Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 12 • Jasmine Maxwell

Selamat datang di chapter 12

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

______________________________________________

Apa aku salah bila rasa bahagia begitu memenuhi seluruh hatiku karena kesimpulan itu?

Jasmine Maxwell
_____________________________________________

Musim semi
Michigan, 27 April
04.30 a.m.

Mungkin Lee tidak tahu kalau ini merupakan ciuman pertamaku. Rasanya seluruh tubuhku memanas dan jiwaku terbakar. Deru napasku berkejaran serta bibirku bergetar kala tangan besar dan hangatnya yang semula melingkari pinggangku sudah berpindah ke leher untuk menyibak rambutku. Sedangkan yang satunya tetap bertahan di antara rambut belakangku. Bibirnya menyecap tanpa ampun. Aku yang notabennya baru dalam hal ini, mencoba mengimbangi Lee, tapi belum bisa.

Jantungku jadi berbedar keras. Iramanya tak tentu, berlatu memukuli dadaku. Darahku rasanya mengalir hangat. Ada sesuatu yang tidak dapat kutafsirkan ketika perutku terasa diaduk. Mungkin itulah yang orang-orang maksud dengan ‘kupu-kupu berterbangan dalam perut.’ Aku juga refleks mengeluh, bermaksud mendesah tapi tidak bisa bersuara sebab hujaman ciuman laki-laki itu tiada henti. Semula lembut, pelan, lambat laun semakin kuat, dan menuntut. Sekali lagi aku mengeluh dan Lee semakin memperdalam ciumannya.

Bagaimana ini? Aku nyaris gila.

Aku tahu ini merupakan ciuman paling tidak romantis di seluruh dunia. Di atas jerami akibat sapi yang mirip banteng akan menyeruduk kami. Masing-masing masih mengenakan katelpak dan boots karet serta masker yang kupelorotkan hingga dagu. Aku memang—baru mengakui—menyukai Lee, tapi tak pernah terlintas dalam benakku akan berciuman dengannya secepat dan sepanas ini. Bisa dikatakan ini merupakan spontanitas.

Aku berpikir, mungkin kami akan melakukannya di waktu dan tempat yang romantis seperti di film-film. Mengawalinya dengan ciuman kecil, mungkin sebuah kecupan ringan. Namun ... siapa yang peduli sekarang?

Tubuh kami sama-sama menginginkannya. Baik aku mau pun Lee sama-sama tidak memaksakan kehendak satu sama lain. Apa aku salah bila mengartikan Lee juga menyukaiku? Apa aku salah bila rasa bahagia begitu memenuhi seluruh hatiku karena kesimpulan itu?

“Lee, Miss Maxwell ... apa kalian tidak apa-apa?” teriak Lea dengan suara melengking. Derap kakinya yang cepat—mungkin sedang berlari—terdengar semakin mendekat.

Kami refleks membuka mata. Walau aku tidak rela, tetapi kami menjauh secara perlahan. Sembari menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengatur napas karena terengah-engah, aku mereguk ludah susah payah memandang Lee. Wajah tanpa kacamata itu benar-benar membuatku lepas kedali.

Tangan kurusku menyentuh dada laki-laki tersebut yang juga berdetak kencang. Lututku yang terasa lemas, sendi-sendinya kupaksa bangkit begitu suara teriakan Lea terdengar lagi.

“Apa kalian tidak apa-apa?” tanyanya yang kini sudah masuk di ruang jerami sembari menunduk memegangi lutut karena berusaha mengatur napas. Sedangkan tangannya yang lain memegangi dada.

Aku cepat-cepat meraih kacamata Lee—yang sudah ikut bangkit dan tampak mencari alat optik tersebut—kemudian memakaikannya. Sembari membenarkan letaknya, laki-laki itu menjawab, “Ya kami baik. Em ...ekhm! Aku harus ke sana.”

Kau tahu bagaimana suara laki-laki itu? Serak, berat, dalam tetapi terkendali. Melengkapinya dengan menunjuk suatu arah menggunakan jempol, aku dan Lea mengamati Lee yang kemudian melangkah cepat. Karena menunduk dan tidak melihat apa yang ada di depannya, baru selangkah ia membentur daun pintu.

“Astaga, kau tidak apa-apa Lee?” tanya Lea khawatir sementara aku terpekur dengan keadaan pipi masih terasa panas akibat ciuman panas kami.

“Ya, tidak apa-apa,” jawabnya tanpa melihat adiknya sembari mengusap kening kemudian bergeser, menggerakkan serta membawa tubuhnya keluar dari ruangan ini.

“Ada apa dengannya? Lee kelihatan tidak fokus,” ujar Lea yang sudah berdiri tegak lalu beralih melihatku dan terkejut. “Ke-kenapa wajahmu merah sekali Miss Maxwell? Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit? Oh astaga kau pasti ketakutan,” ujarnya khawatir dan mendekatiku.

“T-tidak apa-apa. A-aku baik.” Aku juga tidak tahu kenapa harus mengikuti kegagapannya. “Aku hanya berpikir, ternyata dia sangat ... sangat ... tidak fokus ... ya ... tidak fokus ....” Hampir saja aku mengatakan pada Lea kalau kakaknya itu sangat panas.

Astaga, apa yang telah kupikirkan?!

“Kupikir kau ketakutan karena sapi yang lepas. Aneh sekali, padahal tidak pernah ada kasus seperti ini sebelumnya. Untunglah Mr. Brighton sudah menangkapnya.”

Lea terus berbicara mengenai keanehan itu. Sedangkan aku tidak peduli. Seaneh apa pun itu, aku malah berterima kasih karena bisa membuat aku dan Lee berciuman.

Musim semi
Michigan, 27 April
04.45 a.m.

Tidak lama kemudian, sesuai janji di telepon—menggunakan ponsel Lea tadi—Sebastien datang ke rumah grandma. Katanya, karena aku masih belum kembali ke sana, jadi ia menelepon Lea dan menanyakan alamat peternakan untuk menyusulku.

Tidak bisa kupingkiri aku sedikit menyesal tentang keputusanku yang begitu tergesa-gesa memerintah Sebastien ke sini. Itu semua karena cucu grandma bernama Helena yang wajahnya tidak begitu asing. Kau tahu bukan, karena perempuan pirang itu, Lee meninggalkanku di tempat asing dan dikelilingi orang asing? Beruntungnya, aku sudah berkenalan dengan grandma dan Lea.

Semula kupikir Helena merupakan pacar laki-laki culun itu dan menurut pengakuan Lea mereka tinggal serumah. Apa tubuh, pikiran serta hatiku tidak terbakar api cemburu ketika mendengar pernyataan itu? Meski Lee sudah mengklarifikasi bahwa Helena bukan pacarnya, tetap saja ... mereka tinggal serumah ....

Biar kuulangi lagi. Serumah. Itu artinya mereka akan bertemu setiap hari. Lee dengan wanita pirang bermata biru serta tidak bisa kupungkiri auranya ceria dan cantik. Bagaimana kalau sampai ia menyukai Helena?

Aku harus mencari cara untuk mengawasi mereka berdua dan satu-satu tindakan gila yang hinggap di otakku adalah Lea. Jadi aku meminta Sebastien menungguku untuk bicara dengan Lea di sisi peternakan usai adik perempuan Lee mengantarku ke bilik toilet untuk mengganti pakaian yang disiapkan Nameeta. Sedangkan kulihat Lee masih mengurusi barel-barel besi berisi susu sapi bersama Helena dan katanya ia akan segera menyusul untuk melihatku pulang. Astaga, kenapa selalu bersama Helena?!

“Apa mereka bertingkah seperti pasangan kekasih ketika di rumah?” tanyaku pada Lea yang masih saja tampak berbinar karena berbicara denganku. Oke, kali ini kuakui aku memanfaatkan kondisinya.

“Maksudmu, kakakku dan cucu grandma Rose?” tanyanya kembali setelah mengikuti arah pandanganku ke dua orang yang kami sedang bicarakan.

“Ya.”

“Em, sebenarnya Lee bersikap biasa saja, tapi Helena yang sedikit ... apa ya sebutannya?” Lea menghentikan kalimatnya untuk berpikir. “Menarik perhatian Lee?”

“Oh great, dia pasti menyukai kakakmu!” pekikku dan kau tahu bagaimana Lea menanggapi sikapku ini?

“Apa kau menyukai Lee?” tanyanya sambil menutupi senyum lebar yang sedari tadi memang ditampilkan.

Aku berpikir, harus mengaku pada Lea atau tidak. Namun sebelum mendapat kesimpulan tersebut, tanpa perintah dari otak mulutku sudah mengambil alih terlebih dahulu. “Aku akan menandatangani semua poster fotoku di kamarmu, kalau kau mau kuajak bekerjasama.”

Mata Lea melebar seirama dengan mulutnya. Menggeleng samar ia pun menjawab dengan antusias. “Setuju! Aku setuju! Apa yang harus kulakukan?”

“Bagus, aku suka semangatmu. Aku hanya perlu kau untuk menjadi mata-mata Lee ketika sedang berada di rumah dan jangan biarkan cucu grandma mendekatinya,” terangku.

“Jadi, kau benar-benar menyukai kakakku? Astaga! Aku tidak percaya ini bisa terjadi,” pekik Lea sambil melompat-lompat kecil mirip balita yang baru saja diberi selusin cokelat. “Aku sudah bisa menduganya saat kalian tidur berpelukan,” bisiknya. Selayang pandang, gadis yang kupikir sebaya dengan adikku itu berhenti dan mengerutkan dahi. “Tapi bagaimana cara aku melaporkannya padamu?”

“Kemarikan ponselmu. Aku akan memberimu nomor teleponku. Jadi kau bisa mengabariku setiap saat. Tapi ini juga rahasia. Kau tidak boleh memberikannya atau menceritakannya pada orang lain.”

Sekali lagi ia melotot, mengangguk sembari membentangkan senyum yang mirip sekali dengan Lee. Sementara tangannya sibuk merogoh kantung katelpak untuk mengambil ponselnya lalu menyerahkannya padaku. Dengan cepat kusambut dan kucantumkan nomorku di sana lalu kukembalikan pada pemiliknya.

Aku tidak mengerti kenapa Lee tidak memiliki ponsel sementara Lea punya. Ketika kutanyakan hal itu padanya, gadis duplikat Lee itu menjawab, “Kata Lee, lebih baik ia menabung untuk persiapan kuliahnya dan persiapan untuk aku masuk Senior High School tahun depan daripada membeli ponsel. Orangtua kami sudah meninggal, jadi Lee yang semua bertanggung jawab untuk biaya-biaya seperti itu. Sedangkan aku juga menabung dan membelinya dari penghasilan band-ku. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagi Lee.”

Aku memandang Lea yang tatapannya beralih ke tanah. Tampak sendu, yang anehnya menggetarkan hatiku. Berpikir, semua anggota keluarga Lee bekerja keras dengan memanfaatkan bakat yang mereka miliki, tidak dengan memanfaatkan sesuatu dari orang lain yang memiliki kedudukan, seperti yang selalu kupikirkan tentang orang miskin. Secara berangsur lebih mengubah persepsiku terhadap mereka.

I’m sorry to hear that,” ucapku tulus. Mengejutkan diriku sendiri.

“Tidak apa-apa, kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu, aku sudah tidak sesedih dulu,” jawab Lea disertai senyum paksa.

Beberapa saat kami saling diam. Lagi-lagi aku berpikir, sudah sangat keterlaluan pada Lee sewaktu pertama kali ia menginjakkan kaki di rumahku dan aku berniat mengusirnya. Aku menyesal.

“Jadi, kau memiliki grup band?” tanyaku yang lagi-lagi mengejutkan diriku sendiri karena bisa berbasa-basi dengan orang asing. Biasanya aku tidak. Lea, yang notabennya satu-satunya keluarga Lee, memang seperti memiliki kekuatan sesuatu yang bisa membuatku untuk terus bicara dari hati. Mungkin karena kepolosan dan ketulusannyalah yang bisa membuatku begini.

“Begitulah, tolong rahasiakan ini dari Lee ... aku tidak ingin dia tahu kalau setiap pulang sekolah band-ku bermain di dekat stasiun bawah tanah. Kau tahu, seperti musisi jalanan. Berharap suatu saat produser musik akan merekrut band kami.”

“Baiklah. Seperti aku mempercayaimu bisa menjaga rahasiaku, jadi kau juga harus mempercayakan ini padaku kalau aku akan merahasiakannya dari Lee. Jadi masing-masing dari kita memiliki rahasia. Ngomong-ngomong alat musik apa yang kau mainkan? Dan kenapa kau tidak mencoba memasukkan CV anggota band-mu ke produser? Atau mengunggahnya di media sosial?”

Lea mengangguk, kali ini serius. Tidak heboh seperti tadi. “Aku bermain gitar. Tenang saja, soal itu kami juga sudah melakukannya di beberapa tempat rekaman musik dan media sosial. Pengikutnya masih belum banyak. Tapi kami tidak akan putus asa dengan mudah,” jawabnya gigih.

Sekarang gantian aku yang mengangguk. Diam-diam mencatat dalam hati bahwa suatu saat akan melihat permainan Lea dan anggota band-nya di dekat stasiun bawah tanah semisal ada pekerjaan di dekat sana.

“Ngomong-ngomong aku sangat berharap kau dan paman itu ikut sarapan bersama kami. Jangan khawatir, masakan grandma Rose sangat enak. Tidak kalah dari restoran bintang lima.”

Lea memandang Sebastien yang sedang melihat sapi-sapi di kandang dari jauh. Sekarang sudah sekitar pukul lima lebih tiga puluh. Matahari mulai lebih berani menampakkan diri dan lampu-lampu pada kandang sapi sebagian mulai dimatikan. Suara ayam jantan yang berkokok juga bersahut-sahutan. Ada juga suara ayam betina yang berkotek bersama suara-suara anak ayam.

Yah, sebenarnya aku ingin dan lapar, tapi, aku harus makan dengan menu dietku. Saat aku berpikir seperti itu dan akan mengungkapnya, Lea kembali bersuara. “Mereka datang, di belakangmu.”

Tubuhku refleks kuputar 180° untuk melihat Lee sedang berjalan bersama grandma serta Helena yang tampak memberungut menatapku. Kenapa? Apa ia merasa aku adalah saingannya yang berat? Ha! Baguslah kalau perempuan berambut pirang itu sadar diri!

“Kau sudah akan pulang?” tanya Lee dengan wajah serta suara tenang. Berlainan dengan wajah serta suara seksinya ketika tadi sedang dan setelah menciumku. Astaga aku jadi membayangkannya lagi. Pipiku memanas dengan cepat. Jadi aku berdeham satu kali sebelum menjawabnya.

“Iya. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Tidur maksudku, tambahku dalam hati.

“Aku harap kalian bisa sarapan bersama kami,” sahut grandma Rose. Kulihat Helena di sebelah beliau seperti menunjukkan adanya tanda tidak menyukai ide tersebut.

“Grandma, aku pikir Miss Jasmine Maxwell masih banyak pekerjaan. Lagipula tidak mungkin orang kaya dan model terkenal sepertinya akan ikut makan bersama kita,” kata perempuan yang detik ini sudah kutetapkan sebagai rivalku. Maka dari itu aku mengernyit tidak suka.

Benar kan, ia memang tidak menyukaiku dan aku yakin Lee menjadi alasan terkuatnya.

“Helena ...,” panggil Lee dan grandma secara bersamaan. Mungkin untuk memperingatkannya agar diam.

“Lain kali aku akan ikut makan bersama.”

“Baiklah, hati-hati,” ucap Lee masih dengan sikap tenang seperti yang selalu ia tunjukkan.

Saat Sebastien mengajak grandma mengobrol—aku tahu supir pribadiku itu bisa diandalkan untuk hal-hal yang menyangkut kerahasiaan kedatanganku—aku mendekati Lee lalu berbisik, “Tenang saja soal katelpak, boots, dan bajumu ini. Aku akan mengembalikannya dan aku ingin kau menyimpan bajuku, mungkin saja aku akan menginap lagi, Devoughn.”

“K-kau apa?” tanya Lee gelagapan.

You heared it, Devoughn,” jawabku diselingi smirk smile sembari melirik Helena yang berwajah kacau balau. Oh astaga, aku menikmati wajah kekalahan perempuan itu. Haha, tak kusangka ini ssngat menyenangkan.

Tanpa memedulikan mereka lagi, aku pun memanggil Sebastien. “Letakkan semua ini di bagasi mobil,” titahku sambil mengulurkan katelpak, boots dan baju Lee yang sedari tadi kupegang.

“Kenapa? Kau takut mobilmu bau kotoran sapi?” Helena memulai dengan tawa ledakan. Aku hanya berusaha mengontrol emosiku. Ini sedang di luar. Aku tidak boleh mencolok. Meski tanganku gatal ingin sekali melempari wajahnya dengan kotoran sapi, tapi tindakan yang paling aman sekarang adalah mengabaikannya dan pulang.

____________________________________________

Thanks for reading for this chapter

Thanks juga yang udah vote dan komen

See you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Repost : 1 Januari 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro