Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Te Amo : Finally!

‘When the waves are flooding the shore. And I can’t find my way home anymore that’s when I look at you!’

-MileyCyrus-

Rey menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Sinar matahari yang menyilaukan, seakan menusuk matanya yang baru terbuka. Rey menoleh kesamping, melihat tempat di mana Clar biasa tidur disisinya… kosong. Tempatnya juga sudah rapi, menandakan Clar sudah beranjak sejak lama.

“WOY!!”

Rey menoleh ke sumber suara, di depan pintu balkon kamar. Bimo.

“Ada apa sih? Lo bilang kan hari ini gak ada jadwal.” kata Rey kesal.

Pria itu beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka.

“Kita tunggu di ruang tengah…” teriak Bimo yang berjalan keluar kamar.

“Kita?” tanya Rey tak mengerti.

Rey yang sudah mencuci muka, menemukan Bimo dan juga Dea yang sudah duduk manis di depan televisi ruang tengah.

“Ada apa sih?”

“Diam dan lihat!” perintah Bimo.

Rey duduk di sofa. Di layar televisi, terlihatlah Clarissa yang baru memasuki ruang konfrensi pers. Rey membeku. Rambut wanita itu dicepol menyisakan sedikit poni, penampilannya sangat casual. Tetapi, ada sesuatu yang lain dari wajah Clarissa. Tak banyak orang yang menyadari itu. Clarissa seorang aktris hebat, remember?

Konfrensi pers ini ditayangkan secara live oleh salah satu acara infotainment.

“Maafkan saya dan Rey, yang selama ini bungkam. Bukan maksud kami untuk menutup diri dari media. Hanya saja waktunya belum tepat. Saya ada disini untuk memberikan pernyataan seputar kabar tak mengenakan yang beredar. Sebelumnya saya ingin meminta maaf untuk fans saya dan juga Reyano, juga semua orang yang dekat dengan kami. Karena, kami tak memberitahu sebelumnya…”

Dea dan Bimo yang melihat itu membulatkan matanya.

“GILA! Artis lo mau ngapain De?”

Dea hanya menggelengkan kepala tak tahu.

“Rey…” panggil Bimo.

Namun Rey tak menyahut, pandangannya sibuk mengamati televisi dengan amat serius.

“Dengan amat berat saya dan Rey mengambil keputusan ini. Kami berdua sepakat… untuk berpisah…”

“Maafkan kami telah mengecewakan kalian… Tetapi, inilah jalan terbaik yang harus kami ambil…”

“Apa masalah kalian karena orang ketiga?” tanya salah wartawan.

“Tidak. Tidak ada orang ketiga, keempat, atau seterusnya. Ini semua tentang kami…” Clar menjawab semuanya dengan amat tenang. Bahkan terlalu tenang.

“Kenapa Rey tidak datang di konfrensi pers ini?”

“Dia masih sangat lelah, dan dia juga sangat sibuk. Dia minta maaf karena tak bisa hadir disini…”

“Apa ada kemungkinan kalian akan balik kembali, dan tidak jadi berpisah?”

“Semua kemungkinan selalu ada…”

Mata Clarissa mulai berkaca-kaca. Namun, wanita itu berhasil mengendalikan diri.

“Tak ada perpisahan yang mudah. Tidak ada. Aku harap kalian semua mengerti, maafkan aku dan Rey. Terima Kasih…”

Setelah itu Clarissa yang ditemani Adis beranjak dari ruang konfrensi pers. Mengabaikan para wartawan yang melontarkan banyak sekali pertanyaan.

“Lo oke Rey?”

Rey beranjak memasuki kamarnya dan Clar.

Dea sudah menangis tersedu-sedu di depan televisi. Sedangkan, Bimo sibuk menenangkan cewek itu.

“Udah udah, gue juga sedih, Dea…”

Mata Bimo sudah merah dan berkaca-kaca.

“Seberapapun nyebelinnya lo Bim, gue pasti bakal kangen sama lo… Lo inget kan udah berapa lama kita berempat bareng-bareng. 7 tahun Bim.” Dea terus menangis.

“Gimana perasaan Clar, Bim? Astaga! Kenapa dia selalu sok tegar? Dia cuma bilang pagi ini bakal ke tempat Adis, dia gak bilang dia bakal konfrensi pers, Bimooooo…”

“Clarissa, Reyano, apa yang terjadi sama kalian???” teriak Dea disela-sela tangisnya.

***

‘They don’t know about the things we do. They don’t know about the I Love You.’

-One Direction-

Clarissa masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Gadis itu sempat berhenti sebelum membuka pintu rumah, dia menghela nafas berat.

Sepi. Mungkin tidak ada orang dirumah? Begitu pikirnya.

Saat Clarissa memasuki ruang tengah rumahnya, dia melihat Bimo dan Dea yang sedang terduduk lesu.

“Hai…” sapa Clarissa seraya menggoyangkan telapak tangannya ke arah Bimo dan Dea. Kedua orang itu terkejut.

Dea segera berlari dan memeluk Clarissa. Lalu memukul bahu wanita itu dengan keras.

“Aww…” Clarissa meringis.

“BODOH! LO EMANG BODOH! APA YANG LO LAKUIN, CLARISSA? DEMI TUHAN, GUE INI MANAJER LO!!”

Dea melepaskan pelukannya dan memandang Clarissa sedih. Dea menuntun Clar untuk duduk di sofa. Membuat Clarissa mendengus.

“Gue bisa jalan sendiri kali, De…”

Lagi, Dea memukul lengan Clarissa.

“Dasar sinting! Disaat kayak gini, lo masih bisa protes? Astaga! Masih bisa bersikap dengan santai lagi. Demi Tuhan, Clar!!!!!”

Bimo menatap kedua wanita yang sedang berselisih di hadapannya.

“Lo lupa gue aktris hebat?”

“Cih!” komentar Bimo.

“Kenapa lo enggak nangis?” tanya Dea.

“…”

“Kok lo disini?” tanya Clar pada Bimo.

“Lo lupa calon mantan suami lo itu adalah artis gue?” Bimo menatap Clarissa tajam. Berusaha meruntuhkan pertahanan Clarissa. Dia benci melihat Clar yang sok tegar. Kenapa? Karena Bimo tahu Clar hanya bersandiwara. Karena, Bimo sudah menganggap Clar seperti kakak kandungnya sendiri.

Clarissa tersenyum. Dea melongo. Dan Bimo sekuat hati menahan diri agar tak mencekik Clarissa saat ini juga.

“Harusnya lo yang menang piala Oscar, Clar…” komentar Bimo, tak menghentikan tatapan tajamnya.

Dea memukul bahu Bimo, membuat cowok itu meringis.

“Apaan sih, De?”

“Lo berisik, Bimo!”

Clarissa menatap keduanya menggoda. “Kalian cocok deh.”

Kedua orang dihadapannya menatap Clarissa horror.

“Dasar sinting! CLAR, DEMI TUHAN! JANGAN BERSANDIWARA!” teriak Dea frustasi.

Clarissa hanya mengangkat bahu. Dan keinginan Bimo untuk mencekik Clarissa semakin memuncak.

“Dimana Rey?” tanya Clarissa yang berdiri dari duduknya.

“Di kamar…”

“Enggak ada perpisahan yang enggak menyakitkan…” ungkap Clarissa. Suaranya seperti berbisik.

Bimo dan Dea yang mendengar itu, seketika mematung.

***

I said, leave, but all I really want is you, to stand outside my window, throwing pebbles, screaming, I'm in love with you.

-Taylor Swift-

“Hai…” sapa Clar pada Rey yang sedang bermain playstation. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri suaminya yang terduduk di lantai kamar mereka, setelah menutup pintu kamar.

“Aku gak bisa terima ini, Clarissa.” Rey berbicara tanpa menatap Clarissa yang berada di sisinya.

“Ini apa, Rey?”

Rey membanting stick playstation, membuat Clarissa terlonjak.

Rey mengalihkan pandang menatap Clarissa. Membuat wanita itu menundukan kepalanya.

“Kamu bisa nipu mereka… tapi enggak dengan aku Clar!”

“…”

“Kenapa kamu sok kuat? Kenapa kamu kesana sendirian? Membuat aku semakin merasa bersalah!”

“…”

“Jangan bersandiwara, Clar. Kalau kamu sedih nangis… Aku disini Clar, disisi kamu…”

“…” Clarissa menggigit bibir bawahnya.

“Kamu disini… sekarang. Besok? Di samping Rana…”

“Clarissa… Maafin aku…”

“…”

“Aku bisa terima perpisahan ini kalau kamu bahagia, aku enggak akan nahan kamu, Clar.”

“…”

“Tapi tolong jangan bersandiwara, Clarissa…”

“Aku benci kamu, Rey…”

“Aku pantas dibenci.”

“Kamu gak tahu kan Rey, gimana rasanya cinta sekaligus benci pada waktu yang sama?”

“Aku harap kamu bahagia.”

“Aku enggak yakin…”

“Kamu harus yakin… sayang.”

“Kamu tahu kan, Rey? Gimana rasanya harus ngelepasin orang yang sangat kamu cinta?”

“Aku tahu, Clar. Karena aku juga ngerasain itu!”

“Aku ingin bertahan… Tapi bayangan kamu sama Rana selalu menghantui aku Rey. Aku muak…”

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Sejak aku gak pulang selama  hari, dan nginep di apartemen Dea…”

“AKU MINTA MAAF, CLAR.”

“…”

“Maaf untuk semuanya. Semua yang telah aku lakukan yang melukai kamu… Aku enggak ada maksud sama sekali…”

“Semoga kamu bahagia, sayang…” Rey mengecup sekilas bibir merah muda Clarissa. Kecupan yang hangat dan lembut. Kecupan perpisahan…

Rey lalu mengusap dan mencium puncak kepala Clarissa.

“Jangan pernah muncul di media sendiri lagi… Kita hadapin semuanya bareng! Hubungin aku kapanpun kamu mau…”

“Aku cinta kamu, Clar.” lanjut Rey tanpa ragu. Setelah itu, beranjak dari kamar, meninggalkan Clarissa sendirian… lagi.

***

‘I’am here without you baby, but you still with me in my dreams.’

-3 Doors Down-

Aku menghempaskan tubuhku yang teramat lelah ke sofa. Hari ini jadwalku sangat padat sekali. Talk show, promo film, dan yah semacam itulah.

Tetapi, aku senang. Karena setidaknya, kesibukanku bisa mengalihkan pikiranku yang terus memikirkan Reyano. Sidang perceraian kami… seminggu lagi.

Aku tak ingin menghadiri sidang perceraian itu. Dan memang begitu niatku. Alasannya? Aku lelah bersandiwara. Aku yakin dengan amat sangat, jika aku datang, dan duduk di ruang sidang, aku tak akan sanggup menahan semuanya. Perasaanku, kesedihanku, juga keinginan untuk tak berpisah.

Aku masih teramat mencintai Reyano. Namun, inilah jalan yang harus kami tempuh. Perpisahan… aku menelan ludah mengucapkan kata itu.

Rey dan Rana… aku tak tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka dan aku memang tak mau tahu. Karena aku hanya akan semakin larut dalam luka.

Aku sudah tak tinggal di rumah kami. Rey juga. Rumah itu tak dijual. Aku tinggal di apartemen. Begitu juga dengan Rey.

Jangan tanyakan padaku bagaimana aku melewati hari-hari menjelang sidang perceraianku dengan Rey.

Kalian ingin tahu, bagaimana aku memergoki suamiku yang berselingkuh dengan Rana? Malam itu, aku baru pulang dari luar kota, rumah kami gelap. Dalam keremangan, aku bisa melihat Rey dan Rana saling menindih menjijikan di ruang tengah rumah kami. Hanya itu yang bisa aku ceritakan, selebihnya? Jangan paksa aku, kumohon. Untuk tetap menjalankan rutinitasku saja aku teramat berat.

7 tahun aku bersama dengan Rey. Sejak kami masih sama-sama kuliah diluar negeri. Dan melupakan orang yang selama 7 tahun berada di sisimu bukanlah hal mudah.

Aku sudah hafal semua kebiasaannya. Begitu juga dengan dia, yang hafal kebiasaanku.

Saat tengah malam, jika Rey terbangun dan tidak bisa tidur lagi, aku masih membaca novel. Dan dia akan bermain playstation sambil sesekali menggodaku. Lalu, saat aku mulai diluar batas, suamiku yang kelihatannya cool itu akan menasihatiku. Oh, Reyan memang cool. Tetapi, saat sudah bersama orang-orang terdekatnya, eng-ing-eng keluarlah semua sifat aslinya. Jahil, kalau ngomong suka pedes, oh tapi Rey itu sangat romantis.

Sikap Rey yang kadang cemburuanpun, sangat aku rindukan. Terlebih lagi kebiasaan Rey sesudah mandi, menaruh handuknya di kasur, dan tindakannya itu akan kuhadiahi ocehanku yang panjang lebar. Ah sial! Kenapa aku jadi mengingatnya begini? Ya Tuhan! Seharusnya aku melupakannya… seharusnya.

Aku mengambil iPhone ku yang terletak di meja, lalu membuka akun media sosial yang aku punya. Twitter, Facebook, Instagram, Path, Blog, Google+.

Pertama-tama yang aku cek adalah twitter, astaga banyak sekali mention yang masuk. Aku memang harus bersyukur mempunyai berbagai banyak penggemar diluar sana. Aku mulai membaca mention yang masuk satu persatu.

Astaga, aku sangat mencintai penggemarku, sangat. Lihat saja betapa perhatiannya mereka, saat aku dalam keadaan seperti ini.

‘Kakak Clar pasti sedih ya? Gausah sedih, kan ada aku disini. Aku mau kok jadi pacar kakak<3<3. Ily kak;*’

‘Kak, kok kakak cantik banget sih? Untuk masalah yang tengah kakak hadapi, semangat ya. Kami semua disini kak;;)’

‘Kakak aku sedih kakak mau pisah sama Kak Rey. Aku aja yg cuama fans, bisa sebegini sedihnya. Apalagi kakak ya? HuaaaL’

‘Aku fans nya Kak Rey, titip salam ya Kak buat dia. Kalian jangan pisah dong, plissss:’( Aku seneng banget sama kalianL’

‘Kak Clar, kok jarang on twitter sih? Ganbatte, ne-chan. Kami semua disini!<3<3.

‘Demi apa couple satu ini mau pisah? Jangan dong janganL Aku sedih bangetL’

‘Kak kalo udah resmi pisah bilangin aku yaa, aku mau daftar siapa tau bakal diminat sama calon duren, Kak Reyanooo…’ Kamfret! Batinku sebal. Beginilah kalau punya suami tampan, baik hati, ramah, plus, charming.

‘Kak Clar kalo sedih ya? Sini-sini nangis dipundakku. Aku gak kalah tampan kok dari Rey kak. Muaaah.’ Clarissa tersenyum geli.

‘Clar lo mau pisah sama Reyan? ASTAGA! Kalian couple FAVORIT GUE SUMPAH! DEMI TUHAN CLAR!:(‘

Aku meletakkan kembali iPhone ku. Yah aku sadar, aku sudah mengecewakan para penggemarku dan juga Reyano. Tapi apa daya… ah sudahlah.

“Clar?” panggil Dea yang duduk di seberang sofa yang kududuki.

“Kenapa?” tanyaku seraya memejamkan mata.

“Udah masuk minggu ketiga, tapi berita lo sama Rey masih ada di halaman utama majalah gossip…”

“So?” tanyaku. Ah maafkan aku, Dee…

“Ckck…”

“Hm?”

“Pliss deh, kemana Clarissa yang bawel?”

“Entah…”

“Gue tau kemana! Pasti pergi bersama seiring berlalunya waktu yang tinggal menghitung hari menuju sidang perceraian…” kata Dea melankolis. Kamfret!!

Aku sadar, Dea dan Bimo masih bersikukuh untuk membuatku dan Rey membatalkan perpisahan kami. Aku bukannya tidak perduli. Namun, aku hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dea juga, akhir-akhir ini semakin getol pake banget ngomporin aku.

“Semakin kuingkari…

Semakin kumengerti…

Hidup ini tak lengkap tanpamu…

Aku mengaku bisa…

Tapi hati tak bisa…”

See? Kalian ngerti kan? Dea lagi menyindirku dengan lagu yang memang sengaja dia nyanyikan ‘spesial’ untukku.

Akhir-akhir ini aku mulai jarang menangis. Aku sadar, perpisahan ini hanya salah satu hal yang akan menjadi kenanganku di masa depan. Mungkin saat telah bersama lain aku akan mengenang ini.

Damn! Rasanya aneh sekali, membicarakan masa depan tanpa Rey! Damn! Damn!

“Setiap orang pernah berbuat salah, Clar. Dan semua orang pantes dapet kesempatan kedua… Tuhan aja Maha Pemaaf. Masa lo yang cuma manusia biasa gak bisa maafin Rey?”

Damn! Aku rasanya pingin banget sumpel mulut Dea pake asbak. Kata-katanya itu lho… pas banget. Jleb! Asli!

Dan oh sialan, aku kenapa jadi makin sedih gini?

Dea menyalakan televisi. Dan menggangti-ganti channel tanpa minat. Sampai akhirnya, di salah satu channel ada Reyan!

Reyano lagi ada di acara talk show secara live. Ah wajah itu… Aku sangat merindukannya. Damn! Jadi pingin nangis kan tuh… apalagi denger suaranya Rey. Oh, WTF! Gue seorang wanita berumur 26 tahun, tapi kenapa jadi kayak abag labil gini? DAMN!

“Jadi, gimana hubungan kamu sama Clarissa?” tanya host talk show tersebut kepad Rey.

Harusnya aku beranjak dari sofa. Tapi… nyatanya aku hampir memelototi layar televisi yang menayangkan Rey. Damn! Again!

“Hubungan saya sama dia sejauh ini baik. Tinggal menunggu hari sampai ketuk palu…” jawab Rey. Wajah pria itu terlihat sendu.

Hatiku perih. Mengetahui Rey berbicara seperti itu. Mengetahui bahwa dia juga terluka… Aku pingin… nangis!

“Apa kalian gak ada niatan untuk batal berpisah?” tanya host itu lagi.

“Seperti yang pernah Clar katakan… Semua kemungkinan selalu ada. Tetapi, entahlah, saya  berharap tak akan lagi berusaha menahannya. Karena, saya tahu dia bahagia tanpa saya…”

Hatiku semakin perih…

“Apa anda masih saling mencintai? Kalau begitu kenapa berpisah?”

“Terserah orang mau menilai kami bagaimana ya… Yang mengerti dan merasakan perasaan itu kan kami. Aku dan Clar…”

Rey, ada apa denganku, Ya TUHAN? Harusnya aku melupakannya…

“Apa ada yang ingin anda katakan kepada Clarissa? Siapa tau dia sedang nonton, mungkin?”

Reyano tersenyum. Ah senyum itu…

“Enggak ada perpisahan yang enggak menyakitkan. Setelah semua berakhir, saya hanya berharap dia bahagia. Dan saya akan memastikannya…”

“Hanya itu? Ada lagi, mungkin?”

“Ada. Dengan seluruh penyesalan, aku ingin meminta maaf pada Clar, karena telah menyakitinya. Karena telah menghianiti dia yang begitu setia kepadaku. Aku memang brengsek! Menduakan wanita yang begitu mencintaiku. Mungkin perpisahan ini hukuman untukku. Sekali lagi, maafkan aku, Clar. Aku harap kamu bahagia…”

DEG! DEMI TUHAN REYANO BODOH! Apa yang dia lakukan? Aku tak pernah memberi tahu kepada media bahwa perpisahanku dengan Rey karena orang ketiga. Saat ditanya oleh wartawan, bahkan aku selalu menampiknya mentah-mentah. Aku tak ingin karrirnya hancur… Tidak!

“Reyan… Dia sedang menghancurkan karrirnya sendiri…” ucapku tanpa sadar.

Dea menjentikkan jari. “Dia bener-bener cinta sama lo, Clar… Gue emang kesel sama Rey, karena dia ngeduain lo. Tapi, kalau kalian saling mencintai, lalu Rey juga sudah memutuskan Rana, bukankah hanya ada kalian berdua? Yang saling mencintai…”

Tubuhku lemas… Pandanganku kabur… Astaga, aku menangis! Menangisi suamiku yang sebegitu bodohnya hanya karena aku… YA TUHAN KENAPA AKU JADI CENGENG BEGINI?

***

‘There’s Nothing Like Us. There’s nothing like you and me together through the storm.’

-Justin Bieber-

Clarissa menyelesaikan pertunjukannya di atas panggung teater. Senyum manis terukir di wajah cantik wanita itu. Clarissa dan kelompok teater baru saja menyelesaikan drama yang mereka mainkan. Tepuk tangan bergemuruh dari seluruh penjuru teater megah itu.

Clar yang sudah berganti pakaian menghampiri salah satu bangku penonton. Ini sudah 2 tahun semenjak kejadian itu…

“Hallo, sayang…” sapa pria itu.

“Hallo…” Clarissa mengecup sekilas pipi prianya.

“Ehem…” Dea berdehem. Dea sedang memangku seorang batita berumur 1 tahun yang sedang lucu-lucunya. Dea terlihat lebih dewasa dengan penampilannya yang sekarang.

Clar segera menghampiri Dea, dan mengambil alih batita itu. Clar mencium dan menggendong batita itu dengan penuh sayang.

“Hallo, anak ibu…”

Anak yang diajak bicara hanya tertawa geli dengan sangat menggemaskannya, seperti mengerti apa yang dibicarakan ibunya.

Teater sudah mulai sepi.

Bimo yang baru kembali dari toilet, mendengus melihat pertunjukannya sudah selesai.

“Lama sih lo…” ledek Clar.

“Sayang, artis kamu nakal tuh sama akuu…” kata Bimo manja pada Dea. Dea mencubit lengan suaminya main-main.

“Please, Bim, jijik banget gue dengernya.” ledek suami Clarissa.

“Eh gue sekarang udah bukan artisnya Dea lagi kalii, Bim…” kata Clarissa.

“Sayang, sini sama ayah aja. Ibu capek...” Clarissa tersenyum, lalu menyerahkan Genta kepada Rey.

Genta menyenderkan kepalanya di bahu Rey. “Aduh, anak mamah manja banget sih sama Ayah…” komentar Clar, seraya mengusap-usap kepalanya putranya.

Andreas Gentara Creus. Nama buah hati Rey dan Clar. 2 tahun sudah berlalu, jangan tanya bagaimana mereka tidak jadi berpisah.

Bimo dan Dea akhirnya menikah 18 bulan yang lalu. Karrir Rey tidak benar-benar hancur, hanya saja pria itu memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, dan menjadi pengusaha.

Clar sekarang menjadi pemain teater, di salah satu teater bertaraf Internasional di kota Barcelona. Clar meninggalkan semua dunia keartisannya di Indonesia. Setelah mereka tidak jadi bercerai, keduanya memutuskan untuk pindah ke Spanyol. Memulai semuanya dari awal, hanya mereka berdua, Rey dan Clar. Tidak ada wanita manapun lagi yang berada di samping Rey selain Clarissa.

Dan Genta menjadi pelengkap kebahagian keduanya.

“Ehm, Genta bentar lagi punya sepupu lhoo…” kata Dea tiba-tiba.

Clar dan Rey yang mendengar itu shock. Clar memeluk Dea dan mengucapkan selamat. Sedangkan Rey berjabat tangan dan pelukan ala para pria gitu. Kebahagiaan tak pernah pergi dari hidup keempat sahabat ini.

“Clar?”

“Iya?”

“Te Amo, Clarissa Agatha Seenabel.”

“I love you more, Rey. Aku cinta kamu. Te amo, Rey.”

Rey, Clar, Dea, Bimo, serta Genta, berjalan ke luar teater. Mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Dea dan Bimo yang akan segera memiliki momongan. Sekaligus, pesta penyambutan keduanya. Karena, Bimo dan Dea baru saja tiba di sini. Mereka kesini hanya untuk mengunjungi Clar dan Rey, tak berniat untuk menetap.

Senyum tak pudar dari wajah mereka. Ini semua begitu membahagiakan. Setidaknya, untuk saat ini. Karena, kita hidup di hari ini, maka jalani saja, biarkan semuanya mengalir seperti air… Jangan terlalu mengkhawatirkan masa lalu dan juga masa depan!

Kemarin itu masa lalu, sekarang itu hari ini, waktu di mana kita hidup. Dan lusa serta masa depan adalah rahasia tuhan bukan?

Apa kalian benar-benar ingin tahu apa yang membuat Clar dan Rey tak jadi berpisah? Cinta. Cinta sanggup mengalahkan semuanya bukan. Termasuk luka yang Clar alami. Karena, Clar tahu pasti, setiap orang pantas dapat kesempatan kedua, begitu juga suaminya.

Dan Reyano tak akan lagi menduakan Clar. Sekarang maupun nanti. Begitu janjinya dalam hati.

Bukankah cinta itu tentang memaafkan juga pengorbanan?

TAMAT.

A/n :

Gimana? Mengecewakan ya? Aish:(

Ada yang belum tau artinya Te Amo? Artinya aku cinta kamu, iya. Kamu... XD

Tysm for reading!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro