Chapter 18 • Jasmine Maxwell
Selamat datang di chapter 18
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo
Thanks
Happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
______________________________________________
Kuanggap, Lee memiliki selera fesyen jauh lebih bagus daripada yang lain
—Jasmine Maxwell
______________________________________________
Musim panas
Michigan, 3 Juni
14.02 p.m.
I can’t believe this happened to me!
Akhirnya, aku akan pergi ke pasar malam. Jujur saja aku belum pernah ke sana sebelumnya karena ... yah ... karena berbagai macam alasan, dan alasan utamanya karena aku takut. Dulu sewaktu kecil, aku takut badut, lalu rumah hantu. Lambat laun beranjak remaja, aku sudah tidak takut pada dua hal itu. Melainkan tidak memiliki teman untuk diajak ke sana. Trax dan Lexter pernah kuceroki supaya mengajakku ke sana. Namun, mereka sama-sama mengatakan itu adalah permainan anak-anak dan tidak ada yang menyenangkan.
Kadang aku berpikir korelasi tentang film-film romansa yang pernah kutonton dan banyak pasangan remaja yang ke tempat permainan itu dengan pasar malam yang asli di dunia ini. Membayangkannya saja sudah bisa membuat kedua sudut bibirku tertarik ke atas sendiri, pipiku naik tak mau turun, dan semangatku untuk bersiap-siap pun meletup. Aku jadi tidak memikirkan lagi tentang betapa kekanak-kanakannya aku karena hal tersebut.
Seharusnya aku meminta maaf pada grandma karena telah berteriak-teriak di rumah beliau. Oh, ingatkan aku untuk mencatat bagian ini. Karena aku harus melakukan hal-hal yang penting terlebih dahulu bersama Nameeta.
“Nona, apa ini tidak berlebihan? Nona hanya akan pergi ke pasar malam,” tanya Nameeta ketika ia menunjuk beberapa baju yang berjajar di kasur Lea. Terutama pada dress merah darah di atas lutut yang bagian pundaknya menggembung dan sandal ceper bertali banyak. Jangan lupakan clutch bag Dior warna oranye itu. Lalu beberapa asesoris seperti anting mirip gelang yang besar dan kalung sederhana.
“Nameeta, aku akan pergi dengan Devoughn, aku harus cantik,” jawabku yang masih mengobrak-ngabrik isi koperku yang ketiga untuk mencari tas yang kupikir lebih sesuai. Mungkin, Chanel sederhana warna hitam.
“Tenang saja, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Nona,” kata Nameeta sambil menunduk. Tangan wanita itu menutupi mulutnya yang tersenyum penuh arti. “Mr. Lee Devoughn tidak akan bisa memalingkan wajahnya dari Nona.”
“Jangan merayuku. Cepat jalankan tugasmu. Please ...,” titahku yang sudah berkacak pinggang usai menemukan tas yang kumaksud lalu memberikannya pada Nameeta. “Ganti tas tadi dengan yang ini.”
“Baik, Nona,” jawab Nameeta kemudian menggantung dress dan tas tersebut. Berikutnya menyiapkan asesoris berserta semua mekap dan parfum di meja rias sederhana milik Lea.
“Dan Nameeta, siapakan garam mandi aroma raspberry, lalu ... lilin aroma terapi bergamot, seperti biasanya. ”
“Tapi, di sini tidak ada jacuzzi Nona, jangankan jacuzzi, bathtub saja tidak ada,” bisiknya dengan wajah takut-takut. Aku lantas melotot.
“Apa?! Tidak ada?! Kau pasti bergurau denganku Nameeta! Katakan ini hanya lelucon.” Ia pun menggeleng. Lalu aku mendesah keras. “Bagaimana aku bisa wangi kalau tidak berendam dan pijat di jacuzzi?!” tanyaku tak kalah berbisik sambil menatap Nameeta. Seirama dengan gerakan tangan menengadah, seperti mencakar udara musim panas yang memenuhi sekelilingku.
Ya Tuhan, kenapa grandma Rose semiskin ini?
“Hanya ada shower, tapi setidaknya pipa ledengnya lancar Nona,” bisik maid itu lagi.
“What did you just say?! Hanya ada shower?” Maid itu pun mengangguk. Aku memijit pelipis yang tiba-tiba terasa migrain. Bagaimana ini, tidak ada jaccuzi?! “Nameeta ... aku harus membantu di peternakan dulu. Kau pasti tahu kan bagaimana bauku nanti? Jadi aku harus berendam dan pijat di jaccuzi!”
“Kupikir Nona tidak akan ke peternakan karena sudah siap-siap dari lima jam sebelum pergi ke pasar malam,” ujar Nameeta.
“Aku sudah janji akan membantu di peternakan, Nameeta.” Walau tidak yakin harus membantu apa, tambahku dalam hati. Berjalan mondar-mandir sambil bersedekap tangan. Sesekali menggerakkan anggota gerak itu di udara. Merasakan rambut ekor kudaku yang ditata Nemeeta ikut bergerak-gerak di punggungku.
Astaga, aku seharusnya menyadari grandma Rose terlalu miskin saat pertama kali berkunjung kemari. Mulai dari anak tangga yang berderat ketika diinjak, lalu tidak ada pendingin ruangan di kamar Lee mau pun Lea dan mungkin seluruh penjuru rumah ini. Sekarang, tentu saja tidak ada jacuzzi.
Aku membuang napas berat dan berhenti mondar-mandir lalu menempelkan dahi ke dinding dengan mulut mengerucut tiga senti.
Uh ... demi cintaku pada Lee Devoughn. Aku harus menahan semua ini.
“Apa perlu kuteleponkan Sebastien untuk mengantar Nona pulang dan mandi? Akan kutelepon penata rias dan rambut juga, Nona,” usul wanita berumur dewasa itu.
“Ha! Kenapa kau lucu sekali Nameeta?! Mana mungkin bisa seperti itu! Aku nanti akan terlambat ke pasar malam,” desisku. “Well, apa boleh buat. Aku terpaksa mandi di bawah pancuran shower,” gumamku. Bertepatan dengan suara ketukan pintu kamar Lea. Nameeta pun bergegas membukanya dan tampaklah Lee Devoughn di sana. Aku praktis melepaskan dahi dari dinding dan bersikap anggun untuk menghampirinya.
“Aku hanya mau tanya, apa kau akan ikut ke peternakan?” tanya laki-laki berkacamata dengan kaus lengan pendek serta celana selutut itu.
“Tentu,” jawabku.
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
Aku menaikkan kedua alisku. “Bukankah sekarang baru saja jam dua siang?”
Lee Devoughn menarik kedua sudut bibirnya ke atas sambil menggeleng. “Sekarang sudah jam tiga sore Jasmine. Jadi ayo kita berangkat.”
Apa?! Kenapa waktu bisa cepat sekali berlalu?
***
Musim panas
Michigan, Juni
18.30
Hari ini aku belajar memerah susu sapi. Awalnya takut, karena kata Lee Devoughn, lain dengan kuda yang menendang ke depan atau ke belakang, tendangan kaki sapi mengarah ke depan sambil menyamping. Sedangkan posisi memerah susu sendiri, duduk di kursi kecil samping sapi. Namun, lama-lama juga terbiasa, tetapi aku masih meminta Lee untuk menemaniku. Bukan karena menggunakan setiap kesempatan untuk mendekatinya, tetapi karena benar-benar takut. Begitulah, dasarnya aku ini memang penakut.
Sebelum memerah, aku mencuci tangan dan menyemprotnya dengan anti septik, kemudian membalurkan pelumas berupa vaselin, barulah mulai memerah sapi yang telah dimandikan. Semuanya harus steril.
“Aku tadi melihatmu bersiap ke pasar malam. Kupikir kau tidak akan ikut kemari,” ujar Lee Devoughn.
“Aku sudah janji akan membantu. Dan persiapan itu penting, Devoughn,” jawabku diplomatis.
Dari ekor mataku, Lee tampak tersenyum. “Iya, seperti kau selalu menyiapkan apa pun sebelum melakukan sesuatu. Itu bagus.”
Aku baru akan mengumbar senyum saat tiba-tiba sapinya bergerak. “Devoughn, kakinya bergerak-gerak,” ucapku yang menghentikan kegiatan memerah dan terhenyak.
Lee yang di sebelahku menjawab, “Dia hidup, tentu saja harus bergerak.”
“Tidak! Maksudku, bukan seperti itu Devoughn!” pekikku. Meski samar kudengar suara tawanya. “Kau menertawakanku?”
“Tidak, siapa yang menertawakanmu?” Lee kembali bertanya. Posisinya yang duduk di sebelahku menjadikannya semakin terlihat jelas bila sedang berbohong karena ia mengatubkan bibirnya rapat-rapat. Kutebak pasti juga menggigit lidah agar tidak tertawa.
“Aku mendengarnya!”
Lee menunduk lalu melepaskan tawanya lagi. “Baiklah, aku minta maaf.”
“Aku ketakutan dan kau menertawakanku?! Bukankah kau keterlaluan?” pekiku sambil menghadiahinya pukulan-pukulan kecil pada lengannya.
“Aduh! Maafkan aku, hentikan. Pukulanmu sangat sakit,” ujarnya yang sudah berhenti memerah dan membentuk tebeng pertahanan untuk berusaha menepis semua pukulanku. Ia juga ikut terhenyak.
“Oh ya?! Aku bahkan hanya menggunakan sedikit kekuatanku! Tidak rugi aku ikut boxing club!” selorohku yang semakin gencar mengahdiahinya pukulan-pukulan kecil. Namun karena gerakannya terbuti-tubi, jadi mungkin benar apa yang ia akui. Pukulanku membuatnya sakit.
“Apa?! Kau ikut—aduh hentikan! Jasmine, kita harus tenang, atau kau akan menganggu sapinya.”
“Ha! Rasakan! Ini karena kau menertawakanku!” Aku menambahkan jumlah pukulan. Namun, tiba-tiba kaki sapi yang kuperah bergerak sedikit mengenai barel besi yang terisi setengah susu. Aku menghentikan kegiatanku dan reflkes mundur. Karena tidak seimbang malah jatuh sebelum Lee bisa menyelamatkanku.
“Aw! Aduh!” gaduhku sembari berusaha bangkit menggunakan kedua tanganku sebagai menyangga. Katelpakku pun basah pada bagian pantatnya sebab lantai kandang juga basah usai diguankan untuk memandikan sapi. Beruntungnya tidak ada kotoran di sana. Namun, tetap saja membuatku terjigkat karena jijik.
“Jasmine kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil berusaha membantuku bangkit dengan menarik tanganku. Namun, tangan kami yang sama-sama licin karena vaselin, pegangannya jadi terlepas dan aku terjatuh lagi.
“Aw!” gaduhku untuk yang kedua kali sambil berusaha bangkit. Satu detik kemudian rasanya tubuhku melayang dan aku mendapati Lee menggendongku ala bridal syle. “Eh?”
“Hati-hati,” katanya, “maaf harus menggendongmu.”
Aku tidak menjawab, sebab sibuk melingkarkan seluruh lengan pada lehernya supaya tidak terjatuh lagi. Selain itu juga sibuk mengendalikan jantungku yang berdetak cepat. Lebih cepat dari sekadar takut ditendang sapi. Pipiku pun rasanya memanas. Aku sempat memandangi wajahnya yang tenang. Akan tetapi karena tidak terlalu bisa mengendalikan tubuhku, aku malah menyembunyikan wajah di ceruk leher Lee.
Bagaimana ini, aku semakin menyukainya.
Tidak selang lama, ia menurunkanku di dekat ruang transit depan wastafel. “Cuci tangan dan tunggu di sini,” titahnya.
“T-tapi, bagaimana dengan pantatku yang basah.” Aku tidak tahu kenapa malah gelagapan.
Lee melihat ke arah itu lalu berkata, “Kurasa tidak terlalu basah. Nanti juga akan kering. Jadi, cuci tanganlah dan tunggu di ruang ini. Aku akan menyelesaikan sapi bagian sana dulu lalu ke sini lagi.” Laki-laki berkacamata itu mempertegasnya dengan menunjuk kandang sapi bagian barat, tempatku jatuh tadi.
Astaga! Aku tahu basahnya tidak menembus sampai ke lapisan bajuku. Hanya bagian katelpak yang luar saja. Namun, bagaimana aku bisa menahan itu hingga kering?
Lee tidak mengacuhkanku karena ia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah sapi-sapi tadi. Sementara aku melihat pantatku yang basah. Ew. Ini menjijikkan.
Namun, demi cintaku pada Lee ... demi cintaku pada Lee, rapalku dalam hati. Aku harus menahannya.
“Jasmine?” Suara bariton laki-laki berkacamata itu menyusupi gendang telingaku. Diriku yang masih melihat katelpak pada bagian pantat kontan mendongak dan melihatnya yang berjarak beberapa inchi dari tempatku berdiri. “Hati-hati. Jangan jatuh lagi,” tambahnya kemudian benar-benar berjalan meninggalkanku yang berdebar lagi. Entah kenapa tanganku refleks menyentuh bagian dada dan merasakan debaran itu.
Ah, Lee ... kau membuatku semakin menyukaimu.
Musim panas
Michigan, 3 Juni
15.40 p.m.
Di saat kami melakukan kegiatan pasteurisasi di ruang transist, aku bertanya pada Lee, kenapa tidak menggunakan alat pemerah sapi saja agar pekerjaan lebih ringan dan cepat. Ia menjawab bahwa membeli alat itu lumayan mahal. Sedangkan sapi grandma Rose hanya berjumlah sepuluh. Jadi semuanya masih sangat tradisional.
“Bagaimana dengan menjadi peternak Devoughn? Kurasa kau ahli dalam bidang ini,” ucapku ketika kami mensterilkan susu sapi segar berikutnya, dengan bantuan beberapa pekerja utusan keluargaku.
“Em, belum kupikirkan,” jawabnya sambil membenarkan letak bingkai kacamata yang melorot dipangkal hidung.
“Seandainya ada domba, kau juga bisa memanfaatkan bulu dan susunya. Lalu kambing Etawa. Aku biasanya menggunakan susunya untuk mandi. Lalu kalkun dan ayam petelur. Kelas Mrs. Malvin minggu lalu juga membahas cara membuat keju dan yogurt dari susu sapi. Bukankah jadi peternak juga bagus? Bisa memiliki bidang yang luas?” terangku. Berdasar apa yang kuketahui.
“Kau tahu kan grandma sudah cukup tua? Jadi selain alasan modal, kami juga kekurangan sumber daya manusia kalau harus mengurusi hal yang lebih rumit seperti itu.”
“Aku pernah mendengar ayah bicara soal kemitraan. Ah, tapi juga membutuhkan modal dan tempat.”
“Jasmine, bukankah yang cocok jadi pebisnis itu kau?” tanya Lee dengan senyum takjub. Aku tidsk mengerti.
“Ya?”
“Yang baru saja kau katakan. Semuanya tentang bisnis. Seharusnya kau jadi yang pebisnis.”
“Tidak, model adalah hidupku, Devough.”
Musim panas
Michigan, 3 Juni
18.03 p.m.
Ternyata mandi hanya menggunakan pancuran air shower juga lumayan menyegarkan serta bisa wangi dan akhirnya, aku siap pergi ke pasar malam.
Lee mengetuk pintu kamar Lea ketika aku selesai menyematkan anting gelang besar di telingaku. Nameeta yang membantu persiapanku kontan membukakan pintu kamar untuknya lalu keluar. Kulihat laki-laki itu dari pantulan cermin di meja rias ini. Senyum yang kusunggingkan sejak tadi masih kupertahankan hingga berdiri di depannya.
“Kenapa kau berpakaian seperti itu?” tanyanya.
Aku pun refleks melihat dress merah darah yang kukenakan. “Bukankah dress ini bagus?” Aku kembali bertanya, masih disertai dengan senyuman bahagia. Namun, lengkung cembung yang terbentuk oleh kedua sudut bibirku itu berubah menjadi datar ketika kulihat wajah Lee tidak kelihatan senang.
“Bisakah kau mengganti bajumu dengan sesuatu yang lebih sederhana?” pintanya.
“Kenapa. Bukankah ini sederhana? Aku hanya mengenakan dress polos dan aku tidak memiliki baju sederhana lain,” kilahku agar cepat berangkat. Oh ayolah. Aku sudah bersiap dari siang dan sekarang, alih-alih memujiku cantik—aku sangat berharap dengan yang satu ini sebab hanya Lee satu-satunya yang tidak pernah berkata demikian terhadapku—ia malah mempermasalahkan baju yang kukenakan? Kenapa hatiku mendadak jadi nyeri?
“Kalau begitu, akan kupinjamkan bajuku, jangan kenakan yang ini. Tidak cocok.”
“Apa?” pekikku. Lututku terasa lemas mendengar kalimat terakhir Lee. Kupikir ia akan memujiku dengan mengenakan pakainan ini. Aku yang kontan berwajah cemberut. Namun laki-laki itu seperti tidak peduli dan tidak mengatakan apa pun lagi sebab sudah menarik tanganku masuk kamarnya lalu mengambil sebuah kaus putih dan celana jin biru terang panjang lalu mengulurkannya padaku.
“Pakailah semua ini.”
Jadi menurutnya, dress merah edisi terbatasku tidak cocok, tetapi kaus lutih lengan pendek serta jin kumal itu cocok untukku? Bukankah Lee sudah sangat keterlaluan jika bermaksud menghinaku?
Namun, sekali lagi karena cintaku pada laki-laki itu, aku terpaksa menurutinya dengan wajah yang kuusahakan tidak marah. Kuanggap, Lee memiliki selera fesyen jauh lebih bagus daripada yang lain.
_____________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote dan komen
See you next chapter teman-temin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Repost : 3 Januari 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro