Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 49

Selamat datang di chapter 49

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

WARNING 21+ ONLY! MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN SUHU BADAN JADI PANAS DINGIN, KEDJANG-KEDJANG, SENYUM-SENYUM SENDIRI, KESEL, DAN HATI JADI BERBUNGA-BUNGA!

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Love your enemies because they bring out the best in you.”

—Friedrich Nietzsche
____________________________________________________

“Gue mau nunjukin lo sesuatu,” tukas Tito setelah amat terpaksa menjauhkan bibir dari bibir Jameka. Karena jika tidak, ia yakin akan kebablasan. Indra peraba, perasa, pembau, dan pengecapnya, pasti akan ke mana-mana; menjelajahi setiap jengkal tubuh Jameka. Bagaimanapun, mereka sedang di rumah sakit. Tidak sepatunya berbuat yang iya-iya.

“Apa itu?” tanya Jameka penasaran sekaligus merasa hampa manakala Tito turun dari ranjang.

Tito mengambil tas selempang di nakas, mengeluarkan sesuatu, menenteng, lalu memakai benda itu menjadi kacamata.

Jameka terperanjat, memelotot, dan praktis menganga. “Astaga, Tito! Ngapain, sih? Tolol!” omelnya yang sontak turun dari ranjang dengan hati-hati untuk merebut bra warna pastel berenda transparannya. Namun, Tito lebih gesit dengan mengambilnya lebih dulu sebelum mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Eits! Lo kagak boleh loncat-loncat dulu. Inget jahitan lo. Dan ini jimat yang udah gue bawa dari basecamp ke Beijing terus ke sini. Mana mungkin segampang itu gue balikin?”

Juluran lidah pria itu membuat Jameka murka. “Goblok banget! Bawa sini, To! Lo mesum banget!”

“Eh! Sorry, yang secinta itu sama gue siapa? Yang ninggalin benda ini juga siapa? Ini udah jadi hak paten milik gue, seorangnya juga!”

“Tito!” jerit Jameka tak habis pikir. Bagaimana mungkin seseorang dapat membuatnya rikuh, jengkel, dan mengudarakan tawa geli dalam waktu bersamaan? Kegilaan Tito benar-benar di luar jangkauan logikanya. Selain itu ia juga menyesal kenapa sampai meninggal jejak dan lebih memilih buru-buru pergi sampai tak sempat mengenakan penutup dada gara-gara Tito nyaris sadar dari mabuknya malam itu. “Lo kayak orang nggak waras, tahu! Balikin sini!” teriak Jameka lagi yang nasih rajin merebut branya. Lagi-lagi ia berpikir bisa-bisanya pria seperti ini menawan hatinya! Memang di luar logika!

“Emang! Gue kagak waras gara-gara lo! Eh, awas hati-hati infus kita, Sayangku. Udah, lo tenang aja. Benda ini aman di tangan gue. Kalau mau ambil entar pas weekend.”

“Ngapain nunggu weekend kalau sekarang juga bisa?” tandas Jameka. Lagi-lagi tak habis pikir.

Tito menurunkan tangan, tetapi segera menyembunyikannya ke punggung. Mereka memang berdua saja dan seharusnya tidak masalah berbicara dengan volume normal. Namun, Tito ingin menjadi sok misterius dengan membisikkan sesuatu pada Jameka.

“Kita lihat aja nanti,” jawab Jameka sok tidak peduli padahal jantungnya berdebar-debar tak karuan di balik rongga dadanya.

Tito pun tidak terpengaruh. Sebelah sudut bibirnya justru tertarik ke atas membentuk senyum miring untuk menantang wanita itu. “Ya, kita lihat aja nanti.”

•••

Hampir pukul lima pagi dan Jameka Michelle masih terlelap dalam tidurnya. Ia memang sengaja tidak memasang alarm pagi lantaran sekarang akhir pekan yang berarti libur. Dan libur berarti beristirahat dari segala kepenatan kerja. Walau baru masuk dua hari lalu setelah masa pemulihan laparaskopi dan sedikit flue gara-gara tertular Tito, tetapi pikirannya yang diforsir memecahkan masalah-masalah kecil maupun besar yang terjadi di Heratl membuatnya ingin bermalas-malasan saja. Namun, dikarenakan sudah terbiasa bangun pagi, alarm tubuhnya membangunkannya secara otomatis.

Dari posisi miring nyaris tengkurap, Jameka tersenyum sembari menggerapai-gerapai kasur sebelahnya. Alisnya sedikit berkerut saat menyadari sesuatu yang tak semestinya. Ia berdebar lantaran khawatir pikiran negatifnya menjelma menjadi nyata. Sehingga dengan segera ia membuka mata dan mengangkat kepala untuk celingukan. Saat menemukan yang dicarinya, napas Jameka kembali mengisi paru-parunya. Ia pun menurunkan kepala lagi sembari merapatkan sekaligus menghidu selimut abu-abu beraroma maskulin favoritnya. Pipinya naik dengan sendirinya kala melihat Tito Alvarez berjalan menuju jendela.

Subuh tadi memang sempat hujan lebat, tetapi sekarang tinggal rintik-rintik. Matahari tidak muncul. Udara pagi hari menjadi cukup dingin, tetapi Tito Alvarez malah bertelanjang dada seakan-akan kamarnya bersuhu di atas tiga puluh derajat.

Masih sambil tersenyum dan nyaris salah tingkah, Jameka menutupi wajah karena tahu alasan pria itu hanya mengenakan jins. Ia lalu berusaha mengendalikan diri sembari mengamati Tito membuka jendela. Jameka praktis melihat ke pendingin udara yang rupanya sudah dimatikan sedari tadi. Pandangannya pun di arahkan ke pria itu lagi yang baru saja menyalakan rokok dan tampak melamun.

Jameka mereka-reka hal yang dilamunkan Tito; apakah hal baik, atau justru sebaliknya. Tak berselang lama dari itu Tito kedatangan tamu. Seekor kucing domestik putih dominasi oranye hinggap di dahan pohon mangga dan memandangi pria itu sambil mengeong.

“Ke sini lagi lo, Cing,” gumam Tito. “Gue kagak punya makanan lagi. Diem lo! Jangan ngeong-ngeong, bidadari gue masih tidur!” omel Tito dengan nada pelan.

Senyum Jameka mengembang lagi. Sejak kapan Tito jadi tertular kebiasaannya yang suka menyapa kucing di jalan? Dan apa kata Tito tadi? Bidadarinya? Pipi Jameka kian panas. Ia pun makin suka mengamati Tito yang berdiri membelakanginya. Tato-tato di punggung lebar sungguh menggoda untuk disentuh atau dipeluk.

Tito kembali mengobrol dengan kucing. “Kalau dia bangun, entar jadi kuntilanak merah yang marah-marah.”

Senyum Jameka amblas. “Jadi itu obrolan lo sama kucing selagi gue tidur, wahai Kadal Sawah yang budiman?” cibirnya dengan suara serak.

Memang agak sulit mengubah kebiasaan cara mengobrol ala sahabat rasa musuh ke pasangan baru, yang biasanya bertutur kata lembut satu sama lain. Namun, Jameka tidak ingin hal tersebut menjadi beban. Memang seperti inilah cara mereka berkomunikasi. Lagipula, begini lebih terasa nyaman karena saling terbuka, tidak menjaga image, serta natural. Sekarang ia hanya memainkan peran sebagai pasangan yang pura-pura ngambek. Karena tahu Tito selalu senang menggodanya, Jameka pun sekarang lebih suka digoda Tito.

Pria itu menoleh Jameka sepintas, lalu kembali menatap si kucing. “Nah, kan, gara-gara lo, sih, Cing! Bangun dah, tuh, singa betina kecintaan gue! Hush! Minggat sana! Kapan-kapan aja ke sininya kalau udah gue udah beliin makanan enak lagi!” usir Tito.

Tito menyedot rokok lalu mengembuskan asap ke luar jendela sebelum menghampiri Jameka. Tangan kiri Tito menyudut rokok di asbak di atas nakas sebelah ranjang. Kemudian ia duduk di tepi kasur dan tangannya mengusap lembut puncak kepala Jameka.

“Selamat pagi, Sayangku,” ucap Tito sebelum membubuhkan bibir ke dahi dan lanjut ke bibir wanita itu. “Gimama tidurnya? Nyenyak?”

Jameka tidak menolak kecupan-kecupan Tito, tetapi mulutnya masih ingin mengomel, “Nyanyak banget. Tapi sejak kapan lo ngobrol sama kucing? Ngomongin gue lagi.”

“Sejak dia rajin ke sini, dia udah resmi jadi konsultan kagak berguna bagi gue.”

“Apa-apaan?” tanya Jameka, tertawa geli. “Emang sejak kapan tepatnya?”

“Di hari gue pulang dari rumah sakit. Pernah gue kasih makan sekali. Niatnya cuma sekali itu doang, tapi malah jadi ke sini tiap hari. Ya udah gue beliin sekaleng makanan di minimarket, sekarang lagi habis, gue lupa beli lagi.”

“Oh .... You’re so nice,” puji Jameka yang tak lagi pura-pura ngambek dan tidak begitu fokus pada topik Tito terbiasa curhat dengan kucing itu. Tangannya kini mengusap-usap lembut pipi Tito. “I am so proud of you. Kita harus nyediain makanan dia lagi. Atau kita pelihara dia aja.”

Tito menyetujui usul Jameka. “Boleh. Nanti kita beli kebutuhan dia. Tapi pertama-tama harus kita kasih nama dulu. Menurut lo, siapa nama yang cocok?”

Jameka mengangguk sambil tersenyum dengan mata setengah terbuka yang mengindikasikan masih sedikit mengantuk. Ia pun berupaya mempekerjakan otaknya dalam hal mencari-cari nama yang cocok untuk kucing domestik tadi. Sampai ia menemukannya.

“Si Jamet.”

Tawa Tito meledak. “Tolol! Tapi boleh juga.”

“Ya, kan? Mukanya itu, loh, kayak nyebelin banget. Kayak majikan nodong babunya buat kasih makan sesegera mungkin. Bikin gue jadi pengin pesenin dia kalung nama gitu, kayaknya bagus.”

“Boleh juga.” Tito lantas bertanya, “Kaki lo masih lemes nggak?”

Jameka membasahi bibir dan mengatupkannya rapat-rapat supaya tidak salah tingkah. “Udah enggak. Kenapa emang?” tanyanya yang berusaha bernada datar, tetapi pipinya yang bersemu merah tak bisa disembunyikan dari Tito.

“Wake up, take a shower, dress up. I wanna take you somewhere to meet someone. Emang lo mikir apaan, Sayangku?” goda Tito dengan senyum dan tatapan penuh arti. Tangannya masih rajin mengusap-usap lembut rambut di puncak kepala Jameka. Sekarang Jameka merinding karena usapan itu.

“Kagak, gue kagak mikir kita bisa nananina lagi sebelum—” Jameka berhenti dan memelotot karena menyadari telah menyuarakan pikirannya. Ia berdeham sekali sebelum melanjutkan, “Maksud gue, emang lo mau ajak gue ke mana buat ketemu siapa?”

Tito masih menatap Jameka dengan senyum penuh arti. Bahkan wajahnya menunjukkan isi pikirannya. “Rahasia. Itu kejutan. Omong-omong, emang semalem kurang udah dibikin banjir berkali-kali?”

“Nanana ..., I didn’t hear anything,” kelit Jameka yang lantas menaikkan selimut hingga wajahnya tertutup sepenuhnya.

“Kamar mandi gue jadi saksinya.” Tito membiarkan Jameka bersembunyi.

“Gue nggak mau basahin kasur lo lagi kayak malam itu.”

“Basahin aja semua, Sayangku. Gue kagak peduli. Gue puas bikin lo puas. So, come here.” Tito menyingkap selimut, tetapi Jameka menahan sampai dadanya. “Ayo, sini gue mandiin maksudnya.”

“Kagak mau. Entar pasti mandinya ada plus-plusnya. Kayak syarat ngambil bra,” tolak Jameka masih dengan tawa geli dan malu-malu.

“Lo peramal, ya? Kok, bisa tahu yang bakalan terjadi? Dasar penyihir!”

Dengan sekali sentakan, Tito berhasil membuang selimut tersebut. Jameka otomatis menutupi dada dan mengatupkan kaki rapat-rapat. Ia rikuh sekali saat Tito menyusurkan pandangan ke sekujur tubuh polosnya. Lebih-lebih ketika tatapan itu melintasi bekas jahitannya. Memang kecil, tetapi masih terlihat. Ajaibnya Tito seoalah-olah terkena mantra betulan supaya tidak melihat bekas jahitannya.

“Wah! Wah! Wah! Lo alergi apaan sampai leher sama dada lo merah-merah gini?” goda Tito yang menyusurkan permukaan jari-jari ke tempat-tempat ia menandai kepemilikan. “Di paha juga ada ternyata ....”

“Tito ....” Sentuhan pria itu sehalus sutra dan ringan bulu, tetapi efeknya dapat mendirikan bulu kuduk sekaligus mendesirkan darah Jameka. Lebih-lebih saat jari-jari itu membentuk lingkaran di sekitar pusarnya.

“Ya, Sayangku?” jawab Tito yang sudah mengambil kedua tangan wanita itu dan menyitanya di atas kepala. Ia lantas menunduk di atas dada Jameka.

“Menurut gue, lo—” Jameka berhenti untuk menahan desahan saat merasakan mulut hangat Tito menyelubungi salah satu puncak dadanya. Pria itu mengisap dan menggigit kecil. Membentuk erangan Jameka.

Semalam Jameka tidak sempat memakai apa pun lantaran terlalu lelah; Tito membuatnya menjerit-jerit sampai suaranya nyaris hilang. Namun, erangan-erangan seksinya diredam Tito supaya tidak terdengar penghulu basecamp lain. Kadang-kadang diredam menggunakan tangan, tetapi lebih sering menggunakan mulut.

Tito sendiri juga demikian. Setelah mandi dan mengeringkan badan, pria itu langsung menyuruh Jameka tidur. Tito pun tidur di dada wanita itu sambil memegangi sebelah dada tersebut seakan-akan itu pegangan hidup.

“Buka kakinya, Sayangku,” bisik Tito sebelum menyerang bibir Jameka.

Lalu bagaimana caranya Jameka menolak? Ia tidak bisa.

“To, gue—Oh My God ....” Jameka memejam dan menengadah saat jari Tito menyusuri inti lipatan tubuhnya.

“I wanna taste you again, Jameka Michelle. Don’t blame me. You’re too addicted,” aku Tito. Wajahnya membayang di atas wajah Jameka.

Jangan lupa pakai pengaman dan sebaiknya kita ke kamar mandi kalau nggak pengin kasur lo basah,” balas Jameka sebelum mencium Tito. Pria itu lantas menggendongnya ke kamar mandi sambil membawa sebungkus pengaman.

•••

“Sebaiknya gue pakai baju apa? Formal, semi formal, atau informal?” tanya Jameka di tengah bisingnya suara pengering rambut. Ia mendongak untuk melihat Tito yang dengan senang hati membantu mengeringkan rambutnya. Ia duduk di karpet sebelah kasur, bersandar di ranjang. Sedangkan Tito duduk di kasur. Mereka sama-sama mengenakan bathrobe. Bedanya Tito mengenakan warna abu-abu tua, sedangkan Jameka mengenakan warna pastel.

“Pakai baju yang lo bawa aja, Sayang,” jawab Tito.

“Tapi itu cuma atasan putih, celana item panjang, sama sepatu merah agak ceper. Maksud gue kalau emang kita mau ketemu orang penting, gue mau ambil baju yang lebih formal dulu di kondo.”

“Orangnya emang penting, tapi nggak dalam suasana penting, kok. Jadi, nggak usah ambil baju ke kondo.”

“Hmm, cukup aneh,” gumam Jameka.

“Sebaiknya lo nyetok baju di sini kalau nggak mau pakai kaus gue terus.”

Jameka mendongak lagi untuk menatap Tito. Pria itu malah menunduk untuk mencium bibirnya kilat. “Gue suka pakai kaus lo, kok,” balas Jameka.

“Lebih baik jangan terlalu sering. Gue khawatir minta jatah terus.”

“Dasar!” hardik Jameka yang diam-diam mencatat di benaknya akan membawa baju tidur seksi-seksi kalau menginap di sini lagi.

“Omong-omong, kita sarapan dulu ngisi tenaga. Habis itu belanja keperluan si Jamet, baru kita ketemu orang penting itu,” kata Tito.

“Oke.”

Setelah rambut Jameka kering dan halus, Tito membiarkan wanita itu berpakaian. Ia sendiri setelah memakai kaus putih dan celana jins biru segera duduk di kasur ambil mengamati Jameka. Sebenarnya kegiatan ini bukan pertama kali ia lakukan. Tito sering mengamati Jameka berdandan, kadang-kadang malah sambil sarpaan. Kadang-kadang mengomentari penampilan Jameka. Bedanya kali ini tatapan mata mendambanya tak lagi disembunyikan.

“Bisa biasa aja nggak lihatnya?” perintah Jameka setelah memoles lipstik merah mentereng sambil melihat pantulan Tito di cermin.

I can’t. Because you’re stunning,” puji Tito. “And I just can’t believe you’re my girlfriend.”

Jameka biasanya dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang. Sekarang ia tak bisa bersikap biasa saja di depan Tito. Pujian pria itu membuat nyaris melayang. Senyumnya mengembang terus seperti adonan kue diberi Fermipan.

Untuk menyempurnakan penampilan, Jameka menyemprot parfum kado dari Tito. Pria itu pun bangkit dari duduknya dan mereka keluar kamar.

“Selamat pagi, Jang,” sapa Jameka saat melewati Lih Gashani yang mengambil minum di depan dispenser.

Lih dengan setengah mata terbuka, rambut acak-acakan, dan muka bantal menyapa balik Jameka. “Selamat pagi, Yang Mu—bentar, kok, ada yang aneh? Tapi apa, ya?”

Tito tertawa geli sambil menggeleng-geleng. “Tidur lagi sama! Sekarang weekend, Jang!” suruhnya.

Pandangan Lih mengikuti mereka. Matanya pun terbuka sepenuhnya saat menyadari sedari tadi Tito menggandeng Jameka. Senyum Lih ikut mengembang. “Sukses ternyata,” gumamnya sebelum minum dan berencana tidur lagi. Bisa dipastikan tidurnya akan nyenyak sekali kali ini.

♪♪♪

“Perlu rumah-rumahan, nggak, ya?”

“Perlu karena dia free room, nggak dikandangin. Sama kasur buat dia tidur,” tukas Tito, “tapi dia bebas boleh keluar masuk rumah. Rumah-rumahan cuma buat jaga-jaga aja.”

“Oke, rumah-rumahan juga. Sama mesin pakan otomatis plus pakannya udah, terus mesin buang poop otomatis plus pasir wanginya. Kereta dorongnya juga udah. Sisir juga udah. Beberapa mainan udah. Pet carrier udah. Snack udah. Terus apalagi, ya?” Sambil melihat-lihat rak, Jameka mengetuk-ngetuk jari telunjuk di dagu.

“Shampo dan parfumnya barangkali, Kak,” tawar sang pramuniaga yang membantu mereka menunjukkan barang-barang yang akan dibeli.

“Parfum aja. Kalau mau mandi biar di-grooming di sini,” usul Tito.

“Oke. Eh, sementara beli kalung yang ini dulu, selagi nunggu pesenan gue dateng.”

Ketika di kasir, Tito memberikan ATM-nya pada Jameka. “Pakai aja,” katanya. Jameka sudah hampir menolak, tetapi Tito dengan cepat berkata lagi. “Itung-itung buat latihan.”

“Latihan apa?” tanya Jameka tak mengerti.

Tito mengedipkan sebelah mata. “Berumah tangga. Apa lagi?”

Pemuda penjaga kasir ikut tersenyum mendengar obrolan mereka. “Semoga dilancarkan niat baiknya, Bang.”

“Amin, makasih doanya,” balas Tito yang lantas menggandeng Jameka. Muka wanita itu Semerah tomat segar. Sementara pramuniaga lainnya membantu menggotong-gotong belanjaan mereka dan dibawa ke bagasi Maserati Jameka. Tito bahkan memberikan tip cukup besar pada mereka.

Sepanjang perjalanan dari pet shop, Jameka terus menipiskan bibir. Namun, ketika mobilnya yang dikendarai Tito dibelokkan masuk ke sebuah bangunan, senyumnya surut. Wajahnya yang ceria berganti bingung.

“Ngapain ke sini, To?”

Dengan tampang serius, Tito yang sudah memarkir mobil pun menjawab, “Jameka, maaf kalau nggak sesuai ekspektasi. Tapi, kita mau ketemu seseorang di sini.”

“Di penjara? Siapa orangnya?”

“Bokap gue.”

“Oh, bokap lo kerja di sini? Kenapa kagak pernah cerita? Tahu gitu gue mampir kondo dulu ganti baju.”

“Bukan. Bokap bukan kerja di sini. Tapi salah satu napi.”

Sudah, Tito sudah mengatakan rahasia yang ia simpan rapat-rapat dari siapa pun setelah berhari-hari memikirkannya, curhat tak berguna dengan si Jamet. Sekarang, ia pasrah. Terserah Jameka mau merespons bagaimana. Ia tidak ingin berekspektasi tinggi.

____________________________________________________

Ini kan yang kelen mau? Ini kan? Hayo ngaku siapa yang ikutan berkembang-kembang? 🙈

However thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Well, Bonus foto Jameka Michelle mau ke pet shop

Tito Alvarez

See you next chapter teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Minggu, 30 Desember 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro