Chapter 7 • Lee Devoughn
Selamat datang di chapter 7
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo
Thanks
Happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
_______________________________________________
Serapat-rapatnya mencium bangkai,
cepat atau lambat, baunya akan tercium juga
—Lee Devoughn, yang berusaha berkata bijak
_______________________________________________
Musim semi
Michigan, 26 April
15.03 p.m.
Jasmine tidak masuk sekolah karena sedang ada pemotretan di luar kota. Itu artinya hari ini aku libur mengejar. Namun kala kakiku sudah berdiri di halte depan gerbang hendak menungu bus kuning bersama Helena, Sebastien muncul dari arah kiri. Aku bertanya-tanya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Sebastien di sini?
Tidak butuh waktu lama pertanyaan dalam benakku terjawab. Bersamaan dengan bus sekolah yang tiba dan berhenti di depan halte, pria itu berjalan ke arahku. Aku melirik Helena yang sekarang sedang mengernyit, mengurungkan niat naik bus itu karena melihat supir pribadi keluarga Maxwell menyapaku dengan lambaian tangan singkat. Ia lantas celingkukan ke arah samping, kutebak pasti sedang memastikan dengan siapa Sebastien tersenyum sambil membawa tubuhnya mendekati kami.
Tidak melihat siapa pun lagi selain kami karena para murid lain sudah sibuk mengantre naik bus, Helena lantas berbisik, “Siapa dia Lee?”
Aku kembali melirik Helena sekilas dan mulai gelagapan. Dengan alasan apa lagi aku harus merahasiakan kalau menyetujui kepala sekolah untuk menjadi guru private Jasmine? Sewaktu kedatangan pemilik mata hijau safir kemarin malam di rumah grandma, aku sangat waswas kemudian bersyukur karena Jasmine pergi sebelum Helena pulang. Namun sekarang?
Aku belum menceritakan kebenarannya. Sebagian hatiku mengatakan Helena akan marah. Sedangkan aku berpikir, tidak enak rasanya bermusuhan dengan orang yang tinggal serumah. Terlebih hanya menumpang di rumahnya. Jadi aku memaksa otakku berpikir, mencari alasan dan cara mengusirnya untuk segera pulang.
“Helena, sebaiknya kau pulang dulu, busnya akan segera berangkat.” Aku tahu ini sangat tidak bisa disebut sebagai alasan yang baik, tapi aku kehabisan waktu.
“Tapi kau?”
“Aku ada keperluan sebentar.”
“Dengan orang itu?” Lagi-lagi ia berbisik sambil melihatku dan Sebastien—yang sudah beberapa langkah di depan kami—secara bergantian.
“Cepatlah, aku khawatir kau ketinggalan bus. Semuanya sudah hampir naik.”
Helena melirik ke arah murid terakhir yang tengah berusaha menaiki anak tangga depan pintu bus lalu kembali menatapku. “Aku tidak tahu apa urusanmu dengan orang itu tapi yang jelas kau berutang cerita padaku.”
Aku melihat Helena sudah baik bus lalu menatap Sebastien yang telah mencapai sebelahku dan mengatakan, “Selamat siang Mr. Devoughn. Aku senang kau tidak jadi naik bus sekolah. Ternyata kau cukup peka kalau aku datang mencarimu.”
“Selamat siang juga. Anda melambai padaku tadi, jadi kupikir ... memang Anda ingin bertemu denganku.”
“Kau benar. Ngomong-ngomong Mr. Alex ingin bertemu denganmu. Karena itu aku diminta menjemputmu.”
Aku menaikkan kedua alisku serta membenarkan letak kacamataku. “Mr. Maxwel? Ingin menemuiku?” ulangku.
“Iya, ayo kita segera berangkat, waktu beliau tidak banyak karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Musim semi
Michigan, 26 April
15.30 p.m.
Perjalanan ke estat Mr. Maxwell tidak membutuhkan waktu lama sebab aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sekiranya mungmin Mr. Alexander Maxwell obrolkan denganku. Memikirkannya saja membuatku gugup. Terlebih, tidak Jasmine. Apa ini terkait kemarin lusa sebab gadisnitu ikut mengantarku pulang dengan Sebastien? Apakah memintaku merahasiakannya dari publik sehingga tidak menimbulkan skandal?
Aku tidak mendengarkan Sebastien yang mengobrol sepanjang jalan. Lalu beberapa menit kemudian kami tiba di pelataran estat. Ketika kakiku melangkah turun, aku masih tak jemu-jemu mengagumi keindahan tempat tinggal Jasmine.
Seorang maid mengantarku ke ruangan Mr. Maxwell, mengetukmya lalu mengatakan kalau aku sidah tiba. Benar-benar mirip seperti kerjaan.
“Masuk,” ucap pemilik suara berat milik Mr. Maxwell.
Aku pun melangkah, masuk dan melihat beliau—seperti biasa—sedang membubuhkan sesuatu pada kertas di meja. Beliau tidak sendirian. Ada seorang wanita paruh baya sedang berdiri di sebelah beliau duduk. Sedang menunjuk salah satu berkas tersebut. Pakaian yang dikenakan sangat modis walau sederhana. Hanya berupa dress hijau kombinasi hitam, tapi kelihatan mahal. Rambut pirang beliau di sanggul. Menilik dari wajahnya, sangat mirip Jasmine walau bermata hitam legam. Jadi kesimpulan sementaraku, beliau merupakan ibu Jasmine.
Aku jadi penasaran dari mana mata hijau safir langka itu berasal. Namun pertanyaanku segera terjawab ketika pandanganku menoleh ke arah kiri, ke arah sebuah foto keluarga berukuran sangat besar memenuhi dinding yang beberapa hari lalu luput dari perhatianku.
Di situ ada seorang nenek yang kutaksir berumur akhir delapan puluhan. Berwajah cantik dengan mata hijau. Tidak hanya nenek itu yang bermata hijau, tapi juga seorang laki-laki yang kelihatan lebih muda dari Jasmine. Wajahnya juga mirip gadis itu hanya saja rambutnya pirang.
“Duduklah Mr. Devoughn.” Aku menoleh ke sumber suara tersebut dan mendapati wanita paruh baya tadi sedang berjalan ke arahku bersama Mr. Maxwell.
Aku mengikuti mereka duduk di sofa hitam empuk yang terbuat dari kulit yang terletak di sudut ruangan, tepat di bawah foto keluarga tersebut.
“Apa kabar Mr. Lee Devoughn,” sapa Mr. Maxwell.
“Baik, apa kabar juga Mr. Maxwell dan ....”
Wanita paruh baya berambut pirang itu tertawa anggun sembari menutupi mulut menggunakan tangan yang bercat kuku merah darah. Sangat kontras dengan kulit pucat beliau. “Aku ibunya Jasmine. Kau pasti belum tahu kan? Dua hari lalu kita belum sempat bertemu dan berkenalan.”
Aku tersenyum singkat. Benar dugaanku, beliau merupakan ibunya. Namun, bukan itu masalahnya sekarang. Di situasi seperti ini, aku jadi tidak tahu harus melakukan apa.
“Kau pasti sangat penasaran kenapa aku memanggilmu seperti ini ketika tidak ada putriku.”
Aku kembali tersenyum. Apa sejelas itu wajahku memperlihatkannya?
“Sebelumnya, maafkan putriku. Kelakuannya memang seperti itu. Percayalah, kami setiap saat mengajarinya beretika yang baik tapi hasilnya sama sekali tidak ada. Kadang aku sudah benar-benar putus asa.” Aku hanya membenarkan letak kacamataku. Tidak menjawab sebab takut memilih kata yang nantinya akan membuat beliau tersinggung.
“Aku juga ingin tahu perkembangan Jasmine dalam pelajarannya.” Suara Mr. Maxwell menabrak indra pendengaranku lagi. Kali ini dengan tegas aku menjawab bertanyaan itu dengan jujur dan tanpa melebih-lebihkan.
“Oh, sangat baik Sir. Miss Maxwell benar-benar mudah mengerti apa yang aku terangkan. Semua soal yang kuberikan nyaris semua dia kerjakan dengan benar.”
Sepasang suami istri itu lantas saling berpandangan. Kenapa?
“Ini suatu kemajuan baginya,” kata Mr. Maxwell, “maksudku, dengan kau yang bisa mengajarinya full time seperti ini. Biasanya dia akan memecat siapa pun guru private-nya karena paranoid di hari pertama mereka mengajar, seperti yang sudah kukatakan padamu dua hari lalu. Tapi kau tidak.”
Aku berpikir beberapa saat ssbelum kembali bersuara. “Maaf Mr. Maxwell, kalau boleh tahu, apa Miss Maxwell paranoid terhadap orang yang baru dikenalnya?”
“Iya, bisa dikatakan seperti itu. Jasmine tidak ingin dimanfaatkan. Karena menurutnya setiap orang asing yang akan berdekatan dengannya akan memanfaatkannya. Entah itu mendapat ketenaran atau semacam itu. Kau mungkin juga sudah tahu kalau dia tidak memliki teman selain Lexter. Dunia modelnya telah membentuk karakernya yang seperti itu.”
Aku mengangguk paham. Ia juga baru telah melakukannya padaku saat baru pertama kali menginjakkan kaki di estat ini. Sekarang aku tahu. Jadi itu alasannya menggeledahiku begitu rupa dan ikut mengantarku pulang. Karena ia benar-benar takut. Ia sudah sangat memaksakan diri berdekatan denganku, mendengar seluruh pengajaranku, dan menginjakkan kaki di rumah orang asing. Ditambah peristiwa perundungannya di sekolah. Secara tidak langsung merubah presepsiku terhadapnya.
“Maafkan aku, seandainya dia tidak kuajak pemotretan waktu itu.” Aku mendengar Mrs. Maxwell berbicara pelan pada suaminya.
Digenggamnya tangan lentik yang sedikit keriput itu dengan lembut, “Tidak, jangan menyalahkan dirimu sendiri Honey, itu semuanya tidak benar.”
Bertepatan dengan itu suara ketukan pintu terdengar. Mr. Maxwell segera memerintah pada dua orang maid yang datang membawa senampan minuman dan camilan. Satu bertugas membawa nampan tersebut dan satunya bertugas untuk meletakkannya di meja serta menyuguhkan pada kami. Usai para maid itu keluar ruangan, Mr. Maxwell kembali menatapku.
“Mr. Devoughn, bisa aku minta tolong sesatu?”
“Apa itu Mr. Maxwell?”
“Tolong bertemanlah dengan putriku. Aku akan memberimu gaji lebih.”
Ya Tuhan, aku sempat ingin tertawa keras. Karena menurutku, itu sama saja seperti Mr. Maxwell membelikan teman untuk putrinya. Pasti beliau sudah benar-bemar putus asa. Mungkin karena itulah beliau memanggilku di saat tidak ada Jasmine.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda, tapi kenapa harus aku?”
“Kulihat kau bisa akrab dengannya, jadi kupikir kau bisa bereman dengannya. Sebagai permulaan, ini tambahan uang karena sudah menjadi akrab dengan putriku.”
Mrs. Maxwell mengangguk, menyetujui pemikiran suaminya lalu pria paruh baya bercambang dan bermata biru itu mengulurkan amplop yang kuyakini berupa uang. Kulihat itu sedikit tebal. Mungkin jumlahnya sangat banyak. Namun naluriku bekerja. Tidak ada seseorang yang membeli orang lain untuk dijadikan teman. Apalagi orang tersebut menerimanya. Itu namanya tidak tulus.
“Bagaimana kalau dia tahu, bukankah menggunakan cara seperti ini malah membuat Miss Maxwell semakin paranoid?”
Aku mendengar beliau mendengkus kemudian melirih ke beberapa titik dengan wajah semakin kalut. Berhenti pada wanita di sampingnya yang tampak berperilaku sama. Lalu sepasang suami istri itu berbicara dengan bahasa isyarat yang hanya bisa dipahami mereka. Setelahnya kembali melihatku untuk mendengarku melanjutkan acara penjelasanku.
“Aku pikir, tidak perlu mengganjiku lebih untuk menjadi teman Miss Maxwell, tapa gaji pun aku akan dengan senang hati berteman dengannya.”
Rupanya aku memang sudah gila karena penasaran. Orang seperti apa kira-kira Jasmine Maxwell ini? Apa aku bisa menjadi temannya? Perasaan lega sekaligus takit melingkupi diriku kala mengatakan hal tersebut. Namun otakku berkata bahwa apa yang kulakukan sudah benar. Aku juga bisa melihat binar mata dsri sepasang suami istri yang sedsng duduk dan saling pandang di depan seberang meja dsn sofs yang kududuki.
“Kalau begitu, jangan menolak pemberianku kali ini.” Mr. Maxwell memberi kode pada istrinya. Tidak butuh waktu sedetik wanita bersurai pirang dan bermata hitam legam itu beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah meja kerja Mr. Maxwell. Membuka laci paling atas lalu mengeluarkan sebuah kotak. Aku mengernyit sambil membenarkan letak kacamataku ketika tahu kotak apa yang dimaksud beliau.
“Ini, gunakan ini untuk berkomunikasi dengannya.” Mrs. Maxwell berbicara sembari mengulurkan kotak ponsel keluaran terbaru itu padaku lalu kembali duduk dengan anggun di sebelah suaminya.
“Aku benar-benar tidak bisa menerima ini—”
“Tidak, aku tidak ingin ditolak kali ini.” Suara Mr. Maxwell berubah berat dan dalam. Membuatku bergindik, seperti diperintah dengan tegas agar aku menuruti kemauan ayah Jasmine. Padahal aku sangat ingin tahu dari mana beliau tahu bahwa aku selama ini belum memiliki ponsel. Namun aku tidak bisa melakukan penolakan lagi. Dengan terpaksa, aku pun mengangguk, menerima ponsel itu dan mengucapkan terima kasih.
***
Musim semi
Michigan, 26 April
16.30 p.m.
Sebastien kembali mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku terus berpikir tentang Jasmine dan semua orang yang mengelilinginya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku sehingga mendapatkan keberuntungan secara beruntun seperti ini? Hanya karena menjadi guru private Jasmine?
“Jadi kau mendapat ponsel baru?” tanya Sebastien sesekali melihatku melalui kaca spion tengah. Kami sudah menempuh setengah perjalanan. Karena sepertinya terlalu lama saling diam, jadi ia berinisiatif mengajakku bicara.
“Aku tidak mengerti,” ucapku sambil membenarkan letak kacamataku tanpa melirik Sebastien karena masih menunduk, menatap ponsel yang sudah kufungsikan beberapa menit lalu. “Kenapa sampai memberiku ponsel seperti ini?”
“Asal kau tahu, Mr. Devoughn. Ketika mengetahui nona Jasmine bisa akrab denganmu, Mr. Alex sangat senang karena akhirnya putrinya bisa bersosialisasi dengan orsng yang baru beberapa kali ditemuinya walau masih kaku. Lalu beliau menyelidiki semuanya tentang dirimu dan tahu kau tidak memiliki ponsel. Jadi itu bentuk terima kasih beliau padamu.”
Secara tidak langsung, Sebastien menjawab pertanyaan yang sedari tadi bercokol dalam benakku. Lalu tidak lama kemudian, kami tiba di pelataran rumah grandma. Astaga, aku harus menjelaskan sesuatu yang masuk akal pada Helena.
Aku mengamati sekitar dan mendapati suasana senja sudah menyapa. Kali ini mungkin keberuntungan sedang berpihak padaku sekali lagi sebab pada jam sekarang biasanya Helena bersama adikku dan grandma masih dipeternakan untuk mengurusi sapi-sapi serta hasil susu. Jadi cepat-cepat kumasukkan kotak ponsel ke ranselku lalu turun serta berterima kasih pada Sebastien.
Kala kakiku sudah mendorong pintu dan masuk, ternyata perhitunganku meleset. Helena sedang menonton TV. Kedatanganku pun membuatnya menoleh. “Selamat datang Lee.”
Dengan berusaha melakukan hal-hal senormal mungkin mulai dari melepas ransel yang masih terpanggul di punggungku, lalu melepas sepatuku datu per satu dan menggantinya dengan sandal rumah, aku balas menyapanya. “Kukira kau masih di peternakan. Lalu di mana Lea dan grandma Rose?”
Helena memutar posisi duduknya menghadapku sepenuhnya. “Ya. Susu sapinya cepat terjual. Mereka masih perjalanan kemari. Jadi aku ke sini lebih dulu Lee. Kau tahu kenapa?” Aku tersenyum masam sambil mengendikkan bahu ringan. “Karena aku penasaran siapa orang itu tadi dan urusan apa yang kau kerjakan dengannya. Sampai-sampai kau diantar kemari.”
“Kenapa? Kau jatuh cinta padanya?” Aku kembali bertanya sambil terkekeh geli.
“Tidak! Sudah kukatakan kalau aku jatuh cinta pada orang lain!” sanggahnya, “tapi orangnya terlalu acuh dan ... dan ... entahlah!”
“Padahal Sebastien sangat keren.”
“Jadi namanya Sebastien? Oh Tapi bukan itu yang sedang kita bahas sekarang. Dari mana saja kau bersamanya?”
Aku sontak menghentikan kekehanku lalu berdeham. “Bisa kita bicarakan ini nanti? Aku sedang lelah sekarang.” Aku menglangkah melewatinya untuk menuju anak tangga yang membawaku ke kamar. Namun gerakanku terhenti oleh perkataan Helena.
“Lee, kau aneh. Beberapa hari ini kau tidak membantu kami di peternakan sewaktu sore karena klub Sains. Dan sekarang kau pergi bersama Sebastien hingga hampir malam. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Tidak perlu sungkan kalau tidak mau membantu kami, kau cukup mengatakannya. Lagi pula itu tidak wajib.”
“Bukan seperti itu Helena ....”
“Lalu seperti apa?”
“Aku ... ingin istirahat di kamarku jadi—”
“Aku tidak mau dengar alasan apa pun lagi Lee! Cepat kau katakan padaku sekarang alasan sebenarnya kau pergi bersama orang tadi!”
“Boleh aku pergi ke kamarku dulu?” Untuk mencari alasan.
“Tidak! Apa susahnya menjelaskan sekarang? Kau benar-benar aneh Lee. Semakin terlihat menyembunyikan sesuatu dariku!”
Aku menelan ludah dengan susah payah lalu berpikir sejenak. Menyimpan rahasia itu seperti menyimpan bangkai. Cepat atau lambat aromanya pasti akan terciumjuga. Jadi aku memutuskan untuk mulai memosisikan diri mengahdap Helena sepenuhnya. Kemudian berjalan dan duduk di seberang sofa yang ia duduki. Berikutnya aku mulia menceritakan keadaan yang sebenarnya dan berharap serta meminta bahwa ia tidak akan marah padaku. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?
_____________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote dan komen
See you next chapter teman temin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Repost : 28 Desember 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro