiliki pemilik pulau. Pak Irman Wahyu sedang mengadakan undian untuk para tamu. Nomor kamar diacak, dan kebetulan nomor kamar atas nama Pak Rafel yang memenangkan undian." Manager menjelaskan, "Pak Rafel bisa mengklik link channel hotel, pengumumannya ada tadi malam."
Rafel menugaskan salah satu temannya untuk melihat. Setelah beberapa menit, temannya mengonfirmasi. Mereka memang memenangkannya.
Rafel lebih bersemangat. Ini adalah hotel bintang 5. Pelayanannya sangat baik, kamarnya nyaman dan menyajikan pemandangan cantik. Hidangannya juga lezat. Rafel menginap hanya satu kali seumur hidup, itu juga menggunakan uang yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Sekarang, tiba-tiba saja dia mendapatkan undangan berlibur di pulau akses terbatas?
Bukankah ini hanya durian jatuh?
"Jadi, apa Pak Rafel dan rekan-rekannya juga akan berangkat?" Manager tersenyum profesional, "Itu karena ada beberapa laporan yang harus kami siapkan. Jika Pak Rafel pergi, para tamu juga akan dijemput dengan yacht pribadi."
"Pergi. Pergi, tentu kami harus pergi." bukan hanya Rafel, tapi pacar dan semua temannya juga sangat bersemangat.
Menggunakan yacht pribadi. Bahkan seumur hidupnya, Rafel tidak berani membayangkan. Sejauh ini, dia hanya pernah menaiki speed boat, perahu, atau kapal ferry. Dari mana rezeki ini tiba-tiba datang?
"Baik, kalau begitu." Manager tersenyum sopan. "Saya akan meminjam KTP para tamu untuk dilaporkan, para tamu bisa menentukan kapan mereka akan pergi. Setiap akomodasi akan ditanggung oleh pihak hotel kami."
Rafel dan teman-temannya sama sekali tidak menyadari ada kilatan kecil di mata manager, "Saya permisi."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro