Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 50

Selamat datang di chapter 49

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Dari dulu kita emang ngawur. Tapi itulah kita. Two kids just fall in love.”

Jameka Michelle and Tito Alvarez
____________________________________________________

“Lo pernah nanya di mana bokap gue. Di sini jawabannya. Karena bunuh nyokap sama selingkuhan nyokap,” aku Tito singkat, padat, jelas, langsung mengarah pada inti alias tidak bertele-tele. Tidak ada nada sedih, pelan, atau justru sebaliknya, tegas. Semuanya dibaginya dalam nada biasa saja.

Dan tidak perlu dijelaskan dua kali untuk membuat Jameka memahami kondisi ayah Tito. Selama bertahun-tahun, akhirnya hari ini ia tahu alasan Tito tidak pernah menceritakan secara detail mengenai keluarga, terutama di mana ayah pria itu berada. Kendati menarik kedua sudut bibir ke atas membentuk senyuman seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang serius, dan meski sebelumnya Tito pernah berkata keluarga berantakannya tak membuatnya sedih bila diceritakan—tetapi masih tetap tidak diceritakan, berkebalikan dari itu, tatapan mata pria tersebut tidak dapat membohongi Jameka. Tubuh Jameka sontak bergerak sendiri untuk memeluk Tito.

It’s pretty hard for you to tell me about this,” bisik Jameka.

Mulanya, Tito masih tak bergerak saat dipeluk Jameka. Setelah mendengar kata-kata tersebut, ia merasa pundaknya lebih mengendor, napas yang agak sesak jadi lancar, serta perasaan gugup jadi berkurang. Ia lebih leluasa membalas pelukan Jameka tanpa rasa takut atau khawatir Jameka akan meninggalkannya. Ia pun menyembunyikan wajah di ceruk leher wanita yang dicintainya ini. “Actually really hard. Traumatic insident.”

You can tell me about anything. Mari kita selalu saling terbuka, saling jujur tentang perasaan masing-masing dan apa pun kejadian yang menimpa kita baik di masa lalu atau masa depan.”

Tito mengangguk pelan dan mulai membuka hal lain yang perlu diketahui Jameka. “Alasan gue nggak pernah mau pacaran tapi gonta-ganti cewek ya karena ini. Seumur hidup gue kenal bokap sebagai pria baik, tapi bisa gelap mata karena—”

“I see, I see. Nggak perlu dilanjutin,” sela Jameka. Giliran ia yang mengangguk-angguk seraya mengusap-usap punggung gagah Tito. Jantung pria itu kencang sekali. Ia dapat merasakannya.

“Selain nggak mau terikat karena nggak mau selingkuh, gue juga mikir pasti nggak bakal ada satu pun cewek yang bisa terima fakta ini. Kecuali lo,” ungkap Tito.

“Itu karena keluarga kita sama-sama berantakan. You know my family, my whole family. Dan jangan pikir gue kagak tahu apa yang Papa, Jayden, sama lo lakuin ke ibu sambung sama adik sambung gue. Terus siapa yang bakal bisa nerima fakta ini kalau bukan lo? Semua orang Heratl nggak ada yang tahu. Kecuali kita, penghuni basecamp. Itu semacam jadi cerita yang terlarang diomongin. Makanya gue diem aja.”

Tito melepas pelukan dan meraih kedua pipi Jameka supaya bisa mencium bibir wanita itu. Ciuman kali ini terasa sangat berbeda. Bukan penuh hasrat yang selalu menggebu-gebu ketika ia bersama Jameka. Melainkan, murni karena Tito benar-benar mencintai wanita itu. Ia ingin membagi kasih sayangnya pada Jameka seutuhnya dan tanpa batas.

“I love you. I love you so much, Jameka Michelle,” bisik Tito sebelum kembali mencium bibir Jameka.

I love you, To. Like ..., so much, very much.”

“Gue pengin kita bentuk keluarga utuh. Lo mau, kan, jadi istri gue? Sorry, belum ada cincin, belum reservasi tempat yang proper, atau hal-hal romantis lainnya yang dukung ini. Tapi nggak tahu, mulut, hati, sama otak gue yang nyambung jadi satu ini tahu-tahu, nggak ada angin, nggak ada hujan, pengin ngeluarin kata-kata itu sekarang. Nggak bisa gue tahan-tahan.”

Dengan jantung menggila dan tubuh memanas, Jameka tertawa kecil. “Tolol,” hardiknya, “nggak perlu yang aneh-aneh atau persiapan ini, itu, Tito. Gue mau jadi kuntilanak merah pendamping hidup lo. Seumur hidup lo.”

“Goblok,” gumam Tito di tengah sela tawa gelinya. “Dan jadi singa betina gue?”

“Ya, ya, ya, singa betina lo. Dan lo jadi Kadal Sawah gue.”

“Nggak masalah jadi kadal sawah. Jadi umbi-umbian aja gue rela.”

“Kita mulai ngawur.”

“Dari dulu kita emang ngawur.” Tito lantas mengecup bibir Jameka. “Two kids just fall in love.”

“Whatever, To.”

Tito kembali memeluk Jameka. “Satu lagi, Sayangku. Alasan tato-tato di badan gue dibuat, itu biar gue bisa nyembuhin trauma.”

“Berhasil, nggak?” tanya Jameka pelan.

“Agak .... Tapi bikin kecanduan. Kalau masih ada kulit yang kosong, rasanya pengin ditato lagi.”

As I said. You can tell your feelings and your mind. Jadi, nggak perlu menjarah kulit lo lagi. Biarin aja kulit yang kosong.”

Tito tertawa dalam pelukan Jameka. “Sebenernya gue pengin bikin tato muka lo di paha gue.”

“Kagak!”

“Tapi dalam bentuk kuntilanak merah atau singa betina.”

“Tito Alvarez! Gue—”

“Geplak pala lo, ya! Oh ..., gue hafal banget.” Saat Jameka mengerang dan Tito yakin wanita itu akan membuka mulut lagi, ia mendahuluinya. “Tolol. Yah ..., bener lagi.”

“Dasar! Omong-omong kapan kita jadi masuk?”

Tito mengembuskan napas, mengecup bibir Jameka sekali lagi sebelum melepas pelukan, mematikan pendingin udara serta mesin mobil, lalu mengajak Jameka turun.

Tidak ada gambaran sebelumnya mengenai keadaan di dalam ruang jenguk penjara atau bagaimana sifat keseluruhan ayah Tito. Tito hanya bercerita ayahnya pria yang baik. Jadi, Jameka memilih menjaga sikap seperti akan bertemu klien; penuh wibawa dan beraura bos.

Tito tidak melepas gandengan tangannya pada Jameka mulai dari turun mobil, melapor petugas, hingga diarahkan ke ruang kunjungan dan duduk di deretan kursi yang ditata mirip kafe-kafe atau restoran-restoran kecil. Selagi menunggu Soka Alvarez, keduanya tidak berkomunikasi sama sekali. Tito sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Jameka mengobservasi sekitar, tetapi tidak bertanya apa pun pada Tito hingga tak lama kemudian Soka Alvarez diantar sipir menghampiri mereka.

Setelah dilihat-lihat secara saksama, Soka Alvarez mewarisi hampir seluruh genetik Tito Alvarez. Jameka mengamati berbagai kesamaan dua pria tersebut sebelum Soka benar-benar tiba di hadapan mereka. Dari bentuk wajah dan warna kulit sawo matang, Tito jelas mewarisinya dari Soka. Hanya bagian hidung yang agak berbeda. Tito memiliki hidung lebih runcing yang kemungkinan besar mirip ibunya, simpul Jameka sederhana. Soka memiliki perawakan tinggi cenderung agak kurus, sedangkan Tito jelas-jelas sudah melatih otot-ototnya sehingga tampak dempal dan liat. Dan cara berjalan keduanya sama persis.

“Yah,” sapa Tito yang akhirnya melepas gandengan tangannya pada Jameka untuk memeluk dan menyalami ayahnya.

Jameka masih memperhatikan dua pria tersebut bertukar sapa tanpa menginterupsi setelah sipir membiarkan mereka. Keduanya tampak jelas menyayangi satu sama lain. Tidak ada kecanggungan seperti adiknya ketika berkomunikasi dengan papa mereka untuk yang pertama kali sejak bertahun-tahun tidak saling menyapa. Mungkin karena hanya memiliki satu sama lain, Soka dan Tito jadi memiliki ikatan kuat.

Jameka jadi agak gugup, tetapi pengalamannya bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter yang biasanya akan bekerja sama dengan Heratl, membuatnya menelan kegugupan itu dan menjadikan hal tersebut sebagai satu-satunya pedoman untuk bersikap berwibawa nan beraura bos saat ini.

Ketika Soka memfokuskan perhatian pada Jameka untuk pertama kali, pria paruh baya berpakaian tahanan itu tampak tidak terpengaruh dengan aura bos yang dibangun Jameka dan tetap memberikan senyum ramah tanpa sungkan.

Tito pun mengenalkan kedunya. “Kenalin, Yah. Ini—”

“Carissa?” tabak Soka yang otomatis memotong perkataan Tito.

Tito dan Jameka spontan saling berpandangan.

“Bukan, Yah. Ini Jameka Michelle,” tutur Tito yang membuat kedua alis Soka naik pertanda bingung. Kemudian Tito merangkul Jameka untuk dikenalkan ke ayahnya. “Sayang, ini Ayah.”

Jameka mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Soka, tetapi diam-diam membuat daftar ingin menanyakan bagaimana Tito menceritakan Carissa pada Soka. “Jameka Michelle, Om.”

“Maaf salah sangka. Jangan diambil hati, ya, Nak,” tukas Soka dengan sikap kebapakan yang membuat kegugupan Jameka menguap sepenuhnya. Pria paruh baya ini tampak baik. Tidak ada aura seram ala pembunuh atau seperti wajah adiknya saat murka. “Ayo, silakan duduk. Jangan berdiri aja,” kata Soka lagi.

Tito menarik kursi untuk Jameka duduk sebelum ia duduk di kursinya sendiri. “Gimana kabar Ayah?” tanyanya.

“Gitu-gitu aja. Nggak ada yang menarik. Ayah lebih tertarik sama kehidupanmu. Udah lama kamu nggak jenguk Ayah. Terakhir kali ke sini kamu galau gara-gara Jameka jadian sama cowok lain. Kamu pengin pindah ke Inggris sama Bos Jayden waktu itu. Kamu juga ambil keputusan kurang bijak dengan macarin Carissa biar Jameka cemburu. Sekarang tahu-tahu kamu sama Jameka. Nggak mungkin nggak ada apa-apa kalau manggilnya Sayang, kan?” tebak dan terang Soka panjang lebar. Itu cukup mengejutkan Jameka.

Oh ..., jadi begitu ceritanya, batin Jameka yang tak sadar dirinya tersenyum. Rupanya penuturan Soka Persis dengan pengakuan Tito.

“Yah, tolong jangan buka kartu, dong.” Tito menepuk jidat. “Masa baru ketemu Jameka udah nerocos aja? Jangan sampai dia ilfeel.”

Setidaknya Jameka tahu dari mana sifat supel dan slengean Tito berasal. Sumbernya kini ada di hadapannya. Lagi-lagi Jameka tersenyum sendiri akibat pemikiran tersebut.

“Soalnya gini, Nak Jameka. Tito ini galau banget kapan hari. Terus Om kasih wejangan.” Soka Alvarez lantas menceritakan wejangan—yang pernah diberikannya pada Tito—kepada Jameka. Setelahnya, ia bertanya, “Jadi, gimana? Kalian gimana berjodohnya?”

“Yah, Tito malu banget, sumpah. Tapi kalau sebegitu penasaran, biar Tito jelasin. Kami jadian setelah putus dari pacar masing-masing. Jadi, nggak usah khawatir, Yah,” tukas Tito yang telah mewakili Jameka.

Melihat Jameka mengangguk-angguk, Soka kembali menimpali, “Kalau gitu bagus, dong? Iya, kan, Nak Jameka?”

“Iya, Om,” jawab Jameka. Lagi-lagi tersenyum sembari mengangguk-angguk.

Mereka kemudian mengobrol ngalor-ngidul. Terutama membahas kesibukan masing-masing; Jameka dengan Heratl dan Soka dengan kehidupannya di penjara. Sedangkan Tito tidak menceritakan kesibukannya terlalu banyak lantaran sebagian sudah diwakili Jameka. Sebelum pamit, Tito mengambil tangan Jameka dan menyitanya. Ia pun berkata pada ayahnya. “Yah, doain, ya. Tito rencananya mau nikah sama Jameka.”

Tito si slengean dan si pemain wanita ini mengatakan hal paling serius di hadapan orang yang paling penting bagi pria itu. Jameka jadi terharu sampai matanya berkaca-kaca.

“Seriusan?” tanya Soka antusias kepada Jameka. Begitu wanita itu mengangguk, Soka pun kembali bertanya, “Kamu nggak curiga dia melet kamu atau gimana? Soalnya Tito ini nggak ada duit, tampang juga gini-gini aja. Kelakuan ya kayak beginilah. Kok, kamu mau?”

Jameka syok. Air matanya yang hampir tumpah pun kembali. Ia malah tertawa geli. Dasar dua orang ini! hardik Jameka dalam hati.

Sudah pernah Jameka pikirkan sebelumnya bahwa Tito Alvarez memang tidak begitu tampan. Namun, wajah pria itu sedap dipandang dan menyenangkan. Untuk keuangan, Jameka tahu persis berapa jumlah saldo Tito yang dibagi-bagi di beberapa ATM lantaran sering sekali menggunakannya tanpa atau seizin Tito. Gajinya memang lebih banyak daripada Tito. Namun, selama bertahun-tahun bekerja, Tito tak pernah berfoya-foya atau hidup terlalu hedon. Pria itu hanya membeli mobil Civic dan mengeluarkan uang untuk hal yang dirasa penting.

Memang beberapa kali Tito menggunakan uangnya untuk hal remeh temeh, juga beberapa kali jajan wanita di luar kalau sedang tidak ada yang bisa geratisan. Namun, Tito tidak pernah berjudi yang bisa menghabiskan uang dalam sekejap. Tito juga tidak gelap mata membeli mobil-mobil harga selangit padahal mampu. Pakaian Tito pun biasa-biasa saja. Bahkan Jameka yang kadang-kadang membelikan kemeja bagus supaya digunakan bekerja untuk Tito.

Pria itu lebih memilih tinggal bersama anak-anak basecamp daripada membeli rumah yang bisa ditempati, yang bebas tanpa pengawasan. Dengan uang sebegitu banyak, membeli mansion di tengah kota pun Tito mampu menurut Jameka, tetapi pria itu tidak melakukannya. Mungkin karena Tito anak tunggal dan merasa amat kesepian bila sendirian, jadi memutuskan untuk tinggal bersama anak-anak basecamp supaya lebih ramai.

Jameka menyadari hal itu sudah cukup lama. Namun, baru sekarang benar-benar merasa bangga pada Tito. Bagaimana tidak? Tito lebih hemat daripada dirinya. Lebih daripada itu. Pria yang dicintainya ini justru rajin menabung dan menginvestasikan tabungannya ke berbagai bisnis. Sebagian bisnis memang diketahui Jameka, termasuk menanam saham di Heratl yang dulu nyaris benar-benar gulung tikar. Sebagian lagi, Jameka tak tahu ke mana Tito menginvestasikan uangnya. Yang jelas, setiap hari uang itu bertambah.

Satu hal lagi yang paling disukai Jameka dari Tito. Pria itu selalu berbagi ketika mereka jalan ke mana pun. Terutama ke anak-anak dan orang tua yang kelaparan, yang dijumpai di jalan. Itu pun sejak dulu, sejak Jameka mengenal Tito. Bila itu hanyalah bentuk menjaga image yang digunakan untuk memikat Jameka, mungkin sekarang Tito akan berhenti melakukannya lantaran sudah berhasil menggaetnnya. Namun, pada kenyataannya tidak. Contohnya di pet shop tadi. Pramuniaga yang membantu membawakan barang belanjaan ke mobil diberi tip cukup banyak oleh Tito. Mungkin Soka tak tahu, atau mungkin juga ayah Tito telah sukses mendidik Tito meski dalam penjara. Benar-benar sosok ayah yang berhasil.

Pikiran Jameka kembali disusupi oleh suara Tito membantah, menyangkal, dan membela diri terhadap persepsi Soka. “Tolong jangan pengaruhi Jameka, Yah! Entar dia jadi sadar dan peletnya habis. Udahlah! Pokoknya doain aja semuanya lancar. Walaupun kayak gini-gini aja, Jameka secinta itu sama Tito.”

Sungguh, Jameka pasti akan memukul kepala Tito jikalau tidak sedang berada di tempat umum, lebih-lebih di hadapan Soka. Bisa-bisanya pria itu menggodanya dengan kalimat pengakuannya.

“Gini, To. Kamu tahu sendirilah penghasilan Jameka berapa, penghasilanmu berapa. Jameka cantiknya bukan main, tampangmu gini-gini aja. Ayah lihat kalian tadi, udah kayak babu sama majikan. Jameka majikannya, kamu babunya. Sebaiknya setelah ini kamu pergi ke dukun lagi buat memperkuat peletnya,” canda Soka yang makin membuat Jameka tertawa.

Dasar! Benar-benar dua pria ini!

Soka dan Tito bagai peribahasa buah jatuh sepohon-pohonnya. Tak perlu tes DNA untuk mengecek Tito benar anaknya Soka atau tidak. Jameka jadi sedikit punya gambaran tentang masa depannya kelak bersama Tito. Pasti anak mereka kalau laki-laki mirip kedua orang ini. Atau bisa jadi yang perempuan juga akan mirip dengan mereka. Jameka sama sekali tidak keberatan. Malah makin antusias.

Setelah tidak ada yang tertawa, Soka Alvarez berdeham. “Tapi gimana sama keluarganya Jameka? Apa mereka merestui niat kalian? Lebih-lebih—” Soka menghentikan kalimatnya untuk menunjukkan dirinya sendiri, terutama baju oranye yang dikenakannya. Jameka bisa melihat penyesalan di mata ayah Tito.

“Serahin aja itu sama Tito,” tutur Tito mantap.

“Maaf belum bisa kenalan sama keluargamu, ya, Nak Jameka. Sampaikan aja salam dari Om. Pokoknya saya ikut bahagia lihat kalian bahagia. Semoga dilancarkan niat baiknya,” pungkas Soka tulus.

“Terima kasih, Om,” ucap Jameka dari hati paling dalam.

“Bentar, Tito mau ke sana dulu.” Tito menelengkan kepala ke arah sipir yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Sayang, tunggu sini bentar, ya,” izin Tito pada Jameka.

Baik Soka maupun Jameka sama-sama tahu kode Tito. Kemudian Jameka teringat sesuatu. Jadi, ia mengubek-ubek tas dan menyerahkan sekotak rokok pada Soka Alvarez. “Maaf, Om. Kalau tahu bakal diajakin ketemu Om, pasti saya bakal bawa oleh-oleh yang lebih baik lagi. Sekarang adanya ini aja.”

“Nak, nggak usah repot-repot. Kalau pengin ke sini tinggal ke sini aja. Nggak usah bawa apa-apa. Ketemu kalian aja Om udah seneng banget.” Soka melihat Tito selesai memberi salam tempel dan sekotak rokok pada sipir, lalu menghampiri mereka. “Semoga kalian selalu bahagia, ya.”

“Terima kasih, Om.”

“Panggil Ayah. Om bakal jadi ayahmu juga, Nak.”

Lagi-lagi perkataan pria paruh baya ini membuat mata Jameka berkaca-kaca. Ia lantas tersenyum tulus dan mengangguk. “Ayah,” panggilnya.

♪♪♪

“Coba ulangi sekali lagi. Kalian mau apa?” tanya Allecio yang mencondongkan badannya ke depan, serta mengarahkan telinganya ke hadapan Tito dan Jameka yang bergandengan tangan. Mereka sedang duduk di ruang tamu dengan suasana serius.

“Saya mau nikahin Jameka, Om,” jawab Tito tegas, tidak gugup sekalipun sebab sudah menganggap Allecio sebagai sahabatnya. Pastilah ia diizinkan.

“Kenapa kamu mau nikah sama Jameka?” desak Allecio.

“Karena dia Jameka. Karena saya cinta sama dia.”

Allecio mengangguk-angguk lalu bertanya pada putrinya. “Kamu mau nikah sama Tito, Jame?”

“Mau, Pa.”

“Karena?”

“Ya sama jawabannya kayak Tito. Karena aku cinta dia. Secinta itu sama dia,” jawab Jameka. Ia sengaja menekan kalimat terakhir agar didengar jelas oleh Tito.

“Ya udah. Nikah sana. Kalau bisa ngurus surat-suratnya sekarang, Papa bakal jadi wali nikah kamu sekarang. Tapi .....”

Tito menipiskan bibir. “Selalu ada tapi,” gumamnya.

Allecio menyetujui Tito. “Jelas selalu ada tapi. Om izinin kamu nikahin Jameka tanpa syarat apa pun. Karena Om yakin kamu bisa membahagiakan Jameka dan kalian bisa menjadi versi terbaik dari diri kalian masing-masing. Tapi gimana sama Jayden? Kalian udah izin dia belum?”

Fuck, yang satu ini jelas susah banget, batin Tito.

____________________________________________________

Thanks banget yang masih bertahan baca kisah Tito dan Jameka. Kelen luar biasa 😭😭😭

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Well, Bonus foto

Jameka Michelle

Tito Alvarez

See you next epilog teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Selasa, 31 Desember 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro