Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

Selamat datang di Prolog

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (suka bertebaran)

Happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

______________________________________________

Terkadang, perpisahan menjadi titik balik sebuah awal dari kisah kita

The Billionaire’s Secret
______________________________________________

Musim Semi
Michigan, 3 Maret
18.04 p.m.

Kau tahu? Hal apa yang paling tidak logis di dunia ini? Ibu—yang biasanya sangat fleksibel dan terbuka dalam segala pemikiran—akan menjodohkanku. Ya kau tidak salah baca. Ibuku akan menjodohkanku. Bahkan ayah dan adik laki-lakiku pun mengamini beliau.

Ada apa dengan semua orang? Apa aku terlihat semenyedihkan itu soal pria? Maksudku kau harus tahu dan percaya jika kukatakan dengan sejujurnya bahwa aku sangat cantik, kaya, dan berbakat. Pria mana yang sanggup menolak pesonaku? Hanya dengan sekali kedip saja semua akan bertekuk lutut padaku.

Lalu kenapa orangtuaku harus memiliki ide gila semacam itu? Bagaimana apabila para sahabatku tahu jika wanita sempurna seperti diriku akan dijodohkan? Mereka pasti akan menertawakannya, atau yang lebih parahanya lagi mungkin akan memutuskan persahabatan kami.

Aku ingat ketika baru saja datang dari Jepang dijemput ibu di Bandara. Keluargaku menyambut kedatanganku dengan mengadakan acara makan malam bersama di estate Maxwell yang ada di Michigan.

Dear, lihat saja sepupumu, umurnya lebih muda darimu tapi dia sudah mempunyai pacar yang serius.” Ibu membuka obrolan yang kutahu arahanya akan ke mana. Jadi membandingkan diriku dengan keponakan beliau.

Gerakan garupuku yang memutar pasta sempat terhenti beberapa saat sebelum berkomentar tentang hal itu.

Mom please kita sudah pernah membicarakannya, karierku sedang bagus dan manager tidak akan setuju aku menjalin hubungan dengan siapapun dalam waktu dekat ini,” dalihku. Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.

Sweety, that’s not the point, kau bisa saja mengambil alih sekolah model mom atau menjadi salah satu petinggi di perusahan Dad tanpa perlu repot memikirkan karier. Jadi itu bukan alasan,” sahut ayah, mengatakannya dengan mengacungkan sendok ke arahku.

Aku kontan protes. “Dad, bisakah kau membelaku sedikit? Biasanya iya, kenapa sekarang tidak?” Aku yakin sekarang wajahku sudah kusut mirip pakaian belum disetrika.

Aku tidak mengerti kenapa keluargaku membicarakan hal tidak penting dan tidak logis bahkan di saat aku baru saja mendarat dari Jepang. Di saat kelelahan melanda tubuh kurusku dan sedikit jet lag. Aku ingin obrolan yang ringan. Ini jelas bukan termasuk kategori tersebut.

Kulihat ayah mengendikkan bahu isyarat tidak tahu harus menjawab apa setelah mendapat lirikan dari ibu.

“Oh, Mom lupa ada tamu satu lagi yang hadir di acara makan malam kita,” pekik wanita paruh baya bersurai pirang tersebut yang tampak sangat antusias dalam daya ingat yang tiba-tiba datang. Berbanding terbalik dengan diriku yang bingung.

“Bukankah ini acara makan malam keluarga?”

“Kau benar Dear, tamu kita akan segera menjadi keluarga Maxwell,” jawab beliau masih dengan antusias yang sama. Kali ini mempertegasnya dengan tepuk tunggal.

Melihat gelagat ibu, keningku berkerut semakin dalam karena masih belum tahu ke mana arah pembicaraan ini. Hingga addikku berbisik untuk mempertegas ucapan beliau dengan kilatan senyum terselubung dari matanya.

“Calon suamimu.”

What?!” Aku memekik tidak terima. “Apa yang kalian bicarakan? Bukankah aku baru saja mengatakannya?!”

No Dear sekarang sudah bukan waktunya bermain-main lagi, kau harus menikah dengannya!”

Reflek meletakkan sendok dan garpu di meja secara tidak elegant, aku merentangkan tangan. “Kerja keras untuk menyamai karier Mom sebagai super model, apa itu yang Mom sebut bermain-main?” Dari ibu, tatapan mataku beralih menembus mata biru ayah. “Dad?” rengekku mencari pembelaan dari beliau.

Dengan menyesal pria paruh baya berjambang yang posisinya sebagai pemilik perusahaan Maxwell itu pun memejamkan mata sambil bersuara lirih. Nyaris berupa bisikan. “I’m sorry Sweety.”

“Anyone? Please!” Seperti orang putus asa, aku menyapu pandangan ke seluruh penghuni meja makan termasuk ke arah beberapa maid yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk kami, bermaksud meminta pertolonggan. Namun tidak satu pun yang mau membelaku malam ini.

Lihat saja sekarang, adik laki-lakiku malah tersenyum geli melihatku yang merana. Seandainya saja bukan wanita paruh baya berparas rupawan dan berstatus sebagai ibu kandungku yang melahirkannya ke dunia, pasti akan kutendang batang hidungnya ke Saturnus.

Tidak adakah yang ingin membelaku malam ini?

Aku tidak tahan lagi dengan omong kosong ini. Kulempar serbet di pangkuanku ke meja. “Aku baru datang dan aku lelah. Lalu Mom dan Dad menyodorkan pembicaraan gila ini padaku. Lagi pula aku tidak mengenalnya, bagaimana bisa aku melakukan sesuatu yang disebut PERNIKAHAN or all of this stupid fucking shit?!”

“Jasmine! Jaga ucapanmu!” Ibu memperingatkan, tapi aku tidak peduli dan terus berseloroh.

“Kalau tahu situsi seperti ini akan terjadi padaku, aku tidak akan pulang ke Michigan!”

“Jasmine!” pekik ibu ketika aku berdiri, beramaksud beranjak pergi akan tetapi ayah menghentikan niatku dengan nada perintah mengerikan.

Back to your sit Jasmine Maxwell!”

Jika beliau sudah menggunakan nada suara berat dan dalam yang menyeramkan seperti ini, siapapun yang mendengarnya tidak akan sanggup membantah. Itu seperti sihir bagi kami untuk menuruti ucapan ayah. Apa lagi ditambah memanggil nama lengkapku, it means ... ayah benar-benar sedang serius saat ini. Jadi aku terpaksa menuruti perintah beliau untuk duduk lagi. Tentu saja dengan kedua tangan terlipat di dada lengkap beserta raut wajah penuh kebencian.

Untuk bebarapa saat yang menegangkan, salah satu maid datang dan berbisik ke ibu. Secara ajaib mengobati rasa jengkel beliau terhadapku sebab mata hitam itu jadi berbinar, lalu berbisik kembali ke maid tadi.

Setelah wanita berseragam hitam dan putih tersebut pergi, tidak lama kemudian datang lagi membawa seorang pria yang mengenakan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu—tampaknya orang penting.

Semua mata yang ada di meja makan berbinar senang akan kehadirannya, kecuali aku. Kau tahu kenapa? Kata adikku yang sempat berbisik, ia adalah orang yang akan ibu jodohkan denganku. Ironis bukan?

Memangnya apa yang hebat dari pria itu sehingga keluargaku seperti memujanya? Sampai-sampai berniat menjodohkanku dengannya?

Son, akhirnya kau datang,” pekik ayah yang tampak begitu gembira dengan kedatangan pria berjambang tipis itu.

Memangnya siapa dirinya? Sekarang membuat emosi ayah lenyap dalam sekejab, hanya karena kedatangannya?!

I’m sorry Mr. Maxwell, aku terlambat datang, ini ada sesuatu untukmu dari Grandma,” kata pria itu sembari mengulurkan sebotol champagne.

Minuman yang kini sudah berada di dalam genggaman ayah itu pun akhirnya dibuka oleh maid atas perintah beliau. Kemudian dituang ke gelas champagne kami masing-masing. Setelahnya ayah mengangkat gelas tersebut tinggi-tinggi dan mengucapkan, “Untuk calon suami Jasmine.”

Semua orang di meja makan saling membentur pelan gelas champagne mereka dengan riang. Kecuali aku, yang merasa mereka egois dan asyik dengan dunia mereka sendiri. Bagaimana mungkin mereka mengabaikan perasaanku?

Termasuk wajah pria itu yang sejak tadi tidak henti-hentinya menatapku dengan senyum yang bahkan bisa kuartikan tergolong bangga.

Aku mencomooh dalam hati. Sudah dapat dipastikan, siapa pria yang tidak bahagia dan bangga mendapatkan calon istri seperti aku?

Tapi ada yang aneh, rasanya pria berjambang tipis itu sangat familiar. Melihat caranya tersenyum, mengingatkanku tentang seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah kulihat. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja karena jelas yang terpampang di hadapanku berbeda dengannya yang culun, berkacamata dan miskin?

Musim semi
Michigan, 3 Maret
19.15 p.m.

Sepanjang makan malam, aku sama sekali tidak menikmati makananku. Hanya sibuk mengatur emosi yang terusik oleh obrolan akrab mereka. Itu berarti pria itu sudah saling mengenal keluargaku sejak lama.

Cih! Memuakkan, bahkan tidak ada yang menanyakan kabarku. Tapi baguslah, jadi aku bisa diam saja sambil mengaduk-ngaduk pasta serta menusuk-nusuk bola dagingnya.

Akhir acara, ibu, ayah dan adik laki-lakiku meninggalkanku bersama pria itu. Seperti memberi ruang dan tempat, ingin kami bisa berbincang secara leluasa. Mungkin agar kami saling mengenal.

Astaga menurutku itu sangat berlebihan. Aku jelas-jelas tidak ingin mengenal dan tidak memiliki minat pada jenis perbincangan apa pun dengan pria asing yang duduk di seberang mejaku. Namun karena ia memulainya, jadi aku juga harus menuntaskan pembicaraan ini dengan cepat.

“Kau selalu cantik seperti biasanya, Jasmine,” tukasnya memulai obrolan dengan memujiku.

Jangan harap kau akan melihatku merespon dengan wajah berbinar bahagia. Atau tersipu malu dan merona. Itu tidak mungkin karena aku sudah terbiasa mendengar kalimat pujian seperti itu dari siapapun—kecuali si culun. Jadi yang kulakukan sekarang adalah hanya ingin menjadikan pembicaraan ini seingkat-singkatnya.

“Mari kita permudah masalah ini, Mr. Tanpa Nama.” Aku menatapnya tajam penuh selidik dengan nada sombong seperti yang biasa kugunakan pada semua orang. “Kenapa kau menyetujui ide gila orangtuaku?”

“Tentu saja karena aku menyukaimu,” katanya santai mirip membaca ramalan cuaca.

“Apa orangtuaku berutang padamu? Apa mereka bangkrut akibat manipulasimu? Lalu dengan hitungan tepat akhirnya menjadikan aku sebagai tumbalnya? Agar tidak perlu melunasi utang-utang mereka padamu?! Begitu?! Hah?!”

Pria itu tersenyum geli. Diteguknya champagne yang dari tadi ia genggam. Gilanya aku sempat memperhatikan jakunnya yang naik-turun ketika menuman itu resmi bergulir melalui tenggorokannya menuju lambung.

“Kau terlalu banyak menonton film,” jawabnya.

“Lalu apa tujuanmu?!”

“Sudah kukatakan karena aku menyukaimu.”

“Jangan harap aku terkesan dengan alasan konyolmu! Semua orang pasti menyukaiku!” Aku memekik kesal. Demi neptunus! Itu bukan alasan yang ingin kudengar walaupun terdengar jujur!

Pria berjambang tipis itu kemudian mengangguk sambil bergumam, “Hhhmmm ... ya ... kau benar ....”

Sorry, tapi aku dengan jelas menolak perjodohan ini!”

Tentu saja aku akan menolaknya mentah-mentah, meski kuakui pria yang duduk di seberang mejaku saat ini memang sangat menawan. Wajahnya sangat tampan dan aku berani bertaruh ia pasti menjadi idola semua kaum Hawa. Namun jelas bukan idolaku. Bukan tipeku. Karena aku lebih menyukai laki-laki yang hangat, senyum menenangkan dan cerdas seperti—

Sialan kau Lee! Sialan! Kenapa kau masih membayangi otakku selama sepuluh tahun ini?!

Aku mengutuk dalam hati atas perlakuan laki-laki culun, berkacamata dan miskin bernama Lee Devoughn yang membuatku betah jadi quirky alone selama sepuluh tahun.

Sepuluh tahun!

He must be something, isn’t he? Yap, something like an asshole and an opportunities genius boy!

Apa yang telah dilakukan Lee, pasti sudah melesak jauh ke dalam setiap inci seluruh sel-sel tubuhku. Mungkin ia mengutukku menjadi perawan tua karena sibuk memikirkan dan menyumpahinya setiap saat.

“Jasmine.” Pria bermata hitam legam di seberang mejaku memecah fokus serta pikiranku terhadap Lee. Jujur saja, cara pria itu memanggil namaku terdengar aneh dan menjengkelkan sekaligus sangat familiar. “Kau sungguh tidak mengingatku?” Ia lanjut bertanya dengan tatapan tajam dan serius.

“Bagaimana bisa aku mengingat orang yang baru saja kutemui?!” selorohku jujur dan masih menggunakan nada sombong yang sama.

“Baiklah kalau begitu, aku akan mengingatkanmu.”

Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu meletakkan gelas champagne yang tinggal sedikit kemudian bangkit berjalan mengitari meja menuju kursiku. Dengan gerakan cepat, memegang dagu lancipku, merunduk, menebas jarak di antara kami, lalu mencium bibirku.

Aku kaget dan memberontak. Setelah berhasil melepaskan diri aku menampar pipi pria itu keras sekali. Tidak peduli ada cap merah dari kelima jariku di sana, aku terengah marah.

Karena ia ... karena ia ... telah ....

Berani-beraninya!

Berani-beraninya pria itu mengobati kerinduanku terhadap Lee dengan rasa ciuman yang sama dengan laki-laki culun itu!

______________________________________________

Thanks for reading this story

Don't forget to vote, comment, and share if you like

Thanks ❤

See you next chapter

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

9 September 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro