Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

16 | vatican cameos

Rasanya naksir sama sahabat sendiri itu gimana?

Nggak usah pakai mungkin, tapi gue tahu, klise dan basi banget. Kalau dalam dunia sandiwara, sudah super over-used. Tapi sesering apa pun skenario jatuh-cinta-pada-sahabat-sendiri dipakai, orang-orang tetap tertarik dengan cerita semacam itu. Kenapa? Karena hampir semua orang merasa itu relate dengan mereka. Sebab ada kalanya, kita jatuh cinta diam-diam tanpa kita sadari. Dan itu adalah jatuh cinta yang paling mematikan, karena dia datang dalam sunyi, nggak diketahui dari mana munculnya, lalu setelahnya, entah memendam atau menyuarakan, persentase kisahnya berakhir bahagia selalu lebih kecil daripada persentase lo mengalami patah hati.

Gue kenal Regina dua belas tahun.

Gue kenal Harsya enam tahun.

Gue kenal Yumna enam tahun.

Gue kenal Jella dua tahun.

Dan dari situ, gue sadar bahwa semakin lama lo kenal sama seseorang...

Semakin lo terbiasa sama dia...

Semakin sulit lo membayangkan gimana bentuknya dunia lo sebelum dia ada...

Lalu pelan-pelan, batas antara dia dan dunia lo melebur.

Dia bukan lagi bagian dari dunia lo.

Dia sudah menjelma jadi dunia lo itu sendiri, yang mana tanpanya, lo nggak bisa membayangkan hidup lo bakal seperti apa.

*

Tanya Jenar bikin Rei terdiam sebentar dan itu bikin Jenar menyesal sudah bertanya. Saat Rei menarik napas, dia buru-buru bicara lagi.

"Nevermind. Nggak usah dijawab."

"Jadi..."

Jenar tahu dia bilang nggak usah dijawab, tapi dia malah menunggu Rei menyelesaikan kata-katanya yang menggantung. "Jadi?"

"Jadi... apa yang kuinginkan."

"...."

"Jangan pernah berubah, ingat janjimu."

"...."

"Jangan pernah menghilang... dari hatiku."

"Regina..."

Rei menyurukkan mukanya ke leher Jenar, mengeluarkan tawa yang bikin kulit Jenar tergelitik. Sial. Kadang, Jenar beneran benci efek yang bisa ditimbulkan cewek ini padanya.

"Itu lirik lagunya Vierra."

"HEH!!"

"Impas. Lo kayak gitu ke gue dua kali." Rei senyam-senyum dengan mata yang masih terpejam, lalu mulai menyanyikan lagunya Vierra yang barusan dia sebutin. Judulnya Jadi yang Kuinginkan. Suaranya serak, raspy, kayak orang baru bangun tidur.

"Aku di sini sendiri menunggu... Aku sendiri di sini menanti... Aku tak terbiasa untuk... berharap..."

"Suara lo jelek."

"Kalau bagus, nanti Raisa nggak laku, Je."

"Regina."

"Hm?"

"Next time ketemu gue, pake parfum ini lagi ya?"

"Emang kenapa?"

"Gue nggak pernah nemuin orang yang gue kenal pake parfum yang baunya kayak gini. Bukan berarti gue bilang selera lo aneh... walau ya... lo rada aneh—tapi nggak apa-apa, gue juga aneh." Jenar mulai meracau. "It's just... this scent suits you."

"Emang menurut lo, baunya kayak gimana?"

"Peluk-able."

Di saat-saat seperti itu, yang paling kasian adalah super taksi online yang mereka tumpangi. Sudah mesti kerja sampai menjelang tengah malam, masih juga harus disuguhi oleh obrolan ngalor-ngidul dua mahasiswa yang lagi nggak bisa berpikir lurus. Rei karena mengantuk, Jenar karena drunk.

Nggak berapa lama, taksi online-nya berhenti di depan pagar kosan Sadewo. Tadinya, Jenar mau ngantar Rei sampai ke dalam, tapi Rei menolak. Jenar rada khawatir kan, apalagi Rei jalannya oleng gitu gara-gara ngantuk sampai-sampai tangannya menabrak pagar dengan keras. Cewek itu mengerang samar, refleks memaki.

"Gue anter ke dalem ya?"

"Nggak usah, ini pagarnya aja yang goblok, kok ada di jalan gue."

"Perasaan yang mabok gue, kenapa yang jadi geblek lo?" Jenar memiringkan wajah.

"Oh, lo nggak akan mau melihat seperti apa gue ketika gue mabok beneran." Rei berdecak, lanjut berjalan dan melambai pada Jenar dengan posisi membelakangi. Jenar nggak pergi, tetap berdiri di luar taksi yang menunggu sampai Rei benar-benar sudah masuk.

Lantai satu sudah sepi. Rei menapaki tangga dengan malas. Suasana lantai dua juga hening. Lampu besar sudah dimatikan, digantikan oleh lampu kecil yang lebih redup. Rei mengernyit waktu melihat Rossa sedang duduk sendirian, menunduk dengan ekspresi gloomy.

"Lo kenapa, Ros?"

Rossa menoleh. "Rei, kalau gue cerita, lo mau dengerin nggak?"

"Cerita aj—wait, bentar hp gue geter. Gue cek dulu." Rei mengeluarkan hp-nya, dan ternyata ada chat baru masuk dari Dhaka.

Kok lo biarin Tigra balik sendirian?!

Kan udah di-handle Milan.

Tetap aja.
Ngga bisa amanah jadi temen?

Ada urusan.

Jenar?

Iya.

Lo ada urusan apa sih sm dia?
Gakelar-kelar.

Ga ada.

Trs kenapa Jenar melulu akhir-akhir ini?

Kepaksa.
Dia tau gue mantanan ama Tigra.

Gue jg tau.

Beda. Lo temen gue.

Trs dia apa?

Rei nggak ngerti, ini perasaannya saja atau memang ketikannya Dhaka jadi nyolot banget. Rei nggak suka. Dia merasa kayak lagi dimarahi untuk sesuatu yang nggak seharusnya bikin dia dimarahi.

Jenar ya Jenar.

Temen lo? Bukan, kan.

Dhaka, lo knp sih?

Lo naksir sama dia?

Ngga.

Jujur.
Jgn denial.

Siapa yg denial?

Kenapa sih, dari semua orang, kenapa mesti dia?

Gue ngga tau lo lg mabok apa gmn.
Talk to me again when you're sober.

Dua belas tahun kenal Dhaka, Rei tahu kalau dia masih lanjut membalasi chat cowok itu, mereka bakal saling ngotot terus berantem. Dua-duanya memang keras kepala. Itu sudah jadi rahasia umum. Lagipula, kalau memang dia ada apa-apa sama Jenar, apa itu urusannya Dhaka? Jelas bukan.

"Siapa?" Rossa bertanya.

"Dhaka. Nggak penting." Rei membalas. "Lo mau cerita soal apa?"

"Gini..." Rossa tampak agak ragu. "Lo tau kan, gue udah lama banget suka sama Milan?"

"Iya. Terus?"

"Dan kayaknya, semua orang juga udah tau gimana gue suka sama Milan, kan?"

"Iya. Juwita aja tau lo naksir sama ceweknya."

"Jella jalan sama Milan kemarin-kemarin."

Rei ternganga. "HAH?!!!"

"Dan dia bohong ke gue ketika gue tanya." Rossa menghela napas. "Sebenernya, gue tau gue juga nggak ada hak marah sama dia, apalagi kalau misalnya Milan yang ngajak. Tapi dia temen gue, Rei. Seenggaknya, kalau emang dia juga ada rasa sama Milan... walau jujur buat gue sakit banget... kenapa dia nggak jujur sama gue? Kenapa harus bohong?"

"..."

"Menurut lo, gimana?"

Wah, berat banget ini.

Jujur saja, kalau mesti memihak, Rei nggak akan bisa memilih salah satu diantara Jella dan Rossa. Mereka berdua sama-sama teman Rei. Sepertinya, kalau dilihat dari situasinya, Rei juga nggak akan bisa menyalahkan Jella, sebab posisinya sekarang, Milan dan Rossa nggak ada apa-apa. Tapi perasaan Rossa yang ngerasa sakit juga wajar, karena gimana pun juga, Jella temannya. Mereka seatap sejak maba. Mereka sudah berteman lama. Kecewa karena Jella bohong juga adalah sesuatu yang lumrah.

"Gue nggak bisa bilang apa-apa. Sori, Ros, tapi lo berdua... gue rasa nggak ada yang benar-benar bisa disalahkan diantara lo berdua, juga nggak bisa dibenarkan."

"Jella bohong sama gue."

"Mungkin karena dia nggak mau lo sakit hati?"

"Kalau dia kaya gini, malah gue lebih sakit hati."

"Gue rasa lo berdua harus ngobrol empat mata, dari hati ke hati, deh."

Rossa terdiam, tapi lalu memaksakan senyum. "Oke, makasih ya, Rei."

Terus-terang, Rei merasa bersalah sama Rossa. Tapi bukan tempatnya mnyuruh Rossa atau Jella melakukan tindakan tertentu. Itu masalah internal mereka.

Begitu masuk kamar, hp Rei bergetar lagi. Ada chat baru, bukan dari Dhaka tapi dari Jenar. Isinya foto Rei yang ketiduran tempo hari, waktu mereka nonton midnight bareng. Rei tersedak, nggak menyangka Jenar akan mengambil fotonya diam-diam. Sudah jelas dia ngamuk. Foto muka yang lagi tidur adalah seaib-aibnya aib.

regina_ar: I FUCKING HATE YOU!!!!!
jenardigs: trust me, I know.
regina_ar: I MEAN IT.
jenardigs: alright, next time we meet, let's just kiss.
regina_ar: ??????????!!!!!!!!!!!!!!
jenardigs: let's show how much we hate each other... passionately.
regina_ar: you're disgusting!!!!

jenardigs: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jenardigs: love you too
jenardigs: goodnight, princess.

*

"Update lo yang terakhir dangdut banget, anjim." Milan tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Yuta yang lagi terdiam galau dengan hp di tangan. Cowok itu duduk di tepi kasurnya, menatap layar gadget di tangannya dengan bingung. Niatnya mau buka Twitter untuk mencari daily dose of struggle netizen yang kira-kira bisa bikin dia tertawa atau bisa memicunya rajin mengucap kata 'bangsat'. Tapi dia malah mendapati tangannya membuka chat WhatsAppnya sama Yumna.

Chat terakhir mereka masih terpampang di sana.

Jadi kita beneran udahan?

Mau jilat ludah sendiri?

Ngga, enakan jilat yang lain.

Yaudah.

Statusnya Yumna lagi online. Yuta melamun, ngelihatin foto profil Yumna yang sekarang sudah diganti. Nggak lagi memajang foto mereka berdua, sudah Yumna ubah jadi wajah ganteng seorang aktor Thailand yang Yuta tahu namanya kayak lampu Philip kalau baru dipasang. Terang.

Ujuy lagi ngapain ya—ANJENG KENAPA TANGAN GUE NGETIK SENDIRI?!!

Yuta panik, mana Yumna lagi online kan, takut saja kelihatan kalau dia lagi typing. Buru-buru dia close aplikasi WhatsAppnya. Sedangkan Milan yang dari tadi sibuk ngaca pake kamera depan terus sibak-sibak rambut kini telah beranjak. Hp-nya dia letakkan di meja belajarnya.

"Mau ngapain lo?" Yuta bertanya, berusaha mengalihkan pikirannya dari Yumna.

"Bikin TikTok dong, gue kan hits ganteng kampus."

Milan baru saja mau memulai rekaman waktu pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk. Wirya muncul, mukanya kelihatan sepet kayak salak kemudaan yang dipaksa dipanen. Milan batal merekam. Kalau Wirya masuk videonya, bisa-bisa ciwi-ciwi TikTok pada salah fokus sama Wirya.

Ibarat kata kalau anak tukang minyak wangi baunya kayak seribu taman bunga, Wirya yang anak tukang emas, bening bercahaya bak seperangkat perhiasan berlian.

"Kemarin-kemarin lo jalan sama Jella?" Wirya bertanya tanpa banyak basa-basi.

"Kagak, dari mana itu—"

"Gue nggak nanya ke lo, Tuy! Gue nanya ke Milan."

"Kalau iya kenapa?"

"Siapa yang ngajak? Lo atau dia?"

"Apa urusannya sama lo?"

"Jadi lo nggak mau jawab?"

"Ck." Milan berdecak. Diantara anak-anak di kosan mereka, Wirya itu yang paling sabar, kalem dan pendiam. Dia jarang banget bereaksi berlebihan. Otaknya sangat logis dan jelas, Wirya itu tipe orang yang penuh pertimbangan. Sekalinya ngomong, kata-katanya bisa menohok sampai ke tali jantung. Wirya juga dikenal cuek soal cewek-cewek-an, makanya Milan sama Yuta heran saja, kok tiba-tiba sekarang Wirya seperti lagi menginterogasi Milan. "Iya. Gue jalan sama jella. Gue yang ngajak. Kenapa?"

"Lo udah beres sama Juwita?"

"Anjing, beres, lo kira masang seprei?" Yuta mau ngakak, tapi batal saat dilihatnya Wirya nggak tertawa sama sekali. Tersenyum pun nggak.

"Apa urusannya sama lo?"

"Kalau mau brengsek, jangan sama Jella."

"Karena lo suka sama Jella?" Milan seperti menantang.

"Iya. Dikit." Wirya berdecak. "Tapi gue nggak habis pikir sama lo, Lan. Dari sekian banyak cewek, kenapa mepet si Jella? Lo jelas tau kalau dia temannya Rossa dan Rossa sudah lama banget suka sama lo!"

"Itu sih urusannya Rossa, bukannya urusan gue. Lagian, manusiawi kali. Kalau Rossa suka sama gue, gue harus balik suka sama dia? Kan nggak. Sama aja kayak gimana Jaka ngejar-ngejar Rossa, dia juga cuekin Jaka, kan?"

"Lo sadar nggak kalau lo bisa bikin Rossa sama Jella berantem?"

"Apanya?" Sekarang, Milan gagal paham maksud ucapan Wirya.

"Jella bohong ke Rossa, bilangnya dia jalan sama gue, bukan sama lo."

Milan tercengang, Yuta kepingin tepuk tangan tapi takut ditimpuk Iphone 11 Pro Max yang lagi Wirya pegang.

"Kalau mereka berantem, masalahnya gede nanti. Yumna pasti bakal ngamuk sama kita-kita!"

"Suruh si Yuta jadi tameng."

"Gue ama dia udah mantanan."

"Mantan tapi ngarep balikan?" Milan menyindir.

"Gue nggak mau ikut campur urusan lo." Wirya menegaskan. "Tapi seharusnya lo punya cukup akal sehat buat tau mana yang baiknya dilakuin kalau lo nggak mau ini jadi masalah kan, Milan?"

*

Rei sengaja nggak membalas chat Jenar, meski dia dibikin senyam-senyum. Aneh, padahal biasanya dia nggak suka banget dipanggil pakai nama panggilan cute macam itu. Dulu waktu masih pacaran sama Tigra, mereka nggak pernah sekalipun pakai nama-nama pendek kayak gitu. Tigra orangnya... lebih straightforward dan blak-blak-an. Bukan tipe penggombal kayak Jenar. Tapi bukan juga yang terlalu realistis kayak Dhaka. Tigra... ya Tigra. Santai, suka memperhatikan Rei dengan caranya sendiri dan selalu jadi yang ketawa paling keras setiap kali Rei melontarkan candaan jorok—yang menurut Dhaka, sangat tidak pantas diucapkan anak gadis di depan sekelompok cowok.

Kadang, Rei suka nggak paham gimana sebagian besar orang menganggapnya innocent di awal—sama seperti Jenar, yang sekaget itu saat tahu kalau dia Rei pernah having sex—tapi Tigra berbeda. Dia seolah bisa melihat ke dalam diri Rei. Lebih tau tentang cewek itu daripada Rei sendiri dan itu bikin Rei takut.

Namun sehabis putus, mereka masih berteman baik. Bagusnya mereka pacaran tanpa banyak yang tau, nggak ada teman-teman mereka yang meledek saat mereka masih pacaran, atau berkomentar waktu mereka putus. Seringkali, dua orang yang tadinya sahabatan, pacaran terus putus, canggung bukan karena mereka merasa nggak enak dekat satu sama lain, tapi karena orang-orang sekitar mereka terus-terusan mengingatkan mereka kalau mereka sekarang sudah mantanan.

Pagi harinya, Rei disambut chat dari Jenar.

jenardigs: waking up to your scent.
regina_ar: *beating up your meat to my scent
jenardigs: bet your hand will feel a lot better than mine
regina_ar: my mouth can do wonder
jenardigs: you're really something else
jenardigs: cewek lain bakal takut
jenardigs: even think of it as harassment.
regina_ar: we harass each other.
regina_ar: adil. berarti posisi kita setara.
jenardigs: ngga takut dianggap liar?

regina_ar: lebih takut dianggap cewek lemah yg cuma bisa diem aja
jenardigs: mind to elaborate?
regina_ar: idk, dalam jokes seksual, gue ngga mau memandang gue sebagai objek.
regina_ar: sebagai bahan jokes yang cuma bisa diem ketika diketawain.
regina_ar: dan emangnya yang boleh nge-jokes kayak gitu cowok doang?
regina_ar: ngga juga. I mean, women can be sexually comfortable too.

jenardigs: stop
regina_ar: kenapa?
jenardigs: you sound like a weirdo.
regina_ar: bodo
jenardigs: don't get me wrong
jenardigs: I am a weirdo too.
jenardigs: it takes a weirdo to love another weirdo.

Cuma di-seen doang sama Rei dan Jenar menghela napas.

jenardigs: but seriously
jenardigs: your scent stays with me
jenardigs: kan lo sempet senderan ke gue.
regina_ar: terus?
jenardigs: kelas jam 10 hari ini ya? bareng yuk.
regina_ar: ngga mau.
jenardigs: saw that coming.
regina_ar: kenapa masih dicoba?
jenardigs: NJU
regina_ar: ????????????????
jenardigs: namanya juga usaha.
regina_ar: not funny.
jenardigs: but you smiled.

Rei baru sadar kalau apa yang dibilang Jenar benar. Dia tersenyum. Ini nggak benar. Sejak kapan dia bisa tersenyum hanya gara-gara satu kalimat?!

jenardigs: sorenya gue jemput, mau ya?
regina_ar: ngga
jenardigs: ok, sampai ketemu
regina_ar: I said no.
jenardigs: two no mean yes.
regina_ar: ATURAN DARI MANA
jenardigs: negatif dikali negatif hasilnya positif
regina_ar: negatif ditambah negatif hasilnya negatif
jenardigs: please?

Rei berpikir sebentar, lalu...

regina_ar: 2.45 pm sharp
regina_ar: don't be late.

Jenar: 

*

Sorenya, Rei benar-benar nggak mempercayai dirinya sendiri ketika dia duduk sendirian di salah satu gazebo kampus buat nungguin Jenar menjemputnya. Dia nggak tahu sih dia kege-eran apa nggak dengan nungguin Jenar kayak gini, tapi kalau Jenar sampai nggak datang...

AWAS AJA.

Sekitar lima menit berlalu, Rei lagi memainkan hp di tangannya saat dia dikagetkan oleh bunyi benturan keras dan benda yang tergesek di atas aspal. Refleks, cewek itu beranjak dari duduk. Sejumlah mahasiswa lain yang ada di sekitarnya ikut melakukan tindakan yang sama. Terdorong rasa penasaran selayaknya kebanyakan rakyat negara asal odading Pak Soleh, pada nyamperin sumber suara. Asalnya dari jalan besar di depan pintu masuk gedung departemennya Rei.

Nggak tau motor dengan motor nggak sengaja senggolan atau gimana, tapi yang jelas dua-duanya sudah bertebaran di jalan kayak beras tumpah dari karungnya. Dari yang tadinya kepo belaka, Rei langsung panik ketika dia mengenali sebuah helm yang menggelinding di jalan. Itu helm yang Jenar belikan untuknya waktu mereka nonton midnight bareng.

Otomatis, Rei lari tergesa-gesa melewati gerbang. Napasnya tertahan di tenggorokan ketika dia melihat Jenar terduduk di jalan. Dia masih pakai helm, tapi kausnya lengan pendek dan dia nggak berjaket. Salah satu lengannya berdarah-darah. Merahnya sangat mencolok di atas kulitnya yang terang. Kayaknya, tangannya bergesekan cukup parah dengan aspal waktu dia jatuh.

Tanpa berpikir, Rei berlari mendekat, bisa mendengar suara debaran jantungnya yang bekerja keras karena aliran adrenalin. Jenar terduduk di jalan, melepaskan helmnya dengan satu tangan yang nggak berdarah-darah. Rambutnya berantakan. Mukanya memerah. Dia jelas kesakitan.

"Jenar?!!!" Rei duduk di jalan, tepat di depan Jenar. "Jenar?!!! Jenar?!!! Lo bisa denger gue?!!!"

Jenar memiringkan wajah, mengamati cewek di depannya dengan mata menyipit. Regina Arunika yang mukanya lebih sering dingin hingga sering bikin orang takut mendekat. Regina Arunika yang tampaknya nggak ramah. Regina Arunika yang jarang tersenyum. Jenar mengernyit, nggak menebak jika Rei bisa menunjukkan ekspresi seperti itu. Jenar belum pernah melihat Rei sepanik sekarang sebelumnya.

"Jenar?!!!! Jenar?!!!! Lo denger gue nggak?!!"

Jenar berdecak. "Oh, stop screaming. I can hear you very clearly, so don't over-react!" Jenar berusaha menenangkan.

"YOU'RE BLEEDING!!"

"Gue manusia. Jadi gue mengeluarkan darah. Kalau gue pinata, gue mengeluarkan—" Jenar baru mau menyahut sarkastik, tapi nggak jadi waktu dia sadar muka Rei sudah sepucat itu dan tangannya agak gemetar.

Mahasiswa lain mulai merubung mereka seperti sekawanan semut baru menemukan sebongkah gula. Mahasiswa lainnya yang motornya senggolan sama Jenar tampaknya berada dalam kondisi lebih parah. Dia nggak pakai helm dan kepalanya sempat terbentur, sehingga kini berdarah, meski orangnya masih dalam keadaan sadar.

"... is it hurt?" Rei berbisik dengan suara kecil, tampak bingung di mana dia bisa menyentuh Jenar.

"Of course it is!"

"Tapi lo kelihatan biasa aja..."

"Terus gue harus gimana? Nangis meraung-raung?"

"... lo masih berdarah..." Rei mulai panik lagi, buru-buru buka tasnya dan mengeluarkan sebungkus tisu. Dia mencabut beberapa helai sekaligus, terus secara impulsif, memakainya buat menekan luka Jenar. Cewek itu mengeluarkan keringat dingin, tanpa sadar menggigit bibir. Tangannya masih gemetar.

"Hey, I am okay." Suara Jenar melembut dan dia mengulurkan tangannya yang nggak luka untuk memegang pergelangan tangan Rei. "You can stop shaking now. I am okay."

"LO BERDARAH!!"

"I thought girls see more blood than boys do?"

"BEDA KONTEKS!!!"

Jenar malah tertawa, bikin anak-anak yang ada di sekitar mereka langsung heran. Gimana nggak? Posisinya, Jenar masih terduduk di dekat motornya yang kini penuh baret dengan darah yang sangat banyak melumuri salah satu lengannya.

"KENAPA MALAH KETAWA?!" Rei berseru, seperti mewakili khalayak ramai.

"Muka cemas lo lucu. Apalagi itu gara-gara gue."

"INI BUKAN SAAT YANG TEPAT BUAT BERCANDA!!"

"Then is this the right time to do it?"

"It apaan?"

"Passionate kiss to show how much we hate each other."

Rei langsung jengkel, rasanya pengen nabok Jenar. Tapi rasa kesalnya nggak bertahan lama karena sesaat kemudian, waktu beberapa anak cowok mau bantuin Jenar berdiri, dia nggak bisa bangun dan nggak bisa jalan. Cewek itu disergap rasa takut hingga nyaris menangis. Salah satu dari mereka mengeluarkan mobil dari parkiran, membantu Rei membawa Jenar ke rumah sakit. Motornya Jenar ditinggal—walau kemudian Lanang dan Dhaka turun tangan mengurusi motor itu. Tigra dan Jella kompak berjanji bakal jemput ke rumah sakit, makanya Rei tetap stay untuk menemani Jenar.

Luka di tangannya Jenar kecil saja, tapi sobekannya cukup dalam hingga mengeluarkan banyak darah dan mesti dijahit. Rei menunggui di sampingnya, memalingkan muka ketika dokter menjahit lukanya hingga Jenar memanggilnya.

"Apa?"

"Lihat gue."

"Nggak mau. Serem."

"Lihat mata gue, jangan ke tangan gue."

Rei menurut dan menoleh lagi, memandang pada Jenar yang kini tertawa kecil. "Are you crying?"

Rei malu banget, jadi dia menunduk, nggak bisa menjawab pertanyaan Jenar.

Sehabis lukanya dijahit, dokter juga memeriksa kaki Jenar. Ada memar di kakinya, juga bengkak yang cukup terlihat. Tapi tidak ada perubahan bentuk yang abnormal, jadi usai melakukan pemeriksaan fisik, dokter tersebut mengarahkan Jenar untuk menjalani rontgent. Rei menunggu di luar selama hingga Jenar selesai menjalani rontgent. Ada retak minor di kakinya, garis pendek pada tulangnya yang menyebabkan memar dan pembengkakan, tapi karena tergolong tidak parah, dokter hanya membalut kaki Jenar dengan gips agar posisi tulang tidak berubah dan meresepkan obat pereda nyeri.

Setelahnya, petang telah berganti malam ketika mereka menunggu kedatangan Tigra dan Jella.

"Gue merasa sangat terharu deh." Jenar yang tangannya diperban, penuh plester dan berbau seperti campuran betadine dengan alkohol tahu-tahu bicara.

"Apaan?"

"Lo nangisin gue."

"ITU NAMANYA PANIK!!"

"Karena takut gue kenapa-napa kan?"

"Darah lo banyak banget ya tadi!!!"

"Iya, intinya lo takut gue kenapa-napa kan?"

"..."

"Gue sering-sering aja kayak gini kali ya—HEH LO MAU NGAPAIN—OHOK—REGINA—OHOK-OHOK—SUSTER TOLONG SAYA—OHOK—SAYA MAU DIBUNUH—" Jenar batuk-batuk waktu Rei beranjak dari duduk dan mulai membetot lehernya.

"GUE INI PASIEN LOH YA!!" Jenar berseru protes setelah Rei melepaskan lehernya.

"Harusnya bukan cuma tangan lo yang dijahit, mulut lo juga kudu dijahit."

"Hehe. Lo wangi deh."

"Tolong ya, Jenardick—"

"Pake parfum yang semalem."

"..."

"Asik, request gue dikabulin."

Jenar berhasil bikin Rei kehilangan kata-kata.

*

"Gue sakit loh ini tangannya. Nggak bisa makan. Kan kalau makan pake tangan kiri nggak bagus. Kan gue jatuh juga gara-gara mau jemput lo!"

"Suruh siapa?"

"Gue yang pengen, tapi kan, tapi kan—"

"Ck. Bawel. Yaudah."

"Yaudah apa?"

"Yaudah, gue kesana!!"

Senyum Jenar langsung terkembang lebar, tetap bertahan sekalipun Rei sudah memutus obrolan telepon.

Selama masa pemulihan, sudah jelas Jenar nggak bisa ke kampus. Dia stay di rumah saja. Tangannya masih luka dan kakinya belum benar-benar sembuh, masih sakit ketika digerakkan berlebihan, apalagi dijadikan tumpuan. Makanya, kemana-mana Jenar masih pakai kruk. Kedua orang tuanya khawatir, tapi Jenar menolak ketika ibunya menawari menemaninya.

"Udah ada yang nemenin, Ma."

"Siapa?"

"Ada."

"Cewek apa cowok?"

"Cewek."

"... pacar?"

"Mauku."

"Sierra?"

"Mama tahu sendiri aku sama Sierra gimana. Mana mungkin kita pacaran. Lagian dia mau nikah sama Alfa."

"Oh... terus ini siapa, Nak?"

"Aku kasih tau namanya aja ya? Tapi Mama belum boleh ketemu dia."

"Kenapa?"

"Belum waktunya."

"Belum waktunya?"

"Yang ini kayak merpati, Ma. Kalau timingnya nggak pas, dia bisa terbang duluan sebelum ditangkap."

"Ada-ada aja. Namanya siapa?"

"Regina."

"Regina yang mukanya jutek banget itu?"

"Mama tahu dari mana?"

"Hyena."

"Dasar ember." Jenar mengeluh.

"Dia yang nemenin kamu di rumah sakit kemarin-kemarin?"

"Iya, Ma."

"Oke. Tapi kalau perlu apa-apa, bilang Mama ya?"

"Oke, Ma."

Gampang banget, memang.

By the way, keluarganya Jenar itu bukan keluarga biasa. Kakek-neneknya, dari dua keluarga, tergolong orang-orang berpendidikan. Kakek buyut Jenar adalah pelukis terkenal pada masanya dan bersahabat baik dengan Presiden Soekarno. Kakeknya meneruskan jejak ayahnya, menjadi seniman dan kritikus seni yang sangat dihormati hingga ke kancah internasional. Kakeknya dari keluarga ibu adalah pengusaha yang sangat sukses. Sewaktu muda dulu, ibunya Jenar adalah perancang busana muda yang dianggap sangat berbakat dan punya potensi untuk mendunia, tapi memutuskan pensiun dini setelah menikah dengan ayahnya Jenar. Dari dua keluarga, Jenar adalah cucu laki-laki satu-satunya sejauh ini. Cuma dia yang bisa diandalkan membawa nama keluarga Suralaya.

Oleh karena itu, dari kecil, Jenar sangat dimanja. Sebetulnya, kakeknya lebih suka kalau Jenar sekolah kedokteran, sedangkan ayahnya lebih berharap Jenar meneruskan pendidikan bisnis ke luar negeri. Tapi Jenar adalah Jenar. Dia bisa sangat aneh, dan malah memilih mencemplungkan dirinya kuliah Teknik. Namun yah, selama Jenar senang, kedua keluarga oke-oke saja.

Jenar masih duduk di sofa, menonton tv ketika pintu kamarnya diketuk. Pasti Rei. Cowok itu beranjak antusias, berjalan dengan bantuan kruk dan membuka pintu. Dia sedang tidak pakai atasan apa pun, hanya sweatpants warna abu-abu.

Rei yang tadinya bermuka masam langsung ternganga. "BISA NGGAK SIH NGGAK DIBIASAIN UKA BAJU GINI?!!!"

"Hehe." Jenar nyengir. "Kenapa sih? Minder ya sama perut gue?"

"Nggak. Malah jadi laper."

"Hah?"

"Kayak roti sobek soalnya."

"...." Jenar kehilangan kata-kata sebentar, hingga celetukan jahilnya menyusul. "Cobain deh."

"Apanya yang dicobain?!!"

"Guenya. Siapa tau rasanya seenak kelihatannya kan."

Rei memutar bola matanya pada kata-kata Jenar yang sangat nggak tahu malu, disusul bentakan. "PAKE BAJU!!!!"

Jenar mengerucutkan bibir. "Kenapa sih? Kan nggak mengganggu siapa-siapa juga!"

"NGEGANGGU GUE BANGET!!"

"Tapi kan—tapi kan—"

"Pake baju atau gue pulang?!!!"

"... IYA GUE PAKE BAJU!!!!" Jenar ikut nge-gas, lalu masuk ke kamarnya. Ketika keluar lagi, dia sudah pakai heavy tank top yang dia biasa pakai buat nge-gym.

"DIBILANG PAKE BAJU!!!"

"INI UDAH!!!"

"Masih kelihatan!!"

"Lo mau gue nggak kelihatan?!! Yaudah, besok-besok gue beli mukenah!!"

Rei akhirnya menyerah, memilih mengalah. "Gue mau pake dapur lo."

"Mau ngapain?"

"Bikinin sop. Lo mau makan apa nggak?"

"DIH BENERAN?!!!"

"Bener." Rei mendekati Jenar, menempelkan tangan di dahi cowok itu untuk mengecek suhu. "Hm, nggak panas. Bagus. Jadi makan nasi aja deh."

"Rei."

"Apa?"

"Nanti suapin ya? Kan tangan kanan gue sakit."

"IYA, BAWEL!!"

"Rei,"

"Apa lagi?"

"Kalau kata orang Korea..." Jenar menunjukkan finger heart. "Sarangek."

"Shireo!" Rei yang rajin nonton drama Korea otomatis membalas.

"Hah? Shiro bukannya nama anjingnya Shincan?!"

Nggak tau deh, Rei capek. 




to be continued. 

***

a/n: 

omg, so late hahaha maap tapi tiba-tiba ada  yang mesti diselesaikan and tbh, i wanna take my time to write nowadays. 

ikr diantara kalian ada yang kepo soal thetigrainside, dhaka, johnny wkwk tapi ya semuanya akan muncul sesuai kebutuhan, jadi dilihat aja. cerita ini bukan fanservice yang bisa di-request "banyakin ini" atau "banyakin itu". 

terus apa ya... ya begitulah. 

soal seblak level jeletotnya ntar. kenapa pada ngga sabar je unboxing rei sih haha (tapi ya jenar juga udah ga sabar sih) (tenang, semua akan unboxing pada waktunya). 

dah, kayanya itu dulu. 

terus apa ya??? vote-nya ramein deh biar geura di-update wkwkwk. 

ciao. 

***

September 18th 2020 | 2.45

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro