Chapter 16 • Jasmine Maxwell
Selamat datang di chapter 16
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo
Thanks
Happy reading everyone
Hope you like It
❤❤❤
______________________________________________
Aku mulai tidak memedulikan hal-hal semacam itu lagi
Bersama Lee, aku ingin menjadi diriku sendiri dan melakukan apa yang aku mau
Bukan apa yang ingin mereka lihat
—Jasmine Maxwell
______________________________________________
Musim semi
Michigan, 23 Mei
16.04 p.m.
Sejak ciuman itu, diriku seperti menjadi individu baru. Aku memang masih bersikap dingin dan tidak punya sopan santun kala berada di tengah keramaian. Namun, ketika bersama Lee—khusus jika sedang berdua dengannya—aku menjadi pribadi yang hangat, sering tersenyum dan lebih bebas mengutarakan sekaligus mengakui apa yang kurasakan.
Aku juga mengaku bila hukuman ini memang sudah kurencanakan karena ingin bersamanya lebih lama. Lee kaget dan tidak menyangka aku bisa begitu strategi dalam bertindak.
Well, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku menerima saran Lee ketika memintaku untuk bersikap sopan terhadap sekitar agar orang-orang menghormatiku. Minimal dengan tiga kata ; tolong, terima kasih, dan maaf. Katanya, bagaimana aku mau dihormati orang lain, bila tidak menghormati mereka terlebih dahulu? Kupikir Lee benar.
Laki-laki itu juga memberitahuku agar mulai mempercayai seseorang. Bagian ini yang masih sedikit sulit bagiku. Namun, aku juga berusaha melakukannya.
Selama seminggu ini kami menjalankan hukuman dengan baik. Mr. Dughan sampai terheran melihat aku sama sekali tidak mengeluh ketika harus membersikah bola basket, voli, dan lain-lain, kecuali rugby. Kau juga pasti sudah tahu alasannya. Ya, karena Lexter.
Ngomong-ngomong, hubunganku dan Lexter tidak berjalan dengan baik. Kalau sedang tidak ada latihan, kapten tim rugby itu selalu merecokiku ke mana-mana. Ditambah dengan Regina dan dua dayangnya yang selalu geram ketika Lexter mengemis permintaan maaf padaku. Namun setiap waktu Lee selalu menolongku tanpa terdeteksi keberadaannya.
Kata Lea, hubungan kakaknya dengan Helena juga tak jauh beda. Cucu grandma Rose itu semakin tidak suka terhadap respons yang diberikan Lee setiap kali adik perempuan Lee itu membahas tentang diriku. Lalu akan menghasut Lee agar menjauh dariku. Nampak sangat terlihat cemburu. Kuharap perempuan berambut pirang yang—lumayan—cantik itu sadar siapa saingannya!
Suatu hari sebelum liburan musim panas, adik laki-lakiku bernama Trax Maxwell bertemu dengan Lee.
“Jadi, kau Lee Devoughn yang sering diceritakan Jassy?” tanya Trax yang tiba-tiba berhenti dan ikut duduk sewaktu melewati gazebo tepi kolam renang yang saat ini sedang kami gunakan untuk belajar. Aku bosan berada di ruangan terus, ingin suasana baru.
“Trax, jangan menganggu, pergilah,” kataku, “kau tidak lihat aku sedang belajar?”
“Iya benar, aku Lee Devoughn. Salam kenal Mr. Maxwell. Aku harap kau mendengar cerita yang baik-baik tentangku,” sahut Lee sehingga Trax kontan mengabaikan perkataanku untuk fokus pada laki-laki berkacamata itu.
“Panggil saja aku Trax. Jangan panggil Mr. Maxwell. Kau seperti memanggil ayahku. Ngomong-ngomong, Jassy bilang kau—hmp!”
Aku segera melempar pensil lalu dengan cepat membekap mulut Trax sebelum membocorkan semua kegilaan yang kubagi padanya.
“Trax, pergilah! Kau menggangu! Dasar bocah nakal!” pekikku. Adikku itu lalu berusaha membuka bekapan mulutnya. “Trax, awas saja sampai kau mengatakannya!” bisikku penuh ancaman. “Kalau kau mengatakannya akan kuadukan pada dad soal—”
“T-tunggu! Baiklah!” Gantian ia yang memekik setelah berhasil melepaskan diri dariku. Aku mencibir sementara Lee tersenyum lebar. Aku memperhatikan dengan mata memicing ala elang mengintai mangsa saat laki-laki berambut pirang dan bermata hijau safir itu berkata, “Tadi aku hanya ingin memastikan, kata Jassy kau bisa membuat Mjolnir Thor dan sepertinya aku tertarik untuk membantumu.”
“Ya, aku pernah merancangnya beberapa kali dan kurasa itu ide yang bagus,” jawab Lee tenang. Setelah kuamati, pembawaan laki-laki berambut hitam itu memang cenderung tenang untuk menyikapi orang baru.
“Kalau begitu apa kau mau datang ke rumahku minggu ini?” pekik Trax yang tiba-tiba sangat bersemangat karena ada yang mendukung kegiatannya.
“Baiklah, akan kuusahakan,” jawab Lee.
Musim panas
Michigan, 1 Juni
08.00 a.m.
Seperti yang sudah direncakan dua orang itu—maksudku, Lee dan Trax—pada akhir pekan ini mereka akan benar-benar membuat sebuah Mjolnir Thor yang tidak akan bisa diangkat oleh siapa pun kecuali si Pembuat. Setidaknya, begitulah kata Trax. Aku jadi menyesal menceritakannya soal kejeniusan Lee. Adikku itu jadi sedikit memonopoli laki-laki itu dariku.
Kata Lee, kemarin ia sudah meminta izin grandma Rose untuk bolos membantu kegiatan menjual susu sapi segar usai dari peternakan. Jadi ia bisa lumayan bebas seharian menghabiskan waktu yang seharusnya bersama Jasmine Maxwell a.k.a aku ... tapi menjadi bersama Trax Maxwell. Sungguh siatuasi yang membuatku iri. Namun, sisi baiknya aku senang mereka akrab.
Saat Lee datang, Trax langsung menggiringnya ke garasi yang memiliki dua lantai. Letaknya pada bagian kiri estat. Tempat segala peralatan dan perlengkapan yang mereka butuhkan untuk membuat Mjolnir Thor. Aku pun segera menyusul dan naik ke lantai dua tempat mereka bekerja. Saat kuketuk pintu, Trax yang membukanya.
“Ada apa?” tanyanya yang sekarang membuka masker wajah tanpa melepas kacamata pelindung.
“Aku hanya ingin melihat kalian sebelum pergi dengan mom,” kataku sambil bersedap tangan dan celingukan melihat Lee yang juga mengenakan peralatan sama dengan Trax. Sayang sekali hanya bisa melihatnya dari samping. Itu pun hanya sebagian tubuhnya karena tertutup kemeja kotak-kotak hitam kombinasi merah dan putih yang tidak dikancingkan.
“Tidak. Perempuan dilarang masuk! Kau mengganggu!” jawab Trax. Mungkin ia ingin balas dendam padaku karena beberapa waktu lalu aku juga mengusirnya ketika bersama dengan Lee. Kala adikku yang menyebalkan itu hendak menutup pintu, aku segera mencegahnya.
“Trax! Tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan Devoughn!” ucapku. Lee pun lantas menghentikan kegiatannya dan melongokkan kepala dari balik punggung Trax karena mendengar ucapanku yang keras. Adikku mengikuti arah pandanganku kemudian mencibir dan akhirnya membiarkan Lee menghampirku.
“Apa kau keberatan kalau kutinggal ke salon hewan bersama ibuku? Aku tahu, ini mendadak. Biasanya ayahku yang mengantar, tapi sekarang sedang ada pekerjaan mendadak juga, jadi aku yang menemani ibu,” terangku pada Lee yang sudah melepas kacamata pelindung dan maskernya. Ini sungguh lucu, ia tadi mengenakan kacamata rangkap dua.
“Ya, tidak masalah. Mungkin aku dan Trax juga membutuhkan waktu lumayan lama untuk membuat Mjolnir,” jawab Lee. Sedangkan Trax sudah kembali ke meja kerja mereka yang penuh dengan peralatan yang tidak kupahami nama-namanya.
“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa,” kataku sambil tersenyum lebar dengan lambaian tangan. Laki-laki itu juga melayangkan senyum sejuta Volt. Kau tahu, ia manis. Hehe.
“Sampai jumpa, hati-hati,” katanya yang juga melambaikan tangan singkat.
Aku mengangguk. Saat sudah berbalik badan dan melangkah selangkah, aku memutar tubuh 180° dan cepat-cepat berjinjit lalu mengecup bibirnya singkat. “Sampai jumpa, Devoughn!”
Musim panas
Michigan, 1 Juni
09.20 a.m.
Hari ini Sebastien tidak ikut karena harus mengantar ayah. Sementara supir lain? Kami sepakat tidak menggunakannya. Jadi, anjing kesayangan ibu bernama Jack ditempatkan di keranjang hewan. Kata beliau, biasanya kalau bersama ayah, Jack dibiarkan lepas lalu anjing Shih-Tzu berumur dua tahun berbulu putih kombinasi cokelat gelap itu akan mengeluarkan kepala di jendela sambil menjulurkan lidah menikmati terpaan angin.
“Dear, kenapa kau senyum-senyum seperti itu?” tanya ibu dan aku langsung menoleh pada wanita paruh baya yang masih seperti berumur dua puluhan yang sedang menyetir.
Ingin kutahan senyumku tapi tidak bisa. Kedua sudut bibirku terus tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. “Tidak apa-apa,” kilahku lalu fokus pada jalan lagi sementara ibu terdengar ikut terkekeh.
“Kau jatuh cinta padanya kan?”
“Siapa?” Aku kembali bertanya dan menoleh pada ibu dengan gerakan secepat kilat menyambar.
“Lee Devoughn. Siapa lagi?”
Kugigit bibir bawahku agar tidak ikut membentangkan senyum. Namun lagi-lagi usahaku gagal. “Bukankah dia manis, Mom?” kataku implusif. “Oh, lupakan itu. Mom tentu selalu menganggap dad lebih manis dari siapa pun. Aku tahu itu.”
Ibu semakin terkekeh. “Bagaimana dengan Lexter?”
Pertanyaan ibu merupakan hal yang sensitif. Aku jadi mengingat saat menceritakan tentang perlakuan Lexter terhadapku dan Lee Devoughn pada adikku, serta meminta Trax untuk merahasiakan segalanya tentang laki-laki berkacamata yang kusukai itu.
Kata Trax, sebenarnya Lexter terus menanyakan tentang diriku—karena aku mengabaikan segala bentuk komunikasi yang berusaha ia lakukan—tetapi laki-laki berambut pirang serta bermata biru terang yang dulunya merupakan sahabatku itu tidak sempat mampir ke estat karena sibuk latihan rugby hingga menjelang pertandingan yang akan diadakan pada musim panas tahun ini. Itu justru bagus. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.
“Aku tidak ingin membicarakannya, Mom,” jawabku setelah sekian lama berpikir, melengkapinya dengan embuskan napas berat yang singkat.
“Kenapa?” tanya ibu. Dari nada yang disuarakan terdengar jelas sedang heran sekaligus penasaran.
“Dia menyebalkan.”
“Menyebalkan bagaimana? Apa kalian bertengkar? Mom sudah lama tidak bertemu dengan Lexter. Dia juga jarang berkunjung ke estat kita.” Ibu menghentikan mobil karena lampu lalu lintas berubah merah.
“Sudah kukatakan kalau aku tidak ingin membahasnya,” ulangku, yang sekarang bertopang dagu dengan menyandarkan siku di jendela kaca.
Ayolah Mom, jangan merusak mood-ku yang sedang baik.
Kadang aku heran. Kenapa semua orang berpotensi merusak mood baikku yang telah dibangun oleh Lee Devoughn? Tidakkah mereka membiarkan itu menyusupi diriku dalam jangka waktu lama?
Ibu mengangguk, lalu memasukkan persneleng dan melajukan mobil lagi. Sekitar lima menit kemudian, kendaraan yang kami tumpangi resmi berhenti di salon hewan langganan ibu. Beliau mematikan mesin mobil dan membuka pintu bagian tengahnya untuk mengambil keranjang hewan berisi Jack.
“Mrs. Maxwell, selamat datang,” sapa pemilik salon hewan itu, salah satu asisten menyambut Jack lalu menangani anjing kesayangan ibu. Kami pun menunggu di ruangan khusus dan berbincang.
“Kita jarang sekali pergi berdua seperti ini Dear.”
Aku yang saat itu baru saja mengeluarkan ponsel dari cluth bag segera memasukkan kembali dan menoleh pada beliau yang duduk dengan anggun sambil menyilangkan kaki. “Ya, aku senang pergi dengan Mom,” balasku.
“Bagaimana kalau kita pergi berbelanja setelah ini?” tawarnya.
“Tapi aku tidak suka berbelanja, Mom,” terangku sembari menggerakan tangan untuk mempertegas ekspresiku.
“Karena kau takut menjadi skandal? Kau lupa kalau Mom yang mengajakmu berbelanja?”
Aku tahu. Maksudku, aku paham jenis belanja apa yang ibuku biasanya lakukan. Dimulai dari belanja baju, dan itu tidak hanya membelikan baju untuk diri ibu sendiri melainkan semua orang ; aku, Trax, ayah, sampai Nameeta dan kadang-kadang Sebastien. Kemudian berlanjut dengan beli sepatu, tas, kosmetik, dan mungkin seluruh toko butik terkenal ibu beli. Berikutnya ibu akan berbelanja makanan atau kebutuhan pokok lalu pergi ke panti asuhan dan panti jompo untuk memberikannya pada mereka.
Aku tahu itu baik, tapi ... tidak sekarang. Tidak di saat tanpa Sebastien, Nameeta atau beberapa maid lain serta mobil lain.
“Lain kali saja ya ...,” pintaku, dan mungkin di waktu lain kali itu aku akan mencari alasan logis lainnya. “Kita bisa mengajak Nameeta, Sebastien, dan beberapa maid lain, juga beberapa mobil untuk mengangkut apa saja yang Mom beli. Kalau tidak, kita tidak akan bisa membawanya.”
Ibu tertawa, secara anggun sambil menutupi mulut menggunakan tangan. “Tidak, kali ini Mom janji tidak akan belanja sebanyak itu.”
“Aku meragukannya, arti ‘tidak sebanyak itu’ menurut Mom dan menurutku jelas berbeda.”
Ibu memperlebar tawa kemudian berdeham. “Baiklah, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Hari ini kita sedang libur diet kan?”
“Baiklah, aku ingin makan pasta.”
Musim panas
Michigan, 1 Juni
09.50 a.m.
Sekitar setengah jam kemudian Jack selesai di-grooming. Kami pun berkendara ke restoran Palais, tempat terkenal di Michigan yang kokinya mendapat bintang Michelin. Bagian terpenting mereka menyediakan pasta yang enak dan salah satu pekerjanya bisa dimintai tolong untuk menemani Jack. Dengan catatan, ibu akan memberi tips yang banyak.
Saat melewati dekat stasiun bawah tanah, mataku menangkap sesuatu. Mengernyit untuk memperjelas pandangan, aku mendapati Lea bersama teman-temannya sedang bermain musik layaknya musisi jalanan di sana.
“Mom, boleh kuajak seseorang?”
“Siapa?” tanya ibu tanpa memecah fokus ke jalanan.
Aku tidak menjawabnya. “Bisa tepikan mobilnya ke arah sasiun situ?” pintaku. “Tolong ....”
Meski heran, ibu tetap menuruti keinginanku. “Terima kasih Mom, ngomong-ngomong di mana kacamata hitamku?” Aku bertanya sembari mengobrak-ngabrik isi clutch bag ketika ibu mengulurkan benda penting itu padaku. “Oh! Terima kasih, aku akan segera kembali.”
Membuka pintu dengan tergesa-gesa, aku meluncur dari mobil dan membawa tubuhku menuju Lea. Saat itu ia sedang bermain gitar. Ada juga teman-temannya yang lain. Sekitar tiga menit aku menunggu, mereka menyelesaikan permainan dan aku berhasil mengajak Lea.
Aku mengenalkannya pada ibu dan kami pun makan pasta bersama, mengobrol dengan asyik lalu informasi penting itu Lea bagikan padaku sewaktu ibu sedang ke resroom. Katanya, selama musim panas Helena berencana pulang ke rumah orangtuanya di Toronto. Aku pun lantas mengambil kesempatan itu untuk berjanji selama tidak ada jadwal pemotretan, akan membantu di peternakan.
Lee jelas keberatan dengan gagasan tersebut karena menurutnya terlalu berbahaya dan takut aku akan menjadi bahan gosip para pekerja di sana. Namun, setelah kupikir-kupikir aku mulai tidak memedulikan hal-hal semacam itu lagi. Bersama Lee, aku ingin menjadi diriku sendiri dan melakukan apa yang aku mau. Bukan apa yang ingin mereka lihat.
Lagipula aku sudah mengatakannya pada ayah dan betapa wajah beliau dipenuhi binar bahagia karena putri sulungnya mulai mau bersosialisasi serta bisa mengatasi rasa paranoidnya—seperti yang selalu ayah sarankan. Ibu pun menyetujui ide tersebut. Namun, ketika aku meyakinkan mereka untuk tinggal di rumah grandma Rose selama musim panas, ayah jelas sangat keberatan dengan hal itu. Nampaknya, beliau masih belum terlalu yakin aku bisa hidup di rumah mungil tersebut.
“Aku bisa Dad ...,” selorohku sewaktu kami membahas obrolan itu di ruang keluarga. Kebetulan semua sedang berkumpul. Meski Trax sibuk dengan gim di ponselnya, tetapi aku yakin seratus persen ia sedang berusaha menggunakan fungsi telinganya dengan maksimal untuk menangkap segala informasi dan akan mengadukannya pada Lee.
Well, Lee sudah memiliki ponsel dan Trax lagi-lagi sedikit memanipulasinya. Katanya ia seperti memiliki saudara laki-laki yang sebagian berpendapat sama dengannya. Layaknya aku dan Lea.
“Dad juga takut merepotkan mereka, Sweety,” jawab ayah sambil merilik ke arah ibu. Kuyakin pasti ingin mencari sekutu yang satu suara dengan beliau.
“Honey, Sebastien dan Nameeta akan menemani Jassy, lagi pula kita juga akan memberi sedikit bantuan pekerja untuk grandma Rose,” jawab ibu yang langsung kutumbuk dengan pelukan dan kuhadiahi kecupan di pipi beliau.
“Ooohhh terima kasih Mom, aku tahu kau yang terbaik di dunia ini.” Lalu kulirik ayah dan menjulurkan lidah ke arahnya.
“Tapi hanya seminggu, tidak lebih.”
“Apa?! Itu tidak adil Mom! Jadwal pemotrtanku sedang senggang. Aku sudah menanyakannya pada Yuri!”
“Seminggu, atau tidak sama sekali Sweety ...,” kata ayah disertai binar kemenangan. Aku bersedekap tangan dengan raut wajah sebal.
“Baiklah,” jawabku dengan wajah ditekuk. “Bagaimanapun terima kasih sudah mengizinkanku.”
_______________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote dan komen
See you next chapter teman-temin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Repost : 3 Januari 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro