
a plan (2)
"Dan yang penting, gue udah punya info kunci buat naklukin Louis," ucapnya dengan raut penuh misteri.
"Apa?" tanya gue antusias, Keana pun memberikan isyarat agar gue mendekat seakan memberitahu rahasia besar.
"Pertama, Louis itu sangat suka sama cewek yang pintar masak. Lihat itu," ucap Keana sambil menunjuk kelompok anak populer yang berada di tengah kafetaria. Di antara mereka ada Louis dan ketiga temannya yang sedang menyantap makan siang mereka.
"Louis gak pernah makan, makanan kafetaria. Dia selalu makan, yang dibawain sama fans-fansnya." Iya sih, setelah gue perhatiin beberapa hari terakhir, Louis selalu makan dari kotak bekal kek punya gue. Tahu aja tuh cowok, manfaatin keadaan.
"Lo kan anak koki, pasti pintar masak dong?" Pertanyaan Keana buat gue mengernyit. What? Masak? Gue? Hell no!Gue sama masak itu, kek dua kutub magnet yang sama, saling tolak-menolak.
"Duh, gue gak bisa masak, Kean!"
"Serius?" Gue cuma bisa ngangguk lemas sebagai jawaban. Waktu kecil gue pernah hampir mati keracunan gas, hal ini buat gue lumayan trauma. Daddy sama mama juga milih jauhin gue sama kompor, jadilah gue sampai sekarang gak bisa masak kecuali manasin makanan itupun pakai microwave.
"Jadi gimana, Kean?"
"Tenang, kalo gitu kita masuk ke kunci nomor dua. Dengar-dengar, Louis mengulang di mata pelajaran matematika dan dia disuruh untuk mencari tutor, El. Nah, kamu bisa ajuin diri jadi tutor Louis, kan lama-lama kalian bisa akrab tuh."
Ini lebih mustahil, nilai gue aja pas-pasan, gimana mau tentorin Louis? Bisa-bisa kami adu kebegoan. Semangat gue tadi entah menguap ke mana. Tips dari Keana, tidak ada yang bisa gue lakuin.
"Kenapa? Gak bisa lagi?" Hanya dengan melihat raut wajah gue, sepertinya Keana udah bisa menjawab sendiri pertanyaannya.
"Lo, bisanya apa sih, El?"
"Gak tahu," jawab gue lemes sambil menelungkupkan kepala gue ke atas meja kafetaria yang kosong.
"Berarti sisa kunci terakhir nih, semoga aja lo bisa." Gue gak merespon ucapan Keana. Paling gue gak bisa lagi. Ah, kok gue se-hopeless ini ya!
"Louis suka taruhan," ucap Keana, namun tetap gue abaikan.
"Dia gak suka kalah."
"Hmm. Maksud gue, lo bisa aja buat taruhan yang gak bakalan Louis tolak." Ucapan Keana kali ini, mulai menyita atensi gue.
Gue pun mengangkat kepala, "Caranya?"
"Ya, kamu pikir sendiri deh. Apa yang bisa lo jadiin taruhan."
"Berarti gue harus berhadapan langsung dong sama Louis?"
"Yaiyalah, lagian gimana caranya dia tahu lo ada, kalo cuma dari belakang terus!"
Kali ini harus gue akuin, ucapan Keana benar, "Iya sih, Kean."
"Jadi tunggu apalagi?" tanyanya yang mendapat hadiah tepukan sayang di kepalanya.
"Bukan sekarang juga kali!" seru gue yang ditanggapi dengan tawa ngakak oleh Keana. Temen gue keknya mulai gila.
Sebuah taruhan, terlintas di pikiran gue. Taruhan yang bisa membuat gue mendapatkan Louis. "Gue mesti nemu momen yang pas, setidaknya pas Louis sendiri."
"Apa?"
"RA.HA.SIA."
Ucapan gue mendapatkan respon gerutuan dari bibir Keana. "Huh? Main rahasia ya sekarang!"
Gue cuma tertawa melihat respon Keana, yang bisa dikatakan lucu. Maaf Keana, belum saatnya.
Dan kamu Louis Carrington tunggu saja, gue Elia Anjani Evans, pasti dapatin lo.
To be continue...
Ini keknya makin maksa dan makin jauh dari rencana awal cerita 'Tentang Rasa' 😂😂😂
Andieeeeer
Pinrang, 6 Juni 2017
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro