Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

5. Worried

Setelah sarapan, Teo bersiap untuk pergi bekerja. Wajahnya yang telah terlihat segar merona membuatku merasa lega. Syukurlah, suamiku telah sehat kembali.

"Aku berangkat dulu ya, Sayang," pamitnya. Kucium tangannya seperti biasa dan dia tersenyum gemas, senyum kotak ciri khasnya tergambar jelas di wajahnya. Ikat kepalanya membuatnya terlihat manis sekaligus cool. Saat aku sibuk memperhatikannya, tertangkaplah sorot matanya. Ada desiran rasa aneh terbersit dalam hati, seperti ... tak relakah?

"Hati-hati, Teo. Semangat!" seruku sambil mengepalkan kedua tanganku. Dia mengangguk dan lekas pergi mendekati pintu. Punggungnya yang kokoh dibalut denim blue-grey sungguh terlihat tanpa cela. Dia menggapai pintu untuk ditutupnya dari luar. Pintu tertutup.

Saat aku hendak berbalik, terdengar bunyi kunci pintu yang diputar dan derit pintu menandakan pintu terbuka kembali. Seseorang mendekapku dari belakang sebelum aku sempat menengok.

Astaghfirulloh!

Namun, aroma tubuhnya menguar menenangkanku. Ternyata dia kembali, ada apa?

"Tunggu aku ya, aku akan pulang malam ini," bisiknya sambil membalikan badanku dan diciumnya keningku lembut.

"Iya," jawabku. Aku benci merasakan ini, namun begitu mengganjal. Tuhan, jaga dia kumohon ...

---

Seharian ini, belum ada kabar dari Teo sekalipun. Meski aku telah menyibukkan diri dengan serentetan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel lantai, mencuci, memasak serta menjahit desain baju yang kubuat, tetap saja aku merasa gelisah.

Aku pun berdiri dari pojok ruang tengah -yang kami sulap menjadi ruang kerjaku- menuju dapur, mengambil air minum karena gelasku telah kosong. Aku rasa, aku membutuhkan air hangat karena sedikit mual.

10.16 Sudah break shooting
belum?

Kuhampiri ruang makan dan membuka tudung saji. Aha ... aku ingin memamerkan japchae (makanan asal Korea Selatan) kesukaannya yang beberapa saat lalu telah matang kumasak. Dia ketularan kak Jean pasti. Mengingat Kak Jean sedang jatuh cinta dengan masakan khas negeri Gingseng itu.

11.32 Teo, aku masak
Japchae loh^^

Chatku tak dibaca olehnya. Ah, aku harus bersabar sepertinya. Mungkin saja dia benar-benar sedang sibuk sehingga tak sempat membalas. Positif thinking, Ta. Percaya saja pada Tuhan yang menjaga Teo.

---

Perutku begitu mual. Indra pengecapku terasa pahit, serta keringat dingin bercucuran menyelimuti setiap jengkal tubuhku. Astaghfirulloh, aku kenapa?

Kulirik ponsel pintar yang baterainya tinggal beberapa persen. Hufh ... belum ada notifikasi darinya. Jam pada display ponsel menunjukkan pukul 21.12 WIB sekarang. Sudah malam ternyata. Apa dia tak jadi pulang?

Setelah tiga kali memuntahkan isi perutku, aku terus memanggilnya melalui telepon, tapi tak sekalipun diangkat. Aku lemas.

Hingga tengah malam, aku tak merasa begini sebelumnya, tapi aku membutuhkannya menemaniku saat ini. Teo, pulanglah ...


Kembali lagi aku mencoba untuk menelponnya, hanya nada tunggu yang terdengar, sampai akhirnya ...

"Ah iya, sebentar ... Hallo," balasnya. Terdengar suara seorang perempuan menginterupsi, "Siapa itu sayang? Ponselmu berisik sekali."

Tut tut tut ...

Kuputus saluran teleponnya. Rasa nyeri lingkupi dadaku. Menyesakkan ... Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Ada perempuan yang memanggilnya sayang? Seketika badanku lemas dan tak sadarkan diri.

---

Kubuka kelopak mataku perlahan, cahaya silau menyeruak masuk dengan paksa pada pandanganku. Saat cahaya masuk sempurna, aku lihat seseorang yang duduk di kursi dekat tempatku berbaring. Seorang laki-lagi dengan rambut hitam kecoklatan dan kulit putih susu sedang bersedekap sambil memejamkan mata.

Yongki?

Kenapa dia ada di ... Astaghfirulloh! Aku di mana? Suasananya seperti rumah sakit?

"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan posisi tak berubah. Bahkan dia masih mengatupkan kelopak mata di kedua sisi matanya.

"Iya, aku kenapa?"

"Kau pingsan di apartementmu. Teo terus mengangguku lewat telepon dan memintaku menyampaikan kotak itu padamu," sambil menunjukkan kotak bingkisan cukup besar di nakas, "siapa nyana aku malah melihatmu tergeletak di ruang tengah dengan badan panas," penjelasannya panjang lebar. Aku tak menyangka dia dapat berbicara sepanjang itu.

"Terima kasih, Kak."

"Sial! Kenapa suasananya jadi canggung begini sih, I?" Dia kemudian menaruh kotak hadiah dari Teo ke samping tempatku berbaring.

"I?"

"Ii, Kau tak ingat panggilan itu?" terlintas raut kecewa tergambar dari wajahnya.

"Aku sedikit ingat panggilan itu diberikan dari teman kecilku di Bandung. Babas namanya," ucapku dan mulai memperhatikan Yongki dengan teliti.

"Ah, masih ingat ternyata." Dia terlihat lega. Sekarang, justru aku yang bingung.

"Maksud Kak Yongki apa?"

"Yongki Bastian itu namaku. Kau anak panti dekat SD, kan?"

"Ya Tuhan, kamu Babas?"

"Yap."

Baiklah, dunia sangat sempit. Seorang Yongki teman sekaligus rekan kerja suamiku ternyata adalah teman masa kecilku. Suatu fakta tak terduga yang baru terungkap. Dia adalah temanku sekelas yang begitu dingin namun perhatian. Satu-satunya teman yang meminjamiku sepedanya untukku belajar naik sepeda.

"Sekarang kau banyak berubah, Bas. Sepertinya aku harus memanggilmu Yongki mulai sekarang. Yong, Kau tahu di mana Teo?"

"Dia tak pamit denganmu?"

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Dia menghela napas kasar.
"Dia pergi ke Yogyakarta tadi pagi. Ijin ke manager dan berangkat dengan pesawat. Dia menitipkan itu sebelum pergi. Itu saja yang kutahu."

Aku merasa pusing ...
Kenapa dia tak bilang padaku? Dia pergi ke Yogyakarta pasti menghadiri wisuda adiknya. Aku sungguh tak mengerti jalan pikiran Teo. Apa dia tak menganggapku ada? Lalu siapa suara perempuan tadi?

Kubuka kotak bingkisan berwarna biru toska itu untuk mengalihkan pikiran. Cukup membuatku penasaran juga dengan isinya. Wow, ternyata sebuah mantel berwarna hijau army.

"Terima kasih sudah memberikannya padaku."

"Ya, kenapa berterima kasih padaku? Itu kan dari Teo," protesnya. "Aku ijin pergi dulu ya."

"Terima kasih banyak ya, Yongki."

Dia pergi pas dengan kedatangan Jaya. Mereka berpapasan dan saling menatap sebelum pergi. Untung saja aku tak jadi sendirian.

"Itu siapa, Mbak?"

"Yongki Bastian, rekan kerja Teo."

"Yongki Bas ... Eh?"

-Rey-
---
(290417)

Udah nggak usah galau ... mending baca update an Teorema aja. Makin seru, makin banyak pertanyaan bertebaran, hehehe ...
Siapa pemilik suara perempuan di telepon?
Apa hubungan Phyta dengan Yongki?
Kenapa Teo pergi tanpa pamit? Bagaimana kelanjutannya?
Tunggu Rey ya ^^/

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro